
.
.
.
" Ahhhh!!" David ber- ah ria usai menyeruput kopi produksi lokal buatan istrinya.
" Capek banget kayaknya!" Jessika duduk di sofa ruang tengah bersama suaminya. Ia membuka kancing bajunya, dan mengeluarkan susu untuk Deo.
Mata David membulat " Sayang, kenapa di buka disini, nanti banyak yang lihat!" David tentu tak rela benda kesayangannya itu terlihat oleh orang lain.
" Anak kamu haus, terus aku masih mau ngobrol sama bapaknya. Udah lah bentar, lagipula pasti anak-anak istirahat di kamarnya!" Jessika menggerutu. Selalu saja suaminya itu rewel.
" Gimana hari ini?" Tanya Jessika saat Deo sudah melahap puncak sumber kehidupannya itu. Menyedot dengan kuatnya. Membuat David terus menatap bayi gembul itu.
" Enak ya De... Sisain buat papa ya!" David terkekeh, membuat Jessika langsung memukul lengan suaminya.
" Jangan ngajarin yang gak bener!" sergah Jessika.
" Aku cuman ngajak dia bercanda loh!" David manyun.
" Tetep aja gak bener, istri tanya bukannya di jawab. Malah ganti topik seenaknya!"
Jessika mengusap rambut berkeringat Deo yang bekerja keras saat menyusu itu.
" Mereka seneng, hari pertama Dion sama Laras handlenya bagus!" David mengusap puncak kepala Jessika.
" Makasih ya mas, mas udah selalu mau dengerin apa mauku!" Jessika tersenyum. Ia amat bahagia karena David selalu memprioritaskan dirinya.
.
.
Gendis kebingungan mencari pintu masuk Gudang Utama kantor Jack di lahan cabai yang luas itu. Siang ini ia ditugaskan oleh Yu Sal untuk mengantar makanan buat Jack, Bella dan Leo.
Pucuk di cinta ulampun tiba, saat ia bingung ia melihat Bella yang bersama Leo tengah naik motor ke arahnya.
" Loh Ndis kok disini?" tanya Bella.
" Maaf Bu, saya sama Yu Sal diminta buat antar ini buat Ibu sama Bapak!" Gendis menunjukkan kotak berisikan makan siang.
Sengatan matahari yang tepat diatas kepala membuat semua manusia di muka bumi ini mendecak karena panasnya. Termasuk Gendis.
" Saya mau pulang ini, gak perlu repot-repot!" jawab Bella.
" Kamu antar buat Jack saja. Dia masih disana, ada pak Eko juga, itu kamu masuk aja. Ruangan Jack di sebelah pintu warna putih!" Leo menerangkan kepada Gendis.
" Iya bener, ya udah kami pulang dulu ya!" Bella mengeratkan pelukannya ke pinggang Leo. Sejurus kemudian mereka melesat dengan Kawasaki KLX yang mereka tunggangi.
__ADS_1
" Hah, kok mereka main pergi aja! CK, yang benar aja aku kesana sendiri!" Gendis menggerutu, Ia melihat jalan paving yang rapih hingga ke pintu masuk bangunan besar dan luas itu.
Bangunan bertuliskan ....
...Gudang Utama Darmawan Group...
...PT. Darmawan Sejahtera...
" Jancok! panas lagi!" Gendis dengan misuh- misuh ( mengumpat) menuju Gudang itu menggunakan motor matic milik keluar Jessika yang ia bias pakai untuk riwa-riwi.
Tempat itu sepi siang ini, ia melewati hamparan lahan yang nampaknya baru akan di tanami cabai.
Gendis Iangsung masuk sesuai petunjuk dari Leo. Ia membuka pintu pertama dan nampak banyak pekerja yang sibuk dengan lautan cabai tiap harinya.
Nampaknya Gendis salah pintu masuk. Harusnya ia masuk lewat pintu di sebelah kiri tadi.
Banyaknya pintu disana membuat Gendis yang baru pertama kali kesana itu nyasar kemana-mana.
Gendis terpaksa bertanya kepada salah satu pegawai yang nampak sibuk mengangkati kardus.
" Pak maaf saya mau tanya, ruangan Pak Jack dimana ya?" Gendis baru kali ini bersikap normal kepada orang lain.
" Saya pembantu di rumah Bu Jessika. Mau ngantar ini!" Gendis menelan ludahnya, baru kali ini ia bersikap manis kepada orang lain.
" Oh mari saya antar!"
Ia berjalan berbalik arah, pandangannya menyapu kegiatan yang nampak riuh rendah itu. Ia bisa menyimpulkan kekayaan yang dimiliki Darmawan Group pasti tak akan habis dimakan tujuh turunan.
Dengan terkagum-kagum, Gendis tak lekang menatap hamparan cabai yang di sortir kemudian di kemas ke dalam kardus degan ukuran besar itu.
" Nah sudah sampai mbak, saya tinggal dulu ya!
.
.
Gendis membuka pintu ruangan bertuliskan Jackson Timothy
Gendis mencebik " Jadi namanya Jackson, keren sih" ucap Gendis seraya mengetuk pintu.
"Hello enibadi hier? ( any body here/ ada orang disini?)"
Merasa panggilannya tak ada yang menyahuti, Gendis langsung menarik gagang pintu tersebut dan membukanya. Ruangan itu kosong melompong.
__ADS_1
Gendis menutup pintu itu dengan perlahan, lalu ia masuk dan meletakkan tas berisikan makanan lezat buatan Bik Darmi itu. Gendis terkesima dengan ruangan Jack.
Meja besar dengan sebuah komputer lengkap dengan printer di sampingnya. Sebuah name tag dari kayu bertuliskan :
...Jackson Timothy...
...Supervisor Quality Qontrol ...
Kemudian di belakang meja Jack terdapat satu rak dengan cat putih gading berisikan banyak sekali order dan juga map yang berjajar rapih, sebuah lukisan abstrak tertempel di dinding sebelah kiri, juga satu set sofa lengkap dengan water showcase yang berada di sudut ruangan itu.
Belum selesai mengagumi tepat itu, Gendis yang mendengar derap langkah langsung mendadak terkejut. Wanita itu saking terkejutnya, ia malah bersembunyi di bawah meja Jack.
" Jadi kita bisa mulai penanamannya Minggu depan!" ucap seseorang yang Gendis rasa itu bukan suara Jack.
Ia mendengar decitan kursi yang di tarik oleh seseorang. Ia juga mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Ia bodoh, mengapa harus panik dan takut, toh dia hanya mengantarkan makanan bukan.
Sejenak ia menyesal mengapa malah bertingkah seperti maling disana.
Jack membulatkan matanya demi melihat Gendis yang bersembunyi di bawah mejanya. Tak ingin membuat tamunya panik, Jack bersikap biasa saja. Jack tak duduk ia berdiri.
" Anda kenapa Pak, kenapa berdiri?" Tanya Iskandar, mandor baru di Gudang itu.
" Kursiku rusak. Tadi aku lupa, aku akan meminta Pak Eko untuk membetulkannya setelah ini.
Gendis mendelik karena saat ini, ia berjongkok dengan posisi wajahnya menghadap ke bagian kejantanan Jack yang tertutup resleting. Gendis mengumpat dalam hatinya.
" Kau atur saja, yang jelas deadline-nya sudah harus sama dengan jadwal yang aku kirim. Masa tanam juga harus kamu kontrol!" ucap Jack.
" Baiklah kalau begitu saya bawa jurnal yang ini Pak, saya akan pelajari dulu!"
Gendis merasa tak tahan lagi, Jack malah merapatkan tubuhnya condong ke depan. Membuat Gendis nyaris mencium bagian itu.
" Ya sudah, saya permisi dulu. Selamat siang!"
Hembusan nafas kelegaan keluar dari bibir Gendis. Ia lega saat pintu itu sudah tertutup. Dengan segera Gendis mendorong kaki pria itu dengan keras. Membuat Jack nyaris terjerembab ke lantai.
" Hey!!!" Jack yang tak siap hampir saja jatuh.
" Manusia cabul!!!" Gendis menendang bagian kelelakian Jack, membuat pria itu meringis serta mengerang kesakitan.
Gendis merasa kesal karena merasa Jack sengaja mengerjainya.
" Ah tidak rudalku!!!!!" ucap Jack menahan sakit yang luar biasa.
.
.
.
__ADS_1
.