
.
.
Eka tersenyum licik penuh arti menatap Clarissa, sementara Tomy tengah kesulitan menelan makanannya sendiri.
"Tom, apa yang di ucapkan wanita itu benar?" Clarissa seolah tak peduli dengan Tomy yang tersendak, ia lebih fokus mencari jawaban atas pernyataan Eka yang menohok hatinya.
Tomy lebih memilih menyambar segelas air, dan meminumnya hingga tandas.
glek
glek
glek
Kedua wanita itu menatap kepada Tomy tanpa jeda," belum apa-apa mereka sudah mau membuatku mati lebih cepat!!" gerutu Tomy dalam hati.
Tomy menatap kepada Clarissa B aja," maaf!" just it.
"Jadi benar ?" mata Clarissa sudah mulai berkaca-kaca, ia tak menyangka wanita pecicilan itu adalah pemenang atas persaingan singkat ini.
"Wong edan, wes di omongi iseh ngengkel ae, ayu- ayu pekok!!( orang gila, dah di kasih tau ngenyel aja, cantik-cantik bego')" Eka berucap dalam hati, dengan tangan yang masih bergelayut manja di lengan Tomy.
"Maaf?" ucap Tomy, kali ini disertai senyum yang mengindikasikan permohonan maaf.
"CK, jawab saja!. Moaf maaf moaf maaf!" Eka memukul lengan Tomy dengan tak sabar, membuat Clarissa menatapnya tak suka.
Tomy menghela nafas, dan memutar bola matanya, menghembuskan nafasnya penuh kepasrahan. " Benar, kami akan menikah!" ucapan itu akhirnya keluar dari mulut Tomy.
Clarissa menatap Eka yang menyebikkan bibirnya ke arahnya dengan raut kesal, sementara ia memandang wajah datar Tomy dengan raut muram.
Dengan kesal Clarissa menyambar tasnya tanpa memakan sedikitpun makanan yang dia ambil, ia merasa sudah tak ada muka untuk disana. Apalagi, ia jelas tengah patah hati saat ini.
Ia berjalan menerobos puluhan orang yang masih berdiri disana, mengobrol dan menghabiskan sisa pesta dengan makan dan minum, ada juga yang tengah berselfie ria.
Hati Clarissa bergemuruh, ia nampak kesal dan jiga tak terima, bahkan mungkin malu. Ia terus saja berjalan tanpa mempedulikan siapapun yang ia tabrak.
" Apaan sih?"
"Woy, gak jelas ni orang!"
"Heh, santai dikit donk!"
Suara-suara tak terima yang terlontar dari mulut korban tabrak pundaknya.
Dan saat hendak menuju luar, dia bertabrakan dengan seseorang karena tak fokus. Membuat dia jatuh ke lantai.
"Astaga maaf!" ucap pria itu.
Clarissa mendengus kesal, ia sekarang menjadi perhatian orang karena terjerembab ke lantai licin itu.
"Biar ku bantu!" pria itu mengulurkan tangannya kepada Clarissa.
Clarissa sejenak memandang, lalu meraih tangan pria itu. Hatinya gondok karena kekalahan, dan sekarang dia harus malu lagi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu.
Clarissa hanya menggeleng lemah, seraya mengibaskan bagian belakangnya, mencoba menggugurkan debu yang menempel.
"Temennya Arin?" tebak pria itu, karena tamu muda ini jelas adalah tamu dari mempelai.
__ADS_1
"Bukan, aku teman mempelai pria!" ia menjawab agak ketus.
"Saya benar-benar minta maaf, karena tak melihat tadi" ucapan pria itu membuat Clarissa seolah tersindir, karena sedari tadi ia sudah menabraki banyak orang. Dan benar saja, ada banyak masalah yang tak selesai hanya karena kemarahan.
Clarissa Terlihat menghela nafasnya" aku juga minta maaf!" ia adalah wanita yang memiliki kesopanan tinggi, tapi melawan Eka baru saja, sungguh menjadikan dirinya seperti seorang pribadi lain.
"Aku Andhika, Andhika Prakasa Satya !" ucap pria itu mengulurkan tangannya, membuat Clarissa menatap tangan yang menggantung itu, lalu menatap wajah pria tampan di depannya.
"Clarissa, Clarissa Melodi!" ucapnya menjabat tangan pria itu seraya tersenyum.
***
Usai mengalahkan Clarissa, Eka duduk seolah tak terjadi apa-apa. Ia mengambil makanan yang di campakkan oleh Clarissa tadi ,sesaat setelah ia menghabiskan makanannya sendiri.
"Hey, apa yang kau lakukan?" tanya Tomy yang melihat Eka tengah meraih piring dengan isi makanan yang seukuran porsi bayi.
"Memakannya lah, kau tidak lihat banyak pengemis yang kelaparan setiap hari. Dan wanita itu bahkan meninggalkan nasi dan kawan-kawannya dengan tak berperasaan!" Eka mulai menyendokkan makanan itu, dan memasukannya ke dalam mulutnya.
Tomy mendelik melihat Eka yang makan dengan santainya," kenapa kau melihatku?" ucap Eka di sela-sela kegiatan mengunyahnya.
"Itu milik orang lain!" Tomy tentu saja tak habis fikir.
"Dia belum menjamahnya, bisa aku pastikan itu. Dia pasti sudah kenyang dengan ucapanku tadi!" Eka terkekeh-kekeh, seraya menikmati makanan.
Tomy hanya menggelengkan kepalanya, wanita di sampingnya ini benar-benar luar biasa pikirnya. Luar biasa konyol.
.
.
Pukul satu siang mereka undur diri dari hotel itu, duduk di posisi saat mereka berangkat tadi.
"Bu bos, apa anakmu tidak rewel lagi. Maksudku kau tidak mual-mual lagi?" Eka memecah keheningan di dalam mobil itu, dengan memulai percakapan.
David hanya diam, masih mendengar. percakapan dua sahabat itu.
"Wah, sepertinya keponakanku itu mendukung bibinya!" ucapnya terkekeh. Tomy yang mengerti arti dari ucapan Eka yang bisa menghela nafasnya.
"Maksudnya?"
"Dia bahkan sudah aku buat kehilangan selera makan disana tadi, karena rupanya dia ingin menggondol sesuatu dariku!" ucapnya melirik Tomy dengan ekor mata.
Jessika terkikik geli mendengar ucapan Eka, ia tahu maksud dari sahabatnya itu.
"Lalu apa yang terjadi?" Jessika masih gencar, sementara Tomy yang merasa di kuliti itu sudah kehilangan suaranya.
"Ku tampar lah dia dengan kata- kata mutiaraku, eh melengos dia. Kabur!" Eka berucap dengan bangganya.
Mereka berdua tertawa, kecuali dua pria itu. Karena David memang tak mengerti yang di ucapkan Eka. Sementara Tomy, astaga dia sudah enggan untuk berkomentar.
"Tapi apa ucapanmu yang terakhir tadi adalah keseriusan?" tanya Tomy yang menanyakan mereka akan segera menikah.
Tomy mendelik saat Eka melontarkan pertanyaan kepadanya," apa dia menagih janji?"
***
Waktu cepat berlalu, tak terasa usia kandungan Jessika sudah memasuki trimester kedua akhir. Ya perutnya sudah membuncit. Dan selama itu pula, David benar-benar over protective. Ia bahkan meminta Eka untuk menemani istrinya dirumah bila ia berangkat menuju Gudang Utama bersama Tomy.
"Wah Bu bos anakmu sepertinya aktif sekali!" Eka memegang perut bulat Jessika, dan mengusuknya pelan.
Jessika tersenyum, ia benar-benar menikmati masa-masa kehamilan yang penuh suka duka, mulai dari mual tiap pagi, menyiksa David dengan tak tidur seranjang dengan suaminya itu, meminta Tomy di malam hari untuk beli ini itu, bahkan kadang suka menangis sendiri. Entahlah hormon ibu hamil memang unik, ia menikmati hari-harinya dengan keceriaan.
__ADS_1
"Kamu kapan menikah dengan Tomy!" si Arin aja sampai udah isi tuh, kamu one step aja belum kelar!" ucap Jessika seraya membaca buku tentang kehamilan.
Eka memanyunkan bibirnya," entahlah Bu bos. Aku malah merasa jadi prawan tua yang menunggu di pinang oleh patung!" Eka melemparkan kepalanya ke sandaran sofa di sebelah Jessika.
Jessika hanya melirik sahabatnya itu, menggunakan ekor matanya. " Udah pernah kamu tanyakan?"
Eka menggeleng," aku gak tahu kenapa sih dia itu lama banget, bahkan sainganku malah udah deket sama orang lain. Dan aku ( ia menunjuk dirinya sendiri), malah mrongosh ( bernasib tak beruntung) sampai sekarang!" ia berengut.
"Maksudnya?" Jessika agaknya sedikit lemot dengan bahasa Eka.
"CK, Bu bos jangan sampai anakmu ikut oon kayak kamu. Clarissa, ya dia adalah wanita yang menyukai Tomy. Dia udah jadian tuh sama Andhika!" ucap Eka seraya menerawang.
"Andhika, kak Dhika?" Jessika menurunkan bukunya dan menatap Eka serius.
Memangnya ada berapa Andhika yang kau kenal Bu bos?
Eka mengangguk-angguk," kapan hari waktu aku ngantar ibuku aku ketemu dia, udah jadi dokter dia dirumah sakit yang nenekmu dulu dirawat!"
"Ngapain kamu kesana?"
"Ngantar ibuk buat jenguk saudara, gak taunya ketemu si kampret itu. Terus Mas Dhika cerita deh!"
Jessika tersenyum demi mendengar ucapan Eka, sungguh dunia ini kadang terasa sempit bagi orang-orang yang akhirnya bertemu dengan manusia di sekelilingnya. Bahkan dirinya sendiri.
Terdengar langkah dari depan, keasikan ngobrol membuat mereka tak mendengar suara mobil suaminya yang sudah pulang dari bekerja.
Eka membenarkan posisi duduknya, mereka melihat Tomy yang berjalan di depan Bosnya. Tak biasanya begitu. Masih dengan wajah datar.
Jessika juga mengerutkan keningnya, apa mereka sekarang bertukar posisi pikirnya.
David berdiri di belakang Tomy, pria berwajah datar itu langsung jongkok saat ia tiba di depan Eka yang duduk di sofa. Membuat keduanya terperanjat, apa pria datar itu tengah latihan main sandiwara?
Tomy terlihat mengeluarkan sebuah kotak beludru warna navy, kemudian membukanya.
"Maaf terlalu lama, aku sibuk belakangan ini mengurus proyek baru di kota lain"
"Eka Menikahlah denganku!" Untuk pertama kalinya, Eka melihat pria itu tersenyum layaknya pria normal.
Kata-katanya memang sedatar orangnya, tapi arti dibalik ucapan itu membuat mata Eka sudah tergenang cairan bening. Apa itu artinya Tomy melamarnya?, apakah dia bermimpi?.
"Maaf membuatmu menunggu, aku harus mengurus proyek baru untuk kita" ucap Tomy masih berjongkok di hadapan Eka.
Ya tentu saja, Tomy akan mendapat perusahaannya sendiri. Hal itu atas perintah pak Edy, Tomy sudah seperti anaknya. Dan, dedikasinya serta kesetiaannya selama ini patut untuk di apresiasi bukan.
Eka merasa tersanjung, bahkan pria datar itu sudah memikirkan serta memperhitungkan terkait masa depan mereka.
Eka yang menangis itu, lidahnya tercekat. Sulit untuk berucap," ya, aku mau. Aku mau menikah denganmu!" ia berbicara dengan suara bergetar.
Tomy mengambil cincin berlian itu, dan menyematkannya ke jari manis Eka. Jessika turut terharu, David Terlihat tersenyum lega.
Eka langsung memeluk Tomy sesaat setelah cincin itu terpasang sempurna, membuat Tomy yang tak siap terjerembab ke lantai dengan posisi Eka berada di atasnya.
"Auwwwhhhhh!!" Tomy malah mengerang.
"Kenapa?" Eka panik, dengan sedikit menjauhkan wajahnya dari Tomy, posisi Eka masih berada diatas tubuh Tomy yang terlentang.
"Anuku!"
Kali ini giliran Eka yang mendelik mendengar ucapan Tomy.
.
__ADS_1
.
.