Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 196. Kekal mencintaimu ( Tamat)


__ADS_3

.


.


.


Hari yang tak dinantikan itu tiba. Jessika dan David terlihat mengantar Victor dan Jack untuk berangkat. Mereka akan naik pesawat pagi ini menuju kota K.


Jack celingukan mencari Gendis. Namun nampaknya wanita yang ia cari tidak juga muncul sampai ia hendak masuk ke dalam mobil.


Perubahan raut Jack terlihat. Pria itu sedih. Jack kecewa.


Victor yang tahu rekannya itu sedang tidak baik-baik saja hanya bisa diam. Tak berani mengganggu.


" Jaga diri kalian. Utamakan keselamatan!"


David memberikan petuah. Sesuai dengan rencana awal, Jack dan Victor akan berada di kota K selama tiga tahun. Meski mereka bisa kembali sewaktu-waktu, tapi agaknya mereka sudah hapal dengan tuntutan pekerjaan yang membutuhkan loyalitas tinggi itu.


Jessika sebenarnya turut sedih. Darmawan Group di desa P kini di gantikan oleh Dion dan Laras. Dua orang rekrutan baru itu memang masih perlu banyak belajar tentang birokrasi pekerjaan disana.


Setelah semua pamit dengan penuh ketegaran, Jack dan Victor langsung masuk kedalam mobil.


Leo, Bella dan pak Edy rupanya juga akan bertolak menuju kota S. Leo juga ingin merasakan tinggal bersama orang tuanya. Setelah berembuk, muncul keputusan jika pak Edy secara bergantian akan tinggal dengan kedua anaknya.


Mobil Jack dan Victor berjalan di belakang mobil Leo. Hati Jack nyeri saat tak mendapati Gendis berada disana untuk berpamitan. Ia tahu, akan sangat lama mereka tak bertemu nanti.


" Jack!!!!!" suara teriakan membuat dua orang menoleh ke kaca belakang.


" Jack!!!!!" Gendis berteriak hingga serak. Wanita itu berlari mengejar mobil Jack hingga tersengal-sengal.


" Berhenti dulu pak!" titah Victor kepada supir itu.


Mobil itu berhenti dan Jack langsung membuka pintu itu dengan cepat. Ia menyongsong Gendis yang berlari ke arahnya.


Dengan sisa tenaga yang ada gadis itu menubruk Jack seraya menangis.


Jack memeluk tubuh Gendis dengan erat saat gadis itu tiba di depannya dengan air mata yang menganak sungai.

__ADS_1


" Jack!!!" Gendis menyebut nama pria itu. Suaranya bergetar. Sudut mata Jack bahkan berair.


Mereka memeluk beberapa saat. Menumpahkan rasa yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka salurkan dalam waktu lama.


Jack melu*mat bibir Gadis itu kembali dengan penuh gairah. Jack menyayangi Gendis. Gendis membiarkan sejenak buncahan rasa itu lebur dalam ciuman.


" Aku akan kembali, kau harus menunggu. Kau mengerti?" Jack menyatukan dahi mereka seraya menangkup wajah Gendis usai ciuman mereka terlepas.


Gendis mengangguk seraya menangis. Wanita itu tak sanggup untuk sekedar berucap.


" Jack!!!" Victor menunjukkan jam tangan yang ia kenakan. Mereka akan ketinggalan pesawat jika tak segera berangkat.


" Jaga dirimu baik-baik!" Jack mengecup kening Gendis dengan sangat lama.


" Aku pergi!" Jack langsung berbalik. Pria itu merasa hatinya sesak. Ia menyusut air matanya dengan cepat. Sungguh meski tanpa mengucapkan kata, tapi agaknya Jack mulai mencintai wanita itu.


Gendis menatap nanar mobil yang mulai melaju, kian menjauh dan menghilang di balik tikungan jalan berbatu itu. Gendis telah berpisah dengan Jack.


.


.


Gendis tak bekerja lagi dirumah Jessika. Entah kemana perempuan itu. Padahal Jessika ingin berbicara serius kepada Gendis.


Anak Yudi itu mengundurkan diri sehari setelah Jack pergi. Jessika tak berani masuk lebih dalam. Ia tahu rasanya menjadi Gendis.


Kini Jessika tengah hamil anak kedua. Deo sudah berusia setahun lebih. Anak itu sudah berjalan meski dengan langkah gontai.


" Anak Papa..." David menyongsong Deo yang sudah tumbuh gigi dan berjalan degan tumbuh gembul.


Kebahagiaan menyelimuti David. Jessika yang tengah hamil anak keduanya itu kini sedikit bertubuh gemuk. Nafsu makannya benar-benar tiada banding.


Dion dan Laras juga semakin bisa diandalkan dala mengurus Gudang cabai serta sekolahan yang mereka bangun. Mereka juga sudah merekrut para anggota baru.


Tomy dan Eka juga sedang menanti kelahiran anak mereka. Semua berjalan dengan lajur yang semestinya.


" Mbak tolong bawa Deo dulu ya. Dia mau tidur!" David meminta mbak pengasuh Deo untuk membawa anaknya masuk. Ya, semenjak Jessika hamil anak kedua David tidak mau lagi kompromi soal kondisi istrinya. Ia ingin benar-benar menjaga.

__ADS_1


David kini duduk seraya memeluk istrinya di teras rumahnya. Menciumi pipi istrinya dari belakang. Menikmati lembayung senja yang menentramkan hati sore itu.


" Apa kamu senang sayang?" David selama ini selalu berusaha menyenangkan serta mewujudkan impian Jessika.


" Banget!" Jessika tersenyum.


"Makasih mas. Udah jadi nada indah dalam hidupku. Nada yang penuh warna!"


Jessika membalikkan badannya, ia mengahadap ke arah suaminya. Menatap suaminya dengan cinta.


David menangkup wajah wajah istrinya, mencium dan melu*mat bibir Jessika tiada puas. Tiada jemu. Seolah tak pernah cukup. Cinta mereka kian bertambah seiring usia mereka yang juga bertambah.


Terlepas dari segala masa lalu yang terjadi, sebagai anak manusia mereka bersyukur karena memiliki pasangan dengan segala kurang lebihnya yang mengisi hidup sebagaimana mestinya.


David dan Jessika bak satu kesatuan, yang tiada pernah terpisahkan. Bersama melewati naik turunnya kehidupan. Saling menguatkan menghadapi tempaan hidup yang datang silih berganti.


" Bu boss!!! I'm coming!""" Suara Eka menginterupsi ciuman mereka yang masih berlangsung.


" Tomy!! apa sepanjang hidupku, istrimu ini akan terus menjadi pengganggu ku??"


Jessika tergelak saat suaminya itu terkejut, Eka yang perutnya sudah sangat besar itu datang bersama suaminya sore itu. Tomy menggaruk kepalanya karena ia tak bisa berbuat banyak.


Mereka larut dalam bahagia. Berharap tak akan pernah lekang. Hari ini, esok dan selamanya.


.


.


.


Selesai


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2