Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 132. Tega?


__ADS_3

.


.


.


Malam ini hujan mengguyur desa P, dibarengi dengan kilatan petir yang menyambar.


Jessika termenung di atas tempat tidur, menatap punggung mbok Yah, yang kembang kempis karena bernafas.


Ia menatap nanar tubuh renta itu, tentang apa yang di ucapkan neneknya kemaren.


Penuh kata kata sarat makna, yang belum pernah ia dengar.


Ia melihat jam dinding yang terpajang di dinding kamar neneknya itu.


23.17


Tapi mengapa David belum juga memberinya kabar, jelas ini bukan suaminya.


Ia bolak balik melihat ponselnya, tak ada satupun notif.


Begitu juga dengan ponsel milik assisten datar itu, sama sama tidak bisa dihubungi.


Kecemasan melanda diri Jessika, ini tak biasanya terjadi.


Berkali kali dia menguap, pertanda jika tubuhnya sudah tidak bisa diajak bekerjasama untuk menunggu.


ia terlelap, dengan ponsel yang masih tergenggam di tangan halusnya.


.


.


Jessika


Ia melihat banyak sekali orang dirumah neneknya itu, banyak wajah wajah yang ia tak kenal tertawa riang, seolah tiada beban.


Mereka ramai dan riuh, seperti ada acara makan besar.


Namun sayup sayup ia mendengar suara orang tengah berbincang dengan suara kelakar.


"Sepertinya ada acara pesta" ia tersenyum


Namun dimana neneknya, mengapa banyak wajah asing dirumah neneknya itu.


"Wek, Mak wek"


Ia memanggil nama neneknya, sekelebat bayangan nampak lewat di samping gang kecil belakang dapur.


Ia mengejar bayangan itu, namun terlihat neneknya tersenyum. Seolah makin di kejar, makin menjauh.


"Wek Mak wek" ia bahkan terseok-seok demi mengejar neneknya itu.


Mengapa neneknya tak mau berbicara, kemana neneknya akan pergi.


Ia merasa telah sampai di sebuah tempat yang begitu asing, ia berhasil meraih tangan keriput neneknya.


Neneknya tersenyum, begitupun dia.


Namun kelegaannya bersifat fana, sebab tiba tiba tangan yang saling bertautan itu terlepas, di susul dengan Mbok Yah yang beringsut mundur, seolah ada suatu energi yang menariknya.


Ia tak sempat mengejar, tangannya masih terus berusaha meraih. Namun nampak jelas terekam dimatanya, wajah Mbok Yah yang tersenyum.

__ADS_1


Ia berteriak hingga serak," Wek, mau kemana Wek!!"


"Wek!!!"


.


.


Dengan nafas memburu, Jessika terbangun dari tidurnya.


Ia melirik jam dinding sekilas, menengok kesana kemari. Masih di tempat yang sama.



16 WIB, rupanya ia tertidur.



Astaga, rupanya dia bermimpi.


Di tatapnya tubuh neneknya, yang tidur masih dengan posisi yang sama. Membelakangi dirinya.


Terlihat juga tubuh yang kembang kempis, karena bernafas.


🍁🍁🍁


Pagi harinya, udara lembab menyeruak di sekitar rumah mbok Yah.


Menandakan jika semalam suntuk, hujan telah mengguyur kawasan desa itu.


Ia kini diantar oleh Slamet, lantaran mbok Yah menyuruh ya untuk pulang dulu.


"Kamu itu sudah jadi seorang istri, kamu perhatikan dulu suami kamu"


Dengan perasaan yang di dominasi rasa tak enak, semacam gundah gulana cenderung ada suatu perasaan yang tak bisa ia artikan. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang kerumahnya.


Ya, saran neneknya teramat benar. Ia lantas bertolak menuju kediamannya.


Ia berjanji akan kembali, setelah mengurusi keperluan suaminya nanti.


"Saya teros mbak, gak mampir" ucap Slamet, setelah Jessika turun dari motor yang mereka kendarai.


"Makasih Met, kalau ada apa apa tolong kabari aku ya"


Ia memandang Slamet, yang menghilang di balik tikungan.


Sejurus kemudian, ia melangkahkan kakinya menuju rumah.


Jessika mengernyit, mobil suaminya ada di garasi, namun mengapa sampai detik ini tak ada pesan apapun yang masuk ke ponselnya.


.


.


Rumah itu masih gelap, gorden tebal rumahnya juga belum tersingkap.


Praktis menandakan, bila Mayang juga belum beraktivitas.


"Kemana Mayang?, tumben" ia berbicara sendiri, sambil melangkah kakinya menuju lantai dua. Tempat dimana kamarnya berada.


Dominasi buncahan perasaan tak menenangkan masih mendominasi dirinya, pasca mimpi aneh yang ia alami semalam.


"Huft!" ia menarik nafasnya, berusaha menetralisir rasa tak nyaman.

__ADS_1


Ia kini tengah sampai di depan pintu," apa mas David belum bangun?" ia bergumam sendiri.


Namun, saat ia membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya ia, dengan pemandangan yang tersaji di depannya.


"Massss!!!!!"


Jessika memekik keras, lantaran melihat suaminya yang tengah tertidur seranjang bersama Mayang.


Mereka berdua terlihat tak mengenakan sehelai benangpun.


Ia bahkan sempat mengira dirinya, masih bermimpi.


Dirinya mendadak menjadi tak bisa berfikir jernih.


Ia menarik selimut tebal yang menutupi tubuh merak berdua.


"Kurang ajar kamu mas!!, apa yang sedang kalian lakukan!!!"


.


.


David


David yang mendengar sayup sayup orang berteriak, lekas membuka matanya. Seraya mengumpulkan kesadaran, yang masih minim.


Ia terperanjat bukan main, melihat istrinya yang berada di kamarnya dengan wajah merah.


Ia lebih terperanjat lagi, melihat pembantunya itu tengah berada di sampingnya, satu ranjang dengannya lebih tepatnya.


"Astaga, apa yang terjadi!!" ia bahkan panik dan sungguh tak mengerti apa yang terjadi.


Ia menatap mata istrinya yang berkilauan, karena air mata yang menggenang.


Ia mendadak tercekat, tak bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.


Dan kepalanya masih sangat pusing.


"Tega kamu mas!!!" hanya itu ucapan istrinya, yang masih bisa ia dengar.


Brakkkkk!!!


Pintu itu terbanting dengan keras, bahkan sisa energinya masih menggema di kamar itu.


"Tidak ini tidak mungkin" ia berusaha mengenakan pakaiannya yang berceceran di lantai terlebih dahulu, sebelum ia mengejar istrinya.


Namun belum sempat ia mengejar istrinya, wanita di sampingnya bangun.


Ia menangis sejadi jadinya.


Sungguh, ia bahkan mengira jika kepalanya tengah di hantam dua benda besar secara bersamaan.


Ia bingung dengan apa yang terjadi.


"Tuan" ucap Mayang dengan air mata yang menganak sungai.


Apa ini?, apa yang sebenarnya terjadi?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2