
.
.
.
Victor yang masih keheranan lantaran tak menyangka bila pemikul gulungan rumput besar itu adalah seorang perempuan. Ia takjub dengan kekuatan seorang wanita itu.
Jack yang merasa di umpati oleh wanita itu seketika membulatkan matanya. " Heh, kalau ngomong yang sopan!!" Jack kesal dengan wanita itu. Wanita itu sangat kasar sekali pikirnya.
" Kita gak sengaja!!" tambah Jack dengan alis mengkerut.
Namun si wanita tak mempedulikan. Terik matahari yang menjilati kulitnya, juga lelahnya usai mencari rumput sebanyak itu, membuat wanita itu tak berminat untuk melayani dua pria ganteng yang nyaris saja menabraknya.
" Minggir!!" wanita muda itu menabrak dua pria yang berdiri di hadapannya. Membuat dua tubuh pria itu terhuyung seketika.
" Eh nih orang emang gila kali ya!!" dengus Jack merasa kesal karena di tabrak.
Sejurus kemudian perempuan itu mengambil kembali gulungan besar rumput yang terjatuh di samping mobil Jack dan Victor. Mengangkat dan menaikkan beban berat itu ke atas pundaknya, dalam sekali angkatan.
" Hah, gila!! bisa kuat begitu!!" Victor terperangah dengan sajian di depannya itu.
Wanita itu pergi tanpa mengucap sepatah katapun, membuat Jack dan Victor saling pandang.
" Wanita aneh!" gumaman terlontar dari bibir Jack. Sementara Victor hanya mendecak kagum.
" Kenapa Lo senyam-senyum!!" dengus Jack menatap Victor yang tersenyum tak jelas.
" Gue belum pernah lihat ada wanita sekuat dia Jack. Lu lihat, beban itu berat loh. Disaat wanita seumuran dia pasti bisanya cuman nangkring di cafe sambil tebar pesona, tu wanita justru bergulat dengan lelah bro!!" ucap Victor.
Membuat Jack melayangkan pandangannya kepada wanita, yang terlihat masih memikul rumput itu yang kini sudah lebih menjauh keberadaannya.
Bener juga sih.
...****...
Adalah Gendis, perempuan itu lahir sesuai namanya. Memiliki wajah manis bak gula. Gendis ialah bahasa Jawa yang berarti gula.
Gendis adalah perempuan dengan garis keras di dalam hidupnya. Hidup di desa dengan ekonomi pas-pasan membuat dia tak bisa memilih untuk berleha-leha.
Ia hidup dengan Yudi, bapak kandung yang kesehariannya bermalas-malasan. Yudi juga sering mabuk, pria itu menjadi seperti itu usai di tinggal mati istrinya saat melahirkan adik Gendis tujuh tahun yang lalu. Ya, ibu dan adik Gendis meninggal bersama.
__ADS_1
Saat itu Gendis masih berusia 15 Tahun. Ia masih bersekolah kepala 1 SMA waktu itu. Dan kepergian ibu serta adiknya, menjadi titik balik pribadinya yang keras dan tertutup. Kepahitan hidup menempanya menjadi insan yang kasar.
Keseharian Gendis menjadi buruh harian lepas, atau bahasa kerennya freelance. Ia mau disuruh apa saja, asal bisa mendapatkan upah. Seperti siang itu, ia sudah lebih dari lima bulan ini rutin bekerja di rumah Haji Jaroni.
Haji Jaroni adalah seroang tuan tanah di desa itu, beliau memiliki usaha peternakan kambing dan sapi yang lumayan terkenal. Sebenarnya mengarit rumput adalah pekerjaan pria, namun Gendis tak mau menyiakan pekerjaan yang di tawarkan kepadanya. Apapun itu, asal tidak nyolong saja.
" Kenapa mukamu kusut begitu Ndis?" sapa Iksan yang tengah menajamkan clurit, di belakang kandang kambing. Iksan adalah tangan kanan haji Jaroni, pria berusia tiga puluh tahun itu yang selalu membantu haji Jaroni memelihara kambing serta sapi yang menunggu untuk dibeli.
Gendis terlihat menurunkan muatan berat yang ia pikul sejauh dua kilometer itu. " Hampir saja aku modar cak!!" Gendis berengut, perempuan itu kesehariannya memang berbicara dengan nada kasar.
" La Kenapa?" sahut Iksan seraya mengecek tinggal ketajaman clurit yang baru ia asah, tanpa mengalihkan pandangannya.
" Tau, kayaknya mandor di kebun cabe itu tadi yang mau nabrak aku. Suketku ( rumput ku) sampai tak lempar cak!!" dengus Gendis.
Iksan terkekeh, pria itu kini menghampiri Gendis yang duduk di bangku usang dekat kandang kambing itu.
" Gak minta ganti rugi, ada yang lecet?" tanya Iksan.
" Gak lah, aku masih slamet kok!"
" Wes, jangan marah terosss, makan sana! dan ini upahmu!!" Iksan memberikan pecahan rupiah warna hijau dan ungu. Ya, jumlah yang di dapat Gendis tiap selesai mengarit adalah tiga puluh ribu rupiah.
" Suwun ( makasih) Cak!, aku langsung pulang aja!!"
.
.
" Pak!!" sapa Gendis kepada Yudi. Pria itu nampaknya masih tidur disaat matahari sudah sangat terik. Merasa tak ada sahutan, Gendis menuju ke belakang. Ia sebenarnya lapar sekali.
Gendis membuka penutup nasi di dapur usangnya, namun ia tak mendapati apa-apa disana. Ia lalu mengambil gelas plastik dengan logo merk sabun cuci disana. Mengisinya dengan air putih di dalam teko kuno yang desok disana sini, lalu meminumnya dengan sekali tegukan.
Ia melempar dirinya ke atas kasur tipis yang berada di dipan usang yang berada di dapurnya itu. Matanya nyalang menatap atap dapur yang terbuat dari seng itu. Panas tiada terkira saat siang bolong seperti saat ini, dan terasa dingin mengigit apabila malam hari.
Tubuhnya lelah karena seharian bekerja, tak sempat menikmati indahnya masa remaja seperti perempuan lain seusianya, membuat Gendis kadang iri. Tapi keadaan selalu punya kenyataan. Dan kenyataannya ialah, ia harus mengikat punggungnya sendiri demi ia dan bapaknya yang pemabuk itu.
Buliran air mata itu tanpa ijin darinya langsung lolos begitu saja, membasahi pipinya. Jiwa raganya letih. Ia merindukan ibunya.
... ****...
Jessika sedari tadi menggendong Deo yang entah mengapa rewel. Bahkan bik Darmi juga tak berhasil menenangkan Deo yang menangis.
__ADS_1
" Sini coba sama papa ya sayang!!" David dengan kakunya mengambil alih Deo yang rewel. Dan ajaibnya, bayi itu langsung terdiam.
" Ih..dia kayaknya memang mau tidur sama kamu deh mas!!" sahut Jessika.
" That's my boy!!"
" Ini gimana, udah bener aku gendongnya?" tanya David memastikan kepada istrinya.
Telah tiga bulan David resmi menyandang predikat sebagai seorang Papa. Namun, pria itu masih terus begitu amatir dalam urusan menggendong buah hatinya itu.
" Gendong bayi itu kalau mas ngerasa nyaman, bayinya juga ngerasa nyaman mas!" terang Jessika membetulkan Jarit yang digunakan untuk menggendong Deo.
" Ia ini kan masih belajar juga!"
" Udah tiga bulan mas, harusnya mas udah lolos training!!" tukas Jessika tak mau kalah.
Sementara David tergelak karena istrinya itu terus mengomeli keterlambatannya dalam urusan gendong menggendong bayi.
" Kamu istirahat aja dulu, aku nanti malam pingin double ya sayang!" bisik David seraya mengerlingkan matanya pada Jessika yang tengah memunguti serpihan tissue usai digunakan untuk mengelap air mata Deo.
" Dobal dobel, kalau urusan itu aja inget terus!!" ucap Jessika seraya membuang tissue kedalam tempat sampah.
" Aku kan udah lama kamu sapih. Tega amat sih mama Deo!!" David terus menggoyangkan tubuhnya seraya meninabobokan Deo yang sudah mulai lelap.
"Sayang, sini dong aku mau dicium dulu sebelum kamu tidur!!" David benar-benar tak membiarkan Jessika untuk meninggalkannya tanpa upeti.
" CK, cuma mau tidur siang aja loh mas!!" Jessika mendengus.
" Meskipun tidur kan kamu ninggalin kita berdua, ya kan sayang?" David meminta pendapat kepada seorang bayi gembul yang telah lelap.
Dan saat Jessika hendak mendekati suaminya. Interupsi datang dengan tak tahu malunya.
" Suprise!!!!!"
" Deooo, Tante datang ini!!!!"
David yang hapal akan suara itu seketika menghembuskan nafasnya malas. Ia tahu, siang harinya ini akan ia lalui dengan banyak perdebatan dengan wanita bar-bar itu .
.
.
__ADS_1
.
.