
.
.
.
Jack rupanya sudah menyuap petugas keamanan di resto itu. Pria itu terus menggeret lengan Gendis dan langsung memasukkannya ke dalam mobilnya.
Gendis menelan ludahnya. Selama ini, meskipun ia memperlakukan Jack seenak udelnya, tapi tak sekalipun membuat pria itu marah. Namun kini, Gendis merasa ketakutan saat Jack menatapnya dengan sorot mata penuh kemarahan dan penuh intimidasi.
Jack menutup pintu mobil itu dengan kasarnya. Gendis masih memikirkan bagaimana nasib kedua orang yang ia tinggalkan tadi. Apalagi, ia tak memiliki ponsel.
" Mau apa kau?" Gendis beringsut mundur saat Jack mencondongkan tubuhnya ke arah Gendis.
Klik
Rupanya Jack memasangkan sabuk pengaman bagi wanita itu. Aroma tubuh Jack bahkan bisa Gendis hirup. Mengusik rongga hidungnya yang masih waras. Menantang dengan sisa aura kemarahannya masih bisa ia tangkap dengan jelas.
Gendis melirik wajah Jack yang masih kaku itu. Kini ia benar-benar tak tahu harus bagaimana. Mengapa pria itu menciumnya, dan mengapa pria itu tidak suka di jalan dengan Dion.
Bukankah selama ini Jack hanya membuatnya sebal, bahkan hingga detik ini pria itu masih memberikan rasa yang sama. Kekesalan.
.
.
Entah mengapa Jack malam itu membawa Gendis ke sebuah danau buatan yang baru ia tahu sewaktu jaman mitigasi penyelamatan penyekapan Tomy beberapa waktu silam.
" Kau mau apa membawaku kemari? setelah seenaknya menciumku, kau mau memperkosaku disini? apa kau pikir aku wanita murahan hah?" Gendis benar-benar tak bisa menahan kecamuk dalam hatinya. Ia merasa di rendahkan oleh Jack.
Gendis naik pitam.
Apalagi, wanita itu memang baru merasakan ciuman pria, lebih parahnya pria itu adalah Jack.
Jack membuka sabuk pengamannya. Ia tak meladeni ucapan Gendis, pria itu langsung turun menuju tepi danau dan terlihat melempar batu ke arah danau yang malam itu terlihat bercahaya pendar, hanya di temani temaram cahaya bulan.
Jack kini memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya, pandangannya menerawang lurus. Sepoi-sepoi angin malam membuat rambutnya bergerak.
__ADS_1
Jack ingin menenangkan diri.
Gendis masih diam di dalam mobil. Ia kesal karena pria itu benar-benar seperti patung yang membisu, namun bergerak.
Cukup lama Gendis berada di dalam mobil sendirian, ia melihat Jack yang masih tekun menatap danau itu. Tapi kali ini, Jack duduk dengan melipat kedua kakinya.
" Kau ini sebenarnya mau apa? cari pesugihan apa mau apa di tempat seperti ini malam- malam begini!" perempuan itu rupanya tak tahan untuk menunggu lebih lama lagi.
Gendis tengah berdiri di belakang Jack yang masih termenung. Wanita itu menatap Jack kesal sembari menyilangkan kedua tangannya.
" Duduklah!" ucap Jack santai seraya menepuk rumput di sebelahnya.
Gendis mengernyit, ia sudah sangat emosi tapi pria itu malah hanya menjawab ucapannya dengan kalimat sesantai itu.
Gendis merasa iba melihat raut wajah Jack yang tiba-tiba murung. Wanita itu kemudian duduk menjajari Jack yang terlihat tekun melempari Danau itu dengan kerikil.
" Aku minta maaf!" ucap Jack saat ia berhenti melempari kerikil itu.
Hening, atmosfer kecanggungan menyeruak.
Ia menatap Gendis dari jarak dekat. " Maaf karena menciumi seperti tadi!"
" Aku tidak suka saja melihat mu pergi berdua dengan Dion!"
" Aku tidak berdua, tapi bertiga!" sergah Gendis.
" Aku juga minta maaf selama ini kerap membuatmu kesal. Aku hanya...."
Gendis menanti kelanjutan ucapan pria dengan sikap sulit di tebak itu.
" Aku merasa senang saat mengerjaimu, aku senang saat kau ngomel kepadaku!"
Apa pria ini gila?
Gendis seketika bergidik ngeri.
" Aku harap kita bisa mulai dari awal. Dan...maaf soal ciuman tadi!"
__ADS_1
Apa? setelah melahap bibirku bisa-bisanya dia hanya minta maaf. Benar-benar perdagangan yang tidak pernah merugi!
" Aku hanya ingin membuatmu diam karena terus mengomel!"
Suasana kembali senyap.
" Aku juga minta maaf karena kerap bersikap tak sopan. Kau ini sombong sekali, bahkan sejak pertama ketemu kau begitu sombong!" jawab Gendis juga dengan pandangan menerawang.
" Aku ini miskin dan sengsara, sangat rapuh bila harus bergesekan dengan ucapan perihal kasta!" Gendis menyusut air matanya dengan ujung bajunya. Wanita itu menangis.
Dia bisa menangis juga ya?
Jack menatap Gendis iba. Ia tak mengira wanita yang terlihat bak wonder woman itu, begitu rapuh.
" Maaf!" Jack hanya bisa mengucapkan kata itu. Lidahnya mendadak kelu. Ia terlalu merasa bersalah.
" Sebenernya aku juga ingin seperti wanita- wanita lain. Ramah, segan, sopan!" Gendis tersenyum kecut.
" Tapi yang berlaku dalam hidupku hanyalah kerja keras. Tidak hitam tidak makan!" Gendis nampak menumpahkan buncahan rasa di dadanya.
" Maaf aku terlalu banyak bicara!" Gendis menyadari ia telah terlalu banyak melewati batasan. Ia terlihat menyusut sudut matanya yang berair.
" It's Ok. Kau masih mending memiliki orang tua yang masih hidup. Sementara aku...aku tak tahu mereka dimana!" Jack tersenyum kecut.
Mendadak Gendis teringat saat Jack mengigau tempo hari. Ia juga tak mengira bila dibalik sikap sombong dan angkuh Jack, tersimpan beban yang juga berat.
" Semua orang berperang melawan pertempuran kehidupannya masing-masing!" Gendis berbicara dengan tatapan menerawang.
" Ya kau benar!" Jack juga mengikuti arah pandangan Gendis yang mengarah ke danau.
Singkat kata, malam itu menjadi titik balik keduanya saling mengenal satu sama lain. Dan untuk urusan ciuman, ah biarlah mereka yang memendam.
Jack yang kagum dengan keteguhan hati Gendis yang selama ini di tempat hidup sulit, dan Gendis yang kasihan karena sebenarnya Jack adalah manifestasi orang yang rindu akan kasih sayang orang tuanya.
.
.
__ADS_1
.