Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 134. Kematian itu pasti


__ADS_3

.


.


"Waktu terus bergulir, kita kan pergi dan di tinggal pergi. Redalah tangis, redalah tawa!!!"


(Diambil dari lirik lagu Iwan Fals ~ Satu Satu )


.


.


Jessika


Sorot matanya kosong, nanar menatap jasad yang sudah terbujur kaku di depannya.


"Mak Wek" lirihnya, memanggilnya dalam hati.


Bahkan matanya ,sudah tak memproduksi lagi cairan bening itu.


Jiwanya kosong dan hampa, tak memiliki kekuatan apapun saat ini.


Hanya Lek Soleh, yang setia memeluknya sedari tadi bahkan saat dia tiba dengan kondisi tak sadarkan diri.


Sayup sayup suara para pelayat yang melantunkan ayat-ayat Allah.


Ia bahkan sesekali hanya memejamkan matanya, berharap semua ini hanya mimpi.


Mimpi yang berakhir, tatkala ia membuka dua bola matanya.


Namun sepertinya, ia harus menerima kenyataan pedih ini. Neneknya telah menghadap Sang Khalik.


"Sudah nduk, jangan nangis terus. Ikhlas, sing kuat ( yang kuat)".


Lek Soleh mengusap pundak lengannya, penuh kasih.


Berusaha memberikan kekuatan.


Kini satu satunya orang tua yang ia miliki telah tiada, bahkan ia tak sempat menyaksikan saat saat terakhir.


Semua terjadi begitu cepat, bahkan mengapa harus terjadi disaat ia harus mendapat persoalan pelik dengan suaminya.


Ia benar- benar tak memiliki daya dan kekuatan, bahkan untuk menjawab pertanyaan pun, lidahnya seolah kelu


****


Pak Edy terlihat syok, tak menyangka bila Mbok Yah telah tutup usia.


Ya, pak Eko pagi itu terlihat menelpon Bosnya itu.


"Leo, kamu ikut papa ke desa sekarang!"


Tentu saja, mereka terbang ke Kabupaten B pagi itu juga.


Menggunakan pesawat yang paling pagi, dari kota S menuju Kabupaten B.


Mereka menghubungi David, namun tak ada jawaban.


Pun sama halnya dengan Tomy, nomer asistennya itu juga tak bisa di hubungi.


"Kemana Bang David" ucap Leo saat masih di dalam mobil, perjalanan menuju bandara.


"Coba lagi nomernya Tomy" titah Pak Edy.


"Sama pa, ga ada yang bisa"


Pak Edy hanya menarik nafasnya, entah mengapa sedari kemaren perasaannya tidak enak.


.


.


.


David


Ia menyusuri jalanan, namun belum juga mendapatkan istrinya itu.


"Maafkan ku sayang, tapi kamu harus dengar ini dulu" gumamnya, seolah menyesal. Dan tiada daya untuk sekedar menghalau kepergian istrinya.


Ia merasa dirinya di jebak, dan oh sh it!!!!!


Harusnya David tak membiarkan Mayang seorang diri, entah mengapa dia kini justru berputar balik menuju rumahnya.


Dengan langkah tergesa-gesa, tubruk sana-sini ia mencari keberadaan Mayang.

__ADS_1


"Mayang!!"


"Mayang!!!


Ia berteriak, namun hingga tenggorokannya serak wanita itu tak juga menampakkan batang hidungnya.


Dengan tak sabar, ia akhirnya menapaki tangga menuju kamarnya.


Ceklek


Kamar itu kosong melompong tak berpenghuni, dengan gusar ia menggeledah seluruh bagian ruangan disana.


Dapur, kamar mandi, gudang, lantai dasar dan lantai atas juga tak luput dari sasarannya.


Sama, kosong dan keberadaan wanita itu bak hilang di telan bumi.


"Arrrrggghhh!!!" ia mengusap wajahnya frustasi.


Ia yakin, Mayang pasti terlibat dalam hal ini.


Terlalu buru buru, dan ceroboh. Ini jelas bukan dirinya.


Ia menghubungi nomer Tomy namun sia sia, sebab yang menjawab panggilan adalah Veronica, yakni customer service operator yang selalu menjawab dengan kalimat yang sama, dan berulang.


"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan"


"Breng sek!!!!"


Entah sudah berapa kali dia mengumpat.


Baiklah, jelas ada yang tengah bermain- main dengannya.


Kini ia harus mengejar istrinya terlebih dahulu, meski ia sendiri tak yakin ada dimana pujaan hatinya itu.


.


.


Menyusuri jalanan telah ia lakukan, namun nihil. Tak ada hasil.


Opsi terakhir adalah menuju rumah nenek Jessika, ia yakin bila istrinya itu pasti kembali kesana.


Namun ia terkejut, saat mendapati rumah Mbok Yah penuh dengan banyak orang.


"Ada apa ini" ia bermonolog, seraya menepikan mobilnya.


Meski ia tak yakin, namun ia terus berjalan maju. Menuju pintu masuk rumah ber cat putih itu.


"Den!"


"Tuan David!"


Sapaan - sapaan hormat untuk dirinya bahkan tak sempat ia jawab, matanya fokus memindai apakah ini benar?, apakah benar bila duka tengah terjadi di rumah ini?.


****


Hati David perih, tersayat. Bagaimana tidak, ia melihat istrinya dengan tatapan kosong, nanar memandang jasad yang tengah di selimuti oleh jarik.


Ia benar benar merasa bersalah, tak bisa membayangkan sebenci apa istrinya itu, kepada dirinya saat ini.


Rumah itu masih terlihat ramai sesak oleh para pelayat.


"Harus aku mulai dari mana sayang"! ia makin tak tahan melihat kondisi istrinya.


Kehilangan orang yang di cinta?, seketika membuat ia teringat dengan kepergian ibunya.


Lek Soleh terlihat mengajak Jessika untuk bangkit dari sana, David masih memperhatikan kemana mereka akan pergi.


Rupanya jenazah akan segera di mandikan.


Ini kesempatannya untuk mengejar istrinya.


.


.


"Kamu kalau gak kuat gak usah nduk, pamali mandiin Mayit sambil menangis!" ucap Lek Soleh.


Karena saat ini prosesi memandikan jenazah, akan segera dilakukan.


"Astagfirullahhaladzim" namun Jessika kini duduk di tepi ranjang, seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Menangis sedalam-dalamnya, benar benar seolah tak sanggup menghadapi kenyataan.


Seperih inikah rasa kehilangan?.

__ADS_1


Lek Soleh yang melihat kedatangan David sontak berdiri, ia belum tahu bila keponakannya itu terlibat masalah saat ini dengan suaminya.


Slamet tadi juga tak keburu cerita, lantaran di sibukkan dengan berbagai tugas saat para pelayat sudah mulai berdatangan.


David mencoba datang ke dekat istrinya, namun langkahnya tercekat.


"Stop!!!" ucap Jessika begitu membuka matanya.


Menaikkan tangannya, begitu mendengar langkah seseorang mendekat ke arahnya. Berusaha membuat langkah suaminya untuk berhenti.


"Sayang deng..."


"Berhenti!!!" kini nada suaranya lebih tinggi.


"Sayang, aku mohon!" ucap David dengan wajah memelas, berusaha bernegosiasi.


"Berhenti!!!!" kini Jessika sudah berteriak frustasi, membuat semua orang disana saling menatap.


"Ada apa ini David?" Lek Soleh tentu saja tak bisa menahan diri, untuk tidak bertanya.


David menghembuskan nafasnya dalam," Lek bisa bicara sebentar?"


.


.


.


"Ada apa sebenarnya?" Kini mereka berdua tengah berada di kamar tamu, sengaja mencari tempat yang aman untuk berbicara.


Membiarkan Jessika untuk sendiri, barang sejenak


"Dengar Lek, ada dua hal!"


Lek Soleh masih menyimak ucapan keponakannya yang nampak serius itu, ya semenjak menikah dengan Jessika. Praktis David juga menjadi keponakannya bukan?.


"Aku sedang di fitnah"


Lek Soleh menatap David intens, berusaha mencari maksud ucapannya.


"Yang kedua Jessika tengah marah besar"


"Apa maksudnya David??" Lek Soleh sungguh tak mengerti, ini situasi duka. Tapi David malah membahas topik lain.


Akhirnya, tanpa ragu David menceritakan semua yang terjadi.


Tentang dirinya yang tiba tiba tidur seranjang dengan pembantunya.


Tentang Jessika yang datang, tepat saat mereka belum bangun.


Sialnya lagi, David tak mengenakan sehelai benang pun.


"Apa??" Biji mata Lek Soleh seakan hendak keluar dari tempatnya.


"Kenapa bisa begitu David!!" Kini Lek Soleh makin emosi, ia yang memiliki pembawaan jenaka sama sekali tak terlihat seperti biasanya.


"Dengar Lek, kau harus tahu!"


"Tomy hingga saat ini menghilang"


"Nomernya tak bisa aku hubungi"


Lek Soleh masih berusaha mendengar, mencoba berbicara antar sesama lelaki.


" Bisa aku minta satu hal?" ucap David.


"Katakan!" jawab Lek Soleh.


"Jaga istriku, setelah prosesi pemakaman Mbok Yah aku akan membereskan urusanku"


"Masalah yang mereka buat tidak main main!!"


"Mereka harus membayar semua ini!!"


Lek Soleh kini menjadi ciut nyali, bila David berbicara dengan nada mengerikan seperti itu.


"Istriku tengah marah besar padaku Lek, tolong bantu aku untuk menjaganya"


"Kau tadi lihat sendiri, ini bukan saat yang tepat untuk aku menjelaskan kepada istriku"


Lek Soleh mengangguk paham.


"Pergilah, Jessika aman bersamaku!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2