Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 83. Seperti Bukan Dirimu


__ADS_3

.


.


.


"Silahkan mas, diminum" ucapnya seraya meletakkan cangkir berisi kopi instan yang sering diminum oleh Vera, diatas meja bulat yang ada diantara kursi yang di duduki Leo dan dirinya.


"Terimakasih Jes, jadi merepotkan mu" jawab Leo halus yang selalu tidak bisa marah apabila di dekat Jessika, padahal saat melihat David bersama wanita itu ia sudah sangat marah.


Ia juga tidak tahu marah kepada siapa, kepada keadaan? atau kepada dirinya sendiri?.


"Hanya kopi mas" ucapnya tertunduk karena merasa tak enak hati, dan malu saat ia dan David kepergok Leo, meski itu bukan sebuah kesengajaan.


Ia juga tahu jika Leo tadi sempat marah saat ia pergi, meninggalkan dirinya dan David.


"Sruuuuppp ahhhhh, emmmm benar benar nikmat" ucapnya puas setelah menyeruput kopi itu.


Jessika tersenyum ke arah Leo, " kopi buatan pabrik, aku biasa minum itu juga"ucapnya lembut.


"Kamu biasa ngopi?" tanya Leo.


Jessika menggeleng, "Karena Vera,semenjak kost bersama Vera ia sering membuatkanku kopi tanpa menawariku dulu" jawabnya lagi.


"Kopi apa bisa enak begini" tanya Leo.


"POT kopi, biasa Vera belinya di Bravomart" jawabnya memberitahu.


"POT kopi?" tanyanya Leo memastikan.


"Iya mas kenapa?" Jessika balik bertanya karena melihat Leo seperti memastikan.


"Astaga jadi aku meminum kopi produksi perusahaan ku sendiri, CK" Leo bergumam dalam hati, ia bahkan tidak pernah mencicipi rasa kopi keluaran PT nya itu.


"Ehmm tidak, hanya memastikan" kilahnya kikuk.


"Jes, aku kemari ingin bicara serius sama kamu" ucapnya memulai pembicaraan, ini adalah kesempatan untuknya.

__ADS_1


Jessika yang sudah mengira itupun ,tidak terkejut saat mendengar ucapan Leo.


"Kalau tentang kita maaf mas, jawabanku masih sama" Jessika seperti menebak arah pembicaraan mereka kali ini.


Leo menjadi sedikit tidak suka atas jawaban Jessika, yang terlihat sudah antipati terhadap dirinya.


"Oh tidak, bukan itu. Aku ingin bertanya, apa kau menyukai bang David?" Leo sudah tidak tahan, ia harus mendengar sendiri jawaban dari mulut Jessika.


Tak baik jika ia terus menerka nerka, selain itu membuatnya tak tenang ia juga tidak mau menyesal jika prediksinya itu salah akan membuat dirinya rugi.


"Mas Leo kenapa menanyakan hal itu mas" tanya Jessika yang menjadi semakin tidak mengerti.


"Jujurlah, kau tahu selama ini aku masih berusaha ingin membuatmu merubah keputusanmu beberapa bulan yang lalu. Tapi yang kulihat sepertinya kau sudah menaruh hati kepada orang lain" Leo berkata dengan penuh kegundahan dan mulai terpantik emosinya.


Jessika masih berusaha mencerna setiap perkataan Leo, merubah keputusan? menaruh hati pada orang lain?


"Mas, aku benar benar minta maaf. Mas Leo sudah baik kepadaku selama ini, aku benar benar tidak bisa membuat perasaanku ini lebih. Aku juga tidak menyukai siapapun" jawab Jessika yang mulai kehabisan kata kata, karena Leo tetap bersikukuh.


Leo merasa kalimat akhir dari ucapannya itu, bukan sebuah kejujuran. Ia juga tahu bahwa Jessika masih malu malu mengakuinya.


"Aku pernah melihatmu berdua saat acara papa di desa, selepas ulang tahun Bella, kau juga terlihat seperti takut kehilangan bang David, dan tadi..." Leo berucap dengan nada bicara tinggi dan kaku, entah mengapa ia tiba tiba tersulut emosi.


"Apa yang membuatmu datang menemui kakaku, jika kau tak munyukainya!!!!" Leo berbicara sambil berdiri dan menunjuk Jessika penuh kemarahan.


Pembicaraan yang awalnya santai berubah menjadi seperti sebuah pertengkaran.


Leo benar benar sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, perasaan posesif kepada Jessika dan rasa naif jika kehilangan membuat dirinya tak bisa berfikir jernih.


"Apa maksud mas Leo" Jessika sontak ikut berdiri.


"Aku cinta sama kamu Jes, aku suka sama kamu, aku mau kamu jadi kekasihku, kita menikah, hidup bahagia!!!" ucap Leo masih dengan suara yang keras dan menggebu-gebu seraya mencengkram kedua lengan Jessika.


Jessika yang kesakitan itu melepas kasar tangan Leo, dan berlari masuk ke dalam karena ia takut akan sikap Leo yang seperti itu.


Jessika berusaha menutup pintu kostnya karena takut, namun dengan gerakan cepat kaki Leo mengganjal pintu yang nyaris tertutup itu, kemudian ia masuk ke dalam.


Jessika sudah sangat ketakutan, mengapa Leo bisa seperti orang kesetanan seperti itu,"Jangan mendekat, mas Leo jangan macam macam" ancamnya seraya mundur dengan penuh ketakutan.

__ADS_1


Leo yang sudah hilang akal karena emosi itu, menyudutkan tubuh liat Jessika di tembok kost berwarna kuning itu, " apa yang membuatmu memilih bang David dari pada aku,hem?? kenapa kau selalu menolakku".


Leo berucap seraya mendekatkan bibirnya ke curuk leher jenjang Jessika, membuat wanita muda itu sudah sangat ketakutan.


Apalagi Leo sudah mengunci pergerakan dirinya, membuatnya tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk kabur.


Air mata Jessika bahkan sudah menganak sungai, mengapa Leo bisa bersikap segila ini.


"Mas Leo tolong lepaskan aku mas, kita bisa bicara naik baik baik" ia masih mencoba memulihkan kesadaran Leo.


"Apa yang ingin kau bicarakan!! kau akan menolakku lagi dan memilih bang David kan, aku tidak aku bisa Jes,, tidak akan!!!!!!"


Sepersekian detik ia mencium bibir Jessika dengan kasar, ia sudah kehilangan kewarasannya. Bagaimana bisa dia menyakiti wanita yang ia sukai.


"Hentikan mas!!!!" Jessika mendorong sekuat tenaga tubuh kekar Leo, ia merasa Leo sudah kelewatan.


"Plaaaaaakkkk"


Tangan lembut Jessika degan cepat menyambar wajah rupawan di hadapannya itu, membuat kesadaran Leo kembali.


Dengan nafas yang masih tersengal dan terdengar memburu, ia meraba pipinya yang terasa panas.


"Apa mas Leo pikir aku wanita murahan? apa yang kau lakukan kepadaku mas? " suaranya bergetar karena kedua matanya sudah basah karena air mata.


Hatinya sakit di perlakukan seperti itu oleh Leo, Leo begitu menyakitinya dengan perbuatannya itu.


Leo yang tersadar akan perbuatannya yang kelewatan itupun, tanpa berbicara lagi langsung keluar dan menuju mobilnya.


Ia membuka dan membanting pintu mobilnya dengan kasar. Ia sudah terlihat seperti bukan seorang Leo Darmawan yang santun, yang lembut. Ia berubah menjadi seperti seorang pedo fil.


Atau bahkan looser ( pecundang).


Untung saja kejadian ini tidak ada yang mengetahuinya, jika tidak Jessika bisa saja dalam masalah besar.


Jessika beringsut ke lantai dingin kostnya itu, ia merasa dirinya tidak di hargai oleh laki laki, memang ia pernah di cium oleh David namun David tidak melakukannya dengan kasar seperti yang Leo perbuat padanya barusan.


Jessika bukanlah wanita yang terbiasa akan hal itu, baginya itu adalah hal tabu yang tidak bisa dilakukan secara sembarang.

__ADS_1


Ia juga sedih mengapa sosok yang ia anggap sebagai penolong yang dikirim Tuhan untuknya itu , berubah menjadi seperti orang lain yang tidak ia kenal.


Tinggalkan jejak dengan beri like and comment 🙏


__ADS_2