Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 9. Kearifan Lokal


__ADS_3

.


.


.


Selepas Jessika kembali dari mengambil amplop tersebut, dia lantas mendapat berondongan pertanyaan dari kedua sahabatnya itu.


"Jes, kok kamu kenal sih?" Tanya Arin karena sedari tadi dia sudah penasaran, bagaimana bisa sahabatnya itu bisa bercakap-cakap dengan Leo meski hanya pertanyaan kecil.


"Wes lah nanti aku ceritain".


ucap Jessika seraya membenarkan capilnya yang sedikit miring akibat ditarik oleh Arin.


David menjadi penasaran, ada hubungan apa adik dan pegawainya itu. Menurutnya Leo pasti tidak mengenal siapapun di kampung yang baru dia datangi bersamanya itu.


"Baik karena semua sudah dapat bonusnya, kalian bisa kembali bekerja hari ini cabai yang di seberang jalan sudah waktunya untuk dipetik, dan yang di belakang warung bek Narti waktunya untuk membuangi porong ( salah satu penyakit cabe yang membuat buah busuk sebelum di panen)" titah pak sis kepada semua pegawainya.


Karena penasaran, David bertanya kepada Leo perihal gadis tadi.


"Lo kok kenal sama anak itu?" Tanya David kepada Leo yang tengah asik mencaplok gorengan di warung bek Narti.


Kemudian Leo menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Jessika secara tak sengaja.


"Tapi bang, beda banget dia tadi sama dia yang semalam, semalam dia terlihat lebih cantik bang". Ucap Leo kepada kakaknya.


"Cantik darimana, hahahaha perasaan semua gadis disini jelek jelek, Kumal semua" .jawab David sembari menyeruput kopi yang sengaja di buatkan bek Narti atas perintah pak mandor sis.

__ADS_1


"Terserah lah bang, lu kan biasanya sama cewek cewek di club' apalagi cewek lu, hiii dandannya udah kayak manekin kurang bahan baju, selalu berlubang lubang gitu bajunya". Ucap Leo sambil sedikit menyinggung tentang pakaian Sherly yang memang selalu tampil bak wanita tidak benar itu.


"Sialan lu, ngatain cewek gue. Jadi kangen gue sama si Sherly gara gara lu ngomongin dia". Kata david menjawab.


David dan Sherly berpacaran namun mereka sudah sangat sering melakukan hal yang biasa dilakukan oleh suami istri, Sherly adalah wanita yang begitu materialistis, sehingga dia rela melakukan apa saja termasuk menyerahkan apem nya kepada David. Meski saat diberikan kepada David, apem itu sudah second.


"Kalian sebaiknya segera pergi ikut pak sis". Suara bariton itu menghentikan percakapan receh dua bersaudara itu. Pak Edy sudah menginstruksikan kepada pak sis agar bisa membantu David dan Leo untuk belajar sedikit tentang pertanian dan untuk mengontrol para pegawai.


sementara pak Edy kembali ke rumah karena ada hal lain.


"Mari den, kita cek dulu yang lagi petik cabai."ajak pak sis sembari membungkung hormat kepada mereka berdua.


Mereka berjalan kaki sambil ngobrol kecil, di sela sela obrolan pak sis juga memberikan wawasannya terkait pertanian yang notabene David dan Leo belum familiar.


dan pandangan David berhenti pada 3 orang wanita yang heboh dan ramai sendiri diantara para pegawai lainnya. Ya, mereka adalah Jessika , Arin, dan Eka mereka tertawa karena mendengar siaran radio yang saat itu di siarakan oleh penyiar kocak markonah.


Penyiar yang setengah laki setangah perempuan itu, sukses mengocok perut tiga dara itu.


Ujar David begitu saja yang membuat pak sis menghentikan langkahnya dan memandang ke arah mereka bertiga sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil.


"Mereka itu emang begitu Den, palingan lagi dengerin markonah". ucap pak sis.


"Markonah? mahluk apa itu markonah". Tanya David karena dia tidak mengerti apa itu markonah


"Itu den, penyiar radio mereka bawa radio dari rumah. Katanya biar gak ngantuk den kalau kerja."


"Owh begitu, masih ada rupanya radio di sini ya. Kenapa gak dengerin musik aja yang lebih keren." Jawab David asal dan sukses membuat Leo menoleh sedikit kesal.

__ADS_1


" Lu kira disini kayak di tempat Lo di kota bang? Sembarang musti digital? Tadi aja papa kasih mereka Bonus masih manual, aneh aneh aja."


Banar juga yang dikatakan Leo, disaat semua bisa dilakukan melalui digitalisasi seperti memberikan gaji lewat transfer kenapa tadi harus pakek cara jaman bahula. Sepertinya David belum bisa beradaptasi di lingkungan desa ini.


Memang ATM atau Anjungan Tunai Mandiri sudah ada di desa P, namun agak juah dan juga tidak semua masyarakat nya menabung dengan cara ke bank. Ada juga yang disimpan secara pribadi.


"Jes, katanya kamu mau nyeritain kenapa kamu bisa kenal sama mas ganteng itu". Rengek Eka seolah Jessi berhutang penjelasan kepadanya.


"Ngebet banget kamu, ora penting juga Lo masio ( gak penting juga lagian) ". Jawab Jessika malas, karena kedua sahabatnya ini gak bisa lihat barang bagus sedikit.


"Halah, gak penting pie sopo ngerti lek kenal juragan awakdewe kerjone penak ( Halah gak penting gimana, siapa tahu kalau kenal anak juragan kerjaan kita bisa lebih enak)." Ucap Arin tak mau kalah.


Akhirnya Jessika menceritakan sebab dia bisa bertemu dengan Leo.


"Oalah jadi baru semalam bertemunya? Tapi tunggu dulu kamu bilang kakimu di plester sama dia. Duh kok penak (enak) banget kamu Jes . Tahu gitu semalam aku ikut kamu ke warung beli sabun hahahaha". Ucap Eka yang makin heboh.


"Halah rek, ketemu juga gak sengaja, udah lah kita sadar diri aja. Mereka anak bos kalau cari pacar ya pasti yang sederajat udah lah, cepat kita selesaikan deretan yang ini biar cepet istirahat."


Jawab Jessika yang sukses membuat kedua sahabatnya itu diam tak menjawab lagi, adalah sebuah kenyataan bukan bahwa orang golongan atas pasti juga akan mencari yang bibit, bebet, bobotnya sederajat atau selevel dengan mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


**Jangan lupa like, comment dan vote ya


kasih komentar yang membangun ya biar author semangat🙏**


__ADS_2