
.
.
.
Jika Jessika tengah merasa lega pasalnya ia bukan hanya mendapatkan pinjaman dari lek Soleh, ia justru malah diberi uang yang diluar ekspektasi nya.
Namun berbeda dengan dua manusia tampan dirumah pak Edy.
"Lu mau balik enggak Leo?", tanya David sambil memakai jam tangan mahalnya itu.
"Abang duluan aja, aku masih ada misi yang belum terselesaikan", jawab Leo masih dalam mode malas.
Leo ingin menemui Jessica dan meminta maaf, sungguh ia merasa tidak enak hati pada Jessi. Ia bahkan masih sangat jengkel pada David, karena bukannya mempunyai niat untuk minta maaf, ia justru sibuk mengatur kesiapannya untuk pulang ke kota S.
Pak Edy yang tahu bahwa hari ini anak sulungnya akan kembali ke kota S sudah menyiapkan kendaraan beserta supirnya pak Umar.
"Kamu jaga diri disana David, jangan sering keluyuran malam gak jelas. Usia kamu udah hampir kepala tiga, kapan kamu akan mengenalkan kepada papa calon istrimu"
Ucap pak Edy pada anak sulungnya yang sudah duduk di meja makan bersamanya dan juga Leo.
"Setelah ini aku akan kenalin Sherly ke papa, dan papa tidak usah khawatir aku juga sudah memikirkan hal ini", jawab David.
Mereka semua makan dalam diam, hanya bunyi sendok dan piring bergantian di ruangan itu.
David kini sudah bersiap akan berangkat, tak lupa ia berbicara dengan Pak Sis untuk menjaga papaya yang sudah tidak muda lagi itu.
"Pa, David pulang dulu. nanti kalau ada waktu David akan kemari bersama Sherly", ucap David saat berpamitan dengan ayahnya.
"Hati hati David, kabari papa kalau sudah sampai", jawab pak Edy sembari memeluk putranya itu.
"Hati hati bang, kalau ada apa apa telpon gue", ucap Leo seraya memeluk abangnya.
__ADS_1
Leo memilih untuk tinggal sementara di desa. selain karena masalah Jessika , ia ingin melihat reaksi David saat tahu apa yang di perbuat Sherly selama David di desa.
Masalah pekerjaan, Leo sudah menyerahkan kepada Tomy sekretaris nya.
Mobil mewah itupun berangkat, meninggalkan desa membelah jalanan dan kembali ke euforia kota S.
***
Jessika melangkahkan kakinya kembali kerumah sederhana itu, hatinya berbunga bunga. Ia merasa bahagia karena sebentar lagi satu dari persoalan hidupnya akan berakhir.
"Setelah ini aku akan langsung kerumah Bu Lastri" , ia bermonolog dalam hati.
Ia segera membereskan urusan itu, dan mau menunda nundanya lagi. Setelah mengambil uang dirumahnya dan memasukknya ke amplop dengan jumlah sesuai kekurangan hutangnya, dia bergegas menuju rumah Bu Lastri.
Ia memacu sepeda Phoenix nya menuju rumah Bu Lastri, dan tak butuh waktu lama ia sudah sampai dirumah yang cukup besar di kampungnya itu
"Assalamualaikum", ucap Jessika dari depan.
"Cari ibu nak?", tanya wanita itu sopan dan di balas anggukan oleh Jessika.
Kemudian Jessika di persilahkan masuk, dan setelah menunggu kurang lebih 5 menit munculah wanita berdandan menor dengan perhiasan di tangan seperti toko emas berjalan.
"Ada apa, mau minjam duit lagi?", tanya Bu Lastri sedikit sensi.
"Mboten buk, Niki ajenge ngelunasi gadaane bapak" ( enggak buk, ini mau melunasi pinjamannya bapak)", jawab Jessika masih dengan nada sopan, sekalipun bu Lastri bersikap seperti itu.
Kemudian Bu Lastri membuka buku besar dan melihat daftar nama Ayahnya Jessika.
"Kurang dua juta, mau nyicil apa dilunasi?"
tanyanya sedikit munurunkan oktav suaranya.
"Saya mau lunasi bu", jawab Jessika sopan.
__ADS_1
Kemudian dia menyerah uang yang sudah ia masukkan amplop dari rumahnya tadi, dan dengan gerakan cepat BU Lastri menerima uang itu dan menghitungnya dengan jari yang di jilat lebih dahulu.
Setelah itu ia masuk kedalam dan kembali ke ruangan dimana Jessika menunggu sambil membawa sertifikat rumah Jessika.
Sesaat setelah menandatangi bukti, Jessika menerima sertifikat itu, ada rasa bangga di hatinya.
" Ayah ibu, alhamdulilah semoga ayah ibu tenang disana, sertifikat ini sudah kembali". dia berbicara dalam hatinya.
"Terimakasih banyak bantuannya selama ini Bu", ucap Jessika pada Bu Lastri.
Dia tetap bersikap ramah meski ia ingat sering sekali Bu Lastri memaki dirinya juga neneknya saat telat membayar hutang.
Saat itu ayahnya tidak punya pilihan lain, ia terpaksa meminjam uang di Bu Lastri karena keadaan yang urgent.
Ayah Jessika lebih memilih meminjam di Bu Lastri karena lebih cepat, sedang saat itu ibunya harus segera mendapatkan perawatan.
Akan sangat ribet apabila meminjam di bank, dan belum tentu langsung cair saat itu juga.
"Nduk kamu gak mau minjem lagi, kalau butuh uang kemari saja ya", ucap bu Lastri dengan nada halus, sangat berbeda saat Jessika baru masuk tadi .
"Astagfirullah, tadi aja kayak gitu, sekarang begini. gimana gak banyak orang yang terjebak kalau begitu", batin Jessika.
Ia berfikir Bu Lastri ini memang cocok menjadi pemain sinetron, bagaimana tidak ia bisa dengan mudah berubah sikap seperti itu.
Pantas saja banyak orang yang terjebak rentenir, karena saat akan meminjam mereka di iming-imingi dengan bahasa yang halus, sangat kontras pada saat mereka menangih.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak lagi berurusan dengan lintah darat yang menyesatkan seperti Bu Lastri.
Sayonara rentenir.......
********
Makasih ya yang udah mampir di novel aku, jangan lupa kasih like comment dan vote nya ya 🙏
__ADS_1