Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 175. First impression


__ADS_3

.


.


.


Sekumpulan emak-emak masih tekun untuk meludeskan paket nasi yang dibawa oleh Jack. Ia masih heran dengan wanita yang berada sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri.


" Buk, yang itu gak sekalian di panggil?" ucap Victor menunjuk Gendis menggunakan dagunya. Ya, pria itu rupanya mengikuti arah pandangan Jack.


" Oh iya, sebentar tak panggil e mas!" sahut Ibu yang menggendong bocah tadi.


" Woy!!!! Ndis....Gendis!!!"


Wanita itu berteriak kencang, bahkan Victor sempat meringis lantaran suara ibu itu mirip seperti lengkingan toa masjid.


" Gendis sini kamu, ini ada rejeki dari Bu Jessika!!"


Dan dari radius dua puluh meter, suara ibu itu tersampaikan ke telinga wanita bernama Gendis itu. Terbukti, wanita itu kini berjalan ke arah kerumunan masal itu.


Gendis hanya mengenakan celana pendek diatas lutut siang itu, perempuan itu mengenakan kaos hitam oblong dan mengikat rambutnya asal. Leher nan jenjang itu terekspos dengan gratisnya.


" Apa mak?" tanya Gendis kepada Mak Rizal ( Di panggil Mak Rizal karena anaknya bernama Rizal).


Ia mengabaikan Jack dan Victor yang berdiri di sana. Jack memerhatikan wajah Gendis lekat.


Manis juga, tapi galak amat!


" Nih, ada rejeki buat kita. Selamatan tiga bulan anaknya juragan cabe!" tukas Mak Rizal.


" Oh..!" Gendis mengangguk.


" Boleh ambil dua, kebetulan belum makan dari pagi. Masih ada satu orang lagi dirumah juga belum makan!" Gendis menatap dua pria yang berdiri mematung disana itu.


Namun ucapan Gendis lebih dulu terinterupsi oleh perkataan para ibu-ibu lain.


" Makasih mas!"


" Sampaikan ke Bu Jessika ya, kamu seneng banget. Mana dapat kotak superware lagi!"


Sekumpulan ibu-ibu yang sudah selesai mengambil jatahnya itu, kini menunduk hormat kepada Jack dan Victor.


" Sama-sama buk!" jawab Victor seraya melirik Gendis yang berwajah datar.


" Haloooo....!!! boleh enggak?" Gendis agak kesal karena di cueki.


" Gak boleh, kamu kesini satu orang kan. Ya ambil satu aja!" Jack sengaja mengerjai perempuan itu.


" Ya udah, gak jadi!" tanpa basa-basi lagi, gendis meninggalkan mereka. Wanita itu tak suka berbasa-basi. Jika niat bersedekah, mengapa harus ada aturan seperti itu. Padahal, jumlah kotak di dalam mobil itu masih sangat melimpah pikir Gendis.


.


.


Gendis


Perempuan itu hatinya mencelos sesaat setelah mendengar jawaban ketus dari Jack. Lagi-lagi ia selalu mudah tersinggung dengan ucapan orang yang menurutnya memiliki keadaan kasta, yang jauh di atasnya. Gendis memilih untuk membuat sambal saja, sambil menunggu bapaknya yang berprofesi sebagai pengangguran itu bangun.


" Kalau mau ngasih kenapa begitu sekali, kenapa manggil kalau cuma mau minta satu lagi saja tidak boleh!"


Gendis menggerutu sepanjang ia mengupas bawang di dapur usangnya. Perempuan itu begitu kesal dengan pria berbaju Green Army tadi.


Aku bahkan belum tahu namanya tapi dia sudah membuatku kesal.


Ia melirik Yudi yang masih mendengkur dengan lelapnya. " Punya bapak aja kayak orang mati. Tiap ketemu cuma denger suara ngoroknya?" ia masih terus saja mengomel.

__ADS_1


Namun saat ia mencoba membuat api di tungku dapurnya, seseorang memanggilnya.


" Mbak!!"


" Mbak!!!"


.


.


Jack


Pria itu di maki habis oleh Victor. Rekan sejawatnya itu kesal karena Jack tak langsung memberi saja apa yang di minta oleh salah satu warga itu.


" Kau ini bagaimana sih. Dia udah hampir kita tabrak tadi, tapi gak mempersoalkan masalah. Nah sekarang, giliran dia minta nasi tambahan aja, gak elu kasih!!"


" Gue gak terima. Elu musti anter sana!" ucap Victor bak memarahi anaknya.


Jack mendengus. Ia sebenarnya hanya bercanda. Lagipula, mengapa bisa ada wanita yang tak terpesona dengan dirinya.


" Kalau mas mau ngantar, rumahnya yang itu. Yang depannya ada pohon rambutannya, sama ada tanaman cabainya!" tukas Mak Rizal memberitahu, saat ia masih berada disana. Menunggu para tetangga yang belum datang.


Dan demi apapun di dunia ini, Jack kali ini mengalah.


" Sini!!" Jack mengambil dua box berwarna jingga dan tosca. Sejurus kemudian ia berjalan menuju rumah Gendis.


" Mbak!!!"


" Mbak!!"


Jack memanggil wanita itu untuk keluar. Hatinya nyeri sebenarnya melihat rumah Gendis. Rumah sederhana yang nampaknya sudah memerlukan perbaikan di sana sini.


" Orangnya gak ada!" sahut dari dalam. Dan ia yakin itu adalah suara wanita tadi.


" Gak ada kok jawab!" sahut Jack reflek.


.


.


Suara membabi buta pria itu terus saja memanggilnya. Membuat ia mau tak mau harus segera menemui pria itu.


" Apalagi sih?" dengus Gendis.


" Nih!" ucap Jack mengangsurkan dua kotak.


" Gak perlu, aku udah masak!" ucap gendis mengerutkan keningnya, seraya memasang wajah tak ramah.


" Sombong amat sih lu, tadi elu minta kan. Asal elu tau ya, elu itu bukan siapa-siapa. Gak pantes elu ngomong gitu ke gue!!" Jack mendadak kesal dengan kekeraskepalaan perempuan itu.


Gendis mendelik," Saya memang bukan siapa- siapa. Makanya gak usah datangin rumah saya. Tuan yang terhormat?!" Gendis yang kesal langsung melesat masuk ke dalam, meninggalkan Jack yang terbengong disana.


Suara gaduh diluar berhasil membangunkan Yudi. Pria itu membetulkan celananya yang melorot, karena kancingnya ia lepas sewaktu mau tidur tadi. Semua itu terjadi akibat perut buncitnya yang melebihi kapasitas celananya.


" Loh ada tamu!!" tukas Yudi keranjingan.


" Pak, ada apa?" ucap Yudi kemudian, dengan wajah terkantuk-kantuk.


" Ini buat bapak, sama anak bapak!" ucap Jack memberikan dua box nasi yang ia bopong sedari tadi, dengan gerakan cepat.


Membuat jam tangan mikirnya lepas tanpa ia sadari.


" Makasih banyak ya Den!" ucap Yudi riang.


" Hemm!" usai menjawab dengan gumaman, pria itu pergi meninggalkan rumah Gendis dengan rasa sebal.

__ADS_1


Yudi yang kegirangan lantaran baru bangun langsung mendapat makanan, langsung membawanya menuju dapur.


" Nduk, Ndis!!!! Bapak dapat nasi!!" ucap Yudi memanggil anaknya dengan riang namun tak disahuti.


Dan jam tangan Jack yang jatuh tadi, tidak ada yang menyadari. Pria itu keburu pergi lantaran hatinya sebal dengan perlakuan Gendis yang menurutnya, tidak sopan.


...***...


Jelang Ashar Gendis terbangun, perempuan itu hendak mengangkat jemurannya yang pasti sudah mengering.


Ia melihat jam di tembok dengan cat yang sudah kusam itu, menunjukkan pukul empat sore. Dengan malas, ia berjalan keluar. Badannya terasa remuk.


Usai mengangkati jemuran yang sudah mirip seperti kerupuk itu, ia kini menyapu halaman rumahnya. Guguran daun rambutan yang telah mengering itu, bak menjadi kerjaan rutin tiap sore untuknya. Dan saat akan menyapu sisi depan teras rumahnya, ia menemukan jam tangan seorang pria yang terlihat mahal.


" Jam siapa nih, bagus banget!!" Gendis membolak-balikkan arloji dengan warna hitam mengkilat itu.


Sejenak ia berpikir, siapa pula yang meninggalkan barang mahal seperti itu pikirnya. Dirumahnya juga tak pernah ada tamu, kecuali mas mas yang bisa narik bank mingguan kepada bapaknya tiap hari kamis.


Tapi, hari ini masih hari Senin. Tak mungkin juga petugas bank plecit itu datang. Lalu siapa?


" Kamu dirumah aja, biar bapak yang cari kayu!" ucap Yudi dengan tumbennya.


" Tumben?" cibir Gendis.


" Sekalian mau ngambil pisang di kebon, udah tua bisa kita jual buat bayar kemisan!" tukas Yudi. Gendis mendengus.


Sudah bisa di prediksi, bila bapaknya itu mau bekerja, itu pasti karena pria itu tengah kepepet. Bukannya bekerja karena memang kewajiban, tapi karena tidak punya pilihan buat bayar hutang. Mungkin saja ia rugi bandar, karena pasang nomer tak pernah tembus.


" Apa itu?" tanya Yudi pada anaknya yang masih melamun.


" Jam pak, gak tau punya siapa. Mahal ni kelihatannya!" ucap Gendis.


" Dimana kamu nemu?" tanya Yudi seraya meraih jam hitam itu.


" Disini!"


Sejenak Yudi berfikir, mengingat dan memastikan.


" Kayaknya ini punya mas yang kasih aku nasi tadi. Cuma dia yang datang kesini selama tiga hari terakhir!" ucap Yudi.


" Mas mana?"


" Tadi, yang ngasih aku nasi. Kamu kan tadi tak tawari tapi gak mau. Itu kotaknya masih di belakang belum ke cuci!" tukas Yudi.


Gendis bahkan tak ingat bila siang itu bapaknya bisa makan enak, dengan lauk lengkap dan mendapatkan dua buah kotak makan plastik merk terkenal, hasil dari pemberian pria mengesalkan tadi.


" Astaga!!" gumam Gendis.


" Kamu antar sana, itu orangnya pak Edy Darmawan loh. Yang kasih sumbangan buat paving jalan. Kamu balikin aja, siapa tahu kamu dapat upah nanti!" ucap Yudi riang.


" CK!!" Gendis mendecak kesal, mengapa yang ada di dalam otak bapaknya itu hanya duit duit dan duit.


" Dah sana bapak pergi. Keburu malam nanti!!" usir Gendis kepada bapaknya.


" Kalau kamu gak mau, biar bapak aja. Biar kita dapat sangu (saku) nanti dari mereka!!"


" Enggak, udah sana pergi!!" Gendis mendengus kesal serta menatap Bapaknya sebal.


Yudi hanya menyebikkan bibirnya, pria itu lalu meraih arit yang berada di samping rumahnya, lalu pergi menuju kebon untuk menegor pisang yang sudah tua untuk dijual.


Gendis menatap jam indah itu sambil memikirkan sesuatu. Ia sebenarnya gadis baik, hanya saja terbungkus susahnya kehidupan yang menjadikan dirinya menjadi pribadi yang urakan.


" Apa aku balikin aja ya?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2