Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 90. Mulai Kehilangan


__ADS_3

.


.


.


"Apa? menurut gue lu jangan gegabah dulu deh Jes. Kali aja lu salah paham" ucap Vera setelah lebih dari 30 menit mendengar penjelasan Jessika secara gamblang, tentang kejadian tadi siang.


"Nggak Ver, gue tetep pada pendirian awal. Aku memang gak seharusnya terlalu percaya diri saat David mengatakan hal itu, siapapun yang bosan juga pasti akan mencari hal baru"


"Denger Jes, aku tahu kalau tuan David itu beneran suka sama kamu, coba deh kita belajar denger penjelasan dulu, jangan asal main ambil keputusan gini"


"Sebulan ini dia gak ada datangin aku Ver, bahkan lewat ponsel pun enggak. Oke jika dia sibuk, aku ngertiin. Aku inisiatif kesana, tapi yang aku lihat itu lebih dari sebuah bukti. Intinya ya udah, aku sadar diri siapa aku siapa dia" Jessika sudah sangat kesal.


Vera tak bisa menjawab lagi, karena dia juga tidak melihat secara langsung.


"Tolong lakban Ver" ucap Jessika yang mulai membungkus dua benda berharga pemberian Leo dan David.


Vera hanya diam saja melihat Jessika yang membungkus barang itu dengan wajah kesalnya.


"Besok anterin gue ke konter biasa, mau beli HP biasa aja yang penting bisa buat nelpon Makwek" tukas Jessika.


****


Bella merasakan pusing dan merasa perutnya bergejolak, ia merasa belakangan ini mudah letih, mual mual.


Diruang kerjanya ia melirik kalender," astaga jangan jangan" ucapnya dalam hati.


Ia bukan tidak tahu, namun kurang yakin apa iya hanya melakukannya sekali dan dalam keadaan seperti itu, bisa menyebabkan hal yang di takutinya terjadi.


Duaaaarrrr


Bak di sambat petir di siang bolong.


Matanya membulat saat ia melihat dua garis merah yang terdapat pada testpack yang baru saja ia gunakan.


"Tidak mungkin" Bella nampak syok dan beringsut ke lantai. Tangisnya pecah saat mengetahui jika dirinya tengah mengandung darah daging Leo.


Kini ia sangat bingung, bagaimana cara mengatasi persoalannya kini. Selain pikiran akan Leo yang tidak menganggap dirinya, meski Leo sudah sempat ingin menemuinya..


Bella sangat kecewa dengan Leo, ucapannya malam itu sudah menjadi bukti bahwa wanita yang dia cintai hanyalah Jessika, sementara dalam pikirannya muncul pertanyaan pertanyaan yang membuatnya takut.


Apa Leo percaya sekalipun dia berkata jika dia mengandung anaknya? sedang Leo saja tidak mencintai dirinya, itu murni karena kecelakaan, bisa saja Leo menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Tidak!!!!!


"Maafkan Bella ma" lirihnya dalam tangis yang kian pecah, ia pasti akan di cap anak yang mencoreng nama baik keluarganya.


*****


Siang Leo tengah berada di ruangannya, ruangan wakil direktur itu berada lantai yang sama dengan ruangan David.


"Astaga aku benar benar sudah tidak profesional" ucapnya sambil mengambil berkas yang menumpuk di mejanya.


Apalagi sebentar lagi akan ada peluncuran produk baru, " Tom gimana model iklannya yang kemaren, kalau bisa lu ambil dari artis deh biar makin cepet" ucapnya saat ponselnya sudah tersambung dengan Tomy.


Saat menutup teleponnya ia melihat beberapa foto Jessika disana, ia mengusap layar ponsel itu dengan tersenyum. Namun senyumnya memudar saat itu juga tatkala ia ingat perlakuannya beberapa waktu yang lalu.


"Aku pasti tidak akan di maafkan olehnya" ia membuang nafasnya kasar, ia merasa bukan seperti dirinya.


"Bos, semua beberapa artis dengan kriteria kemaren semua tidak bisa, jika kita terpaksa kita minta bantuan anak magang itu saja. Lagipula sepertinya dia bisa diandalkan" ucap Tomy yang begitu masuk.


"Anak magang siapa maksud mu?


"Anaknya pak Sis, dia sudah 15 hari magang disini"


"Apa kau yakin?"


"Dari segi penampilan dia tidak kalah, biar di briefing sama Boyke nanti buat urusan teknik dia di depan kamera nanti, sama anak anak pemasaran" tukas Tomy.


"Terserah kau saja lah, aku pusing Tom gak bisa mikir" Leo seperti kehilangan semangat juangnya.


"Akan aku atur"


Percakapan mereka terus berlanjut hingga kedatangan David menghentikan kegiatan mereka, Tomy yang merasakan aura mencekam memilih untuk undur diri.


"Aku akan mencari anak itu bos"

__ADS_1


Tomy membungkukkan tubuhnya ketika berpapasan dengan David, sejurus kemudian ia pergi.


"Aku ingin bicara" ucap David menatap adiknya.


"Jika mengenai Jessika , maaf aku tidak ada urusan" Leo menjawab sambil membuka email di laptop milikinya.


"Leo sampai kapan kita akan begini, kau dana ku sudah bukan anak sekolah lagi. Aku tidak akan melanjutkan bersama Jessika, kau bisa pegang perkataanku. Aku tidak akan menjadi penghalang buatmu lagi"


Leo masih bergeming, ia masih terlihat fokus dengan layar di depannya.


"Kau bisa pegang ucapanku, dan pulanglah!" ucapan terakhir David kemudian ia pergi melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.


Leo mengusap wajahnya kasar," Meskipun kau telah merelakannya, dia tetap tidak akan bersedia denganku bang" gumamnya lirih.


Malamnya meski ia masih dalam mode jaga jarak dengan kakaknya, namun ia sudah pulang kerumahnya. Entah mengapa ia masih canggung, harusnya dia senang bukan? saingannya sudah mengibarkan bendera putih untuknya, namun semua itu tak sepadan dengan apa yang ia rasakan.


"Den makan malamnya sudah siap, Den David juga sudah menunggu" ucap bik Asih setelah mengetuk pintu kamar Leo, dan mendapati majikannya itu tengah menghisap rokok. Hal yang tidak biasa.


"Terimakasih bik" ucapnya seraya menggerus puntung rokok yang masih panjang itu.


Tap tap tap


Terdengar derap langkah menuruni tangga" ada cumi saus tiram kesukaanmu, kemarilah" ucap David yang melihat adiknya turun dari kamarnya.


"Makanlah yang banyak, kau terlihat lebih kurus sekarang" ucap David mencoba membangun komunikasi yang baik.


Leo tidak menjawab, masih terlihat sibuk mengambil nasi dan juga cumi saus tiram yang menggoda selera, dan tentu saja itu adalah favorit Leo sejak kecil.


"Mmmmmmm" David bersuara.


"Mmmmmmmm" ia kembali mengunyah selepas memasukan suapan besarnya dalam mulut.


"Apa?" tanya Leo bingung.


"Ini benar benar enak, tidak jauh berbeda dengan buatan mama" ucap David tersenyum.


Leo sadar jika kakaknya itu tengah berusaha membangun suasana yang lebih hangat terhadap dirinya, terbukti jika dia tidak melibatkan Jessika dalam percakapan kali ini.


"Besok si Putri yang jadi model pemotretan di produk minuman baru kita bang, kuharap kau setuju" ucap Leo.


"Terlalu lama kalau nunggu artis itu, siapa dia membuat kita menunggu" tukas Leo.


"Kau atur saja, aku percaya kepadamu" David kembali menjawab dengan nada ramah.


"Besok Bang David yang bersama Putri ya, rencananya Vincent ingin bertemu sekaligus membahas kerjasama, dia investor di produk kita" ucap Leo memberitahu.


"Baiklah, tidak masalah" jawab David mengiyakan.


"Aku masih ada urusan besok" ucap Leo kembali setelah memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.


David hanya mengangguk, sejurus kemudian ia meneguk segelas air putih hingga tandas.


"Aku ke atas dulu, kau jangan lupa hubungi Putri" ucapnya kemudian berlalu dari hadapan adiknya.


Leo mengirim pesan kepada Tomy, agar mempersiapkan tempat yang akan digunakan untuk pertemuan dengan Vincent besok siang guna membahas kerjasama dan juga pengenalan Putri sebagai bintang iklan.


Putri di dapuk menjadi bintang iklan lantaran wajahnya yang mirip dengan Elsa, artis yang saat ini tengah naik daun.


Leo tidak mau menunggu lama terkait model iklan ini, apalagi dia adalah orang yang tidak bisa menunggu soal pekerjaan.


Putri yang mendapat tawaran ini pun, seolah ketiban durian runtuh. Tak sia sia dia membawa nama Ayahnya dalam keluarga David dan Leo.


*****


"Den ada paket buat Aden" ucap bik Asih pada David, yang membawa sebuah kotak dengan airwaybill bertuliskan nama dirinya dalam kertas itu.


"Paket dari siapa bik?" ia mengernyitkan dahinya, sambil meraih kotak dari tangan bik Asih.


"Kurang tahu Den, coba Aden cek dulu" jawabnya dengan wajah polos


"Baiklah, makasih bik" ucap David kemudian pergi menuju kamarnya.


David mengambil gunting dari dalam nakasnya, kemudian mulai menguliti kotak itu, dia penasaran mengapa ada label fragile ( pecah belah) dalam packingan tersebut.


David terkejut begitu mendapati sebuah dusbook ponsel keluaran terbaru namun terlihat sudah dibuka, dan juga sebuah kotak bludru yang ia ingat itu adalah sebuah kotak cincin yang pernah ia berikan kepada Jessika.

__ADS_1


Ia membuka semua benda disana, sebuah ponsel dengan logo buah yang tergigit keluaran terbaru.


Ia menemukan sebuah note di dalamnya, ia mengambilnya lalu membacanya.


..."Terimakasih banyak untuk semua ini'...


...Jessika...


Benar sekali dugaannya, ini adalah barang pemberian darinya, namun sepersekian detik ia teringat dengan cerita Jessika bahwa ia pernah di berikan ponsel oleh Leo.


"Mungkinkah ini ponsel dari Leo" David bergumam sendiri sambil membolak- balikkan ponsel yang berada dalam kardus itu.


"Astaga, dia pasti sudah salah paham dengan Calista" David bingung, ia juga sudah berjanji pada Leo untuk tidak melanjutkan perasaannya pada Jessika.


Ingin sekali rasanya dia menjelaskan, ingin sekali rasanya dia meminta maaf. Namun ia sudah memantapkan hati untuk tidak menemui Jessika, demi hubungannya dengan Leo.


*****


Bryan's Caffe


"Jes, pastiin semuanya bersih ya" ucap Bu Maya yang tengah mengontrol anak buahnya.


"Baik Bu, apa ada yang mau booking ruang VIP?" Jessika bertanya sopan.


"Oh enggak, ada yang booking Tempat tapi di meja reguler" ucap Bu Maya.


Jessika terus menyemprotkan cairan pembersih dari meja ke meja, sembari menggosok menggunakan kain. Dirinya sudah terbiasa dengan semua ini, meski di dapuk menjadi singer disana, namun ia tetap tidak ingin meninggalkan jabatan lamanya, pelayan.


"Woy rajin amat" ucap Vera yang terlihat membersihkan meja kasirnya sendiri.


"Ya donk, kalau enggak bos Bryan nanti ngomel ngomel" ucapnya masih menggosok meja dengan semangat 45'.


"Ntar sore pulang kerja ke mall yuk Jes, jalan jalan. Udah lama banget kita gak jalan" ucap Vera.


"Boleh, sekalian cari hp second ya" ucapnya.


Vera membalas dengan memberikan dua jempolnya ke arah Jessika.


Siang hari terlihat kesibukan di Caffe itu, semua karyawan dengan tupoksi masing masing tengah kedapatan menjalankan tugasnya teratur.


"Jes Lo anter ini dulu, meja 8 paling ujung. Gue mau ke pantry dulu si Doni gak masuk soalnya" ucap Nabila salah satu teman sesama pelayan seperti dirinya.


"Ini sekarang, udah kamu taking orderan kan tadi?" tanyanya memastikan.


"Udah, mereka tiba orang satu cewek. Makasih ya" ucap Nabila menepuk pundak Jessika.


"Okay" Jessika lalu membawa troli yang berisikan beberapa menu yang sudah di catat pesanannya sebelumnya oleh Nabila.


"Meja 8, oh disana" ucapnya mendorong troli berisikan makan itu.


Betapa terkejutnya ia yang mendapati David yang tengah duduk di samping putri, juga seorang yang berpakaian kantoran yang tidak ia kenal.


Mereka terlihat berbincang bincang dan akrab, bahkan putri duduk tepat di samping David. Ada rasa nyeri timbul di hati Jessika, apakah aku cemburu?.


Namun ia harus bisa bersikap profesional bukan? toh ia kini sudah merasa bila David tidak seserius seperti yang pernah ia katakan.


Ia juga menyadari siapa dirinya dan siapa David.


"Meja nomer 8"ucapnya bersikap biasa, dan sopan.


Namun Justru Putri yang terlihat terkejut, melihat Jessika di depannya terlihat sehat walafiat. Padahal dirinya berharap Jessika menderita selepas rencana jahatnya di kampung.


David berusaha bersikap biasa, ia sudah menyadari kemungkinan akan bertemu dengan Jessika karena Vincent yang mengajak dirinya untuk bertemu di Caffe ini. Benar benar tidak bisa dihindari.


"Oh iya, terimakasih" ucap Vincent menerima.


Mata Jessika beradu dengan mata putri, seolah menyiratkan kata " ambil aja, bukan urusanku". Saat melihat Putri yang menempel pada David dengan tidak tahu malunya.


Jessika sengaja tidak mau memandang David, hatinya terlalu sakit dibuatnya.


"Saya permisi, jika memerlukan sesuatu silahkan menghubungi kami kembali. Selamat menikmati dan Terimakasih" ucapnya undur diri.


"Begitu bencikah dirimu kepadaku Jes, bahkan kau tidak mau menatapku" batin David yang merasa hatinya sakit melihat Jessika bersikap acuh padanya.


"Karyawan disini cantik cantik ya, aku suka disini, mari silahkan" ucap Vincent pada Putri dan David.

__ADS_1


Entah mengapa David tak suka melihat Vincent berkata seperti itu, untung saja dia adalah partnernya. Jika tidak entahlah.


__ADS_2