
.
.
.
Malam ini kota kecil di kabupaten B, tengah dirundung hujan. Bella dan Leo masih ada di rumah desa.
"Leo, bagiamana caranya agar kuat berpuasa selama 40 hari?" David mengepulkan asap rokoknya di kursi depan rumahnya, ia tengah mengobrol bersama adiknya ditemani rintik hujan, dan dingin yang menusuk kulit.
Leo mengernyit, pasti yang di maksud kakaknya itu adalah soal nifas Jessika. Leo tersenyum licik.
"Bahkan lebih dari itu bang!" tukas Leo.
David menatap adiknya. " Kau tahan selama itu?"
"Ya mau bagaimana lagi, aku melihat Bella kesakitan saat melahirkan saja sudah tidak tega" Leo bergidik ngeri.
Padahal Leo hanya berbohong. Ia masih memiliki seribu satu cara, agar kepalanya tidak pusing selama 49 hari itu. Mustahil dia tak melakukan penuntasan.
Hanya dia, Tuhan dan cicak yang bertengger di kamar mandi yang tahu. Apa yang ia lakukan disana.🤣
David bermuram durja, ia tak mengira kebahagiaannya saat ini, juga harus ia bayar dengan menggadaikan nasib aset berharganya 😁.
.
.
Di belahan bumi lain di jam yang sama, dua anak manusia tengah bergumul di atas ranjang. Mereka menuntaskan yang perlu di tuntaskan.
Long distance relationship yang mereka beberapa waktu yang lalu, seolah membuat mereka harus membayar rasa rindu itu everywhere, everytime, everymoment.
"Sayang kau diam saja ya , kali ini biar aku yang bekerja!" Eka beralih dari kungkungan Tomy. Ia kini duduk diatas tubuh polos Tomy.
Tomy menatap istrinya tersenyum. Liar dan nakal, tak menyangka istrinya benar-benar atraktif dalam urusan pelayanan yang satu ini.
Dada bidang nan liat Tomy sudah digerayangi Eka, ia memegang kejantanan Tomy yang sudah tegak sempurna. Ia sendiri yang menggiring benda itu, untuk memasuki bagian dirinya yang berada di pangkal paha.
Tangan kekar Tomy memilin kuncup dada istrinya, bak mengganti sebuah chanel radio. Membuat sang empunya merem melek. Tomy merasakan sensasi yang luar biasa, Eka masih dengan semangat mengayun tubuhnya naik turun, selaras dan seirama dengan gulungan ombak percintaan yang memabukkan.
******* dan erangan saling bertaut, mata sayu keduanya bertemu. Eka menundukkan kepalanya, kemudian mencium bibir suaminya itu. Masih setia mengayun dengan tekun, sensasi luar biasa saat itu tengah dinikmati oleh Tomy. Berlangsung lama dan menyenangkan.
__ADS_1
Guyuran hujan seolah menjadi pemandu sorak bagi keduanya. "Ahhhhhhh" Eka sudah berhasil mencapai puncaknya. Lututnya seolah bergetar, cairan bening merembes dari bagian miliknya yang berada di pangkal pahanya. Membasahinya benda nakal milik suaminya.
Tomy menyeringai, " apa kau lelah sayang ,hm?"
Eka ambruk, wajahnya terbenam tepat di ceruk leher suaminya. " Capek tapi kurang" Tomy tergelak dengan posisi tubuh mereka masih menyatu. " Baiklah, istirahat dulu!"
Tomy kini duduk, namun istrinya masih dalam posisi diatasnya. Mereka juga masih terlibat penyatuan, benda penting milik Tomy juga masih bersarang di liang Eka. Pria itu menyambar kuncup dada Eka. Eka seolah mendapat setruman tegangan tinggi. Ini gila!
Eka meremas kepala suaminya, yang tengah menikmati dua benda kenyal miliknya. Suaminya itu benar-benar jago memuaskan dirinya. Tak pernah mengira, pria sedingin Tomy benar-benar menjadi panas ketika di ranjang.
"Aku tidak tahan sayang!" bisik Tomy dengan suara parau serta tatapan sendu.
"Lakukanlah!" bisik Eka.
Tomy membalikkan tubuh istrinya, ia menyambar bibir Eka dengan lama. Semakin lama ciuman itu berlangsung, semakin banyak keinginan untuk menuntut lebih jauh.
Tomy menghentakkan dirinya tanpa melepaskan ciuman itu, dada mereka saling menempel tanpa batas apapun. Skin to skin.
Gencatan itu kian cepat, peluh itu semakin deras terproduksi. Nafas Eka kini terengah-engah, ia melepaskan ciuman Tomy agar bisa bernafas. Tomy masih gencar mengayun tubuhnya, makin cepat dan makin cepat lagi.
Sejurus kemudian, tubuh mereka berdua mengejang. Mereka menggapai puncak tertinggi dari nikmatnya bercinta secara bersamaan. Eka merasakan sesuatu yang meledak di dalam rahimnya, sesuatu yang ia harapkan akan menjadi zigot dan bertumbuh menjadi embrio.
Tomy menghujani kening basah Eka dengan ciuman." Love you!"
****
Tak terasa sebulan berlalu, kini Jessika masih di sibukkan dengan mengurus Deo. David kerap terkantuk-kantuk saat membantu Jessika , yang bergantian menggendong Deo saat rewel malam hari.
Dan hal itu berlangsung setiap hari. Tak ayal, Jack kini lebih sibuk di gudang utama. Ia memahami kesibukan dan keletihan David yang menjadi suami siaga.
Dan pagi ini, Deo hampir saja terguling dari ranjang mereka. Karena David tertidur. Bocah itu sudah berada di bibir ranjang. David benar-benar tak kuasa menahan kantuk yang menyerangnya.
"Astaga!! Mas!!!" teriak Jessika yang baru selesai mandi, dan hanya melilitkan handuk sebatas dadanya. Wanita itu berlari menuju sisi ranjang, dan langsung mengangkat anaknya.
David terkesiap dengan terkejutnya. " Ada apa sayang?" David bangun dengan rasa kepala yang pusing.
" Kamu ini gimana sih mas, kalau ngantuk taruh di box nya dia dong mas. Kalau terguling gimana coba!" Jessika menggerutu, mendengus kesal.
David tadi berniat ingin mengajak Deo bercengkrama, namun tak di nyana dia malah terlelap, karena semalam ia dan Jessika begadang. Begadang karena Deo tak kunjung tidur.
David malah dibuat menelan salivanya dengan susah. Melihat istrinya menggendong Deo, dan hanya mengenakan handuk sebatas dada, menampilkan tubuh montok istrinya yang membuat bagian kelelakiannya menegang.
__ADS_1
"Aduh sini sama papa, mama biar ganti baju nak. Bisa pusing lama kalau begini terus!" David meraih Deo dari gendongan Jessika. Andai nifas istrinya sudja selesai, ia pasti akan menerkam istrinya saat itu juga.
"Kamu ini gak bisa di tinggal sebentar aja mas!" dengus Jessika.
"Iya maaf, aku janji gak begitu lagi!" David memangku Deo dengan wajah muram. Ia kena damprat istrinya pagi itu, karena keselamatan Deo nyaris saja dalam bahaya.
David memandangi tubuh polos istrinya yang terlihat mengenakan bra, ia juga masih melihat istrinya menggunakan pembalut khusus nifas.
"Masih keluar ya?" tanya David dengan polosnya.
"Baru juga sebulannya hari ini, sabar. Yang pingin bukan cuma papa aja!" ucap Jessika terkikik geli, ia sengaja menggoda suaminya yang mulai rewel itu.
David tergelak, ia tahu pasti isterinya itu hanya menghibur dirinya. " Kamu agak kurusan ma!"
"Ya iyalah, orang di sedot sama anakmu!" ucap Jessika seraya mengoleskan pelembab ke wajahnya.
"Tapi aku suka, bagus segitu aja bodynya. Jangan kurus banget jangan gemuk banget!"
Jessika hanya menyebikkan bibirnya, suaminya memang rewel.
"Ma!" tanya David.
"Hemmm!" jawab Jessika seraya meratakan cream yang sudah ia totolkan ke wajahnya.
"Kita buat adiknya Deo secepatnya ya, papa seneng banget dapat cucu. Lagipula Claire kan di kota, gak disini tiap hari. Papa biar makin sibuk sama cucu nya!" David terkekeh.
Plak
Jessika memukul lengan kekar suaminya," Jahitan belum kering, nifas belum selesai, itu terus yang dibicarain. Aku yang mengandung sembilan bulan, setelah lahir dia mirip kamu banget!"
"Ga ada mirip-miripnya sama aku!"
"Aku cuma kebagian nggembol , sama ngeden doang!" tukas Jessika.
David tertawa terbahak-bahak, sungguh istrinya itu makin menggemaskan ketika mengomel. Ia begitu mencintai istrinya lahir dan batin.
"Besok kalau anak kedua kita perempuan, pasti mirip kamu. Cantik dan lembut!"
.
.
__ADS_1
.
.