Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 96. Permintaan Makwek


__ADS_3

.


.


.


Rumah sakit Al-Huda


Pukul 21.00 jam kunjungan sudah habis, membuat Arin dan Eka harus meninggalkan rumah sakit itu.


"Masih lama kan disini, masih kangen nih" seloroh Eka yang enggan untuk pulang.


"Iya doain Mak wek cepet sehat ya" Jessika melepas pelukan dua sahabatnya itu.


Selepas kepergian Eka dan Arin, lek Soleh terlihat masuk. Ia sudah mendapatkan ijin dari petugas, bahwasanya dirinya dan Jessika di daulat menjadi penunggu resmi pasien.


Karena maksimal yang menunggu dirumah sakit itu dua orang.


Jessika yang melihat mbok yah sudah terlelap, mendatangi lek Soleh yang duduk di tikar hijau, yang ia bawa dari rumah tadi.


Menjadikan tempat bagi ia dan lek Soleh untuk meletakkan barang barang, sekaligus tempat beristirahat mereka.


"Kenapa lek Soleh gak langsung ngajak aku kesini sih tadi, aku jadi merasa bersalah" ucap Jessika manyun.


"Kamu kan capek nduk, pak lek gak mau kamu ikutan sakit" ucapnya memberi penjelasan.


"Makwekmu nanti nyalahin paklek lek lihat kamu langsung kesini dengan keadaan kusut" tukasnya .


Jessika kini malah merasa bersalah lagi kepada Pakleknya, ternyata Pakleknya begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Maaf Yo lek, aku wes suudzon" ucapnya tertunduk.


"Mak wekmu sawangane gak lilo mok tinggal lungo nduk" ( nenekmu kelihatannya tidak rela kmau tinggal kerja nduk) ikucap Leo Soleh yang menarik satu rokok dari tempatnya.


"La opo'o lek?" ( la kenapa lek)


" Dekingin bengi, wonge ngelindur. Nyeluki jenengmu ae" ( kemaren dia mengigau, manggil nama kamu terus)


Jessika kembali tertunduk, ia tak menyangka keputusannya ke kota untuk bekerja malah membuat hati neneknya bersedih. Dan bukan itu yang di harapkan jessika.


"Jarene dokter tensine tinggi, lek ngunu terus iso iso setruk" ( kata dokter tensinya sangat tinggi, kalau begitu terus bisa bisa kena struk). ucap lek Soleh sambil menyesap rokok dalam dalam.


"Opo neh Makwekmu wes sepuh" ( apalagi nenekmu sudah tua)


"Terus pie lek" ( terus gimana lek)


"Yang jelas nenekmu tiap hari mikirin kamu, hatinya sedih" ucap lek Soleh yang dengan nada serius, dia mematahkan rokok yang baru ia sulut ke gelas air mineral yang ia jadikan asbak. Pertanda lek Soleh juga gelisah.


"Orang kalau kebanyakan pikiran pasti terserang penyakit nduk, kamu pikir baik baik" ucap lek Soleh yang menatap keponakannya itu.


"Kamu bisa bantu paklek ngurusin sayuran, ikut ke pasar, sambil njaga Makwekmu" terang Lek Soleh memberikan solusi.


"Nanti aku pikir dulu lek, terimakasih banyak lek" ucapnya menatap pamannya yang terlihat sendu.


Lek Soleh hanya tersenyum, sambil mengusap pucuk kepala Jessika.


Lek Soleh kemudian membaringkan tubuhnya di karpet tipis, membelakangi Jessika.


Mereka akhirnya beristirahat di atas karpet disana, untung saja Jessika berinisiatif membawa bantal tadi. Membuatnya tidak terlalu menderita disana.


Namun ia tak langsung bisa memejamkan matanya, ia menangis dalam diam. Ia tak yakin harus bagaimana dengan hidupnya setelah ini. Apalagi setelah mendengar kata kata lek Soleh barusan, membuatnya makin bingung.


Tentu saja dia tidak mau kalau neneknya bersedih apalagi sampai sakit seperti sekarang ini, hanya beliau yang Jessika punya. Namun dia merasa tak enak kepada Vera jika secepat ini keluar dari cafe milik Bryan.


Belum lagi masalah biaya di rumah sakit ini, membuatnya tak bisa tidur.


.


.


Rumah David


"Ceklek"


David membuka pintu dan terlihat Leo tegah bersiap-siap.


"Sudah siap?"


"Hampir bang"


"Ini" ucapnya menyodorkan sebuah kotak.


"Apa ini" Leo nampak membolak- balikkan kotak itu.


"Buka saja"


Leo membulatkan matanya,"Ini kenapa bisa disini" tanya Leo yang mulai tahu jika itu adalah ponsel yang ia belikan untuk Jessika.


"Jessika mengembalikan ini beberapa hari yang lalu, maaf baru memberitahumu sekarang. Kemaren kau masih marah kepadaku"

__ADS_1


Leo tertunduk, ternyata ada banyak hal yang tidak selesai hanya dengan emosi atau bisa dikatakan malah justru bertambah runyam.


"Dia juga mengembalikan cincin yang kuberikan saat ulang tahunnya"


"cincin?"


David mengangguk," sewaktu Bella ulang tahun, ia juga berulang tahun. Aku paham saat dia menyanyikan lagu itu"


Leo tersenyum kecut, ternyata ia memang kalah telak sejak awal dari David.


"Kenapa dia melakukan ini?" Leo menatap kakaknya.


"Itulah mengapa aku suka kepadanya Leo, dia berbeda dari wanita yang selama ini dekat denganku. Dia sangat sederhana, dia mengembalikan semua ini kepada kita karena kita telah menyakiti dirinya" ucap Leo dengan mata menerawang keluar jendela kamar Leo.


"Kita selesaikan masalahmu, baru kita jelaskan kepada Jessika"


Leo mengangguk tanda setuju, ia benar benar merasa beruntung memiliki saudara seperti David.


Hari ini adalah hari Sabtu, sesuai rencana David mengajak Leo untuk ke desa dengan tujuan untuk segera memberitahu pak Edy tentang masalah yang kini tengah dihadapi Leo.


David juga berencana akan membahas kelanjutan masalah adiknya ini. Ke pernikahan sepertinya.


"Den mobilnya sudah siap" tukas mang Ujang yang telah mempersiapkan mobil untuk mereka berdua.


"Bik tolong bibik sama mang Ujang jaga rumah ya, kami masih belum tahu sampai kapan akan kembali" David berbicara kepada dua pembantunya itu.


"Siap Den"


"Nanti kalau Adrian sewaktu waktu kemari biarkan saja" tambah David.


Kali ini David yang berada di depan kemudi, Leo juga sudah memasang sabuk pengaman. Ia duduk di kursi samping David.


"Ok here we go" ucap David kemudian tancap gas, perjalanan mereka kali ini sedikit menegangkan. Karena bukan hanya jauhnya jarak, namun perihal berita yang akan membuat sang papa menuai reaksi, yang belum bisa mereka perkirakan.


"Kira kira papa nanti bagaimana ya bang" Leo sudah cemas sejak David mengajaknya untuk menemui papanya.


"Tenanglah, kita harus siap dengan segala konsekuensi"


"huft" Leo nampak lesu, ia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan berselancar di dunia Maya.


David menyalakan radio untuk membunuh rasa tegang, dan aura sepi disana.


Menyalakan tombol radio dari mobilnya,


🎶


"Ada yang hilang dari perasaanku, yang terlanjur sudah ku berikan padamu"


🎶


"Ternyata aku tak berarti tanpamu, berharap kau tetap disini. Berharap dan berharap lagi"


( Ipang Lazuardi "Ada yang hilang")


Leo masih sibuk dengan ponselnya, tak menghiraukan raungan radio yang seolah mewakili perasaan David saat ini.


David justru teringat akan kesalahpahaman yang tercipta antara dirinya dan Jessika.


Sampai ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk


David mengecilkan volume radio yang tengah on di mobilnya, guna mendapatkan kejelasan saat dia mengangkat panggilan.


Adrian calling


Begitu tulisan yang tertampil di ponselnya, ia menekan tombol handsfree yang tersambung dengan ponselnya.


"Woy lu dimana" Adrian berteriak di telpon itu.


"Kecilkan suaramu Adrian, bisa pecah telingaku"


"Aku dirumah mu, tapi bik asih bilang kau ke desa hari ini. Apa kau sudah gila tidak memberitahuku?" Adrian menggerutu.


"Sory, mendadak. Kamu pegang dulu segala sesuatunya, aku bersama Leo" terang David.


"Astaga, kalian memang sudah gila"


"Ya sudah aku lagi nyetir ini, kalian atur saja dulu ya" ucapnya sambil memutuskan panggilan sepihak.


Adrian pasti saat ini tengah mengumpat untuknya.


"Siapa?" Leo bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Adrian, aku lupa memberitahu dia"


"Tomy juga belum aku kasih tahu, huft !!" Leo menanggapi ucapan David.


"Mereka sudah sering kita tinggal, semua akan baik baik saja" ucap David santai.


Mobil mewah itu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, perjalanan mereka masih panjang, dengan waktu tempuh lebih kurang 6 jam.

__ADS_1


Rumah sakit Al-Huda


"Selamat pagi, kami cek dulu pasiennya ya" ucap seorang dokter yang mengenakan hijab dan saat ini tengah berkunjung ke ruangan tempat mbok yah dirawat.


"Oh iya dok silahkan" ucap Jessika menghentikan kegiatannya menyuapi sang nenek.


"Gimana Mbah masih pusing?" tanya dokter itu sambil meletakkan alat tensi ke lengan mbok yah.


"Sudah tidak dok" jawab mbok yah.


"Tensinya sudah mendekati normal, jika besok sudah normal tensinya bisa pulang lusa ya Mbah" terang dokter cantik itu setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Terimakasih" jawab mbok yah.


Namun saat dokter itu keluar, Jessika menyusulnya.


"Dokter" panggil Jessika membuat langkah dokter itu terhenti.


"Iya" jawabnya ramah sambil tersenyum.


"Emmm kira kira apa nenek saya bisa kambuh lagi?"


"Hipertensi umum dialami siapa saja, pastikan beliau untuk tidak banyak pikiran, menjaga makanannya sangat bisa membantu pasien untuk tetap berada dalam kondisi normal"


"Hal paling sederhananya, buat pasien bahagia dengan hal hal kecil itu juga bisa membantu"


Terang dokter itu.


"Terimakasih banyak dok"


"Sama sama, saya permisi dulu"


Ucapan dokter baru saja semakin membuat dia dilema, sepertinya semua hal mengharuskan dia untuk tidak lagi bekerja di kota.


Penuh kebimbangan.


"Makan lagi ya Wek" tawarnya pada sang nenek.


"Nduk Paklek mau ke pasar dulu, kamu nggak apa apa kan aku tinggal dulu, ini aku bawain sarapan. Nanti pulang dari pasar langsung kesini" ucap lek Soleh yang baru saja datang dari membeli nasi bungkus.


"Iya lek, tadi dokter barusan meriksa. Kalau besok udah normal tensinya, lusa boleh pulang"


"alhamdulilah, bagus kalau gitu. Mak aku tinggal dulu ya" pamit lek Soleh kepada mbok Yah.


"Iyo ati ati" jawab mbok yah.


Jika dilihat, hari ini senyum lebih mengembang di wajah mbok yah. Wanita tua itu, seakan mendapat obat yang mujarab. Cucunya.


"Kamu ijin berapa hari ke bosmu nduk" mbok yah bertanya sebelum membuka mulutnya untuk suapan yang diberikan Jessika.


"Kemaren ijin seminggu, tapi belum tahu lagi Wek. Aku jadi sungkan, sering ijin disana" ucapnya sambil menyiapkan suapan makanan, yang bermenukan tahu, sop dan juga ayam. Makanan dari rumah sakit.


"La memangnya kenapa" tanya mbok yah setelah selesai mengunyah suapan makanan yang diberikan Jessika.


"Aku sempat diculik kapanhari Wek" ucap Jessika yang lupa akan peringatan dokter, untuk tidak membebani pasien dengan hal yang membuat pikirannya tegang.


"Opo nduk" mbok yah membelalakkan matanya demi menyadari ucapan cucunya barusan.


Jessika tak kalah terkejut, mengapa ia bisa sampai tidak bisa mengontrol bicaranya.


Ia segera menyodorkan sebotol air mineral yang sudah ada sedotannya, memudahkan sang nenek untuk meneguknya.


Karena melihat sang nenek yang tiba tiba seperti orang sesak napas.


"Astagfirullahhaladzim" ucap neneknya memegangi dadanya.


"Makwek ga apa apa kan, aku minta maaf Wek"


Mbok yah menangis, benar saja ia beberapa bulan semenjak Jessika pergi menjadi tidak tenang. Ia sering memikirkan Jessika, apalagi dirinya jarang memberikan kabar.


Membuat pikiran orang tua itu makin tidak karuan.


"Pantas saja perasaanku sering tidak enak nduk" ucapnya menangis.


Jessika ikut menangis, merasa bersalah.


Tiada guna banyak materi jika orang yang kita sayangi masih merasa bersedih, begitulah kita kira kata yang tepat.


"Kok bisa gimana ceritanya" tanya mbok yah mengelus pucuk kepala cucunya yang tengah menangis itu.


Jessika dengan suara bergetar menceritakan bagaimana dirinya terlibat urusan dengan David, bahkan bisa sampai di culik oleh Sherly.


"Astagfirullahhaladzim" mbok yah makin sedih saat dirinya menceritakan jika David bahkan tertembak demi menyelamatkan dirinya.


"Wes nduk wes, Makwek ora tahan"( sudah nak sudah, nenek tidak tahan)


"Maafkan aku Wek" Jessika memeluk tubuh kurus neneknya, ia seakan tak rela melihat neneknya bersedih.


"Wes lereno kerjo Ning kono, Mak wek gak masalah awakmu dadi pengangguran Ning omah. Sing penting awakmu slamet nduk" ( sudah kamu lebih baik berhenti kerja saja nduk, nenek tidak keberatan sekalipun kamu jadi pengangguran. Yang penting kamu selamat)

__ADS_1


Mereka berdua larut dalam kesedihan, terutama Jessika. Ia juga berjanji akan mengundurkan diri dari Bryan's Caffe.


Ia tak ingin berpisah dari neneknya lagi, sudah cukup.


__ADS_2