
.
.
.
Saat kembali ke ruangan ia masih mendapati Leo yang terlibat obrolan dengan pak Edy dan juga neneknya.
Ia menyimpan kresek hitam berisikan makanan di dalam nakas, berniat akan memakannya nanti jik sudah tida ad tamu yang berkunjung.
"Terimakasih pak maaf merepotkan njenengan ( anda)" Jessika mengucapkan kata penuh rasa sungkan.
"Tidak apa apa, saya malah senang bisa membantu"
"Den Leo kapan datang" mbok yah menanyakan pertanyaan yang sedari tadi belum ia ajukan.
"Kemaren sore mbok, saya sama bang David" Leo menjawab.
Jessika hanya diam tanpa melihat wajah Leo.
"Oh, mau ada acara lagi?" tanya mbok yah karena jika tidak ada urusan mustahil mereka datang ke desa.
"Leo mau menikah mbok" pak Edy tersenyum bangga menerangkan.
"Alhamdulilah" mbok yah ikut tersenyum.
Sementara Jessika merasa terkejut dengan kabar Leo yang akan menikah, ia sampai menoleh kepada Leo.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
Pandangan mereka bertemu, sorot mata Jessika seolah menjelaskan "benarkah?"
Namun Leo memperlihatkan sorot mata dengan arti " maaf Jes".
Detik ke enam Jessika mengalihkan pandangannya, "Siapakah wanita yang akan menikah denganmu mas" Jessika bertanya dalam hatinya.
"Doakan ya mbok, mungkin minggu depan saya akan berangkat ke kota" ucap pak Edy.
"Amin saya doakan nggeh pak, sedoyo diparingi gangsar "( semua diberikan kelancaran).
Leo yang menjadi bahan pembicaraan hanya diam tertunduk tak berdaya.
"Saya udah kepingin punya cucu" ucap pak Edy disertai tawa sumringah.
Mereka semua larut dalam tawa, bahkan Leo merasa senang melihat tawa lepas papanya.
Mungkin inilah definisi masalah membawa hikmah.
"Wah wah aku ketinggalan sesuatu sepertinya ini" kelakar David saat masuk ke ruangan mbok yah dirawat.
"Den David dari mana, kapan den David nyusul Den Leo nikah. Masa kakaknya malah di tinggal" ucap mbok yah menanggapi David.
"Saya sih siap kapan saja" ucapnya sambil menatap Jessika penuh arti.
Namun Jessika justru tak menanggapi, ia memilih untuk membuka ponselnya.
Pak Edy dan mbok yah pun tersenyum simpul, seolah mereka tahu arah perkataan David.
"Saya sih maunya cepat, tapi..." ia sengaja menggantung ucapannya.
Sebenarnya Jessika penasaran dengan perkataan David, namun rasa kesalnya kepada David masih membara dihatinya.
"Sudah siang mbok, kami pamit dulu semoga lekas pulih ya mbok. Dan ini ada sedikit rejeki untuk mbok yah" ucap pak Edy menyalami mbok yah sambil memberikan amplop tebal.
__ADS_1
"Nopo niki pak, kok ngrepotaken njenengan dadose" ( apa ini pak, kok merepotkan anda ini jadinya?, mbok yah merasa tak enak hati.
"Mboten mbok, sekedik damel tambah" ( tidak mbok, sedikit buat tambah), ucap pak Edy sambil tersenyum.
"Matur nuwun sanget nggeh pak, Mugi Gusti Allah pinaring walesan sae kagem njenengan sekeluarga"(terimakasih banyak ya pak, semoga Allah memberi balasan yang baik kepada anda sekeluarga), mbok yah berkata dengan suara bergetar karena terharu.
Jessika bahkan tak enak hati kepada mereka semua.
"Saya pamit ya Jes" ucap pak Edy
"Iya pak , saya terimakasih banyak jadi merepotkan pak Edy" ucapnya sambil meraih tangan pak Edy dan menciumnya takzim.
Leo dan David juga berpamitan kepada mbok yah, mereka juga mengulurkan tangannya kepada Jessika.
Jessika mencoba bersikap biasa kepada mereka, ia tak enak hati kepada pak Edy.
"Aku pamit dulu Jes" ucap Leo saat menjabat tangan Jessika, mungkin ini terakhir kalinya ia memegang bagian tubuh Jessika sebelum dia menikah dengan Bella.
Jessika hanya mengangguk dan tersenyum.
Sementara saat David yang menjabat tangan halusnya, ia memainkan jarinya menggelitik tangan Jessika yang membuat ia melotot kerah David.
David hanya tersenyum penuh kemenangan, "halus banget tangannya" ia berkata dalam hati.
Sementara jantung Jessika seakan melompat keluar, lagi lagi berdekatan ataupun bersentuhan dengan David membuat jantungnya tidak dalam keadaan baik baik saja.
Ya sudah kami pamit dulu" Assalamualaikum".
"Walaikumsalam" jawab mbok yah dan Jessika.
Selepas mengantar pak Edy dan dua putra tampannya, Jessika kembali kedalam dan mengambil nasi yang ia beli tadi.
"Aku sarapan dulu Wek" pamitnya mengambil kresek hitam, ia sudah sangat lapar.
"Ini simpanlah" mbok yah menyerahkan amplop coklat yang disinyalir berisi uang.
Ia menyimpan amplop tersebut kedalam tasnya, kemudian ia membuka bungkusan coklat berisikan nasi campur yang sudah dingin lantaran terjeda oleh obrolan tadi.
Di Mobil
"Kami sempat salah paham " David yang tahu arah pembicaraan pak Edy mencoba menjelaskan.
Ia masih fokus dengan setir bundarnya, namun masih bisa menjawab pertanyaan sang papa yang ada di kursi penumpang belakang.
"Maksudnya?" pak Edy tak mengerti maksudnya.
"Huft!" David menghela nafasnya dulu, seolah mengumpulkan energi untuk menceritakan hal pelik antara dia, Leo dan Jessika.
"Aku dan Leo sama sama menyukai Jessika"
David terdiam dulu, melihat ekspresi papanya dari kaca kecil yang menempel di plafon mobil.
"Bahkan Leo yang lebih dulu menaruh rasa, sejak pertama dia berkunjung kemari" terangnya lagi setelah melihat raut wajah pak Edy yang menanti kelanjutan kisahnya.
"Jessika menolak Leo, dan aku sempat mendekatinya. Aku tidak tahu jika Leo sudah menyukai Jessika"
"Kami sempat tak saling bicara karena persolan ini, bahkan Leo menyakiti Jessika dan berujung dia mabuk di club lalu terjadilah hal itu dengan Bella"
Pak Edy hanya diam, mencerna setiap kata yang keluar dari David. Ia tak menyangka kedua putranya memiliki selera yang sama.
"Dia masih salah paham denganku, kemaren Calista datang ke kantor dan saat kami berpelukan Jessika tiba tiba datang melihat kami"
"Apa?" Kali ini pak Edy dan Leo berkata secara bersamaan.
"Woyy tunggu dulu, kalian jangan menyerangku begitu" ucap David yang heran karena saat ia berkata tentang Jessika yang salah paham, berhasil menarik reaksi kedua orang di dalam mobilnya itu.
"Saat itu aku pikir lebih baik menjauh dari Jessika, aku tidak ingin hubunganku dengan Leo berjarak hanya karena perempuan. Ya meski dalam hatiku, aku masih mencintai dia"
Dia menghentikan ceritanya karena, akan berbelok dari perempatan. Ia masih fokus ke jalanan.
"Sampai Leo bercerita tentang kehamilan Bella, dan Leo merestui kami" terang David sambil memandang Leo yang terlihat melamun.
__ADS_1
"Aku belum menjelaskan apapun kepadanya" David menggelengkan kepalanya.
"Aku merestui mu dengan Jessika, dia wanita baik. Cepat kau jelaskan kesalahan pahaman yang terjadi" titah pak Edy.
"Semua ini aku harap kalian jadikan pelajaran, bahwa komunikasi itu penting"
"Dan David, tolong jangan main main lagi. Dia wanita baik baik, aku tahu itu" pak Edy berkata dengan nada serius, membuat kedua anaknya menjadi ciut nyali.
"Sementara Leo mencoba menguatkan hati, ia harus benar benar say goodbye kepada Jessika, berusaha menuruti setiap perkataan papanya.
Toh saat ini papanya tengah merasakan bahagia begitu tahu ia harus menikah dengan Bella, meski dengan jalan seperti ini. No body's perfect in the world!!.
Rumah sakit Bhakti Husada kota S
Bella hanya menatap tajam Tomy yang sudah berada di ruangannya, muka datarnya masih terlihat sama.
"Jadi assisten Tomy, untuk apa kau kemari?" ucapnya formal karena dia berada di rumah sakit tempat dia bertugas.
"Maaf nona, bos tadi mengatakan kepada saya untuk mengawal anda kemanapun anda pergi selama dia masih di desa"
"Di desa? mengawal?" Bella membatin dalam hatinya, ada apa ini.
"Untuk apa?" Bella akhirnya bertanya kepada Tomy.
"Maaf nona saya kurang tahu" ucapnya datar.
"Tapi aku tidak harus dikawal, dan lebih baik kamu pulang saja"
"Maaf nona tapi ini perintah"
"Saya gak butuh dikawal, saya jadi gak bebas" dia berusaha memberikan pengertian.
"Semua demi keselamatan anda dan bayi tuan Leo nona" ucap Tomy datar.
Bella yang mendengar ucapan Tomy tentu saja terkejut, bayi Leo?
"Terserah kau saja" ia terpaksa menerima, karena Tomy bukanlah orang yang mudah dilawan.
Leo sengaja memerintahkan Tomy untuk menjaga Bella selama dia di desa, langkah awal baginya untuk serius memberikan tanggung jawab kepada Bella dan bayi yang ada di kandungan Bella.
Tring
Bella membuka ponsel miliknya, karena sebuah pesan yang masuk.
Leo
"Hati hati disana, aku masih di desa ke tempat papa"
"Apa si Tomy sudah sampai?"
"Minggu depan papa akan datang kerumah mu, membicarakan pernikahan kita"
Bella merasa senang begitu membuka isi pesan yang dikirimkan Leo, apakah dia bermimpi?
****
Selepas mengantar pak Edy kembali kerumah, mereka menuju ke gudang karena sudah lama tidak mengunjungi tempat itu.
Hanya berjarak beberapa meter saja dari kediaman pak Edy, mereka menuju ke tempat pengumpulan cabai itu.
Terlihat para pekerja yang tengah bongkar muat cabai yabg sudah di packing, hendak dikirim ke berbagai kota di Indonesia.
Terlihat juga Eka dan Arin yang sibuk di depan layar komputer mereka, ada juga pak Sis yang terlihat mencatat kilo dan Koli dari cabai yang baru saja di timbang.
"Eh siapa tau Ar!" ucap Eka yang melihat sebuah mobil datang ke gudang dimana mereka bekerja.
"Mana sih" Arin sampai memanjangkan lehernya, guna bisa melihat apa yang diberitakan oleh Eka.
"Hah, tuan David sama tuan Leo" ucap mereka bersamaan, hingga membuat para pekerja lain menoleh ke arah mereka.
Menyadari nama yang disebut mereka berdua, semua pekerja sontak pergi keluar untuk menemui bos tampannya itu.
__ADS_1
"Eh eh " seloroh Eka yang kesal karena ibu ibu itu main terobos saja.
Benar benar definisi dari pusat perhatian