
.
.
.
Sorot mentari membangunkan Jessika yang masih tertidur, ia sengaja tidur kembali setelah menyelesaikan shalat subuh tadi.
Usai melaksanakan mandi junub pula tentunya, di pagi buta.
Ia benar benar tak kuat menahan rasa kantuk, juga tubuh yang lelah dan remuk, karena David tak memberikannya istirahat.
Namun saat ia bangun, ia sudah mendapati suaminya telah berpakaian rapi dan wangi.
Hari ini adalah hari ketiga Jessika menyandang predikat sebagai nyonya David, namun tak merubah pribadi bersahaja yang melekat dalam dirinya.
"Mas, kok udah rapi" tanya Jessika yang bersandar di dipan ranjang itu.
"Selamat pagi sayang" David mencium kening Jessika dengan penuh kasih sayang.
"Stop, ihh aku baru bangun. Malu tahu" Jessika merasa tak PD, karena David main nyosor.
David terkekeh," duh istriku ini jadi pemalas begini sih"
Goda David menoel dagu istrinya.
"CK, kamu sih" Jessika mengerucutkan bibirnya.
Tentu saja ia menggerutu, semua ini adalah perbuatan David, ia merasa suaminya itu tidak memiliki rasa lelah.
Bahkan ia masih merasa malu, mengingat pergulatan panasnya bersama David semalam.
"Kita cek out setelah ini, kita pulang dulu"
"Setelah itu kita atur jadwal bulan madu" ucapnya sembari menggoda, dengan senyum penuh arti.
"Abimanyu memberikan kita paket liburan ke pulau L"
"Apa itu harus?" Jessika kini terduduk.
"Harus donk, aku ingin segera memiliki David junior" ucapnya seraya memeluk tubuh istrinya, menghujani kepala Jessika dengan ciuman.
Jessika senang dengan perlakuan penuh kasih sayang dari suaminya itu, namun ia juga masih merasa malu malu untuk menunjukkan rasa yang sama.
"Udah ah mas, aku mau mandi dulu"
.
.
Bella hari itu merasa sangat bahagia, Leo pun sama. Percikan api cinta nampak di mata mereka.
"Nanti kita pulang ke Kota S" ucapnya saat menyantap sarapan pagi di kamar mereka.
"Perusahaan udah sering aku tinggal, kasihan Adrian" ucap Leo di sela sela sarapan mereka.
"Kita pulang sama kak David?" Kali ini Bella yang bertanya.
Leo mengangguk "iya, kita ke rumah papa dulu"
"Tapi bang David, mungkin masih stay di desa dulu"
Mereka akhirnya melanjutkan sarapan dengan diam.
Sejurus kemudian mereka turun ke bawah untuk check out, rupanya David dan Jessika sudah menunggu di bawah.
"Pengantin baru rupanya disiplin" seloroh Bella kepada Jessika.
"Jaga sikapmu bel, kau sekarang harus memanggilnya dengan sebutan Kaka ipar" kelakar David sambil tertawa kecil.
Bella tersenyum, ia tak menyangka jika mereka sekarang telah menjadi satu kesatuan keluarga Darmawan.
"Mas" Jessika merasa tak nyaman dengan kelakar David, ia musti harus membiasakan diri lagi.
.
.
Tomy yang sudah standby di lobby dan nampak tengah berbicara dengan seseorang disana.
"Tom, yuk" ucap Leo.
"Siap bos" ucap Tomy singkat, kemudian berpamitan dengan seorang yang ia ajak bicara barusan.
Tomy membawa mobil mewah dengan kabin lega, sebuah mobil dengan harga fantastis itu kali ini menjadi tunggangannya dalam menjemput dua pasang bosnya itu.
(credit foto from Facebook)
Jessika dan David berada di deretan nomer dua, sementara Leo bersama Bella berada di kursi belakang.
Dan Tomy, tentu saja menjadi supir.
Sepanjang perjalanan mereka berdua saling menggenggam tangan masing-masing pasangannya.
Membuat Tomy sudah seperti kambing congek, benar benar mengenaskan.
"Kau kapan serius dengan Eka" ucap Jessika membuat Tomy membulatkan matanya.
"Maaf nona" Tomy berusaha untuk menjaga situasi.
"Siapa kau, berani tak menjawab pertanyaan nyonya David" ucap David yang masih sibuk menciumi tangan lembut Jessika.
"Emm saya tidak memiliki hubungan apa apa nona" jawab Tomy cepat dan singkat cenderung gugup.
"Yang benar saja, mengapa harus aku sekarang?" batin Tomy merasa tak nyaman.
Ia melihat kaca rear vision, menampilkan dua manusia yang sama sama di mabuk cinta.
"Kalau begitu, buatlah hubungan" ucap David ceplas ceplos.
"Buruan nikah, jangan kawin terooss" kali ini Leo yang berseloroh.
Membuat wajah Tomy seketika pias, oh nooo!!!
.
.
__ADS_1
Jelang siang mobil mewah itu sampai di kediaman Pak Edy.
Seperti biasa, bik Darmi selalu tergopoh-gopoh menyambut kedatangan majikannya itu.
Jessika merasa tak biasa di perlakukan begitu terhormat dengan para asisten rumah tangga disana.
"Biar saya aja bik" Jessika menolak bantuan bik Darmi, untuk membawakan tas nya.
Tentu saja ia merasa tak enak.
"Biarkan saja bik" ucap David, ia mengerti jika istrinya itu belum terbiasa.
"Wah wah ,lihat siapa yang datang" ucap pak Edy yang tengah bahagia menyambut kedatangan dua anaknya serta dua menantunya.
"Selamat datang di keluarga kami nak" ucap pak Edy yang datang memeluk Jessika.
Jessika yang sudah lama tak mendapat pelukan sosok ayah itu menangis haru, ia begitu bahagia.
"Maaf pak" ucap Jessika mengusap air matanya, saat pelukan mereka usai.
Pak Edy tersenyum, ia menghapus air mata Jessika dengan kedua ibu jarinya.
"Saya sekarang adalah orang tua kamu, panggil saya papa" ucap pak Edy tersenyum kepada Jessika.
Bella yang di rangkul oleh Leo itu juga terlihat tak kuasa menahan keharuan, ia juga terlihat mengusap sudut matanya yang berair.
"Sudah , ayok kita masuk dulu"
****
Di kota S
"Apa, kau yakin dengan ucapanmu?" Alex berang mendengar penuturan dari seorang yang ia tugaskan untuk memata marai pergerakan David.
"Breng sek!!!" umpatnya membalikkan semua benda di atas meja itu.
"Baiklah David, kau boleh bahagia hari ini. Tapi ingat, kau harus membayar semua ini.
Ancaman rupanya masih ada, benar Alex selama ini tengah bersembunyi.
Ia jelas tidak mau bila polisi menangkapnya..
Persetan dengan putri pikirnya.
Ia bahkan tidak tahu bila Putri tengah menjalani masa hukumannya.
***
"Masak apa?" David memeluk pinggang ramping istrinya.
"Maaf Den, tadi saya udah bilang sama Nona Jessika"
"Tapi Nona menolak" bik Darmi menjadi sungkan kepada David.
David mengedipkan matanya, memberi tanda kepada bik Darmi untuk membiarkan apa yang di mau istrinya itu.
Bik Darmi mengangguk paham, kemudian undur diri dari sana.
"Tadi Bik Darmi gak ngijinin aku, tapi aku maksa" ucap Jessika sambil memotong beberapa sayuran dan bumbu.
Terlihat cekatan dan begitu lihai.
"Kalau begitu terus, ini gak matang matang loh" Jessika mulai jengah dengan tindakan David.
David tersenyum" ok ok, aku gak bisa jauh jauh dari kamu soalnya"David kemudian duduk di kursi depan kitchen futuristik tersebut.
"Nanti Leo sama Bella pulang" ucap David sambil memperhatikan gerak gerik istrinya yang lincah.
"Secepat itu?" Jessika berucap sambil menumis bumbu, yang membuat dapur itu dipenuhi semerbak aroma masakan lezat.
"Udah sering ninggalin perusahaan" jawab David.
"Adrian juga butuh kehidupan" David menair turunkan alisnya.
"Vera maksudnya?" tebak Jessika seraya mengoreksi rasa masakan.
"Siapa lagi, aku gak nyangka wanita tomboy itu berhasil memikat play kelas kakap macam Adrian" David tersenyum senang.
"Baunya enak banget, kamu masak apa sih sayang" David memanjangkan lehernya, berusaha melihat masakan yang tengah dibuat oleh Jessika.
"Taraaaa..." Jessika tersenyum puas dengan hasil masakannya.
.
.
"Emmmmmmm"
"Ini enak, bik saya mau di masakin begini sering sering" ucap pak Edy memuji kelezatan masakan itu.
"Yang masak Nona Jessika Tuan, saya tidak di ijinkan membantu tadi" bik Darmi berbicara seraya membungkukkan badannya penuh hormat.
"Wah David, bener bener si Jessika ini" pak Edy sampai tak bisa melanjutkan ucapannya, ia terus melahap masakan lezat itu
"Apa ini namanya" tanya Bella yang turut merasakan kelezatan masakan itu.
"Pindang koyong" ucap Jessika tersenyum.
"Kamu belajar sama kakak iparmu sayang" Leo tersenyum.
"Mama pasti juga suka ini"
Ya benar, Pindang Koyong adalah salah satu masakan khas Kota Gandrung.
Hidangan ini berbahan dasar ikan laut dan mempunyai cita rasa yang pedas, asam, dan gurih.
Disantap dengan nasi panas, benar benar endulitaaakkk.
David benar benar bahagia dan merasa beruntung, karena selain cantik istrinya itu rupanya pandai memanjakan lidah semua keluarganya.
Buncahan rasa cinta itu seolah kian terpupuk dengan kemahiran istrinya itu.
.
.
1 Tahun kemudian
Ujian hidup tak selalu datang berwujud kesulitan material, namun setiap orang berperang melawan ujiannya masing masing.
__ADS_1
Saling mendukung dan tetap pada jalur awal, adalah bukti nyata dari konsistensi sebuah hubungan.
Bella yang di dorong di atas brankar itu benar benar tak bisa menahan rasa sakit, akibat kontraksinya.
Leo yang terlihat panik itupun makin mengeratkan genggamannya.
"Bertahanlah sayang"
"Sakit sayang" Bella nampak begitu berkeringat.
"Sebentar Leo" ucap dokter Sarah, menutup ruangan pemeriksaan.
Bella nampaknya akan segera melahirkan, Leo seketika men-dial nomer keluarganya.
Mama Sofia terlihat datang kerumah sakit milik keluarga Bella itu.
"Bagaimana Leo?" ucap mama Sofia yang baru saja datang.
Namun belum sempat Leo menjawab, dokter Sarah sudah membuka pintunya.
"Leo, Bella akan segera melahirkan. Kau bisa masuk dan menemani"
"Apa" Leo yang senang sekaligus panik itu bingung harus berbuat apa.
Mama Sofia mengusap punggung menantunya itu," ayo temani Bella, beri Bella kekuatan" ucap mama Sofia mengangguk mantap.
Di dalam ruangan terlihat Bella yang terbaring, seraya di temani satu orang assisten dokter Sarah.
Setelah mengganti pakaian dengan baju khusus, Leo mendatangi Bella.
"Aku ada disini" bisiknya di telinga Bella.
Bella tersenyum," sakit sekali"
"Aku tahu kamu kuat" Leo mencium kening basah istrinya.
Ya, Bella memutuskan untuk melahirkan secara normal.
****
Pagi itu David yang mendengar berita bahagia segera mencari keberadaan istrinya yang tengah sibuk di dapur rumahnya.
"Sayang, Bella akan melahirkan. Kita harus ke kota" ucap David.
Rupanya David mendapatkan kabar membahagiakan ini dari mama Sofia, mereka nampak bahagia.
Ya benar, pasca menikah Jessika sempat bingung lantaran akan diajak tinggal di kota.
Tentu saja karena tidak mau meninggalkan neneknya yang semakin senja.
Namun karena kebijaksanaan mertuanya, Pak Edy. Jessika Akhirnya bisa menetap di desa.
Mereka memiliki rumah sendiri sesuai kemauan Jessika, sementara lahan cabai juga beberapa sektor usaha lain di desa sudah di serahkan sepenuhnya kepada David.
Tentu saja ia masih sering bolak balik ke kota, lantaran bisnisnya yang berada di kota juga beranekaragam.
"Alhamdulilah, kita ke rumah papa dulu"
Setelah bersiap, mereka segera menuju rumah pak Edy.
.
.
"Papa ikut kalian, akhirnya aku akan segera memiliki cucu" pak Edy tertawa senang begitu mendengar kabar bila istri Leo akan segera melahirkan.
"Papa akan siap siap"
Namun Jessika terlihat menunduk, ia tahu andai dirinya tak mengalami keguguran waktu itu. Mungkin saat ini anaknya lah yang sudah bisa membuat hari hari pak Edy penuh warna.
David yang menyadari kesedihan di wajah istrinya itu, segera menariknya ke dalam dekapannya.
"Please jangan seperti ini, kita juga akan segera memiliki baby, Hem" David mencium puncak kepala Jessika penuh kasih dan kelembutan.
Mereka bertolak menuju kota S menggunakan pesawat, bandara rintisan yang berada di kota itu nampak kian ramai penumpang.
Terang saja, moda transportasi udara itu dirasa bisa memangkas waktu.
Jika lewat darat perjalanan bisa memakan waktu 5-6 jam, dengan menggunakan burung besi itu mereka hanya memerlukan waktu 45 menit.
Benar benar efisien dan efektif.
David yang memegang kartu Frequent Flyer Platinum itu nampak menunggu di ruang tunggu khusus.
Mereka bertiga tengah menunggu jam untuk boarding.
"Silahkan tuan" ucap Tomy yang menyerahkan boarding pass bussiness class kepada David.
.
.
Pukul 12.45 mereka mendarat di bandara Internasional kota S, terlihat Adrian sudah standby untuk menjemput mereka di pintu kedatangan.
" Jess" Vera rupanya turut menyambut kedatangan mereka.
"Aku seneng banget kamu ikut, apa kabar" sapa Jessika memeluk erat sahabatnya itu.
Setelah semua barang di lengkap, mereka lalu melesat menuju rumah sakit tempat dimana Bella melahirkan.
Pak Edy menjadi orang yang paling antusias disana.
Bagaimana tidak, cucu pertamanya lahir. Sungguh, ini adalah kebahagiaan yang tak terkira.
"Leo" ucap pak Edy saat melihat Leo yang baru keluar dari kamar tempat Bella masih menjalani perawatan.
"Papa" Leo memeluk erat tubuh papanya itu.
"Selamat, kamu sudah jadi papa nak" ucap pak Edy bahagia.
"Makasih pa, papa udah jadi Opa sekarang" Leo tersenyum tak kalah bahagia.
Semua yang disana saling memberikan selamat kepada Leo, benar benar kebahagiaan itu menular ke semuanya yang hadir disana.
.
.
.
__ADS_1
.