Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 151. Selalu dan Selalu Kekal Mencintaimu


__ADS_3

.


.


.


....


Eka mengekor di belakang Tomy, langkah Tomy yang panjang membuat dirinya kesulitan untuk menyamakan posisi.


"Duh, bisa gak sih jangan cepet-cepet jalannya ?"Eka memanyunkan bibirnya, tubuh jangkung di depannya itu sungguh meninggalkan dirinya.


Eka berjalan seraya memandangi setiap sisi bangunan mewah yang tersaji dan tak luput dari sapuan matanya. Alias berjalan tanpa memandang ke arah depan.


Bruuukk


Ia menabrak seseorang," astaga maaf!" Eka menggigit bibir bawahnya. Ia tak sengaja menabrak seorang pria.


Sepertinya pria di hadapannya itu juga sama sama tak konsen, terbukti dari sebuah ponsel yang jatuh. Menandakan bila yang bersangkutan tengah sibuk dengan ponselnya.


Eka mengambil benda pipih dengan logo buah yang tergigit oleh hewan di bagian tepinya. Menandakan bila itu sebuah ponsel mahal.


"Tuan maafkan saya!" Eka dengan gerakan cepat menyerahkan ponsel yang terlihat mahal itu, seraya membungkukkan tubuhnya tanda bila dirinya benar-benar meminta maaf.


Pria tampan dengan wajah oriental di depannya itu tersenyum," it's okay!"


"Sory, tadi aku juga gak fokus jalannya" pria itu tersenyum, menampilkan giginya yang rapi.


"Maaf, saya mau kedalam dulu!" pamit Eka.


"Hey, tunggu dulu!" tahan pria itu.


"Ya Tuan?" Eka menatap bingung, ada apa lagi?.


"Kamu sendirian?"


"Oh, aku sama temen tadi" Eka grogi berhadapan dengan pria yang terlihat berbeda kelas dengan dirinya.


"Jason!" pria itu terlihat mengulurkan tangannya, apakah dia berniat berkenalan ?.


Eka menatap tangan yang menggantung, kemudian menatap wajah yang tersenyum di depannya.


"Eka!" jawabnya menjabat tangan pria yang barusan dia tabrak.


"Ehem!!, apa kau sengaja membuatku menunggu?" terdengar suara sinis dari arah lain, suara yang familiar tentu saja.


.


.


Tomy


Ia kesal, kemana sebenarnya wanita cerewet itu. Ia bahkan sudah selesai memesan beberapa makanan dan sudah selesai di catat oleh waiters, namun batang hidung wanita bar-bar itu tak jua muncul.


Mau tidak mau akhirnya ia menuju arah luar kembali, namun dahinya berlipat begitu melihat Eka yang berjabat tangan dengan seorang pria yang tak ia kenal.


"Aku membawanya kemari bukan untuk berkenalan dengan orang lain!!" ucapnya kesal.


"Ehem!!, apa kau sengaja membuatku menunggu?" ia tak bisa lagi bersabar, dan tunggu dulu, perasaan apa ini. Ia terlihat meradang begitu melihat tangan Eka yang masih di pegang oleh pria itu.


"Cepat masuk!!" ia berucap lalu berbalik kembali masuk ke kedalam. Kesal, jengkel, bahkan cemburu???


.


.

__ADS_1


Eka duduk diam menatap Tomy yang tanpa ekspresi, tak bisa membaca arti raut wajah yang terpampang di depannya.


Marah?, atau biasa saja?, atau?


"Emmm, apa..." ucapan Eka terpotong.


"Makanlah dulu, kau sudah membuatku menunggu!" ketusTomy.


Eka memanyunkan bibirnya, ia bingung harus bersikap bagaimana. Pria di depannya itu saat ini terlihat menakutkan saat ini.


"Apa maksudnya, kenapa dia tiba-tiba bersikap begitu kepadaku!" ia berucap dalam hati, merasa bila Tomy tengah mendiamkan dirinya.


Tomy memakan tanpa berucap, sepertinya ia benar-benar lapar. Makan dengan cepat dan lahap, licin tak bersisa.


Eka hanya mengaduk-aduk makanannya. Kehilangan selera makannya. Membuat Tomy melipat kedua tangannya ke atas meja.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Tomy.


"Sudah kubilang aku tidak lapar!" jawabnya dengan bibir manyun.


"Kruuuuukk" namun perut sialan itu rupanya sedang berkhianat kepada pemiliknya. Membuat seringai muncul dari bibir Tomy.


"Tidak lapar??" Tomy menaikan kedua alisnya.


"Kau ini kenapa sebenarnya, tiba-tiba baik, tiba-tiba mendiamkanku seperti ini!" Eka kesal dengan sikap Tomy yang fluktuatif. Bahkan kedua matanya sudah memanas, bersiap untuk meluncurkan cairan bening itu kapan saja.


"Kenapa jadi kamu yang kesal?"


"Harusnya aku yang kesal!" Tomy berucap dengan nafas menggebu.


Eka mengernyitkan dahinya, bisa bisanya pria di depannya itu berdalih.


"Ka..." ucapan Eka terpotong.


"Aku cemburu!!" jawab Tomy cepat seraya membuang pandangannya.


***


Malam itu David sengaja memberikan kejutan berupa makan malam romantis, sebuah meja dengan tatanan remang, terletak diatas pasir putih dengan view hamparan pantai.


Mata Jessika sengaja ditutup, membuat dirinya benar-benar menerka-nerka. Apa yang sebenarnya hendak di tunjukkan suaminya itu kepada dirinya.


"Hati-hati, jangan dibuka dulu" ucap David menuntun istrinya dari belakang.


Malam itu Jessika terlihat begitu cantik dengan balutan dress selutut berwarna merah, rambut tergerai sebahu. Benar benar membuat David ingin menenggelamkan istrinya itu di dasar kenikmatan yang paling dalam.


Oh tunggu dulu ferguso, sebentar dulu. 😁😁


"Mas kita ini dimana?" ucap Jessika dengan senyum yang bercampur kebingungan.


"Bersiaplah!" bisik David.


Satu


Dua


Tiga


David membuka sebuah penutup mata yang terpasang di wajah Jessika, Jessika sampai ternganga melihat keindahan yang tersaji di depannya. Seumur hidup belum pernah ia mendapat perlakuan semanis ini.


Ia menatap wajah suaminya yang juga tersenyum senang, mata Jessika berkaca-kaca. Sungguh David tak pernah gagal membuat dirinya bahagia.


"Terimakasih sayang!" Jessika memeluk tubuh kekar suaminya, David pun membalas pelukan itu. Penuh kasih mesra.


__ADS_1


( credit foto from Google)


Usai melakukan makan malam mereka kini telah kembali ke kamarnya, berniat melaksanakan shalat isya berjamaah.


Dia memang bukan orang yang taat, namun sebisa mungkin menunaikan kewajiban.


"Assalamualaikum warahmatullah"


"Assalamualaikum warahmatullah"


Ucapan salam di akhir salat mereka, kemudian Jessika meraih tangan David dan menciumnya takzim. David pun mengecup kening istrinya agak lama. Terlihat kasih yang begitu nyata.


David terlihat memimpin doa, harapan dan keinginan yang belum terwujud ia haturkan kepada Sang Khalik.


Berkah kesehatan, keselamatan, kerukunan, rizki halal dan juga seorang anak pastinya. Doa yang terlihat begitu khusyuk di ucapkan. Sejurus kemudian mengusap wajah. Menandakan bila mereka telah selesai berdoa.


.


.


.


Jessika terlihat mengganti bajunya dengan baju tidur yang terbilang sexy, tentu saja sebagai istri sudah kewajibannya untuk melayani sang suami bukan?.


David yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat terkejut, demi melihat penampilan Jessika.


"Apa istriku ini sudah pandai menggoda, hm? David berucap seraya menuju ke arah Jessika yang menyisir rambutnya di meja rias.


Jessika meletakkan sisirnya, kemudian bangkit dari kursi persegi yang baru saja ia duduki. Berdiri mengalungkan tangannya ke leher David, wajah mereka kini beradu.


"Tentu saja aku harus pandai menggoda, karena aku tidak ingin suamiku ini tergoda dengan yang lain!" Jessika berbisik ke telinga David.


David tersenyum senang melihat kemajuan istrinya itu.


"Wow, this is really Mrs. David!!" ucap David mantap.


Sepertinya malam ini akan berakhir dengan malam yang panas dan panjang.


David tersenyum melihat istrinya yang jauh lebih ekspresif dari sebelumnya, David langsung meraih tubuh istrinya menggendongnya ala bridal style. Menurunkan tubuh mon tok istrinya itu ke ranjang lebar dengan pelan.


Ia membuka bajunya, menampilkan roti sobek yang terlihat padat. Lengannya pun makin terlihat berotot, dadanya bidangnya liat dan menantang. Jelas menggambarkan kekuatan David yang begitu dahsyat.


"Akan ku buat kau untuk memohon sayang!" ucap David seraya mengungkung tubuh istrinya. Membuat merasa saling memandang satu sama lain.


"Dengan senang hati sayangku!" entah mengapa, pasca mereka bertengkar Jessika kini lebih atraktif. Tak lagi sungkan menunjukkan sesuatu yang beraroma intim.


Malam itu mereka lalui dengan kenikmatan, dan luapan kerinduan yang mendalam. Sama sama merengkuh puncak memabukkan, di lautan cinta paling dalam. Tak akan ada ketukan Tomy yang menggangu, atau bahkan deringan ponsel yang bisa saja menginterupsi kegiatan penuh cinta mereka.


Buliran peluh yang menjadi saksi kegiatan penuh cinta mereka itupun, seakan tak mau beranjak. Terus terproduksi seiring dengan hentakan David yang penuh stamina. Kuat dan tiada jemu, memberikan nafkah batin tersempurna yang pernah ada.


Jessika yang menggelinjang karena David selalu berhasil memberikan dirinya rasa yang tak terkira, membuat David tersenyum puas. Sampai dalam tempo yang lama pula, penyatuan itu terus berlangsung.


Membuat matras pegas itu berbunyi, bahkan cengkraman tangan Jessika yang menimbulkan jejak kusut diatas sprei itu, jelas menandakan keperkasaan seorang David Darmawan.


Mereka sama sama mencapai *******, dengan bukti semburan benih yang banyak. Berharap akan tumbuh menjadi embrio yang akan membawa harapan baru bagi kehidupan mereka.


David mengecup kening basah istrinya yang terlihat kelelahan, tak memiliki daya barang sedikitpun.


"Thanks for tonight my sweet heart!" ucap David menarik tubuh polos istrinya kedalam dekapannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2