Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 157. My First Kiss


__ADS_3

.


.


.


Eka


Ia memang terbiasa makan, sambil melayangkan pandangannya kesana-kemari. Ia tipikal orang yang lama dalam menghabiskan makanan.


"Emmmm, benar-benar gak rugi aku diajak kemari. Jarang-jarang makan enak begini!" ia bermonolog lirih, di meja bundar seorang diri. Menikmati hidangan lezat yang memanjakan lidahnya.


Namun tenggorokan mendadak seret, matanya mendelik tatkala melihat Tomy yang di peluk seorang wanita.


Ia buru-buru menyambar gelas di sampingnya, meneguknya dalam sekali tegukan. Habis tak tersisa.


Nafasnya terengah-engah, menandakan jika dirinya sedang kesal. Piring yang masih berisi seperempat dari porsi yang ia ambil tadi ia angsurkan ke samping. Nafsu makannya mendadak lenyap, demi melihat pemandangan yang tertangkap biji matanya.


"Cih, ngakunya suka sama aku!!!. Tapi lihat!!" Eka mengomel, ia adalah seorang wanita yang selalu mengedepankan perasaannya ketimbang logika.


Wanita yang memeluk Tomy adalah wanita yang nyaris saja ia tabrak sewaktu dirinya mengambil makanan tadi.


Seketika Eka menjadi tak nyaman. Ingin marah, tak terima, ingin penjelasan, namun hatinya juga mendadak menciut demi melihat tampilan wanita yang memeluk Tomy sebanyak dua kali itu.


Dari tampilannya, jelas menandakan bila wanita itu bukan dari rakyat jelata macam dirinya. Yang bisa tampil cantik seperti saat ini, hanya karena tugas.


Seketika Eka menjadi berfikir, bahwa apa yang di ucapkan Tomy tadi pagi bukanlah hal sebenarnya. Tomy berkata begitu pasti agar dirinya mau menjalankan tugas untuk menemani Tomy, yang mewakili Darmawan Group dalam gelaran acara ulang tahun relasinya.


Ia menjadi kerdil, kecil dan tak berharga. Ia masih menatap Tomy yang berbicara dengan wanita itu tanpa rasa bosan.


Seketika matanya berkaca-kaca, ia memilih pergi dari meja itu. Meski ia tak tahu mau kemana, tapi ia menuju arah belakang.


Ia sempat bertanya kepada seseorang, dimana letak toilet. Akhirnya dengan hati yang gondok, Eka berhasil menemukan toilet yang tampilannya lebih bagus dari ruang tamu rumahnya.


Ia masuk ke toilet khusus wanita, disana sepi. Hanya ada dirinya yang berteman pantulan dirinya sendiri dalam sebuah cermin besar di depannya itu.


Seketika ia menangis, ia baru menyadari selama ini Tomy juga jarang bersikap baik kepadanya. Ia merasa, bila Tomy tak benar-benar menyukai dirinya, harusnya bila memang suka, pasti tak akan pernah bersikap cuek kepadanya.


Mungkin dia saja yang terlalu berharap selama ini, mungkin dia yang terlalu pede. Ia bahkan terlihat mengusap bibirnya, tatkala ingatannya kembali saat ia mencium Tomy tadi pagi.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!!" Eka merutuki dirinya sendiri, entah mengapa ia merasa semua ini tidak benar. Ia mencuci mukanya, namun ia terkejut saat melihat bedak di wajahnya masih menempel kuat. Bahkan alis dan lipstik nya juga tidak luntur.


"Ini bedak atau apa sih?" ia bahkan masih sempat mengomentari kualitas makeup yang melekat di wajahnya, saat hatinya tengah diliputi kegalauan.


Setelah selesai mengelap sisa air yang menempel, ia kembali memandangi wajahnya di pantulan cermin besar itu.


"Kau harusnya sadar Eka!," ia berbicara kepada dirinya di pantulan cermin.


Sejurus kemudian ia pergi dari toilet itu, tak berniat kembali menemui Tomy. Ia lebih memilih untuk keluar. Ia menuju arah depan, tepatnya trotoar jalan. Lebih memilih untuk pulang. Gilanya, ia berjalan kaki. Alias bondo nekat, emosi membuatnya tak bisa berfikir jernih.


.


.


Tomy


Ia sebenarnya ingin menjeda Clarissa yang terus saja berbicara, ia bahkan tak terlalu menyimak apa saja yang di ucapkan wanita berpakaian sexy di depannya itu.


Sesekali ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok wanita cerewet itu. Tapi nihil, alias tak membuahkan hasil. Eka sepertinya tak berada di dalam sana.


"Nona Clarissa dimohon untuk naik keatas panggung!" sayup-sayup terdengar suara MC, memanggil nama Clarissa untuk maju ke depan. Sepertinya acara inti akan segera dimulai.


Membuat Tomy sedikit lega, akhirnya ia bisa lepas dari perempuan itu.


"Nanti jangan lupa balas chatku ya, aku kesana dulu!"


Tomy mengiyakan saja ucapan wanita itu, persetan dengan urusan nanti. Yang jelas, kini ia masih di pusingkan dengan Eka yang mendadak hilang.


"Anak itu, selalu saja membuatku repot!!"


"Awas kalau ketemu!!"


Ia mulai mencari, bahkan tak segan untuk bertanya kepada orang lain. Apakah mereka melihat seorang wanita dengan ciri-ciri yang ia sebutkan tadi.


Rata- menjawab no!.


Ia tak menghiraukan jalannya pesta, masih sibuk mencari keberadaan wanita cerewet itu.


Sampai ia melihat seorang cleaning servis wanita, yang lewat disana. Terlihat seperti habis membereskan pecahan gelas. Hari gini, masih ada aja tamu yang norak!.


"Hey, apa kau melihat wanita dengan baju biru cerah, dia segini ( menunjukkan pundaknya) dan berwajah cantik!" ucap Tomy.


CS itu terlihat sedang mengingat, sembari mencocokkan rentetan ciri-ciri yang di ucapkan Tomy.

__ADS_1


"Apa dia memakai tas hitam?"


"Ya benar!" jawab Tomy antusias.


"Saya tadi melihatnya masuk di toilet wanita!".


Setelah mengucapkan terimakasih, Tomy segera melesat. Ia tak bisa langsung masuk, ia menunggu beberapa menit.


Tak jua keluar.


Beberapa menit lagi.


Masih sama.


Ia tak mungkin akan masuk kedalam, takutnya ada pengunjung lain. Malah jadi brabe urusan.


Saat akan ada yang hendak masuk, ia memanggil wanita itu.


"Emm mbak, bisa panggilkan teman saya yang baju biru di dalam untuk segera keluar!"


"Oh, iya mas!!"


Namun, baru saja wanita itu masuk. Ia terlihat keluar lagi," nggak ada siapa-siapa di dalam mas!"


"Apa?"


Wanita itu terbengong, melihat Tomy yang kelihatan bodoh. Jadi siapa yang dia tunggu.


.


.


Akhirnya dia mengambil keputusan untuk bertanya kepada security. Lantaran ia sudah mengelilingi tempat itu, namun hasilnya masih nihil.


"Apa kau melihat wanita sepundakku, berbaju biru terang?"


"Apa yang anda maksud, wanita yang datang bersama anda?" jawab petugas itu yang masih mengingat Tomy dan Eka.


" Ya benar!!"


"Dia berjalan keluar tadi!"


"Apa??"


Sementara dua petugasnya itu hanya saling pandang.


Dengan pikiran yang bertanya- tanya, ia melajukan mobilnya pelan. Sembari mencoba menghubungi Eka, namun sia sia. Sebab Panggilan darinya selalu di reject.


"Ada apa sebenarnya?, kenapa dia sepertinya marah kepadaku?"


Tomy berbicara di mobilnya seorang diri, ia masih tak merasa melakukan kesalahan.


.


.


Eka


Ia berkali-kali merejct panggilan dari Tomy, ia kesal setengah mati. Ia juga begitu sedih, merasa di bodohi. Entahlah, hatinya rapuh saat ini.


Ia bahkan terlihat menenteng sepasang high heelsnya menggunakan tangan kirinya. Suara kendaraan yang makin berseliweran menjadi saksi kesedihan seroang Eka. Menyusuri jalanan panjang, yang entah kapan akan berakhir.


"Aaaaaaa!!" Eka terlihat menendang sebuah kaleng, ia bahkan sudah tak memperdulikan tampilannya. Masih dengan dress yang sama, namun sanggulan rambutnya ia copot. Menampilkan rambutnya yang panjang bergelombang.


Ia merasa lelah, ia beristirahat sebentar di dekat jembatan. Namun tak disangka, ada dua preman yang mabuk berjalan sempoyongan.


"Hallo cantik!" mereka berbicara dengan bau naga yang menyengat.


Eka menjadi takut, mana dia sendirian. Dan nahasnya, ia berhenti di jalanan yang agak sepi.


"Abang antar yuk!" salah satu pria itu mencoba menarik tangan Eka.


"Jangan kurang ajar!!!" Eka berusaha melindungi dirinya.


"Ayolah, kita bersenang-senang sayang!!"


"Hahahaha!" terdengar tawa yang mengerikan dari dua preman itu, membuat Eka menjadi gemetar karena ketakutan.


"Tolong!!! Tolong!!!" Eka berteriak, berusaha mencari bantuan.


Namun sia-sia, preman itu malah kini berhasil meraih tubuh Eka.


"Lepasin!!!" Eka meronta.

__ADS_1


"Ayo bawa dia ke tempat biasa!" ucap preman itu, kepada temannya.


"Jangan om, tolong jangan!!" Eka menangis, ia sangat takut. Ia begitu ceroboh menggadaikan keselamatannya hanya karena kemarahannya.


Namun sejurus kemudian.


"Bought!!!" satu preman itu terlihat tersungkur karena terkena pukulan.


.


.


Tomy


Telah berkilo-kilo meter jauhnya dia memacu kendaraannya dengan amat pelan, mencari sosok Eka.


Namun hingga melintasi jalan yang mulai sepi, ia tak jua menemukan Eka.


"CK, dimana sebenarnya kamu!!, kenapa bisa sebodoh ini!!" gerutunya Tomy yang mulai cemas, lantaran jalanan yang lewati saat ini adalah jalanan yang rawan.


Namun matanya membulat, darahnya mendidih saat melihat Eka yang di tarik paksa oleh kedua pria asing..


Ia buru-buru menepikan mobilnya dari kejauhan, secepat kijang ia berlari menuju dua preman itu menangkap Eka.


Sejurus kemudiaan,


Bought


Preman itu bahkan mengira bila dirinya terkena hantaman sebuah kayu raksasa, lantaran kekuatan yang ia rasakan teramat dahsyat. Ya, kekuatan seorang Tomy.


Eka menoleh ke arahnya, ia juga sempat menatap wajah Eka yang kacau dan berlinang air mata. Dengan wajah yang ketakutan.


"Breng Sek!!!, jangan ikut campur Lo!!" ucap preman yang satu lagi, berusaha membalas Tomy dengan menyerangnya.


Namun nampaknya, dua preman itu sama sekali bukan sebuah ancaman bagi Tomy. Hanya dengan beberapa kali serangan saja, sudah membuat dua preman itu kocar-kacir.


"Jon, kabur Kon. Bisa mati konyol kita disini!!" ucap seorang preman kepada rekannya itu.


Mereka berlari tunggang langgang, menghilang di balik rerumputan yang berada di bawah jembatan.


Mereka berdua terdiam, masih bingung dengan perasaannya masing-masing.


Tomy dengan nafas memburu mendekati Eka, Eka masih berdiri seraya menangis. Saat Tomy hendak meraih tangan Eka, wanita itu menolak.


Membuat Tomy mengernyitkan dahi, jelas wanita di depannya itu marah. Namun masalahnya, ia juga tak merasa berbuat salah.


"Ada apa?" ia akhirnya membuka suara.


Hening.


Eka tak mau menjawab, hanya sesekali mengusap air matanya.


"Ayo kita pulang!" ucap Tomy mendekat.


Masih hening, Eka tak mau menjawab. Masih terlihat kesal.


"Jangan seperti anak kecil!!" suara Tomy terlihat meninggi, mulai tak sabar dengan tingkah Eka.


"Iya benar, aku memang seperti anak kecil!!, aku memang menyebalkan, tidak seperti wanita yang memelukmu tadi!!!"


"Tidak seperti pacarmu yang sexy itu!!"


Tomy membulatkan matanya, ia akhirnya tahu. Rupanya wanita cerewetnya itu tengah salah paham kepadanya, karena Clarissa yang memeluknya dengan tak tahu malunya tadi.


"Aku memang gak pan...."


Dari jarak mereka yang sudah dekat ,Tomy segera menarik tubuh Eka, kemudian mencium bibir wanita itu. Eka membelalakkan matanya terkejut, mereka masih diam. Eka bahkan sempat terlena dan hendak memejamkan matanya. First kiss akhirnya di ambil pula oleh Tomy.


Eka mendorong tubuhnya, membuat ciuman itu terlepas secara paksa.


"Kenapa kau selalu seenaknya saja !!" ucap Eka tak terima, seraya mengusap bibirnya. Membuat Tomy tersenyum menyeringai.


Tomy kemudian kembali ke mode diam, sepertinya memang sangat susah menaklukkan singa betina yang marah.


"Kau sudah salah paham!, kalau aku tidak menyumpal bibirmu dengan bibirku. Kau akan terus mengomel tak ada habisnya!!"


Tomt tak mau mau kalah, tapi juju dia sangat menikmati bibir Eka yang terasa manis.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2