
.
.
.
Jack
Pria dengan potongan rambut mirip artis Korea itu tengah memakaikan skincare ke wajahnya usai mandi. Diantara jajaran anak buah Tomy, Jack adalah pria yang menduduki urutan pertama soal penampilan.
Pria itu terlihat memiliki aura memikat sedari awal memang. Wajahnya yang asli keturunan orang Asia, nampak memberikan keuntungan buatnya.
Bahkan, jerawat saja sungkan untuk tumbuh di pipi mulus Jack. Meski kulitnya tak seputih Victor, namun pria dengan alis tebal nan berwarna hitam itu lebih bisa menjaga penampilannya.
" Masih aja lu nanggepin si Luna?" ucap Jack menghadap ke arah Victor yang menelungkup diatas ranjangnya sambil menggulir ponsel.
" Dia bilang kalau gue gak nyusul ke kota. Hubungan gue berakhir!" Victor melempar ponselnya ke atas bantal yang berada di sampingnya. Sejurus kemudian pria itu berbalik terlentang seraya mengembuskan napas pasrah.
Jack mencibir. Partnernya itu tengah galau rupanya. " Elu ganteng, banyak duit, masih aja musingin tu perempuan gak jelas" tukas Jack seraya meratakan Pomade keatas rambutnya.
" Sialan lu!! elu belum tau aja rasanya cinta itu gimana Jack!" balas Victor.
Jack mencibir ocehan Victor yang tak terima perempuannya di katai.
" Secara, gue kan selama ini di kejar. Bukan mengejar!" balas Jack jumawa.
Ya, sebagai anak buah Tomy yang menjadi orang kepercayaan David adalah suatu kebanggaan buat mereka. Apalagi, Tomy merekrut mereka atas dasar kemanusiaan.
Mengingat kebanyakan anak buah Tomy adalah mereka yang berasal dari anak broken home, dengan segala persoalan hidup dengan orang tua mereka, dan dengan kondisi yang tak memiliki pekerjaan namun memiliki skill bagus di bidang ilmu pengetahuan dan juga bela diri.
Jack dan Victor salah satunya.
Menghamba kepada perkumpulan rahasia milik Tomy guna menjaga stabilitas keamanan Darmawan Group, merupakan suatu keberuntungan bagi Jack dan Victor yang sebelumnya hanya hobi berkelahi tanpa tujuan jelas di usia remaja.
" Lagipula nih ya, kita masih muda. Banyak wanita yang bisa kita jajal!" ucap Jack seraya menyapukan sisir ke kepalanya. Membuat tampilan Jack kian kinclong pagi itu.
Tok Tok Tok
Kamar Jack diketuk oleh seorang.
" Siapa?" tanya Victor. Jack hanya mengendikkan bahunya, mewakili ucapan ' mana gue tahu!'.
Victor yang sudah selesai berdandan pagi itu terlihat beringsut dari ranjang kamar Jack, lalu membuka pintu kamar itu. ia terperanjat saat bos-nya berdiri tepat di ambang pintunya.
" Bos!" Victor mengangguk sopan.
" Bilang Jack, ada yang mau ketemu. Wanita!! di depan!" David berucap dengan singkat, padat dan jelas. Sejurus kemudian pria itu melesat pergi tanpa berucap apapun.
" Bos bilang apa?" Jack yang terlihat memakai kaos kaki itu bertanya di atas sofa kamarnya, saat Victor kembali kedalam.
" Ada yang nyari elu, wanita katanya. Buruan deh, bos wajahnya kusut banget!" tukas Victor.
.
.
__ADS_1
Jack dan Victor berjalan beriringan menuju ruang depan. Dari arah samping sayup-sayup ia mendengar suara Jessika dan orang yang asyik berkelakar.
Matanya terperanjat saat melihat wanita yang kemaren membuatnya kesal. Detik berikutnya ia menatap pria aneh yang menggunakan celana gombrong tahun bahulak, dengan memakai kaos warna kuning terang. Kontras dengan kulitnya.
"Ngapain kamu kesini?" Jack tentu saja harus mengatakan hal itu. Ia tentu penasaran, ada apa gerangan yang membuat wanita culas itu datang kesana.
" Jack saya tinggal dulu ya. Kalau sudah sarapan dulu kebelakang sebelum berangkat. Yu Sal udah kedung masak banyak tadi! ucap Jessika seraya berdiri.
" Siap Bu Jes!" betapa beruntungnya menjadi pegawai di Darmawan Group. Atasannya saja begitu memperhatikan kesehatan para abdi dalem mereka.
" Gendis, saya tinggal dulu ya!" ucap Jessika pamit.
Cih dasar, bisa-bisanya dia sudah akrab sama Bu Bos
Victor yang ponselnya berdering kembali, nampaknya tak bisa menemani Jack disana. Tanpa pamit pria keturunan Cina- Jawa itu melenggang pergi. Nampaknya urusannya dengan Luna begitu rumit.
" Sopo iku ( siapa itu) Ndis? tanya Sono berbisik di telinga Gendis.
" Iku wong edan ( itu orang gila)!" bisik Gendis.
" Hah!!!!" Sono ber- hah ria. Pria itu terlalu serius dalam hal apapun.
" Woy, aku bertanya dari tadi gak elu jawab ya!" Jack mulai tak sabar.
" Astaga ganteng- ganteng jahat banget mulutnya!" Sono yang terperanjat malah mengeluarkan isi hatinya lewat ucapan seraya memegangi dadanya.
Membuat Jack mendelik.
" Oh...aku tahu. Elu pasti mau minta nasi lagi ya. Atau minta sumbangan. Emang ya, orang kaya kalian itu seringnya sok jual mahal!" ucap Jack dengan tanpa tedeng aling-aling.
Gendis yang mendengar ucapan Jack, seketika merasa harga dirinya terkoyak. Apakah tampilannya saat itu mencerminkan orang yang minta-minta?
Mengapa semua orang yang lebih berada, selalu melihat segala sesuatunya secara kasat mata.
" Ngomong apa Lo!" Gendis langsung bangkit dan menarik kerja baju Jack dengan kuat.
Jack bahkan terkejut demi melihat keberanian Gendis. Benar yang di katakan Victor kemaren soal kekuatan wanita itu.
Gendis memiliki tinggi sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, dan Jack memiliki tinggi kurang lebih seratus delapan puluh lima sentimeter. Membuat Gendis masih bisa menjangkau ketinggian pria itu, walau sedikit mendongak.
Sono yang takut melihat pertengkaran disana, hanya bisa menarik lengan Gendis yang terlihat kuat mencengkram kerah milik Jack.
" Udah Ndis udah, ini rumah orang!" Sono yang panik menepuk bahu wanita yang tengah diliputi emosi itu.
Namun gendis bergeming, ia menatap sengit ke arah Jack yang nampak terkejut.
" Hey, wanita gila!! apa-apaan nih. Singkirkan tangan kotor elo!!" ucap pria dengan wajah Asia yang kentara itu.
Bought!!!
Gendis menonjok keras rahang Jack sejurus kemudian. Membuat pria itu mengaduh sakit. Tonjokan wanita bernama Gendis itu terasa berdenyut di rahangnya.
" Awhhhhh!" pria itu meraba pipinya yang terasa panas dan berdenyut.
Gendis kini berdiri dengan jarak satu meter dari tempat Jack berdiri. Wanita itu terlihat kembang kempis mengatur nafasnya.
__ADS_1
" Saya emang miskin. Tapi pantang buat saya untuk gedor rumah orang buat minta makan!" Gendis berucap dengan nafas memburu. Menandakan bila wanita itu tengah emosi.
Sono hanya meringis ngeri melihat Gendis menempeleng wajah pria ganteng di depan itu.
" Dan ini!!" Gendis mengambil sesuatu dari saku celana belakangnya, lalu melemparkan benda itu tepat ke tubuh Jack yang kini mundur tiga langkah dari tempatnya berdiri tadi.
" Saya kesini cuma mau balikin itu!!"
Jack menatap tak percaya ke arah Gendis.
"Permisi!!"
" Ayo Son buruan. Nanti lama- lama disini, dikira kita mau numpang sarapan!!" ucap Gendis menabrak pundak Jack hingga membuat tubuh pria itu terguncang.
Jack hanya menatap nanar jam hitam mahal miliknya yang ia sendiri tak menyadari bila benda itu telah jatuh.
Ia melihat Gendis yang menstarter motor jadul dengan emosi. Sejurus kemudian wanita itu menatapnya bengis. Terasa aura permusuhan yang ia tangkap dari raut wajah wanita itu.
Jack merasa bersalah saat itu juga. Ia tak mengira wanita kasar itu memiliki niat baik. Itu adalah salahnya. Jelas salahnya.
" Kenapa muka lu monyong begitu!" suara Victor tiba-tiba datang dari arah belakang. Pria itu nampaknya sudah menyudahi acara telpon menelponnya.
"Loh, mana cewek yang tadi?" tanya Victor lagi, bahkan Jack belum sempat menjawab pertanyaan pertama darinya.
" Dan pulang!" ucap Jack lesu serta mendudukkan dirinya ke kursi yang tadi digunakan Jessika duduk.
" Lah cepet banget, mau apa dia?" Victor kini menatap Jack yang bermuram durja. Ia masih merasakan tinjuan Gendis yang lumayan itu.
" Tadi gue mikir jelek ke dia. Habisnya perempuan itu selalu kasar dan bikin gue kesel berkali-kali!" ucap Jack.
" Terus?" Victor kina gencar mendengar.
" Ternyata dia kesini cuma balikin ini!" Jack menunjukkan arloji hitamnya kepada Victor.
" Emangnya elu bilang apa tadi?"
" Ya gue bilang yang bikin dia kesel lah intinya pokonya!"
Victor bedecak kesal seraya menggelengkan kepalanya.
" Makanya, jangan menilai segala sesuatu dari tampilannya bos. Jarang loh ada orang yang mau begini. Kalau orang gak niat berbuat baik, udah di jual itu jam punya kamu!"
" Gila ya elu itu. Kena karma baru tahu rasa. Karma suka sama tu anak!" Victor terkikik geli.
" Ngaco aja. Mustahil!" dengus Jack.
" Loh , bisa jadi benci itu adalah awal dari cinta!" ucap Victor sok bijak.
" Hati hati, jangan terlalu benci ke orang. Bisanya yang gitu-gitu yang malah bikin elu belingsatan!" Bisik Victor sembari tergelak lalu melesat kabur menuju meja makan yang berada di ruang utama untuk sarapan.
" Sialan lo!!!"
.
.
__ADS_1
.