
.
.
.
" Arggghhhh!" Jack masih mengerang.
Gendis mendadak mengernyitkan dahinya, ia kini panik karena melihat Jack yang terlihat kesakitan. Apakah dia telah melakukan kesalahan lagi pikirnya.
" Aduh!!!!" Jack bahkan berguling di lantai seraya memegangi burungnya.
" Aduh maafkan saya, saya gak...!" Gendis kini belingsatan. Ia takut jika terjadi sesuatu. Niatnya hanya ingin memberi pelajaran saja.
Gendis mendekat ke arah Jack yang tergeletak di lantai ruangannya. Wanita itu kini memegang lengan Jack dan mengusapnya lembut.
" Aduh mas, maafkan aku!!"
Jack bahkan sampai menajamkan pandangannya. Apa? dia memanggilku mas?
Namun sejurus kemudian, Jack kembali mengaduh dan berguling.
" Aku tadi tidak...!" Gendis benar-benar panik. Wajahnya bahkan sampai pias. Dan sejurus kemudian...
" Bhahahahahaha!!!" Jack tergelak dengan kerasnya. Gendis langsung terdiam dan menatap Jack yang masih menikmati gelak tawanya.
Jack sebenarnya tidak terlalu merasakan sakit. Ia ingin mengerjai Gendis karena berani- beraninya hendak menciderai benda penting miliknya yang menjadi aset berharganya selama ini.
" Dasar kurang ajar!!" Gendis mendorong tubuh Jack hingga pria itu rubuh ke belakang, namun karena terkejut Jack malah menarik tangan Gendis, membuat wanita itu kini turut terjerembab kembali ke lantai dengan posisi berada diatas tubuh Jack.
Bruk
Gendis menatap wajah Jack yang begitu gentengnya dengan alisnya yang tebal dan hitam. Jack pun sama, ia terlihat menikmati wajah Gendis beberapa detik.
Suasana senyap.
Mereka saling memandang.
Debaran jantung mereka kian mendominasi satu sama lainnya.
Tanpa mereka sadari, posisi mereka begitu intim, hembusan napas satu sama lain bahkan bisa mereka hirup dengan leluasa. Sampai pada akhirnya...
Tok Tok Tok
Membuat adegan bak di telenovela itu, kini buyar sebelum waktu.
Gendis langsung menarik tubuhnya, dan membetulkan penampilannya yang sedikit berantakan. Jack pun langsung beringsut bangun, usai beban berupa badan dari manusia pecicilan itu sudah enyah dari tubuhnya.
" Masuk!" Suara Jack menyahuti dari dalam. Gendis menatap pria itu dari jarak dua meter dari tempatnya berdiri.
" Pak Jack mak..." Suara Sindi menggantung karena wanita itu melihat Jack yang tak sendirian. Melainkan bersama Gendis.
Gendis berjalan lalu mendudukkan dirinya di sofa tamu dengan tanpa menoleh kepada Jack maupun Sindi.
" Ehem ada apa Sin?" Jack membetulkan kerahnya seraya berdehem.
__ADS_1
Sindi menatap bengis ke arah Gendis. Ia kesal mengapa anak itu bisa ada disana. Di ruangan pria yang ia taksir.
" Emmm...saya mau makan siang, bapak mau nitip atau mau bareng mungkin?" Sindi wanita yang tak mudah menyerah, ia menyukai Jack sejak ia masuk pertama kali ke Gudang itu.
" Kamu duluan aja, saya ada berkas yang masih mau saya periksa!" Jack berucap seraya mendudukkan dirinya ke kursi singgasananya.
" Ya sudah kalau begitu, permisi!" Sindi menatap sinis Gendis yang cuek sambil sibuk melihat pantulan wajahnya di cermin kecil yang entah ia dapat dari mana. Sibuk menekan komedo yang lekas merajalela.
Brak!!!
Jack menghela napas saat Sindi tak sengaja menutup pintu itu dengan keras. Ia sebenarnya tak suka dengan Sindi yang terus saja mengejarnya. Ia hanya sungkan saat akan berbuat tak baik kepada Sindi. Mengingat Sindi adalah anak tokoh masyarakat disana.
Jack memerhatikan Gendis yang masih sibuk dengan cerminnya. Lebih tepatnya sibuk dengan komedonya.
" Jadi mau apa kau kemari!" ucap Jack seraya melipat kedua tangannya ke belakang kepalanya. Menyenderkan punggungnya dengan nyaman ke kursinya.
" Aku diminta Yu Sal mengantarkan makanan itu!" tunjuk Gendis kepada tas berisikan tiga kotak makanan menggunakan dagunya.
Jack menyipitkan matanya menatap Gendis. Seolah menunjukkan kecurigaan.
" Apa? kau pikir aku yang sengaja membawa itu semua?" Gendis mulai pasang raut berperang, saat Jack seolah curiga kepadanya.
" Aku tidak mengatakan itu, justru kau sendiri yang mengatakan!" Ucap Jack seraya meraih tas itu. Mengambil lalu membukanya.
" Kenapa tiga? apa kau kira aku kuli?" ucap Jack menatap Gendis.
" Tadinya untuk Pak Leo dan Bu Bella. Gak taunya mereka pulang. Ya sudah kau makan saja!" ketus Gendis.
" Mana mungkin, kau ini gila atau apa. Kamu makan satu, biar yang satu aku kasih ke pak Eko!" Jack mengambil satu kotak makanan itu lalu langsung melenggang pergi tanpa mengucap sepatah kata pun kepada Gendis.
Pintu kembali terbuka, Jack menyembul dari balik pintu itu. Pria itu baru selesai menyerahkan makanan untuk Pak Eko.
Jack ganteng sekali siang itu, tampilannya selalu rapih meski tadi sempat adu drama dengan Gendis.
" Makanlah, biar aku bisa cepat pulang!" tukas Gendis.
Jack mengernyitkan, " Untuk apa aku harus cepat-cepat!"
" Kotaknya harus segera aku bawa pulang, aku bisa kena marah jika aku tak membawa tempat kosong itu. Aku di tugaskan untuk memastikan makanan di dalam itu sudah berpindah ke lambung penerimanya!" sergah Gendis kesal.
" Kau makan satu!" Jack menyerahkan satu kotak makanan itu.
" Aku kenyang!" Gendis menatap ke arah lain.
" Makan atau ku laporkan kalau kau terlambat mengantarkan makanan ini kemari!"
" CK, aku heran kenapa Sindi bisa suka dengan pria sepertimu!" jawab Gendis seraya menyambar kotak itu dengan tidak ikhlas.
" Dari mana kau kenal Sindi?" kini Jack lekas membuka kotak itu, ia melihat nasi dengan lauk daging kala gepuk dan tumis sayur dengan baso yang banyak, sambal bajak, kerupuk udang, serta melon dan semangka yang masih dingin sebagai pencuci mulut.
" Semua orang juga tahu siapa Sindi!"
Jack hanya diam, dari jawaban Gendis ia menebak bila anak buah dan wanita di depannya itu menjalin hubungan yang tidak baik. Ia bisa memprediksi hal itu karena mereka yang saling tidak bertegur sapa saat bertemu tadi.
Jack tak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Gendis akhirnya memakan makanan itu. Dirinya yang suka menyia-nyiakan makanan. Apalagi makana se lezat itu, makan yang di mimpikan bapaknya untuk di konsumsi setiap hari. Selain itu, ia ingin cepat pergi dari tempat itu.
Jack memperhatikan cara makan Gendis yang cepat. Wanita itu tak seperti perempuan yang kerap ia jumpai saat makan. Jika biasanya wanita lain sering kemayu dan jaim ( jaga image) saat makan, tapi agaknya hal itu tak berlaku bagi Gendis.
Gendis makan dengan cepat, rapi dan lahap. Kini Jack percaya, bila seseorang yang makan dengan cepat, maka saat bekerja orang itu juga akan sama seperti saat ia makan. Dan Gendis memang begitu adanya. Cekatan dalam melakukan pekerjaannya.
" Apa kau tidak takut tersedak?" tanya Jack yang melihat cara makan Gendis begitu cepat.
Gendis diam, masih tekun menghabiskan suapan demi suapan di kotaknya. Berniat akan menyahuti ucapan Jack, setelah ia merampungkan makannya.
" Aku akan tersedak kalau terus berbicara sepertimu!" ucapnya lalu meneguk air yang di bawakan Yu Sal dalam sekali tegukan. Licin tandas tak bersisa.
" Eeiiikkk alhamdulilah!" Gendis bersendawa lalu mengucap syukur setelah itu. Gadis itu benar-benar tak jaim sama sekali di hadapan Jack.
Jack hanya menggeleng dengan tingkah Gendis yang benar- benar apa adanya itu. Jack menyukai sikap apa adanya Gendis yang menurutnya unik dan lucu.
Gendis menutup kembali kotak bekas makannya. Ia menjejalkan kotak itu kedalam tas khusus yang ia bawa. Alih-alih mengantar kiriman bekal untuk majikannya, justru ia sendiri yang menyikatnya.
Gendis memperhatikan Jack yang kini mengangsurkan kotak makanan itu, tanpa menghabiskannya. Membuat Gendis menatap pria ganteng itu.
" Kenapa gak di habiskan?" tanya Gendis.
" Aku bosan dengan makanan ini!" jawab Jack santai.
Entah mengapa Gendis merasa tiba-tiba tak senang dengan Jack. Perempuan itu meraih kotak makan Jack, lalu tanpa sungkan memakan sisa makanan yang tidak di habiskan Jack.
Pria dengan tato di punggung dan perutnya itu mendelik saat melihat Gendis yang tak jijik memakan sisa makanannya.
Gendis melahap makanan itu hingga licin tandas tak bersisa.
" Ada banyak orang di luaran sana yang menginginkan makanan seperti ini, makanan yang katamu membosankan!"
" Ada jutaan orang kelaparan setiap hari tapi kau malah menyia-nyiakan makanan ini!"
" Ada banyak orang yang bahkan setiap hari menghadapi piring dengan sajian yang sama, tanpa mengenal kata bosan dengan menu makan mereka yang tak pernah memikirkan gizi!"
" Ada ratusan jutaan ribu manusia diluaran sana yang bahkan harus menghadapi piring kosong setiap harinya!"
" Dan kau!!!" tunjuk Gendis kepada Jack.
Jack menelan ludahnya seketika.
" Malah seenaknya seperti ini!"
Jack tertegun demi mendengar ucapan Gendis yang menampar kesadarannya itu. Wanita di depannya itu benar-benar membuka cakrawala pengetahuannya tentang arti bersyukur.
" Permisi!"
Brak!!!
Setelah Sindi, kini pintu itu serasa akan runtuh karena Gendis.
.
.
__ADS_1
.