Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 191. Kegundahan Jack


__ADS_3

.


.


.


Manusia kadang tidak tahu artinya cukup, sebelum dia merasakan kekurangan. Jack yang di damprat habis- habisan oleh Gendis seketika tercenung, ia merasa jiwanya tengah di kulit habis- habisan.


Tanpa menunggu lagi, Jack langsung beranjak untuk mengejar Gendis. Entah mengapa, ia perlu meluruskan hal sepele itu.


Namun sayangnya, saat berada di luar ia sudah mendapati Gendis yang melakukan motornya Jessika dengan tanpa menoleh ke arahnya.


" CK...!" Jack hanya mendecak, lalu kemudian masuk kembali ke ruangannya.


.


.


.


" Baru pulang Ndis, Jack ada?" Jessika yang terlihat menyiangi bunga di halaman rumah itu, menyapa Gendis usai memasukkan motor itu ke garasi.


" Sampun ( sudah) Bu, saya mau masuk dulu!"


Jessika menangkap raut kekesalan di wajah perempuan itu. Tapi ia berniat tak mau ikut campur. Ia juga pernah berada di masa seperti Gendis.


Jessika merasa, Gendis selalu muram saat ditugaskan meladeni Jack.


Dan tebakannya itu benar. Berselang beberapa menit, mobil Jack sudah kembali kerumah besar.


" Kok udah balik?" tanya Jessika kini menyemprot semua tanamannya.


" Emmm...ada yang..." Jack bingung mau beralasan apa. Ini masih siang, dan belum jadwalnya dia pulang.


" Ada yang di selesaikan?" tebak Jessika seraya melirik Jack.


"Emmmm!" Jack menggaruk kepalanya, bagaimana bisa istri bos-nya itu tahu bila ia tengah ingin membereskan persolan.


" Udah sana, kayaknya bakal susah!" cibir Jessika seraya terkekeh.


.


.


Jack


Jack melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, entah mengapa ia merasa tak enak hati. Apa yang di ucapkan Gendis memang benar. Dan anehnya, mengapa Jack harus merasa begitu bersalah kepada Gendis.


Namun, saat ia hendak berjalan menuju tempat berkumpulnya para ART di belakang rumah, sayup- sayup terdengar suara orang tertawa.


Dan betapa terkejutnya, saat ia melihat Gendis yang sedang bersenda gurau bersama Dion. Gendis bahkan tak pernah menyuguhkan tawa selepas itu saat bersama dengannya.


Pria itu merasakan sesuatu yang tak enak di hatinya. Semacam tak rela, tak suka, tak senang, dan bisa jadi, cemburu. Ya, Jack cemburu.


" Loh mas Jack, kenapa berdiri disana. Mas Jack ada perlu apa?" Yu Sal yang terlihat baru mencuci kotak bekal yang Gendis bawakan tadi untuknya, kini menyapa Jack yang terbengong di balik tembok.

__ADS_1


Jack seperti maling yang tertangkap basah. Ia kini keranjingan.


Dion dan Gendis menatap ke arah Jack.


" Hay Jack, kau sudah pulang. Sini gabung!" Dion menyapa rekannya itu. Namun belum sempat ia menjawab.


" Kak Dion, aku kesana dulu yah. Nanti malam, aku mau kok pergi sama kak Dion!" Gendis pamit saat dia tahu Jack akan menuju ke tempatnya.


Pergi?


Sama Dion?


Kemana?


Batin Jack mendadak di penuhi pertanyaan. Dan, mengapa dia peduli?


Mengapa hatinya tak rela?


.


.


Gendis


Usai menyerahkan kotak tempat makan kepada Yu Sal, ia dikejutkan dengan kehadiran Dion di dapur belakang. Pria itu baru saja makan mie rebus.


" Manyun aja mbak!" sapa Dion.


" Kapan aku kawin sama masmu, mbak mbek mbak mbek!!!" dengus Gendis. Sejurus kemudian Gendis menutup mulutnya yang keceplosan berkata ketus.


Dion terkekeh, " Tidak apa, jadi kamu gak mau di panggil mbak? kalau gitu kita harus berteman!"


"Mas ganteng mau berteman sama babu kayak aku?"


Dion tergelak, " Dion!" pria itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Gendis memandang tangan Dion yang tergantung beberapa detik. Sejurus kemudian perempuan itu menjabat tangan Dion.


" Gendis!"


" Gula!" ucap Dion.


" Kok mas tahu?"


" Tahukah, aku kan jowo!"


Gendis tertawa, ia senang dengan Dion yang tak membedakan status sosial. Menurut Gendis, Dion kebih baik dari Jack yang seringnya sombong.


Dan tak di nyana, Dion mengajak Gendis ngobrol sejenak, " Disini yang terkenal apa aja?"


" Apanya mas, aku juga kurang tahu. Gak pernah jalan-jalan!" ucap Gendis.


" Oh ya, masa sih gak pernah. Kamu orang sini asli kan?" tanya Dion.


" Iya asli, tapi gak pernah punya duit buat jalan-jalan!" Gendis berbicara apa adanya, membuat hati Dion merasa iba.

__ADS_1


" Mau nemenin jalan gak, cari makanan yang enak-enak. Aku yang traktir deh, kamu yang tunjukkin jalan!" ucap Dion.


" Sama aku aja?"


" Mbak yang...." Gendis hendak mengucapkan Laras, tapi ia belum tahu namanya.


" Laras?" tanya Dion.


" Iya mungkin, pokonya yang datang bareng mas Dion kemaren!"


"Iya itu Laras. Enggak, dia pasti sibuk sama Bu Jessika malam ini!"


Gendis tertarik ingin jalan-jalan. Selain ia tak pernah, sepertinya Dion orang yang tidak menyebalkan.


Dan saat mereka tengah asik ngobrol, suara Yu Sal membuat obrolan mereka terinterupsi.


Gendis melihat Jack yang menatapnya. Ia tak menggubris pria sombong itu. Dan entah mengapa ia mendadak malas saat Dion memanggil nama Jack.


Sejurus kemudian, Gendis sengaja mengucapkan kata-kata dengan sangat keras.


"Kak Dion, aku kesana dulu yah. Nanti malam, aku mau kok pergi sama kak Dion!"


Gendis pergi untuk menuju ruangan cuci, tanpa melihat ke arah Jack. Entah mengapa, mulai saat ia bertemu Jack hingga saat ini ia hanya menemukan arogansi, kesombongan, dan kediktatoran dalam diri pria bertato itu.


...***...


" Mau kemana kamu memangnya sama anak itu?" Jack kini duduk berdua dengan Dion di halaman belakang rumah pak Edy, dengan hamparan rumput hijau dan tanaman Cemara yang memanjakan mata.


" Siapa? Gendis?" tanya Dion kini menyulut rokoknya.


" Hemm!" ucap Jack.


" Oh, aku baru kenalan tadi. Aku pingin wisata kuliner nanti malam. Kasihan deh, masa dia belum pernah jalan katanya. Cewek se manis dia, masa ia gak pernah jalan sama cowok!" ucap Dion menggelengkan kepalanya.


Entah mengapa hati Jack nyeri. Kenapa Gendis yang baru berkenalan dengan Dion, langsung mau diajak keluarga bersama rekannya itu.


" Emangnya elu mau ngajak dia kemana?" Jack penasaran.


" Rahasia dong, kenapa? elu mau ikut?" goda Dion.


" Nanya doang, gak lah. Pergi aja sana, aku ada acara sendiri?"


Dion hanya mencibir.


" Kayaknya gue suka deh sama Gendis!" ucap Dion seraya tersenyum.


" Gue suka pada pandangan pertama!"


" Apa?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2