
.
.
.
David sudah menyuruh Tomy untuk mencari dokter terbaik, yang mau untuk melakukan perawatan dirumah neneknya Jessika.
Tentu saja, dengan kekuatan uang apapun bisa dalam kendali David.
"Makannya bisa di ganti dengan nasi merah saja Nyonya, kemudian saya akan beri resep obat untuk penurunan kadar gulanya" terang dokter itu.
"Terimakasih banyak Dok" Jessika menjawab ucapan dokter itu.
"Saya pamit dulu"
Selepas kepergian sang dokter, Jessika mulai memasak untuk neneknya.
Membuat makanan sesuai dengan anjuran Dokter tadi.
"Makan dulu Wek" ia menyuapi neneknya dengan telaten.
"Sing rukun anggene omah omah nduk, kudu Podo percoyo, podo gede pangerten ( yang rukun dalam menjalani rumah tangga nak, harus saling percaya, sama sama saling pengertian)" ucap Mbok Yah , di sela sela makannya.
"Bojomu wong nduwe, godane mesti okeh. Awakmu kudu kuat, kudu pinter nggowo awak ( suamimu orang berada, pasti banyak godaannya, kamu harus kuat, harus pandai membawa diri)" tambahnya lagi.
"Aaaa'" Jessika memberikan komando kepada neneknya, untuk membuka mulutnya.
"Yen Mak wek wes ora enek, ojo lali shalate, sak nduwe nduwene awakdewe, kudu eling marang pengeran nduk. Kui sing utama gawe menungso koyok awakdewe ( kalau Makwek sudah tiada, jangan melupakan shalat, betapapun keadaan kita yang lagi diatas, harus ingat dengan yang Maha Kuasa. Sebab itu yang utama, untuk manusia seperti kita).
Mendengar neneknya berucap seperti itu, hatinya bak teriris sembilu. Ia tak sanggup bila yang di katakan neneknya itu terjadi.
"Jangan bilang begitu Wek, Mak wek akan sehat terus. Aku bahkan belum bisa memberikan cicit untuk Makwek" ucapnya sendu, hidungnya terasa panas begitupun matanya.
Seketika cairan bening itu, lolos begitu saja membasahi pipinya.
.
.
.
Mayang terlihat menyiapkan sarapan, sesuai titah David. Ia hanya memasak sedikit, dan varian yang tak beraneka.
"Tuan, sarapannya sudah siap"
"Hem"
David sebenarnya lebih senang jika pembantu dirumahnya itu, seorang wanita tua.
Ia hanya takut terjadi kesalahpahaman, mengingat usia Mayang yang sama dengan usia istrinya.
Tapi Jessika adalah istri idaman, yang melihat segala sesuatunya dari sudut pandang positif.
David menyantap makanan di mejanya, ia merasa sepi karena istrinya masih menemani neneknya.
Berniat akan mengunjunginya, selepas pulang bekerja nanti.
Ia melihat Mayang yang memakai baju ketat, menampilkan bagian tubuhnya menonjol.
"Astaga, kenapa anak itu memakai baju begitu" David melirik seraya membatin.
David memilih tak melanjutkan sarapannya, ia lelaki normal. Dan aneh bila hanya berdua dengan orang lain dirumahnya.
Namun tiba tiba," auuuuuuuuuuwwww" Mayang berteriak.
"Ada apa" tentu saja David menghampiri wanita itu yang berada di dapur.
"Tangan saya tuan" ia menunjukkan tangannya yang terkena sayatan pisau, dengan simbahan darah yang lumayan.
"CK, kenapa tidak hati hati" David segera menyambar tissue di atas lemari es.
Mayang menatap tajam ke arah David, yang sibuk membantu membersihkan darahnya.
Mayang yang mengenakan kaos super ketat, dan menampilkan belahan dadanya yang menyembul keluar.
"Ssshhhhh, ahhhh perih tuan"
__ADS_1
David sebenarnya tak nyaman mendengar ******* pembantunya itu, apalagi pakaian yang bisa saja membuat gelora laki laki bangkit.
"Aku sudah terlambat, kau bisa mengobatinya stelah ini" David pergi meninggalkan wanita itu sendiri.
Benar benar tak nyaman.
Mayang dengan senyum liciknya, menatap punggung David yang menghilang di balik pintu.
Sejurus kemudian, ia menjilati lukanya sendiri dengan tersenyum.
"Tunggu saja bagaimana kalian akan hancur, tuan David!!!" ia berbicara sendiri.
***
Eka kini berdinas sendiri, pasalnya Arin sudah mengajukan surat resign.
Ya benar, Arin sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Rendra.
Membuat dirinya, tak lagi memiliki teman ngobrol.
Tomy juga belum merekrut karyawan baru, untuk menggantikan Arin.
"CK, dimana aku taruh ordner yang kemaren ya" Eka nampak celingak-celinguk ,mencari benda yang tak jua ia temukan.
Saat ia terburu buru membuka pintu, hendak keluar tanpa di nyana bertepatan dengan Tomy yang akan masuk ke ruangan tersebut.
"hah" Eka terhenyak kaget, begitu juga Tomy.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu!!" Eka menyemprot Tomy dengan omelan.
Tomy membelalakkan matanya, bisa bisanya baru sampai langsung di sapa oleh Omelan wanita bar bar itu.
"Heh, ini pintu umum. Gak ngetuk juga ga ada dosa!!" Tomy masuk kedalam menabrak tubuh Eka, membuatnya terhuyung.
"Hihhh!!!" Eka memberengut kesal.
Ia lantas meninggalkan Tomy, menuju ruangan lain untuk mencari benda yang ia butuhkan.
.
.
Tomy
Dan entah mengapa, mendengar Eka yang mengomel seolah menjadi mood booster untuknya.
Namun selalu saja, ia berhasil menyembunyikannya di dalam balutan sikap dinginnya.
"Den, beberapa mahasiswa hari ini akan kemari" ucap pak Eko yang tiba tiba muncul, membuyarkan lamunan Tomy.
"Ah iya pak, suruh saja untuk kemari nanti!"
Agenda hari ini akan ada mahasiswa pertanian, dari universitas swasta di kota kecil itu.
Tepat pukul 9 pagi, sekitar 20 mahasiswa yabg terdiri dari laki-laki dan perempuan itu sudah berbaris rapi.
Mendengarkan secara saksama, penjelasan dari pak Eko.
Eka terlihat datang terlambat, karena baru saja menemukan ordner yang ia cari tadi. Berisikan SOP ( Standar Operasional Prosedur) tentang pengelolaan lahan cabai disana.
SOP itu penting, untuk memberikan info kepada mahasiswa yang belajar disana.
"Untuk selanjutnya, akan di pandu oleh Bapak Tomy, selaku sekretaris juga kepala bagian operasional"
Para mahasiswi begitu terpukau dengan ketampanan Tomy.
"Aduhhh ganteng banget"
"Kece banget sih, udah punya bini belum ya"
Suara suara selorohan yang terdengar dari mulut para mahasiswi centil.
"Ehem" Tomy berdehem sejenak.
"Baik, selamat pagi"
Ia memulai menjelaskan bagian bagian yang ada di gudang itu, karena kemaren mereka sudah belajar bersama pak Eko di beberapa petak.
__ADS_1
Mulai dari pembibitan, penyiraman, penanaman pemberian pupuk hingga perawatan, juga proses panen.
Eka turut mengikuti langkah Tomy dan pak Eko, yang berjalan menghampiri beberapa peralatan di gudang itu.
Para mahasiswa itu terlihat saksama, memperhatikan Tomy yang lihai berprestasi.
"Setelah melalui proses penyortiran, cabai kemudian di timbang" ucap Tomy, yang berhenti di sebuah timbangan berukuran giant.
Eka memutar bola matanya malas, ia lupa belum memakan bekalnya tadi. Karena sibuk mencari ordner yang rupanya berada di meja Tomy.
Ia berangkat pagi pagi sekali, karena ia tahu jika hari ini akan ada kunjungan mahasiswa.
Ia memilih untuk membawa bekal, dan berniat memakannya di kantor.
"Aduh, masih lama gak sih. Sakit banget perut aku" Eka memegangi perutnya.
Kejadian itu tak luput dari pandangan Tomy.
"Kenapa anak itu, selalu saja" batin Tomy.
Mereka kini pindah ke bagian packaging, terdapat mesin mesin besar otomatis, untuk bungkus membungkus cabai cabai yang akan di kirim ke cargo.
Namun belum selesai Tomy menjelaskan, Eka yang tidak fokus karena menahan lapar itu, terpeleset saat akan naik ke lantai yang lebih tinggi.
Dan "Cekkukkkkk"
"Ahhhhhh" Eka menjerit, kakinya sepertinya keselo. Ia berpijak pada tempat yang tak benar.
Ia kini kembali mengalami cidera ligamen, setelah setahun yang lalu ia pernah keseleo juga saat berada di pasar malam, sewaktu ditugaskan untuk memberi waktu bagi Jessika dan David.
Secepat kilat Tomy berlari, demi melihat wajah Eka yang kesakitan hebat.
Pak Eko, beserta seluruh mahasiswa juga turut panik.
"Kenapa?" Tomy yang datang degan wajah panik.
"Kakiku, sakit!!" Eka meringis kesakitan.
Tanpa menunggu lagi, Tomy membopong tubuh Eka, ala bridal style.
"Pak, selesaikan dulu!!_ titah Tomy kepada pak Eko, untuk melanjutkan kegiatan bersama mahasiswa itu.
Pak Eko mengangguk mantap," baik Den".
Tomy membawa Eka menuju ruangannya, meletakkan tubuh wanita itu keras sofa.
"Kau ini selalu saja ceroboh" Tomy mengomel seraya melepas sepatu sneaker milik Eka.
Eka tak berniat membalas ucapan Tomy, ia lebih sibuk merasakan sakit yang bersarang di engkel kakinya.
Tomy memijat pelan, serta mengolesi kaki Eka dengan minyak yang tersimpan di kotak P3K.
Eka memandang ke arah Tomy ,yang tampan saat raut kekhawatiran muncul di wajahnya.
"Kalau sakit bilang, gak usah ikut harusnya" ia berucap sambil terus memijat Eka yang terlihat menahan sakit di kakinya.
Tomy mengingat wajah Eka yang meringis, tiap kali memegang perutnya.
"Aku tidak sakit!!" ketus Eka.
"Terus kenapa meringis meringis dari tadi" Tomy menoleh ke arah Eka.
Pandangan mereka bertemu, saling menatap.
Hati mereka sama sama berdetak kencang.
Hening beberapa detik, Eka malu untuk menjawab.
"Aku lapar"
"Ha??"
.
.
.
__ADS_1