
.
.
.
Selepas menunaikan kewajiban umat muslim di saat magrib, Jessika hendak ke warung membelikan sabun karena saat sore tadi ia kekenyangan dan tertidur.
" Wek, mana uangnya buat beli sabun? " ucap Jessi pada sang nenek.
" Itu di sebelah tv, beli dua sekalian ya" jawab mbok yah.
"Baiklah" jawan Jessika singkat.
Diperjalanan Jessika bertemu dengan Andhika, Andhika adalah seorang pemuda berusia 23 tahun dia adalah anak dari salah satu seseorang yang cukup berada di desanya dan dia meyukai Jessika semenjak mereka SMA.
Bukan tanpa alasan Andhika menyukai Jessi, dia gadis pintar dan bisa apapun. Andhika makin terpesona saat Jessika memainkan gitar dan menyanyikan lagi milik Bondan Prakoso "Kita Untuk selamanya" saat acara perpisahan mereka.
" Jess," sapa Dhika
"Loh mas Dhika, kapan pulang?" jawab Jessi ramah.
Mereka bersalaman dan mengobrol sebentar.
" Aku lagi pulang ngurus keperluan kuliah yang belum komplit, lusa aku baru balik ke kota S" jawab Dhika antusias.
" Wah enak Yo mas bisa kuliah, mas Dhika ambil jurusan apa?" tanya Jessika kembali.
"Kedokteran Jes, doain ya lancar biar bisa ngelamar kamu" jawab Dhika spontan.
"Hahahaha mas Dhika ada ada aja, doain itu biar bisa cepet lulus terus dapat kerja jadi dokter yang sukses gitu, malah ngelamar aku, ngaco ah" Jessi balik menjawab.
Jawab Jessika yang membuat Dhika salah tingkah
"Udah ya mas, Jessi mau ke warung dulu, assalamualaikum"
"Walaikumsalam" jawab Dika sambil menatap punggung Jessi yang semakin menjauh dari pandangannya.
Dhika berkata dalam hati, " aku masih malu mengatakan sekarang Jes, karena aku belum bekerja. Nanti kalau aku sudah jadi dokter aku akan membawamu ke kota dan kita bisa hidup bahagia."
Namun berbeda dengan Jessika, ia menganggap Dhika hanya teman, dia sudah sadar diri perbedaan kasta yang mencolok, dan tidak mungkin juga anak seorang kepala desa mau dengan dia yang notabene anak yatim piatu dan juga miskin.
Di tempat lain , 3 orang laki laki sedang menikmati makan malam.
"Pa, aku ingin jalan jalan sebentar lihat suasana desa" kata Leo.
" Iya tapi jangan jauh jauh, atau mau di temani pak Sis? Biar papa panggilkan?" jawab pak Edy.
" nggak usah pa, pak sis seharian udah kerja, Leo ga akan hilang kok papa tenang aja hehehe" jawab Leo kembali.
" David, kamu ga mau ikut adikmu, biar kenal dengan masyarakat?" tanya pak Edy pada anak sulungnya itu.
" Males pa, David mau nelpon dulu". balas David.
" Ya sudah lah, aku pergi dulu pa, assalamualaikum" Leo berkata sambil menjabat tangan papanya.
"Walaikumsalam" jawab papa dan David kompak.
Di perjalanan Leo menyapa sekumpulan anak anak muda yang nongkrong di pinggir jalan, para pemuda setempat sudah tahu jika Leo adalah anak dari juragan kaya raya di desa mereka.
__ADS_1
Leo juga tak segan untuk mengobrol sebentar dengan orang orang tua yang hendak mencari keong di sawah saat malam hari, sungguh anak juragan ini begitu ramah dan bersahaja kepada masyarakat batin orang orang tersebut.
*******
"Buk Beli sabun dua". ucap Jessika pada Bu Nanik pemilik warung.
"iya Jes, kembalian apa Ndak uangmu"? tanya Bu Nanik balik.
" Nggak buk, duitnya pas". Jessi menjawab.
"Ini sabunnya"
"Mkasih buk"
"Sama-sama".
Dan bersamaan itu juga terdengar suara "bruuaaakk" " aduh tolooong tolong" ternyata ada seorang ibu ibu bersama anak kecil yang menabrak sebuah bok ( teras mini biasanya untuk duduk warga di desa- desa).
"Astagfirullah kenapa itu" pekik pemilik warung yang kaget saat itu, seketika Jessi berlari kearah lokasi jatuhnya pemotor tersebut.
Bersamaan juga dari arah lain para pemuda dan juga Leo ikut me dengar suara tersebut, alhasil mereka beramai ramai datang ke sumber suara itu.
"Astaghfirullah, buk ibu gpp buk?"
Tanya Jessi kepada pengendara itu
"Gak apa-apa mbak, tapi anak saya dimana dia?"jawab ibu ibu itu dengan panik.
Kemudian Jessika mengedarkan pandangannya, mencari cari dan ternyata anak kecil berusia 5 tahun itu pingsan dan masuk ke parit samping BOK tersebut.
"Ya Allah, dek bangun dek"
Namun tiba tiba ada gerombolan pemuda datang dan membantu Jessi mengevakuasi anak tersebut. Setelah berhasil kini ganti Jessi yang kesulitan naik dan reflek tangan Leo terulur, sejenak pandangan mereka beradu.
Deg
Leo terpesona dengan Jessika, namun tidak dengan Jessika ia justru kesal karena Leo hanya mematung.
" Mas,,, wooyyyy massssss" ucap Jessika setengah berteriak.
Saat itu juga ia tersadar dari lamunanya dan menarik Jessika naik.
"Tolong anak saya hikss... hikss...hiksss" pinta ibu itu pada semua orang yang disana, dengan cepat Jessika mencoba mengecek urat nadi dan ternyata masih berdenyut.
"Adek ini masih bernafas, yang punya motor tolong bawa ke puskesmas aja maskipun malam tapi disana ada UGD yang buka 24 jam" ujar Jessi.
Kemudia Leo menelpon pak sis dan menceritakan dengan singkan kejadian yang terjadi, dengan cepat pak Sis datang dan menolong membawa anak itu beserta ibunya ke puskesmas, tak lupa ibu itu berterima kasih pada Jessi dan juga Leo.
Setelah mereka pergi Jessi baru sadar bahwa kakinya berdarah, mungkin tersandung batu sewaktu terjun ke parit tadi, mungkin tidak terasa sewaktu tadi karena dia juga ikut panik melihat keadaan tadi.
" Astaga mbak , kakinya berdarah" ucap Leo kaget.
" Owh, gpp nanti saya obati diruma aja" jawab Jessi tenang.
"Mbak nanti bisa infeksi Lo, sebentar" ucap Leo dan segera dia kembali setelah dari warung membawa plester pembungkus luka
Ia langsung berjongkok dan memasangkan plester itu di kaki Jessi yang lecet lumayan lebar itu.
" Nah udah selesai" kata Leo.
__ADS_1
" Matur nuwun ya mas, saya jadi sungkan ke sampean" jawab Jessika malu karena baru kali ini ada lelaki yang perhatian padanya.
"Iya sama sama"
Kemudian Leo mengulurkan tangan.
"Leo" ucap Leo penuh percaya diri.
"Jessika" sahut Jessika diikuti degan senyum tipis.
"Mbak Jessika mau kemana?" tanya Leo kembali.
" saya habis dari warung mas, kebetulan tadi ga sengaja lihat ibu ibu tadi terus saya lari buat lihat, gak taunya kecelakaan tunggal"
jawab Jessi dengan sopan.
" mungkin perlu di pasang LPJU di daerah sini, biar lebih terang" ucap Leo kembali.
" Iya dari dulu belum ada lampu penerangan jalan memang, tapi namanya di kampung ya begini lah" Jessika menjawab untuk kesekian kalinya.
Jessi diam sejenak, kok tadi bisa bisanya pak sis datang dan sepertinya Leo yang memerintah.
"Mas Leo" Jessika hendak bertanya.
"Ya mbak" jawab Leo singkat.
" Tadi saya lihat mas Leo telpon sama pak sis ya, mas Leo saudaranya pak sis?"
"Iya mbak saya saudaranya"
"Owh ya sudah kalau gitu*,"
"Kenapa mbak*?"
"Gak apa apa, cuman pak sis kan mandor utama disini, saya pikir anda ini siapa gitu, soale kan gak pernah ketemu dan kok berhubungan dengan pak sis" jawab Jessi agak panjang.
" Owh itu, saya saya saudara jauh"
Bohong Leo pada Jessika, menurutnya gadis di depannya ini sungguh berbeda, dia sopan dan apa adanya, tidak seperti gadis yang sering dia temui di kota.
Dia juga sengaja tidak memberitahu siapa dia sebenarnya, dia ingin melihat seberapa hormat orang lain pada dirinya tanpa embel embel nama ayahnya.
"Kalau begitu saya pamit dulu mas, tadi saya cuma pamit kewarung gak taunya ada kejadian gak terduga. Kasian nenek saya sendiri, mari mas assalamualaikum"
"Walaikumsalam" jawab Leo
Entah mengapa Leo merasa senang bisa bertemu Jessika, wanita ramah dan sopan
.
.
.
.
Di beberapa Bab ini babang Leo dulu ya yang terpesona😃, babang David biar sama si Sherly dulu.
jangan lupa like, comment ya🙏
__ADS_1