Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 22. Rejeki dari si bujang lapuk


__ADS_3

.


.


.


Pagi itu di desa saat Leo dan Pak Edy tegah mengobrol santai sambil menikmati teh di kursi jati berukir itu, mengernyitkan dahinya karena melihat pak Sis yang tidak menggunakan baju mandornya datang kerumah pak Edy.


Padahal hari itu harusnya Pak Sis masih bekerja, jadwal liburnya masih 2 hari lagi.


"Assalamualaikum selamat pagi Pak Edy, Den Leo", ucap Pak Sis seraya mengangguk hormat kepada sang empunya rumah.


"Pagi Pak Sis, ini tumben kok belum memakai seragam?", tanya Leo.


"Emmm begini Pak, Den mohon ijin saya hari ini mau libur pak", jawab pak sis agak sungkan.


Pasalnya dia belum pernah ijin saat Big Bos nya berada di desa, biasanya dia bisa dengan mudah ijin jika ada keperluan lantaran dia juga memiliki bawahan yang selalu siap dia tugaskan menggantikan pekerjaannya.


Namun karena sekarang sudah ada pak Edy, jadi wajib hukumnya untuk meminta ijin dari Big Bos nya itu.


"Ada apa pak, apa pak Sis sakit?", jawab pak Edy seraya meletakkan cangkir teh yang baru di minum.


"Bukan pak, itu anak saya mau datang si Putri anak saya yang pertama pak. Kebetulan kuliahnya sedang libur panjang, jadi saya suruh pulang saja biar ibunya ada temennya dirumah", jawab pak sis sambil menjelaskan.


Pak Sis memiliki seorang istri bernama Bu Santi serta memiliki dua orang anak, anak yang pertama seorang perempuan bernama Putri usianya sama dengan Jessi dan anak keduanya adalah laki laki berusia 7 tahun bernama Devan.


"Jadi begitu baiklah tidak apa-apa lagipula si Leo sudah agak familiar dengan pekerjaan disini, nanti biar dia bantu teman teman mandor monitor pekerja", ucap pak Edy memberi ijin.


****


Sementara itu di tempat lain, Jessika yang berjalan dengan kedua sahabatnya itu saat hendak menuju persawahan terkaget karena sebuah bunyi klakson.


"Tin Tin Tin"


Bunyi klakson sebuah mobil itu sukses membuat mereka bertiga kaget dan sedikit mengumpat kesal.


"Dorrrrr hahahahahah" suara tawa seseorang membuat mereka bertiga menoleh ke sumber suara.


"Pak lek,,,,,,,,,,,," pekik mereka bertiga bersamaan dengan wajah kesal.


Benar saja suara itu berasal dari sang bujang lapuk yang barusan pulang dari pasar menjual dagangannya, siapa lagi kalau bukan lek Soleh.


"Arepe mangkat nduk? hehehehe kaget to? ( mau berangkat nak? hehehe kaget ya?)",ucap lek Soleh sambil cengengesan.


"Iya ini lek, sampean mengagetkan saja", jawab Eka simpul.

__ADS_1


"Iyo maaf Yo, eh nduk Jes tadi pak lek di pasar beli gitar second punya anak muda yang lagi butuh duit. Pak lek kasihan sama dia jadi pak lek beli aja", jawab lek Soleh menerangkan pada keponakannya.


"Lah bukannya lek Soleh wes punya, kenapa beli lagi?", Jawab Jessika sekilas.


"Kasihan nduk tak lihat juga gitarnya masih bagus, buat kamu aja ya pak lek kan dirumah udah ada. Ya biar kamu kalau waktu luang bisa nyanyi sama mbok yah di samping kandangnya "cupito "( nama ayam jago milik mbok yah)", ucap lek Soleh sembari tertawa.


Jessi yang mendapat rejeki nomplok itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu.


alhamdulilah, beneran lek?", ucap Jessika berbinar.


"Iyo ini gimana apa tak antar ke rumahmu sekalian? la soalnya kamu udah mau kerja gitu", jawab lek Soleh kemudian.


"Iya wes lek begitu lebih enak, Mak wek kayaknya belum berangkat juga kok makasih banyak ya lek", ucap Jessi dengan bahagianya.


Setelah percakapan di jalan itu selesai mereka lantas meneruskan langkah menuju persawahan yang kemaren mereka kerjakan bersama, karena luasnya lahan sehingga tak mungkin untuk menyelesaikannya dalam waktu satu hari.


*********************************************


Pak sis yang mendapat lampu hijau itu pun langsung ijin undur diri karena akan bersiap siap untuk menjemput putrinya.


"Ya udah pa Leo berangkat dulu", pamit Leo kepada pak Edy.


"Nanti kamu tolong tanyakan ke warungnya buk Narti le, barangkali ada anak buahmu yang kasbon udah lama belum di bayar kamu lunasi aja", ucap sang papa memberitahu.


Leo bergumam dalam hatinya, papanya sungguh berhati mulia disaat dirinya mencapai kesuksesan ia tak lupa pada orang yang keadaanya tidak seberuntung dirinya.


Namun di perjalanan ponsel Leo berdering, sehingga membuatnya menepikan kendaraannya itu untuk menjawab panggilan.


"*Ya Tom ada apa?"


"..................."


"Apa?"


".................."


"Ya udah Lo kirim aja semua ke email"


"......................"


"Ok ok, gue dijalan ini soalnya"


"......................"


"Ok*"

__ADS_1


TUT


Leo mematikan ponselnya dan memasukan kembali ponselnya ke dalam sakunya.


"Selamat pagi pak Leo", ucap para mandor bawahan dari pak Sis memberi hormat pada Leo.


"Pagi pak gimana hari ini petak sawah yang kemaren kurang berapa bibit?", tanya Leo sopan pada anak buahnya.


"Tinggal menyelesaikan sisanya pak, itu anak anak sudah pada datang dan sudah mulai melanjutkan menanam pak", jawab salah seorang penuh keramahan.


"Hari ini yang jaga di sebelah barat siapa, Pak Sis hari ini tidak masuk karena ada keperluan", tanya David pada mereka.


"Nanti saya sama Eko pak yang kesana", jawab pegawai itu.


"Ya sudah kalian boleh pergi, jangan lupa untuk menyelesaikan penyemprotan yang kemaren terserang hama pak", perintah Leo.


Setelah beberapa mandor itu pergi, Leo segera memasuki warung milik bek ( sapaan untuk bude di desa) Narti.


"Pagi buk", sapa Leo sambil duduk di kursi tua warung itu.


"Selamat pagi, eh Den Leo mau ngopi atau pesen yang lain den?", tanya bek Narti ramah.


"Tidak usah buk terimakasih tadi udah sarapan dirumah, saya cuma mau tanya bapak bapak mandor ada yang masih sering ngutang disini gak buk?", tanya Leo sopan.


"Bentar ya den ibu buka buku keramat dulu", ucapnya seraya tertawa kecil.


"Ada den beberapa ini", ucap bek Narti sambil menyerahkan buku catatan kepada Leo.


"Astaga kenapa sampai banyak begini yang ngutang CK", Leo berdecak karena menurutnya gaji mereka sudah cukup besar namun kenapa masih aja kasbon mereka membengkak seperti ini.


Bek Narti hanya diam sambil meneruskan aktivitasnya.


"Buk, tolong semua di total semua karyawan saya yang ngutang ke ibuk ya", pinta Leo pada bek Narti.


"Semua den?", tanya bek Narti memastikan.


"Iya buk, nanti bilang sama bapak bapak mandor itu kalau kedapatan ngutang lagi gajinya di potong sama saya", ucap Leo.


Salah satu tujuan Leo melakukan itu ada agar semua masyarakat disana sejahtera, Leo sebenarnya tahu berapa jumlah gaji yang diberikan papanya tiap bulan kepada para mandor itu.


Hanya saja dia diam, sangat tidak relevan rasanya apabila mereka sudah menerima gaji besar namun masih tetap membuat warung kecil seperti milik bek Narti harus kesusahan karena terus saja di hutangi orang orang itu.


Menurutnya harusnya warung kecil seperti milik bek Narti ini harusnya dibantu, tidak usah memberinya bantuan yang muluk muluk, cukup dengan rutin membeli tanpa harus membebaninya dengan di hutang. Dengan membayar normal itu akan membuat warungnya tetap beroperasi dan juga memberikan rezeki bagi pemiliknya.


Kemudian Leo menyerahkan beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu kepada bek Narti, ia sudah menyiapkan uang cash dari rumah karena dia tau di warung kecil apalagi di desa "Black Card unlimited" nya tidak akan berlaku 😀

__ADS_1


********************************


maaf kalau masih ada salah tulisan dan tanda baca, ini novel pertamaku jdi masih banyak belajar. Mohon Krisan nya ya semua jangan lupa like sama comment 🙏


__ADS_2