Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 52. Kostan Vera


__ADS_3

.


.


.


"Hallo Jess, aduh maaf tadi hpku ketinggalan di kost. Ini aku baru pulang kerja, kamu dimana" ucap Vera yang merasa bersalah.


"Gpp Ver, ini aku di tempat temenku yang dari kampung di jalan A di gang C nomer 2" ucapnya memberitahu.


Jessika masih berada di kontrakan Andika untuk sementara, rencananya sore ini Andhika akan mencarikan kost yang dekat dengan kontrakannya.


Namun seperti hal itu akan batal, lantaran Vera sudah berhasil menghubungi Jessika. Ia pasti akan membawa Jessika untuk tinggal bersamanya di kost.


Terdengar suara motor setelah 30 menit Jessika menunggu, Terlihat Vera yang melepaskan helmnya dan meletakkannya di spion motor maticnya.


"Jessikaaaa " sapa Vera dengan sedikit berteriak.


"Veraaa" jawab Jessika yang sambil menghambur ke pelukan gadis agak tomboy itu.


"Duh maaf banget ya gara gara aku kamu jadi kebingungan gini, kamu nyampek jam berapa tadi aduh kamu udah makan belum" Vera memberondong Jessika dengan pertanyaan tanpa jeda.


"Gak apa apa Ver, untung tadi ketemu mas Dhika" ucap Jessika.


Andhika yang merasa namanya disebut kemudian berbicara sambil membawa minuman kedepan teras rumahnya, tempat dimana Jessika dan Vera berada, "Kalian lagi ngomongin aku ya".


"Eh mas Dhika, kenalin ini Vera dia dulu teman SMP aku" ucap Jessika memperkenalkan.


"Halo Vera" ucap Vera mengulurkan tangan.


"Andhika" sembari menjabat tangan Vera .


Setelah lulus SMP Vera melanjutkan ke sekolah yang berbeda dengan Jessika, oleh karena itu Andhika dan Vera tidak saling mengenal.


Setelah satu jam ngobrol di kontrakan Dhika, Vera mengajak Jessika untuk pulang ko kostnya. Ia kasihan pada Jessika, karena pasti ia belum istirahat.


"Mas terimakasih pertolongannya, kapan kapan Jessika main lagi kemari" ucapnya saat hendak berpamitan dengan Dhika.


"Iya sama sama Jes, kamu save nomer aku ya kalau butuh sesuatu siapa tahu aku bisa bantu" jawab Dhika.

__ADS_1


"Ya udah mas aku bawa Jessika ya, terimakasih sekali lagi" ucap Vera pamit.


Akhirnya mereka berdua pulang menuju kost Vera, jaraknya sekitar 30 an menit dari tempat Andhika jika di tempuh menggunakan motor.


Diperjalanan Jessika amat takjub melihat riuh keramaian kota, gedung gedung tinggi pencakar langit tak luput dari sapuan pandangannya, mall mall besar , tempat makan mewah sukses membuat ia kagum.


Saat mereka berhenti di traffic light Jessika melihat ada orang yang meminta minta di samping motornya, ia memberikan selembar uang berwarna ungu dari atas motor saat pengemis itu berdiri dan menyodorkan kaleng kepada mereka.


"Huh kenapa kau beri dia Jes" ucap Vera.


"Kasihan Ver, lagipula kenapa? apa kamu tidak kasihan" ucap Jessika yang bingung ,mengapa temannya itu melarangnya untuk memberi sedekah.


"Bukan begitu, di sini mengemis itu kadang dijadikan pekerjaan, kayak di TV itu ngemis gak taunya punya mobil" ucap Vera.


"Bohong atau tidak orang itu biarlah menjadi urusan dia dengan Allah ver, yang penting niat kita " ucap Jessika yang membuat hati Vera semakin mengerti jika temannya ini sungguh orang yang baik.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, mereka sampai di sebuah kost yang lumayan bagus. Terdapat beberapa kamar serupa berbaris rapi memanjang, dan terlihat sudah berpenghuni sebagian besar.


"Yuk Jes masuk, ini kost aku maaf ya tempatnya seadanya" ucap Vera merendah.


Padahal menurut Jessika, ini kostnya lebih bagus dari rumahnya di kampung.


"Udah kamu tenang aja, yuk masuk kamu mau mandi dulu aja sana udah sore terus istirahat. Aku aku beli makan dulu buat kita" ucapnya sambil membukakan pintu.


Jessika mulai memasuki kost milik Vera, terdapat sepasang kursi sudut minimalis di ruang depan, lalu ada satu kamar tidur, ruang untuk menonton TV, kamar mandi dan juga dapur serta halaman kecil di belakang untuk menjemur cucian.


"Kamu taruh aja tasmu dikamar ku, terus kamar mandinya ada di belakang, kamu lurus aja kesana" ucap Vera memberitahu.


"Kamu jangan lama lama ya ver, aku takut" ucap Jessika.


"Ngapain takut, yang kost disini semua perempuan" jawab Vera.


"Ya sudah kalau begitu" Jessika menjawab.


"Jangan sungkan sungkan Jes, anggap aja kost sendiri, aku pergi dulu ya" ucap Vera berpamitan dan segera berlalu dari hadapan Jessika.


****


Leo yang badmood sore itu mengajak Tomy untuk ngopi di cafe milik temannya yang Bryan, biasanya kalau malam Minggu disana ada live musik.

__ADS_1


Sedan mewah itu membelah jalanan dengan kecepatan sedang, tentu saja si Tomy lah yang memegang kemudi dan kali ini Leo duduk di sampingnya.


"Hubungi Bryan sekarang Tom, katakan jika aku akan ke tempatnya" titah Leo.


"Baik tuan" jawab Tomy seperti biasa dengan wajah datarnya.


Saat sampai di depan cafe itu, ia melihat Sherly yang baru saja keluar dari dalam cafe itu bersama dengan seorang pria bule.


"Cih, benar benar wanita murahan!" Leo bekata sambil menatap tak suka pada Sherly yang akan memasuki sebuah mobil.


Tomy mengikuti arah pandangan Leo, ia baru tahu jika wanita yang pernah dia usir dari apartemen milik David itulah yang menjadi pusat pandangan Bosnya itu.


Leo kemudian memasuki cafe milih Bryan, tanpa memperdulikan lagi Sherly yang baru saja ia lihat. Asal tidak menggangu kehidupan kakaknya kembali, persetan dengan apa yang di lakukan wanita itu.


"Halooo bro, apa kabar baru sekarang kau ingat kepadaku ya" ucap Bryan dengan ciri khas nya itu dan menyambut kedatangan Leo, ia sudah standby disana semenjak Tomy menghubungi dirinya beberapa menit yang lalu.


Mereka lalu bersalaman ala pria macho pada umumnya, Leo memang berteman baik dengan Bryan, pria bertato itu adalah pria yang sukses di usia mudanya ini dengan merintis bisnis cafe yang saat ini tengah berada di puncaknya.


Bryan sudah mempunyai beberapa cabang di kota besar lainnya, ia sama dengan Leo masih menjadi pria yang bebas karena belum memiliki seorang istri.


"Aku baik kau bagaiman?, sory beberapa waktu yang lalu aku ke tempat papa Bry , papa stay di desa karena lagi menggilai cabai" jawabnya sambil duduk di kursi cafe itu.


"Oh ya, jadi selama ini kamu di desa bagaimana kabar om Edy, dia sudah kaya kenapa bersusah susah menjadi petani" ucapnya sambil tertawa.


"Ia aku dan bang David bergantian disana, menurutku disana lebih adem ayem dan papa disana jadi happy, ya kamu tahu sendiri semenjak mama meninggal papa sering keluar kota buat menyibukkan dirinya" jawab Leo.


"Terus kalau kamu suka disana ngapain balik kesini bro hehehehe" ucap Bryan


"Ya mau gimana lagi, bisnis papa yang disini sekarang kan aku yang pegang, terus bang David yang pegang perusahaannya papa" jawab Leo.


"Papa disana seneng karena bisa buka lapangan kerja buat orang orang desa, buat aku sih asal papa happy dan itu hal baik ya aku dukung " ucap Leo menambahi.


"Om Edy emang luar biasa, dia selalu baik ke siapa aja. Oh ya kamu mau minum apa" ucap Bryan.


Akhirnya mereka bertiga saling ngobrol dan menghabiskan sore disitu, sambil menikmati live musik yang selalu di hadirkan di tengah tengah pengunjung cafe setiap malam Minggu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2