
.
.
.
Tomy yang sudah menemukan lokasi David saat ini tanpa membuang waktu lama, mereka bergegas menyerbu gudang kosong di pinggiran kota itu.
Anak buah mereka juga sudah bersiaga, tak kurang 100 personel milik Tomy ia kerahkan dalam upaya penyelamatan wanita penting bagi bosnya itu.
"Kau tetaplah bersamaku" ucap Adrian pada Vera yang di balas anggukan oleh wanita itu.
Dengan menggunakan mobil mereka sudah sampai di lokasi target mereka.
Leo memberikan kode pada semua untuk berpencar, semua mengangguk tanda mengerti arahan dari Leo.
Mereka bergerak penuh kewaspadaan, salah sedikit saja tentu saja bisa membuat mereka celaka.
Mereka juga sudah di lengkapi senjata, untuk melindungi diri mereka jika terjadi sesuatu yang mengancam mereka.
anak buah Tomy sudah menyebar ke segala penjuru, Leo dan Tomy melompati pagar yang tinggi dari belakang, sementara Adrian , Bryan dan Vera lewat pintu depan.
Bryan yang tahu letak CCTV itu menembak kamera pengawas itu hingga hancur, "here we go( ayo kita mulai)" ucapnya setelah melepaskan timah panas.
Saat mereka hendak masuk, salah seorang dari anak buah Sherly yang berjaga melihat kedatangan Adrian CS, ada 5 orang disana yang berjaga.
Adrian kemudian baku hantam dengan satu orang yang tanpa senjata itu, Bryan juga sama saat ini tengah menghadapi pria berbaju hitam.
Sementara Vera melihat dari samping Adrian, mengetahui jika ada yang akan menyerang Adrian dari belakang, ia spontan menendangnya hingga membuat pria itu terjerembab ke tanah.
Vera menghindari pukulan laki laki itu, sepersekian detik ia menendang wajah laki laki itu hingga giginya rontok, Vera adalah pemegang sabuk hitam karate di sekolahnya dulu.Tentu saja itu tak mudah bagi anak buah Sherly.
Dan satu lagi saat datang satu orang hendak menyerang Bryan, Ia mematahkan tangan lelaki itu, kemudian membanting tubuhnya ke tanah
"Woooo tak kusangka" ucap Adrian kagum melihat Vera, yang ternyata jago bela diri.
"Ayo kita kedalam" ajak Bryan kepada mereka berdua, setelah selesai membereskan 5 orang tadi.
*****
Semetara Leo dan Tomy tengah kesulitan karena dia yang hanya dua orang, berhadapan dengan sekitar 8 orang disana.
Dengan gerakan cepat Leo dan Tomy menghadapi satu persatu orang orang berpakaian serba hitam itu, ada yang patah tangannya, memutar kepala mereka hingga hampir patah, menendang perut musuhnya hingga mereka tak bisa berbuat apa apa.
Sampai yang terakhir Tomy harus menggunakan senjata apinya, karena keadaan darurat yang hampir saja membuat Leo celaka.
"Duuuaar duaaaarrrr" suara tembakan yang di lakukan oleh Tomy dari kejauhan yang mengenai kepala salah seorang diantaranya, karena akan mencelakai Leo dengan sebuah senjata tajam.
__ADS_1
Ke delapan orang itu berhasil di lumpuhkan oleh mereka berdua.
Mendengar suara tembakan, Sherly menjadi panik. Ia kemudian membawa Jessika dalam rengkuhannya.
"Brengsek!!!! bawa uang itu cepat" ia mengumpat sambil menyuruh anak buahnya untuk membawa uangnya.
Ia sudah tahu jika itu adalah suara tembakan, hasil baku hantam bala bantuan David yang tengah melawan anak buahnya.
Sherly tidak mengira jika mereka bisa menemukan dirinya, Sherly berusaha kabur sambil mengalungi leher Jessika dengan lengannya dan menodongkan pisau tajam ke arahnya.
Jessika tentu saja masih sangat trauma dengan benda itu, ia memberontak pada Sherly.
"Diam wanita sialan, atau aku akan membunuhmu" ancam Sherly.
David sekuat tenaga berusaha mengejar Sherly yang membawa jessika, dengan langkah pelan menahan sakit di area vitalnya.
"Braaaak" suara pintu terbuka, lantaran di tendang oleh Tomy.
"Bang David" ucap Leo yang melihat kondisi kalanya itu, segera memprihatinkan.
"Wanita sialan itu membawa Jessika pergi" ucapnya seraya berusaha bangkit meringis kesakitan.
"Aku akan membawamu keluar" ucap Leo tak tega melihat kondisi saudara sedarah nya itu.
"Tidak, aku yang akan benar benar mengakhiri wanita sialan itu" ungkapnya dengan geram.
Meraka terpaksa berhenti karena langkah mereka sudah di hadang oleh Adrian, Vera , dan Bryan.
"Jessika!" ucap Vera yang terkejut melihat Jessika dengan keadaan yang kacau balau, sorot matanya nampak apatis.
Adrian nampak menahan langkah Vera yang tersulut emosi itu, "tahan dulu, jangan gegabah"
Dari arah belakang muncul David , Leo dan Tomy. Mengunci pergerakan Sherly dan anak buahnya.
Sherly yang merasa dirinya sudah terkepung, menggunakan Jessika untuk mengancam mereka semua.
"Jangan mendekat, atau ku bunuh wanita ini" Sherly berucap penuh keseriusan, cenderung lebih membabi-buta sembari mengarahkan pisau tajam ke leher Jessika.
"Heyy! sedikit saja kau gores Jessika, aku tidak akan membiarkanmu berada di dunia ini lagi" Leo sudah benar benar kehilangan kesabarannya.
"Keep calm bos" ucap Tomy pada Leo yang mulai terpancing emosinya.
Tiba tiba datang segerombolan pria berpakaian serba hitam, mereka adalah bala bantuan untuk Sherly.
"Halo Jack, apa yang terjadi dimana orangmu" ucap Tomy pada anak buahnya melalui sambungan Earpiece yang di gunakan oleh mereka.
"Bos, kita kalah jumlah. Mereka banyak sekali" ucap Jack yang masih baku tembak dengan musuhnya, bahkan terdengar jelas suara tembakan dari melalui sambungan tersebut.
__ADS_1
"Sial, panggil personel yang lain. Kerahkan semua yang ada" perintah Tomy tegas.
Melihat kesempatan untuk kabur, Sherly membawa Jessika beserta dua koper uang yang sudah berada dalam jinjingan anak buahnya itu.
"Sebaiknya kita pergi, biar anak buahmu yang mengurus mereka" ajak Sherly pada ketua preman sewaan yang ia pakai jasanya itu.
Jessika hanya bisa diam dan menurut, ia sangat ketakutan dengan senjata yang di bawa Sherly.
Adrian, Vera, dan Bryan terlihat meladeni serangan para bajingan itu. Dengan tangkas Bryan satu persatu melumpuhkan lawan yang sudah mengantri itu.
Vera yang lengah sempat mendapat pukulan yang membuatnya meringis kesakitan, perutnya juga terkena tendangan.
Adrian seperti tersulut emosinya yang melihat vera terjerembab ke lantai kotor itu. "Bajingan!!!!" umpatnya seraya menendang dengan sekuat tenaga pada orang yang membuat Vera kesakitan itu.
"Vera kau tidak apa?" tanya Adrian sembari mengangkat tubuh Vera, sesaat setelah memberi balasan pada anak buah Sherly.
Keadaan begitu kacau, tak ingin kehilangan jejak Sherly, David dan Leo mengejar mereka. Sementara Tomy menghalau para bajingan itu, dengan kemampuan bela dirinya.
Tangkas dan lihai, begitulah kata yang cocok untuk Tomy. Jangan membangunkan macan yang tengah tidur, jika kau tidak ingin menyesal.
Dengan gerakan cepat Tomy mematahkan kaki para bajingan itu, melempar tubuh mereka sehingga membuat tubuhnya remuk redam, menimpa meja meja dan semua peralatan usang yang teronggok disana.
"Craaaaaakkkk" Sura pukulan dari belakang yang mengenai punggung kokoh Tomy, namun ia masih tak bergeming. Membuat pria berbaju hitam itu bingung ketakutan.
Detik itu juga Tomy membalikkan badannya, melampiaskan segala amarah dengan membabi buta.
Buku buku tangan Tomy terlihat mengepal kuat, meninju, menghantam, menendang tubuh pria itu hingga menjadi seperti sebuah barang tak berguna.
Nafasnya tersengal menahan nyeri, sembari dengan raut muka yang sudah tidak bisa diukur lagi, seberapa sakit rasa hantaman itu.
melihat bajingan itu kalah, seorang temannya merasa perlu membantunya. Ia melayangkan pukulan dan mengenai bibir Tomy.
"Booouugggg" Tomy meraba Sudut bibirnya yang basah dan berwarna merah, aura dinginnya begitu terasa.
Tanpa ampun Tomy menyerang musuhnya itu, ia menendang tubuh pria itu dengan kakinya, mengarahkan kakinya kembali dengan gerakan sedikit melayang membuat kepala musuhnya itu seperti dihantam benda yang berat.
"Bruuaaaaakk" suara pecahan tumpukan meja yang tertimpa tubuh sialan itu, seketika ia kehilangan kesadaran.
Membuat Tomy bernafas dengan tempo cepat, namun dengan sorot mata membunuh itu segera pergi meninggalkan tubuh tak berguna itu.
Ia melihat Adrian dan Bryan serta Vera yang masih baku hantam dengan sisa anak buah Sherly yang masih bernyawa.
Tak terhitung berapa jumlah anak buah Sherly yang sudah tumbang, mereka masih berusaha menghadapi manusia terkutuk itu.
Tomy dan Adrian bahkan tak segan menggunakan senjata berpeluru mereka, guna mempercepat tugas mereka.
__ADS_1
( Credit foto by Google)