Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 112. Mengapa bisa dengan assisten datar itu?


__ADS_3

.


.


.


Satu bulan sudah Jessika berada di kehidupan barunya di kampung, setelah drama dari Vera yang enggan di tinggal.


Kembali ke kehidupan yang pro dengan dirinya, menjadi gadis desa.


Meskipun warga di RT sebelah masih belum bisa menerima dirinya, alias masih terdapat kasak kusuk seputar kasus yang pernah terjadi di gudang cabai milik pak Edy.


Namun warga di RT yang ia tinggali sebagian besar ada yang tidak mempermasalahkan, lantaran keluarga pak Edy juga tidak ambil pusing dengan kejadian itu.


Ada pula yang memilih maklum bila dia melakukan hal itu, belenggu kemiskinan dan hidup yang sulit bisa saja menjadi pemicu Jessika melakukannya. Begitu pikir mereka.


Justru misteri hilangnya salah satu mandor bernama Eko itulah, yang masih menjadi trending topik hingga saat ini.


Bagaimana tidak, pasca kejadian itu pak Eko bak hilang di telan bumi. Musnah dan seolah tiada orang yang tahu dimana rimba nya.


Hidup kah, atau mati kah??


Selama itu pula ia menjalani Long Distance Relationship alias LDR dengan David.


Entahlah, ia tidak tahu se umum apa pacaran itu, seperti apa seharusnya dia bersikap.


Yang dia tahu menjawab dan membalas telepon dari David, atau menemani dia saat malam hari dengan wajah terkantuk-kantuk ketika panggilan video itu tengah berlangsung.


"Aku berangkat dulu ya Wek" pamit Jessika mencium tangan neneknya takzim.


Sebulan terakhir ini, ia memilih untuk ikut dengan lek Soleh untuk membungkus sayur sayuran dirumah pamannya itu, yang akan dijual ke pasar.


Baginya apapun lah pekerjaannya, yang jelas prioritas utama saat ini membuat neneknya tenang dan ia tetap harus memiliki pekerjaan.


Slogan yang sama, harus ada yang di kerjakan agar hidup berjalan wajar.


Sangat kontras dengan kekuasaan David yang notabene seorang direktur utama perusahaan besar di kota.


Siapa yang menyangka, jika gadis desa yang lihai memainkan nada nada memabukkan itu adalah wanita yang kini menyita seluruh perhatian seorang David Darmawan.


Membuat wanita wanita diluar sana merasa gagal, bagaimana tidak wanita pilihan David hanyalah wanita desa.


Tak memiliki kelebihan khusus, selain memainkan nada.


"Assalamualaikum Lek"


"Walaikumsalam, tumben pagi banget" ucap lek Soleh yang terlihat tengah membuka karung karung berisikan berbagai sayuran.


Jagung, terong, labu siam, sawi hijau, tomat,buncis, kacang panjang,timun, kubis, brokoli putih dan masih banyak lagi.


"Ni Makwek bawain ayam pedas" ucapnya menyerahkan susunan rantang yang berisi nasi yang masih panas dan ayam pedas lezat.


Masakan ayam kampung hasil dari menangkap di kandang samping rumahnya, dimasak dengan kuah santan kental dengan rempah rempah yang melimpah.


Jelas menggugah selera.


"Alhamdulilah, kebetulan belum sarapan" ucapnya seraya meraih rantang putih dengan model lawas itu.


" Kok belum pada datang Lek" tanya Jessika yang mendapati belum ada pegawai Lek Soleh yang datang.


"Si Slamet lagi ngisi solar, kalau Yu Kati sama Yu Saodah bentar lagi datang kayaknya"


Jessika langsung duduk bersimpuh di gelaran karpet hijau, yang biasa mereka gunakan sebagai alas duduk sehari hari.


Memilah dan menyortir sayur yang kurang baik, untuk kemudian dipisahkan dengan yang memiliki kualitas jempolan.


Kemudian memasukkan kedalam plastik bening, lalu di kemas sedemikian rupa. Selanjutnya akan dijual ke pasar besar, dan kepada saudagar sayuran disana.

__ADS_1


Omset yang di raih lek Soleh cukup banyak, selain bisa memberikan pekerjaan bagi tetangganya ( meskipun tak sebanyak pak Edy), ia juga bisa berpijak di kaki sendiri tanpa harus menjadi buruh untuk orang lain.


"Loh Yu kok dewean" ( loh mbak kok sendirian), lek Soleh bertanya kepada Yu Kati.


"Saodah enek dayoh, koyone gak iso budal"( Saodah ada tamu, sepertinya gak berangkat).


Sistem pekerjaan di lek Soleh adalah tidak formal, tidak kaku alias flexibel.


Memudahkan tenaga pekerjaannya bila ada kepentingan mendadak, lagipula masih ada si Slamet yang biasa bantu.


Pemuda bengal yang mangkir dari sekolah, pemuda yang nasibnya juga kurang baik.


Deru mobil pickup terdengar, menandakan si Slamet selesai melakukan tugasnya dari membeli solar.


"Met sarapan disek, Iki mbakmu nggowoone pitek pedes"( Met sarapan dulu, ini mbakmu bawakan ayam pedas), ucap lek Soleh saat pemuda dengan kulit gelap itu turun dari bangku kemudi.


"Nggeh lek"( iya Lek), jawabnya.


"Yu sarapan yu" tawar lek Soleh pada Yu Kati.


"Wes kono, wetengku wes Ra muat. Sarapan Ambi blendrang tewel mau"( Sudah lanjut saja, perutku sudah gak muat. Sarapan dengan sayur gori/ nangka muda sisa kemaren tadi), tolak Yu Kati.


Mereka akhirnya melanjutkan urusan bungkus membungkus, makin cepat makin baik.


Yu kati adalah seorang janda beranak satu, mau tidak mau ia harus menjadi tulang punggung.


Apapun dia lakukan demi kelanjutan sekolah Gibran, anak semata wayangnya.


"Gibran udah ujian Bulek?" tanya Jessika di sela sela kegiatan mereka.


"Udah nduk, hari ini terakhir ujiannya, habis bayar pelunasan baru bisa ikut ujian. Untung aja kemaren hutang ke Soleh dulu ada duit dia" jawabnya sambil mengikat plastik berisikan terong berukuran besar lalu di ikatnya dengan karet.


"Habis lulus, tak suruh kerja aja wes Jes. Udah gak mampu" tukasnya.


Lagi lagi ia harus mendengar cerita yang menyayat hati, padahal Gibran tergolong anak yang cerdas.


Keterbatasan dana lagi lagi menjadi sebab musabab mutiara mutiara gemilang dari desa, tak bisa mencapai mimpi mereka.


"Sekolahnya gak bayar, tapi biaya hidup di kota gak semurah itu nduk. Andai bapaknya si Gibran masih ada, ya kita bisa ngoyo ( nekad lebih keras lagi bagaimanapun caranya)"


Obrolan mereka terinterupsi dengan datangnya seorang pria tampan, yang menggunakan motor.


"Sopo kui kok ganteng eram( siapa itu ganteng banget)" ucapan Yu Kati membuat Jessika menghentikan kegiatannya.


Ia tidak tahu bila Tomy bolak balik dari desa ke kota, begitu sebaliknya.


"Itu seperti, assistennya mas Leo" gumamnya dalam hati.


"Selamat pagi" ucap Tomy sopan dan ramah.


"Pagi mas" Yu kati menjawab lebih dahulu.


"Tuan Tomy?" tebak Jessika mengingat- ingat siapa pria di depannya ini.


"Saya Tomy nona, panggil saya Tomy saja"


"Mau mencari lek Soleh?"


"Bukan nona, saya ingin berbicara dengan Anda"


"Aku?"


*****


Hari ini adalah akhir pekan, membuat David mengajak Leo serta Bella untuk berkunjung ke desa.


Leo juga tidak memberitahu kepada Tomy bila mereka akan bertolak ke desa hari ini.

__ADS_1


Tanpa memberitahu Jessika, lagi lagi Adrian harus di tinggalkan seorang diri.


Menghandle semua pekerjaan. Mau tidak mau.


Jelang petang mereka baru tiba di desa, bik Darmi tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.


Bella yang kehamilannya berusia hampir 3 bulan itupun sudah terlihat kelelahan, berjam jam berada di mobil jelas membuat dirinya tak nyaman.


"Akhirnya sampai juga kalian" pak Edy menyambut dua anak dan juga menantunya yang baru saja tiba.


"Papa apa kabar" ucap mereka dengan bergantian melepas pelukan.


" Leo ajak istrimu istirahat dulu. Kita bisa ngobrol nanti"


Mengingat waktu yang sebentar lagi magrib, tak ingin menantunya itu kelelahan dan berdampak pada janin yang ia kandung.


.


.


Saat makan malam mereka semua berada di meja makan, dengan nuansa klasik yang menentramkan.


Meja panjang berukuran sedang dengan gaya klasik, namun elegan.


Leo terlihat menarik kursi untuk istrinya, sebisa mungkin untuk menjadi suami yang baik.


Pak Edy senang melihat interaksi anak dan menantunya itu, meski masih nampak kekakuan.


Umur pernikahan sudah sebulan, namun masih belum seratus persen tercipta sebuah kehangatan.


"Bella makan yang banyak, ayo nak. Biar calon cucuku sehat" pak Edy tersenyum ke arah menantunya.


"Benar Bel, kau harus makan yang banyak biar calon keponakanku sehat" David menambahi.


Bella hanya tersenyum, ini adalah kali pertamanya setelah menikah berada dalam lingkup keluarga Leo.


"Aku ambilkan" Leo meraih piring putih di depan Bella, kemudian mengambilkan nasi beserta lauknya dan kemudian ia mengangsurkannya kearah Bella.


"Terimakasih" ucap Bella yang merasa tersanjung dengan perlakuan Bella.


Mereka semua makan dalam diam, hanya terdengar suara sendok dan piring yang berirama.


Dari arah depan terdengar deru motor yang masuk ke pekarangan rumah pak Edy.


"Siapa pa?" David akhirnya memecah keheningan disana, sesaat setelah mendengar suara motor.


"Mungkin Tomy" jawab pak Edy.


Dan ternyata benar, Tomy datang menemui mereka yang tengah asik di meja makan.


"Selamat mal..." ucapan Tomy menggantung karena melihat kursi di meja makan disana, terisi dengan tubuh manusia manusia yang dia kenal.


Dua bos tampannya dan juga menantu baru di keluarga Darmawan.


"Selamat malam Tuan" ia kembali melanjutkan ucapannya.


Semua yang di sana heran menatap Tomy yang datang tak seorang diri, tetapi bersama Jessika.


Wajah David sudah jelas kesal, mengapa assiten datar itu bisa membawa kekasihnya kemari.


Dan apa ini, malam malam begini pula?


"Kalian dari mana saja?" David seperti cemburu tidak jelas.


Membuat Tomy sepertinya dalam masalah besar.


"Oh tidak, aku datang di waktu yang tidak tepat" gumamnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak yang sudah memberikan dukungan bagi author.


Semoga para readers sehat selalu ya🤗


__ADS_2