
.
.
.
Pagi itu Gendis bekerja seperti biasa. Namun sayup-sayup terdengar pembicara serius dari para abdi di belakang.
Ya, David , Jessika , Leo ,Bella serta pak Edy makan di meja makan besar di ruang makan besar mereka.
Sementara para abdi seperti Jack, Victor, Dion dan Laras berada di meja makan kedua di dekat dapur bersih.
" Kau sudah dengar kabar?" ucap Victor.
" Kabar apa?" Jack dengan wajah tak terkejut menatap rekannya.
Victor menghela napas.
" Tuan Adrian menginformasikan jika cabang di kota K terserang orang tidak bertanggung jawab. Salah satu orang kepercayaan kita disana di culik!"
" Aku dan kau akan di kirim kesana dalam waktu yang lama!"
Prang
Ke empat manusia di meja itu sontak terkejut. Mereka semua lalu berlari menuju dapur kotor tempat Gendis berjongkok sambil memunguti pecahan piring yang berserak.
.
.
Gendis
Sembari menunggu gilingan baju para majikan ia mengunci piring di dekat dapur kotor. Namun, saat ia mendengar ucapan Victor bila Jack akan di tugaskan ke luar kota dalam waktu yang lama, membuat dia seketika kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan tumpukan piring yang sudah bersih itu .
Entah mengapa mendadak hatinya seakan tak rela dengan kabar itu. Padahal tadi malam mereka baru saja memulai pertemanan yang normal.
" Kenapa ini Ndis, Oalah kok bisa!" Yu Sal secepat kilat berlari menolong gadis itu.
Jack yang melihat tangan Gendis berdarah segers menarik wanita itu. Gendis yang tak hati- hati karena terkaget itu terkena sayatan beling saat memunguti pecahan piring itu.
Bik Darmi yang melihat tangan Gendis terluka segera mengambil kotak P3K yang ada di dekat lemari es.
__ADS_1
" Kenapa ceroboh sekali!" Jack dengan raut serius membersihkan darah di luka Gendis. Gendis tak merasakan sakit, ia justru terpaku degan wajah Jack yang panik.
" Ini mas obatnya!" Bik Darmi menyerahkan satu kotak dengan logo kesehatan warna merah kepada Jack.
Hati Gendis menghangat begitu melihat Jack yang degan terampil mengurus lukanya.
.
.
" Besok kalian sudah harus berangkat. Bawa Tim kalian semua, aku dan Tomy akan menyusul. Tapi...." David menjeda ucapannya saat kesemua anak buahnya menatapnya.
"Jack dan Victor, kalian aku tugaskan disana dalam waktu yang lama hingga keadaan kondusif. Aku tidak bisa meminta Tomy untuk kesana karena dia sudah aku bebani dengan tugas lain!"
Jack meski diam saja, namun hatinya nelangsa. Itu artinya ia akan berpisah dengan Gendis.
Jessika diam menatap raut Jack yang bisa ia mengerti. Jessika tahu bila Jack memiliki rasa terhadap Gendis.
" Apa kalian siap?" David mencoba menegaskan ucapannya.
" Siap!" jawab Jack dan Victor kompak.
Mereka adalah sebuah sistem yang terstruktur. Dibawah naungan Darmawan Group, mereka harus siap di tempatkan di manapun.
Dan pilihan jatuh kepada Jack dan Victor.
...***...
Gendis sore itu ijin untuk pulang dulu. Jessika yang paham akan situasi itu tak keberatan. Ia tahu perasaan Gendis.
Ia sore itu berdiri di pematang sawah. Menatap lembayung senja yang menyuguhkan semburat jingga di batas cakrawala.
Hati Gendis mendadak gulana. Apa ia tak rela jika kehilangan Jack.
" Aku cari kau dari tadi rupanya kau disini!" Jack sore itu menyusul bermodalkan info dari Sono.
Suara Jack mengagetkan Gendis. Sore itu Gendis mengenakan dress pemberian Jessika yang sudah tidak muat lagi. Beberapa baju yang masih bagus sengaja Jessika berikan kepada Gendis.
Gendis terlihat cantik dan lebih feminim sore itu.
" Tumben bajunya pakai yang kayak gitu!" Jack mendudukkan bokongnya diatas pematang sawah. Sepoi-sepoi angin sore membuat hatinya tentram.
__ADS_1
Gendis sesekali membetulkan rambutnya yang tersapu angin. Sejurus kemudian ia mendudukkan dirinya di samping Jack yang masih menatap layang- layang terbang di angkasa.
" Berapa lama?" tanya Gendis seraya menatap langit dengan pandangan menerawang.
Jack diam, ia kini tahu. Mungkin Gendis sudah mengetahui perihal dirinya yang akan pergi dalam waktu lama.
" Kau sudah tahu?" Jack menatap wajah Gendis yang sangat ayu sore itu.
" Aku tak sengaja mendengar!" Gendis menjawab tanpa menoleh ke arah Jack.
Suasana kembali senyap.
" Aku tidak tahu. Sebagai orang kepercayaan Bos David dan bos Leo, kami wajib mengikuti semua aturan yang ada. Dan aku ke keluarga Tuan Edy sudah lebih dari di tolong. Aku berhutang Budi kepada mereka!" Jack kembali menerawang, melihat layang-kayang yang kesana kemari terbawa angin.
Gendis diam, hatinya sesak. Baru saja ia menemukan seseorang yang bisa ia jadikan teman. Tapi....keadaan selalu punya kenyataan.
" Kita akan ketemu lagi. Aku janji!" Jack menatap kembali wajah Gendis yang rupanya berlinang air mata.
" Pergilah!"
" Lagipula, kita tidak senagaja kenal kan. Aku hanya merasa, Tuhan seringkali mengambil apa saja yang baru aku nikmati!"
Jack merasakan nyeri di hatinya saat mendengar jawaban Gendis. Ia mendadak tak rela. Tapi, mereka bukanlah siapa-siapa satu sama lain.
Gendis terlihat menarik napasnya. Wanita itu entah mengapa hatinya sesak
Jack menelan ludahnya. Mendadak hatinya juga diliputi kesesakan.
" Gendis!" untuk pertama kalinya pria itu memanggil namanya dengan nada pelan.
Gendis memandang wajah Jack yang terlihat sendu. Sejurus kemudian Jack menangkup wajah Gendis, memegangi pipinya lalu menempelkan bibirnya ke bibir Gendis.
Mereka berciuman.
Entah mengapa Gendis tak menolak, wanita itu memejamkan matanya seraya menikmati sapuan lidah Jack yang lembut. Hembusan nafas hangat membuat gelenyar aneh di hati Gendis.
Saling menyesap saling melu"mat.
Mereka berciuman di hadapan cahaya jingga matahari yang hendak terbenam, diiringi suara layangan gapangan yang suaranya memekikkan kearifan lokal.
.
__ADS_1
.
.