
.
.
.
Udara desa yang dingin makin terasa dingin, karena hujan mengguyur desa sedari malam tadi.
Disebuah rumah lawas yang cenderung lebih mirip dengan gudang terlihat dua pria menyesap rokok dengan santai.
Tomy sudah terlihat memarkirkan motornya, ia bergegas masuk kedalam rumah dengan nuansa angker itu.
(Credit foto from Facebook)
Ia masuk dengan muka datar, tak bergeming, dingin dan kaku.
"Selamat pagi bos" Jack dan Victor berdiri begitu mendapati Tomy sudah ada di rumah itu.
Rumah yang menjadi tempat pengasingan bagi dua orang suruhan Putri.
"Dimana mereka" tanya Tomy.
"Sudah kami pindahkan ke tempat yang aman bos" ucap Jack.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang dimana dua pria yang berprofesi sebagai kacung Putri itu di tahan.
Ruangan lembab, dingin, gelap dan tentu saja jauh dari keramaian.
Begitu tiba di sebuah kamar yang di ubah dengan tralis besi sebagai penyekat, lebih mirip seperti hotel prodeo.
Juga ada tempat tidur dan kamar mandi, nampaknya Tomy sudah menyiapkan semua ini.
"Beri mereka makan" titah Tomy
"Jangan berani macam macam, kalian belum saatnya muncul" ucap Tomy tajam kepada dua kacung Putri itu.
"Kami sudah berkata jujur, sekarang lepaskan kami" ucap pria botak mengguncang besi itu.
"Hey!!!!" hardik Victor melihat pria botak itu mulai berontak.
Tomy hanya mengangkat tangan kanannya, pertanda untuk memperingati Victor untuk bersikap tenang.
"Ikuti saja ucapanku, makin menurut makin baik. Dan ingat, jangan coba coba untuk kabur" ancam Tomy kepada mereka berdua.
Membuat dua pria itu ciut nyali
*****
Leo hari ini sengaja ingin mengantar Bella untuk memeriksakan kandungannya, lantaran sedari kemaren ia mengeluh kurang enak badan.
Meskipun Bella dokter, namun spesifikasinya jelas beda.
Ia musti menemui sahabatnya, dokter Sarah sebagai ahli Obgyn.
"Apa kau masih tidak bernafsu makan Bel?" Leo bertanya sesaat setelah mereka melajukan kendaraannya, pasca menjemput Bella dirumahnya.
"Itu hal normal Leo, hal umum yang terjadi pada wanita hamil sepertiku. Mual, kehilangan nafsu makan, seiring berjalannya waktu semua akan normal"
"Tapi kau terlihat lebih kurus sekarang" ucapnya sambil menatap penuh kekhawatiran.
"Tidak usah terlalu mencemaskanku"
__ADS_1
"Tentu saja aku cemas, kau adalah ibu dari anakku" Leo kini fokus pada kemudinya, berbicara tanpa menoleh.
"Kau bisa menyuruh Tomy untuk mengantarku, kau sering sekali meninggalkan pekerjaanmu"
"Tomy ada di desa, ada hal yang harus ia bereskan"
Kini mereka sama sama hening, tidak tahu harus ngobrol apa lagi.
Canggung, kaku, tidak tahu harus apa.
Mobil mereka kini sudah terparkir di rumah sakit milik keluarga Bella itu.
Mereka sudah buat janji dengan dokter Sarah, memudahkan mereka untuk segera datang ke poli kandungan.
"Pagi Sar" ucap Bella begitu masuk ke ruangan bersih itu.
"Haloo Bel" mereka cipika cipiki, membuat Leo seolah menjadi manusia tak dianggap disana.
"Kau diantar?" kali ini dokter 'Sarah tersenyum, mendapati Leo yang mengantar Bella.
"Bisa tidak kau beri obat agar dia tidak mual, dan juga agar tidak sekurus ini" Leo berucap setelah mendaratkan tubuhnya di kursi hitam.
"Obat? kau pikir dia sakit, trimester awal kehamilan memang seringkali membuat ibu hamil mengalami morning sickness dan juga hilangnya selera makan"
"Dan tidak ada obat untuk itu" Sarah hanya menggelengkan kepalanya, mendengar ucapan Leo yang Konyol.
"Yul Bel baring dulu" ajak dokter Sarah yang berniat segera memeriksa Bella.
Ia memeriksa tekanan darah, denyut jantung, juga kemudian ia memberikan gel bening yang terasa dingin saat mengenai perut yang sudah terlihat lebih padat itu.
Ia lalu meletakkan sebuah alat, dan melakukan USG. Membuat Leo mengarahkan perhatiannya ke layar besar di depannya.
"Udah masuk 9 minggu Bel, itu kalian lihat yang bulat itu calon anak kalian" ucap dokter Sarah mengarahkan sinar merah itu ke arah layar.
Ada desiran aneh di hati Leo " calon anak" batinnya.
.
.
"Pulang aja, aku off dulu. Badanku ga enak banget rasanya" ia sengaja bolos kerja, suka suka dia lah. Dia juga yang punya Rumah Sakit.
Mereka tiba dirumah besar, rumah yang tak kalah mewah dari rumah milik keluarga Darmawan.
"Leo, masuk dulu yuk kita sarapan bareng" ajak mama Sofia begitu melihat kedatangan anak dan calon menantunya.
Leo merasa tak enak hati untuk menolak, ia lalu menurut kepada mama Sofia.
"Makan yang banyak, kamu terlihat kurus" ucap mama Sofia kepada Bella.
"Kamu juga Leo, kamu juga terlihat kurus sekarang"
Leo bukan hanya terlihat kurus, ia bahkan cenderung tidak sempat merawat dirinya. Kantung mata menghitam, rambut panjang, bulu bulu halus di wajah belum di cukur.
Benar benar menyedihkan.
"Jadi gimana, kita resepsi pernikahannya di hotel mana?" Mama Sofia mencoba berbincang mengenai acara pernikahan.
"Saya setuju aja tante, saya nurut" ucap Leo setelah menelan suapan yang baru saja ia kunyah.
"Lebih cepat lebih baik, keburu ini membesar" tunjuk mama Sofia ke arah perut Bella.
"Nikah sederhana aja ma, gak usah pesta. Yang penting sah" ucap Bella yang membuat mama sofia dan Leo menoleh dan saling menatap.
__ADS_1
*****
Bella
Selepas kepergian Leo, ia masuk ke kamarnya. Kondisi berbadan dua yang ia alami saat ini, lebih membuat dirinya lelah.
Ia menatap dirinya pada cermin besar, ia merasa mengapa selalu dia yang mengejar, mengapa Leo tetap bersikap kaku kepadanya.
Padahal sudah jelas janin yang berada di dalam rahimnya itu adalah darah daging Leo, mengapa dia tidak bisa bersikap lebih hangat.
Dia merasa begitu cepat sedih dan mudah baper, hormon ibu hamil memang tidak menentu.
"Maafin aku ma" lirihnya sambil menangis, bukan tanpa alasan ia menolah keinginan mamanya untuk menyelenggarakan pesta besar.
Ia sengaja menolak karena ia berniat akan bercerai setelah anak ini lahir, ia merasa tidak dicintai Leo. ia juga tahu semua ini adalah kesalahan.
Yang penting bayi yang ia lahirkan nanti mendapat status yang jelas, tentang siapa sebenarnya papanya.
Leo
Ia benar benar belum bisa menata hatinya, ingin sekali ia bersikap sebagai pria yang baik di hadapan Bella.
Sebagai suami yang baik lebih tepatnya.
Namun entah mengapa, justru bayangan Jessika yang selalu ada di fikirannya.
Ia bahkan terkejut mendengar ucapan Bella yang menolak untuk menyelenggarakan pesta.
Ia juga menangkap sorot mata sedih dari mata Bella, " maafkan aku Bell"
Ia memacu kendaraannya menuju kantor, jelas pekerjaannya sudah menumpuk.
ia bahkan kerap mangkir dari tugasnya, apalagi Tomy sedang tidak bisa membackup tugasnya di kantor.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya,
Tomy calling
"Hallo Tom"
"Bos, target sudah aman. Hanya saja, nona Putri terlibat dalam rencana itu, bahkan mereka memanipulasi keadaan sedemikian rupa"
Leo terkejut bukan main, mendengar penjelasan Tomy.
"Lalu dimana mereka"
"Aman bos, mereka dibawah pengawasan Jack dan Victor"
"Aku belum bisa kesana, setelah aku mengurus pernikahan aku akan kesana"
****
Niat Jessika menghabiskan waktu semalaman dengan Vera, nampaknya tidak berhasil.
Teman baiknya itu saat ini terlihat kusut, ia sangat tidak merelakan Jessika pulang ke kampung.
"Jadi Lo pergi?" Vera bertanya dengan bibir yang manyun.
"Astaga Ver, aku cuman mau pulang kampung. Kami masih bisa bertemu aku kalau kamu pulang ke desa, ada handphone, ada medsos. Tolong jangan seperti ini"
"Aku bakalan sendirian Jes, meninggalkan sama di tinggalkan itu lebih susah di tinggalkan" ia berucap sambil menundukkan wajahnya.
Memang benar, Jessika hanya akan pulang ke desa yang jaraknya hanya 6-7 jam bila di tempuh perjalanan darat, bukan akan mengarungi samudra tak bertepi.
__ADS_1
Namun Vera nampaknya akan kehilangan teman, yang sudah menemani selama setengah tahun terakhir.
"Kalian pacaran ya?" namun tanpa tedeng aling aling ia justru melontarkan pertanyaan yang tak njalur.