
.
.
.
David yang baru mengakhiri panggilannya terpana sekaligus terpesona dengan penampilan Jessika.
Ia juga tak mengira bahwa wanita itu begitu menawan saat bernyanyi seperti itu, apalagi ternyata dia lihai memainkan alat musik itu.
Sebuah nilai plus bagi David apabila ada wanita yang bisa bermain gitar seperti Jessika. Karena dia tahu wanita yang mencintai seni musik pasti dia adalah wanita yang spesial.
David masih menyaksikan Jessika dari jauh, acara yang dibuat papanya ini membuat moodnya lebih baik, tidak hanya karena masakan neneknya Jessika yang lezat namun sepertinya Jessika sudah bisa menjadi sumber mood booster nya itu.
"Lagu itu dari saya, terimakasih semoga anda semua berbahagia malam ini" ucapnya undur diri setelah menyanyikan lagu keduanya.
Sebelum turun Jessika membisikkan sesuatu kepada pak Sis, dan di balas anggukan oleh pak Sis tanda ia mengerti, lalu turun dari panggung dan berjalan melalui samping panggung.
" baiklah kita lanjutkan acara dengan karaoke, silahkan yang mau menyanyi saya persilakan....." ucap pas sis memberikan kesempatan pada semua undangan yang hadir, banyak sekali pekerja yang berkaraoke.
Mereka semua terlihat senang dan menikmati acara itu, secara bergantian mereka menyanyikan lagu yang ingin mereka bawakan dan diiringi oleh live musik yang sudah di sewa panitia.
****
Jessika tak langsung kembali ke meja dimana sahabatnya berada, ia malas satu meja dengan putri. Ia memilih untuk berjalan dan duduk di kursi di samping rumah pak Edy yang saat itu sepi namun masih bisa menyaksikan acara itu dari jauh.
Jessika sadar diri, dia hanya wanita biasa tak mungkin pantas bersama bahkan untuk sekedar duduk dengan Leo dan para petinggi kerajaan.
Apalagi ia juga tahu, Putri yang tadi berbicara kepada Leo hanyalah untuk menyindir dirinya, Seolah ingin menunjukkan perbedaan kasta yang tercipta antara putri dengan dirinya.
Pandangannya menerawang jauh, andai orang tuanya masih ada mungkin kesempatan dia untuk kuliah masih ada. Namun takdir ia meyakini bahwa roda itu pasti berputar, tanpa terasa air mata itu lolos begitu saja membasahi pipi mulusnya.
David yang berjalan hendak kembali ke mejanya tadi , mengentikan langkahnya karena melihat Jessika seorang diri dan kedapatan tengah menghapus air matanya menandakan ia habis menangi.
"Ehem" David berdehem dan sukses membuat Jessika kaget, ia pikir tidak akan ada orang disana.
Jessika yang takut langsung berdiri dan hendak pergi namun tangannya di tarik oleh David" Tunggu dulu, aku mau bicara".
DEG
__ADS_1
Jantungnya berdetak kencang, jangan jangan dia mau membahas kejadian tadi siang. Jessika yang malu dan takut melepas paksa tangannya dan segera pergi.
Namun saat ia mulai melangkahkan kakinya, David berbicara" aku ingin meminta maaf" ucapnya , dan sukses membuat langkah Jessika terhenti.
Jessika membalikkan badannya menatap David, kedua netra mereka saling bertemu ada rasa yang tak bisa dijelaskan.
Desiran aneh mulai menyelimuti hati keduanya, untuk pertama kalinya mereka berbicara empat mata dan saling memandang.
"Maafkan aku atas sikap dan ucapanku tempo hari, aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu terhina sungguh, aku hanya mudah marah karena waktu itu kekasihku tidak mengabariku" ucap David menjelaskan.
Jessika sedikit lega, selain karena David telah meminta maaf padanya, ternyata David tidak membahas kejadian menggelikan siang tadi.
"Aku sudah memaafkan mu tuan, bahkan sebelum anda meminta maaf. Bahkan mas Leo sudah meminta maaf kepada saya atas nama anda sehari setelah kejadian itu" ucapnya tak kalah panjang.
David merasa bahwa Leo lah yang lebih pantas menjadi kakaknya, ia bahkan sudah melakukan hal yang seharusnya sudah David lakukan sejak awal.
"Aku akan berterimakasih pada Leo untuk itu" ucap David.
"Baiklah aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi tuan, aku mau kesana dulu" ucap Jessika.
Saat Jessika baru saja membalikkan badannya, David berbicara kembali
David berkata penuh kemenangan, entah mengapa ia merasa senang berlama-lama dengan Jessika. Apalagi malam itu Jessika terlihat cantik natural.
Jessika membulatkan matanya ,baru saja ia berfikir jika David tidak mempermasalahkan kejadian tadi siang, kini dia sudah mempertanyakan hal itu kepadanya.
Bahkan ia bingung harus menjawab apa kalau di tanya mengenai barang pusaka David yang ia tendang tadi siang.
"Anu emm anu tadi mas Leo yang menyuruhku untuk shalat disana" jawab Jessika dengan lidah yang tiba tiba terasa kelu.
David tertawa keras mendengar jawaban Jessika yang terbata bata itu, kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati Jessika. Kini mereka hanya terpaut beberapa senti saja.
Jessika langsung pucat, ia mulai ber negatif thinking dan " pleeetak " David menyentil telinga Jesika.
"Auuuu sakit tuan" ucap jesika sembari memegangi telinganya yang habis di sentil oleh David.
"Itu hukuman buatmu, lagi pula rasanya tidak sesakit benda pusaka ku saat kau tendang tadi kan , jadi jangan lebay" ucap David sambil menyilang kan kedua tangan di dadanya.
Jesika yang mendengar David menyebutkan benda pusaka nya langsung bergidik ngeri, ia menjadi ingat dengan ukuran benda itu yang sempat menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Meski terhalang oleh baju yang ia kenakan, namun tetap saja dia bisa merasakan.
Jessika langsung mendorong tubuh David, bisa bisanya ia mengatakan hal vulgar itu padanya. Bagi Jessika itu adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, apalagi dengan orang yang baru ia kenal.
"Kau begitu mesum tuan" ucap Jessika sambil mendorong tubuh kekar David namun yang punya badan tak bergeser sedikitpun.
David masih dalam posisi tangan yang tersilang di dadanya, " kalau kau terus mendorongku akan ku buat kau bertanggung jawab atas perbuatan mu tadi siang".
Jessika sontak memundurkan langkahnya saat David berkata seperti itu, bukan tanpa alasan David berkata demikian. Karena sebagai lelaki normal saat di sentuh wanita secantik Jessika itu akan membangunkan sesuatu yang tertidur dibawah sana.
Jessika sangat kesal dengan perkataan David barusan, ia langsung memilih pergi dari pada meladeni David.
Namun naas saat akan berjalan kakinya tersandung sebuah kayu dan akhirnya membuat keseimbangannya goyah.
Dan secepat kilat David menangkap tubuh sintal itu, sehingga pandangan keduanya bertemu.
Jarak mereka hanya beberapa senti saja, Bahkan deru nafas satu sama lain bisa mereka dengar, aroma nafas dan parfum maskulin David seolah menghipnotis Jessika.
Ada debaran yang sulit dijelaskan namun bisa Jessika rasakan, ini kali kedua ia dekat dengan David namun kali ini posisinya lebih sopan.😁
Ada sepasang mata yang melihat adegan mereka berdua, ada rasa nyeri di hati pria itu. Dia adalah Leo, Leo yang merasa Jessika tidak segera kembali ke meja menjadi khawatirkan.
Ia berkeliling rumah mencari dimana Jessika berada, namun saat menemukannya ia justru melihat pemandangan yang membuat dirinya Seperti dibakar api cemburu.
Ia berada di posisi serba salah, disisi lain ia bukanlah siapa- siapanya Jessika namun hatinya tidak rela ketika melihat ada laki- laki yang dekat dengannya sekalipun itu kakaknya.
Dan juga harusnya ia senang karena kakaknya bisa segera move on dari wanita Sialan itu, tapi kenapa harus Jessika yang bersama kakaknya.
Leo yang tak tahan melihat pemandangan itu, melangkahkan kakinya kembali ke meja tempat dimana sahabatnya Jessika masih disana.
.
.
.
.
Jangan lupa like comment dan vote nya ya 🙏
__ADS_1