
.
.
.
Jessika yang hendak mencium suaminya, seketika mengurangkan aksinya saat mendengar suara Eka siang itu.
" Mak lampir datang!!" cibir David seraya mendengus.
" Mas!" Jessika memeringati suaminya agar tak menyebut Eka dengan sebutan seperti itu.
" Aaaaa... sayangnya Tante kok bobo sih!" Eka mencubit gemas pipi bayi gembul itu.
" Anak ini baru tidur!!!!, suaramu bisa pecahin telinganya dia nanti!!" David selalu saja menabuh genderang peperangan saat bersama Eka.
" Astaga Bu bos, suamimu kenapa sih sentimen banget kalau ada aku!!" Eka berengut menatap David. Membuat Jessika tergelak.
" Udah biarin dia, mana Tomy?" Jessika menggeret lengan Eka untuk duduk bersamanya. Sementara David masih setia meninabobokan Deo.
" Masih parkir mobil di depan. Sory aku datang telat, tapi makanannya masih ada kan??" Eka terkekeh saat berucap dengan Jessika.
" Masih, mau makan sekarang?" tawar Jessika.
" Jangan, nunggu Pak Su dulu. Biar bisa di suapin!" ucap Eka kemayu.
David yang mendengar Eka berbicara hanya mencibir, " Gak kira elu di suapin sama si Tomy, palingan langsung masukin itu nasi ke mulutmu pakai genggaman!" sergah David sebal.
" Suamimu kenapa sih Bu bos, mulutnya jahat banget deh!!" Eka berengut.
Jessika hanya tertawa mendengar suami dan sahabatnya itu saling adu mulut. Entah sampai kapan mereka akan menjadi musuh bebuyutan.
...***...
Jack saat berada di dalam mobil justru teringat dengan wajah kesal wanita tadi. Wajah letih yang bersimbah keringat, namun penuh dengan misteri.
Wanita itu bahkan tak takjub saat melihat dia dan Victor, malah wanita itu berani mengumpati dirinya.
Wanita unik
Dan tidak terasa mereka sampai di rumah besar pak Edi. " Elu masuk dulu aja, aku mau telpon sama Luna dulu!" tukas Victor.
" CK, kenapa elu? tengkar lagi?"
" Hubungan gak ada status aja, pakai acara ribut segala!" dengus Jack seraya menutup pintu mobil itu.
Pria jangkung itu masuk kedalam rumah. Ia melihat David yang tengah menggendong Deo tengah ngobrol bersama Tomy.
" Selamat siang bos!" sapa Jack mengangguk hormat kepada David dan kepada Tomy.
" Hemmm!" sapa David yang masih menepuk bokong Deo yang sudah lelap.
" Siang Jack, gimana lancar semua?" tanya Tomy.
" Aman bos, kiriman, bibit, panenan semua dibawah kendali!" tukas Jack menyahut.
" Good!!" ucap Tomy.
Jack agak terkikik saat melihat David yang mengendong Deo. Bosnya itu kini lebih mirip seorang duda yang di tinggal merantau istrinya menjadi TKI ke luar negri.
" Kenapa kamu senyam-senyum? ngetawain saya?" ucap David menatap bengis Jack.
" Enggak bos, mana saya berani!" ucapnya mengulum bibirnya.
__ADS_1
" Makan sana kamu, udah di cariin sama istri saya dari tadi. Jangan buat istri saya nunggu!" turut David yang menepuk bokong anaknya, karena Deo menggeliat.
.
.
Jack makan dalam diam. Ia merasa beruntung karena istri bosnya itu sungguh teramat perhatian kepada semua anak buahnya jika ada acara. Ia kerap memperhatikan semua lapisan pegawai suaminya.
" Victor mana?" tanya Jessika yang menaruh sepiring besar cumi saus tiram ke meja makan itu.
" Masih diluar Nyonya!" jawab Jack.
" Udah saya bilang berapa kali. Panggil saya Bu aja, jangan nyonya lah. Saya gak nyaman!" tuas Jessika.
" Baik Bu!" jawab Jack cepat meralat ucapannya.
Eka terlihat tertidur di sofa itu. Usai bergunjing dengan Jessika mengenai urusan peranjangan, serta telah menghabiskan makanan bersama suaminya wanita itu terlelap. Definisi nyata dari habis kenyang terbitlah ngantuk.
" Saya minta tolong ke kamu bisa?" ucap Jessika.
" Bisa Bu !" jawab Jack cepat.
" Saya udah bungkusin beberapa makanan di box itu, kamu bagikan ke warga ya. Itu yang RT sebelah sana banyak yang belum dapat tadi!" tunjuk Jessika ke arah ratusan bos nasi yang sudah tertata rapih di dalam pilihan kardus besa.
Ya, Jessika senagaja memesan banyak box nasi, untuk di bagikan kepada warga. Semua itu adalah wujud rasa syukurnya atas gelaran acara tiga bulanan Deo.
.
.
Victor terlihat menekuk wajahnya. Pria itu nampak baru saja bertengkar lagi dengan Luna.
" Udah lah Vic, ngapain juga elu pusingin cewek begitu. Kaya ga ada betina lain aja!" ucap Jack yang kembali ke depan. Hendak menjalankan tugas dari Jessika.
Jack hanya diam, tak berniat menyahuti. Ia kadang heran dengan Victor. Rekannya itu tampan, duit juga banyak. Itu sudah pasti. Lantaran bekerja di bawah naungan Darmawan Group, sudah pasti membuat mereka kini pasti memiliki rekening gendut. Tapi ini halal. Bukan hasil suap.
" Elu mau kemana?" tanya Victor yang melihat Jack tengah membawa beberapa box makanan dari merk kotak makan ternama itu. Superware.
" Bu Jessika minta aku buat ngantar ini!" tunjuk Jack pada ratusan box makanan lengkap dengan sebotol air minum kemasan bermerk Darmawan Group itu. Leo sengaja mengirimkannya, langsung dari pabrik.
Memiliki perusahaan manufacturing di bidang makanan dan sejenisnya, tentu saja membuat mereka bisa dengan mudah mendapatkan barang itu. Lawong mereka yang punya pabrik.
" Ya udah gue ikut. Tapi elu yang bawa ya. Takut gak fokus lagi!" seru Victor.
Jack hanya mencibir, bisa-bisanya rekannya itu menjadi naif hanya dalam waktu singkat dikarenakan seorang perempuan.
.
.
Mobil sport dengan bak terbuka di belakanganya itu kini melaju dengan kecepatan rendah. Jalanan desa terlihat baru saja selesai di paving tiap penjuru kampung. Membuat mereka kini tak perlu susah merasakan geronjalan batu dan kerikil.
Dari kediaman Pak Edy, mereka harus keluar lagi menuju perkampungan yang lebih dalam, yang terletak di sebelah bantaran sungai besar. Jaraknya sekitar tiga kilometer kurang lebih.
Jack dan Victor saling diam, mereka memang sudah lama disana. Hampir dua tahun, namun mereka jarang bereksplorasi ke tempat terpencil macam itu. Mereka adalah wujud dari dedikasi yang tinggi, serta loyalitas tanpa batas kepada David dan keluarganya.
Ini adalah kali pertamanya, dua pria bujang itu menjalankan misi mulia dari Jessika.
" Kita berhenti di rumah yang pelatarannya paling luas itu aja ya!" ucap Jack.
Victor menoleh sekilas, pria itu sedari tadi menyibukkan dirinya ke ponsel miliknya. Entah apa yang tengah di utak-atik oleh pria dengan cambang tipis di pipinya itu.
" Boleh!" tukas Victor.
__ADS_1
Warga yang melihat ada mobil bagus berbelok ke pelataran miliknya, sontak keluar untuk mencari tahu siapa gerangan tamu yang datang.
Mobil mewah yang mencolok itu, sukses mengundang perhatian warga. Terutama kaum emak-emak.
Jack menarik tuas handbreak lalu melepas seatbelt nya sejurus kemudian. Dua pria itu masih mengenakan pakaian ala mandor, sebuah setelan safari dua kantong warna khaki dipakai oleh Victor dengan lengan yang ia gulung sebatas siku. Dan Jack mengenakan seragam yang sama dengan warna Army Green yang fit di badannya.
Membuat penampilan mereka begitu keren.
Jack mengedarkan pandangannya, dan dalam sekejap saja kedua pria ganteng itu di kerubungi oleh para ibu-ibu yang usai bangun dari tidur siangnya.
" Ada apa mas, ini mobil perkebunan sebelah ya?" tanya seorang ibu-ibu berbadan gemuk seraya menggendong seorang bocah berusia empat tahun.
" Oh, iya buk. Ini dari bos kami, namanya Bu Jessika. Tolong di terima ya, dan minta tolong ini dibagikan ke semua tetangga dan warga sekitar!" ucap Jack ramah.
" Ada acara apa ya mas?" tanya ibu itu lagi seraya membenarkan letak gendongan anaknya.
" Tiga bulanan putra sulungnya!" sahut Victor.
" Oh saya tahu, itu cucu dari almarhumah Mbok Yah itu kan. Yang jadi mantu juragan cabai itu?" tanya ibu itu antusias.
" Nggeh Bu, doakan beliau sehat dan panjang umur ya!" ucap Jack menjawab.
" Alhamdullilah!" jawab para ibu-ibu lain yang rupanya sudah merapatkan diri ke arah mobil mereka.
" Woy!!! dapat rejeki nih, metuo kabeh ( keluar semua)!!" ibu-ibu berdasar gombrong itu mengeluarkan lengkingan suara yang membuat telinga Jack dan Victor serasa jebol. Suara beroktaf tinggi.
Dan hebatnya dalam sekejap, gerombolan manusia dari kaum wanita itu menyerbu mobil Jack dan Victor. Membuat dua pria itu sampai tak terlihat.
" Ojo rebutan, sak uwong siji ( Jangan berebut, satu orang satu)!!" ucap ibu-ibu gemuk tadi.
"Wah..ini tempat nasinya mahal ini!!"
" Superware loh ini mak!!!!"
" Aku dulu bentar minggir kamu!!"
" Alhamdullilah dapat rejeki!!"
Dan masih banyak lagi suara suara girang yang mengiringi pembagian launch box beserta isinya itu. Membuat Jack tertawa senang, sementara Victor sibuk mengabdikan moment itu dan berniat akan mengirimkan video itu kepada istri bosnya itu.
" Ati- ati woy, jangan ada yang ngambil lebih. Ingat yang lain!!!" seru emak- emak berambut keriting yang baru saja bergabung. Menjadi komando bagi kaum hawa yang lain.
Suasana disana begitu lekat degan raut wajah bahagia dan tingkah kegirangan. Jack sejenak salut dengan kebaikan hati Jessika. Perbuatan sederhana macam ini, rupanya mendatangkan kebahagiaan yang tak terkira untuk orang lain.
Dan saat ia masih menunggu para ibu-ibu menyerbu dagangannya, dari jarak lebih kurang seratus meter dari tempatnya berdiri, pandangannya bertumbuk kepada seroang perempuan yang sibuk memetik cabai di pekarangan rumahnya.
Jack menajamkan pandangannya, ia menyipitkan matanya guna memperjelas objek yang ia tangkap dengan dua netranya itu.
Skilas ia pernah melihatnya, tapi dimana. Dan kenapa wanita itu tak keheranan dengan keriuhan yang terjadi di sana.
Astaga, itu kan perempuan yang hampir tertabrak tadi.
.
.
.
( Kiri seragam Jack, kanan seragam Victor)
Keterangan : Credit foto from Google
__ADS_1