Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 80. Salah Paham


__ADS_3

.


.


.


Jessika hanya diam di samping kursi penumpang yang berada di samping Bella, seperti biasa ia mulai merasakan gejolak dalam perutnya.


Benar benar payah, bahkan mobil sebagus ini masih membuatnya menjadi manusia kampungan.


"Jes, apa kau baik baik saja" ucap bela masih dengan memegang kemudi, insting sebagai seorang dokter tentu saja mudah untuknya dalam menganalisis raut muka Jessika yang sudah pias itu.


"Something wrong" Gumam Bella, merasa jika Jessika tidak baik baik saja.


"Emm....anu emmm" ia sudah sangat tidak bertenaga bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan dari Bella.


"Apa kau mual" tebak Bella yang melihat Jessika pucat dan keringat yang sudah terlihat, padahal AC mobil itu tengah menyala.


Jessika mengangguk, seketika Bella menekan tombol indikator untuk membuka jendela mobil itu.


"Bertahanlah, sudah dekat kok. Maaf aku tidak tahu kalau kamu mual" ucapnya merasa bersalah.


Jessika menahan dengan agar bubur nasi sialan itu tidak keluar, ia sangat merutuki dirinya yang begitu payah itu.


"Ok kita udah sampai, bentar ya" ucap Bella seraya mengeluarkan kepalanya dari kaca terbuka itu, dan menyapa security yang ada disana.


"Pagi pak" sapa bela ramah.


Sepertinya selain cantik, ia memang ramah pada siapa saja. Sungguh beruntung mas Leo.


Jessika berbicara dalam hati sambil melihat interaksi Bella dan pria dengan seragam safari putih dua kantong itu.


Bela menginjak pedal gas, dan melajukan mobilnya masuk kedalam rumah besar itu, sesaat setelah gerbang besar itu dibuka oleh security.


"Huft" jessika bernapas lega setelah udara normal bisa ia hirup, sungguh ia benar benar tidak bisa menjadi orang kaya. Naik mobil saja bisa membuatnya dirinya dalam masalah, benar benar payah.


Setelah menekan bel, pintu dengan cat warna putih itu terbuka. Menampilkan sosok bik Asih yang dengan ramah tersenyum pada Bella.


"Eh non Bella" ucap bik Asih.


"Hallo bik apa kabar, kak David sudah dirumah?" tanya Bella.


"Ada non, tapi barusan Den Leo pergi lagi kurang tahu mau kemana, tapi kalau Den David ada di kamar" jawab bik Asih sopan.


Bella yang tahu jika Leo tidak berada disana sedikit kecewa, tapi ia kemudian melihat Jessika di sampingnya dengan tersenyum.


"Kami mau jenguk kak David" ucap Bella ramah.


"Silahkan masuk non, silahkan tunggu sebentar ya" ucap bik Asih.


Ini adalah kali kedua Jessika ada dirumah besar itu, masih saja takjub akan keindahan di dalamnya.


Tempat yang menurutnya bukan sebuah rumah, tapi istana. Perabot mewah disana sini, lukisan lukisan mahal serta furniture yang pasti harganya membuat dirinya akan menelan saliva dengan susah, apabila ia tahu.


Mereka berdua mendaratkan bo kong mereka pada sofa besar warna krem, sembari menunggu bik Asih.


Bik asih mengingat kembali wanita yang bersama Bella, ia seperti pernah melihatnya tapi dimana.


Ia tak kunjung mendapatkan jawaban sampai dirinya sudah sampai di kamar David.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk bik" jawab David dari dalam.


"Den ada non Bella, sama satu perempuan saya belum mengenalnya tuan. Orangnya cantik, rambutnya sebahu" ucap bik Asih memberitahu.


"Oh, mereka mau cari Leo ?" tanya David, Karena ia tahu jika Bella menyukai adiknya itu.


"Bukan Den, bilangnya mau jenguk Den David" ucap bik asih masih dengan hormat.


David membatin, siapa yang di bawa Bella. Mungkin rekan sejawat di rumah sakit miliknya, atau saudaranya mungkin.


"Suruh mereka kemari bik, punggungku masih nyeri jika dibuat berjalan" ucapnya.


Jessika terlihat tidak nyaman, entah mengapa dia sedikit deg degan. "Apa yang ku lakukan, seharusnya aku tak berada disini" sesalnya dalam hati, ia menjadi ciut nyalinya kala berada dirumah mewah itu.


Menunggu seorang wanita berumur sedang menuju kamar majikannya, entah sedang memberitahu atau berbuat apa.


Dan dirinya seperti menunggu keputusan dari orang penting bahwa dirinya yang notabene bukan siapa siapa dan hanya orang biasa ingin menjenguk.


"Apakah kepedulianku ini berharga, apakah perlu aku harus menengoknya" pertanyaan demi pertanyaan yang makin membuatnya ambigu, sedikit menyesal telah mau diajak Bella.


Ia semakin seperti ciut nyali, kecil, tak berharga, perbedaan kasta dan hal lain yang membuat buncahan keraguan itu makin membesar.


Ia memainkan jarinya dengan gelisah, membuat Bella menatapnya " kau kenapa Jes, seperti gelisah".


"Emm tidak apa apa nona" kilahnya, menutupi perasaan tak nyamannya.


"Non sama Den David di suruh naik, saya buatkan minum dulu" ucap bik Asih memecah kecanggungan diantara mereka.


David tepaksa menyuruh Bella keatas, sebenarnya ia adalah tipikal pria yang tingkat privasinya tinggi.


Bahkan Sherly pun tidak pernah masuk ke kamarnya sewaktu mereka menjalin kasih dulu, ia benar benar malas untuk turun karena punggungnya terasa sakit dan nyeri.


Saat hendak masuk ke kamar, Jessika menatap benda persegi dari kanvas yang terlihat Pak Edy, David, Leo dan seorang wanita ada di lukisan tersebut.


Ia kembali ingat saat Bryan meminta dirinya mengantar makanan ke pelanggan, yang ia sendiri tidak tahu namun ternyata pelanggan itu adalah Leo.


"Apakah itu ibunya tuan David?" ia bermonolog sendiri, jika saja saat itu dirinya tidak tergesa gesa ia pasti bisa tahu jika itu adalah rumah Leo.


Membuatnya teringat kembali dengan insiden tumpahan nasi basi ,yang membuat David terpaksa mandi di kamar mandi sederhana kost nya.


"Yuk Jes, aku dulu sering kesini sama mama waktu Tante Diah masih hidup" ajak Bella pada dirinya, dan ucapan Bella barusan seolah memberinya informasi jika nama dari ibu Leo dan David adalah Diah.


"Kak David!!" ucap bela yang langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


David terkejut saat melihat wanita yang ada di belakang Bella, tengah berdiri dan terlihat tertunduk malu.


"Kakak sedang apa" tanya Bella yang berjalan menuju ranjang David.


Kamar luas dengan desain futuristik, terdapat kasur besar, televisi seukuran papan tulis, sofa mewah, dan beberapa perabot mewah penunjang lainnya.


"Orang kaya" kata dalam hati yang tak terucap.


"Ya seperti yang kau lihat, aku sedang menjadi manusia malas" ucap David seraya menurunkan kakinya yang awalnya lurus berada pada di kasur itu.


"Tadi aku ketemu Jessika pas mau pulang, dia mau nengok Kakak tu. Tapi terus aku antar kesini, kasihan soalnya dia ga tau kalau kak David udah aku ijinin balik" ucap Bella panjang dengan maksud memberi tahu.


Jessika menggigit bibirnya, merasa salah tingkah. Merasa harusnya tidak usah melakukan hal ini.


"Bodoh bodoh bodoh" ia merutuki dirinya dalam hati.


"Wah benarkah begitu" goda David sambil menatap ke arah Jessika.

__ADS_1


"Aku gak bisa lama, nanti kakak suruh mang Ujang antar Jessika ya. Aku udah ada janji sama mama kak" ucap Bella.


"Loh, emm non saya bareng sama nona Bella aja" Jessika panik seketika, apalagi mendengar Bella yang akan pulang.


"Heh kamu kan belum tanya keadaanya, gpp nanti mang Ujang yang antar. Aku pergi dulu ya"


Bella sengaja mempercepat dirinya untuk undur dari sana, ia tahu jika David terlihat senang dengan kedatangan Jessika.


Apalagi disana juga tidak ada Leo, ia terpaksa berbohong kepada mereka berdua.


"Good luck kak, jangan lupa suruh mang Ujang ngantarnya naik motor. Tadi dia hampir mabok pas naik mobil🤣"


Pesan singkat yang dikirim oleh Bella melalui WhatsApp.


David tersenyum sambil membalas pesan itu, ia senang karena ternyata Bella mendukungnya.


"Akan ku kerjakan bagianku, thanks Bel"


Ia menaruh Handphone mahal itu di nakas samping ranjang, kemudian beralih menatap Jessika yang masih berdiri mematung.


"Apa kakimu tidak terasa pegal" tanya David menggoda jessika, yang masih bertahan untuk berdiri.


"Memangnya kau tadi sudah menyuruhku untuk duduk, orang ini" gerutu Jessika dalam hati.


"Duduklah!" pinta David.


Jessika mendudukkan tubuhnya pelan ke sofa yang berada di kamar itu, ia merasa bingung harus berkata apa.


Mereka berdua saling diam, namun saling menatap.


"Terimakasih" satu kata yang akhirnya menjadi kalimat pembuka, untuk dirinya.


"Untuk" David menyeringai.


"Sudah menyelamatkan diriku" jawab Jessika.


David ingin beranjak turun dan mendekat ke arah Jessika, namun rasa sakit di punggungnya membuat ia meringis dan di tambah sedikit bumbu sandiwara.


"Ahhhh auuuwww" ucapnya sambil meringis.


Jessika langung panik dan berjalan dengan cepat menuju David yang tengah duduk.


"Apa sakit, tuan mau apa?" ucapnya setelah berada di depan David.


"Aku mau kamu" jawabnya kemudian tertawa.


"Nggak lucu" kesal Jessika dan langsung mendorong dengan kerasa tubuh David, hingga membuat dirinya terjengkang ke kasur.


"Aaarrrggghhh" David benar benar kesakitan kali ini, karena lukanya yang belum kering sepertinya kembali mengeluarkan darah.


Jessika seperti tak percaya, jangan-jangan ini modusnya lagi. Membuat dia diam dan hanya memandangi David yang berusaha bangun.


Namun pikiran buruknya itu terhenti, tatkala ia melihat darah di sprei putih itu .


"Astaga tuan" ia kemudian menarik tangan David dan berusaha membuatnya untuk duduk.


Namun karena bobot David yang cukup berat dan David sendiri kesulitan untuk bangkit sambil menahan sakit, membuatnya sekuat tenaga menarik, dan "Bruukkk" Jessika justru jatuh tepat diatas tubuh David.


"Auuuww " teriak David yang makin merasakan sakit yang luar biasa, karena lagi lagi lukanya terkoyak dan kali ini mendapat hantaman dari tubuh padat Jessika.


"Ceklek" Suara pintu terbuka tanpa ada yang mengetuk.

__ADS_1


"Bang daviddd!!!!


__ADS_2