
.
.
.
Selepas mereka mengatakan hal yang menjadi bekal utama tujuan mereka datang ke desa, Leo dan David menuju keluar.
Tak disangka, Jack dan Victor baru saja pulang dari gudang, tempat dimana Jessika dulu bekerja.
"Tuan anda disini?" sapa victor yang mendapati dua bosnya berada di desa.
"Kau apa kabar" David bertanya, namun dia agak heran mengapa Jack bisa ada disini.
"Baik tuan" Victor menjawab
"Jack kau disini?" tanya david yang ingin tahu kenapa Jack bisa bisa ada disini.
"Tugas gerilya tuan" jawab Jack persis seperti sikap Tomy, mereka memang layak menjadi mafia. Yeah!!
David melirik ke Leo, namun Leo hanya mengendikkan bahunya. Seolah mengatakan aku juga tidak tahu.
Mereka berempat larut dalam obrolan sebentar, sampai kedatangan pak Edy mengehentikan kegiatan mereka.
"Victor Jack, kalian sudah kembali?. Makanlah dulu, nanti lanjut ngobrol" ucap pak Edy yang terdengar bukan seperti ajakan, namun sebuah perintah.
"Terimakasih banyak tuan, kami sudah makan" jawab Jack sungkan.
"Siapa kalian, berani menolak tawaran papaku" David berkata membuat Victor dan Leo menjadi bergidik ngeri.
"Baik tuan, kami permisi kedalam dulu" ucap Victor tak ingin membuat semuanya menjadi sulit.
Kini hanya menyisakan David dan Leo bersama hembusan angin malam, dengan David yang mengepulkan asap putih dari terbakarnya tembakau dan cengkeh yang di balut di kertas buatan pabrik itu.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" David membuka obrolan.
"Lumayan"
"Lumayan tenang atau lumayan gelisah"
"Aku tidak menyangka jika papa tidak akan marah kepadaku, tapi terus terang aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Bella"
David menyesap rokok itu dalam dalam, udara malam pekat disana seolah terkontaminasi oleh asap rokok.
"Cinta bisa datang dari mana saja Leo, kadang apa yang mati matian ingin kita gayuh justru itu bukan yang terbaik" David tersenyum kecut, demi mengingat kembali Sherly yang begitu jahatnya.
"Aku tidak tahu bang, hampa"
"Sebagaimana firman Allah “…Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" Suara pak Edy mengagetkan mereka berdua.
"Papa" mereka menoleh kepada papanya yang ternyata mendengar obrolan mereka berdua.
"QS Al-Baqarah: 216, coba kamu baca. Allah ingin kalian menjadi pribadi yang lebih baik, dengan cara memberikan masalah yang sebenarnya itu atas kesalahanmu sendiri" ucap pak Edy.
Mereka berdua tertegun, papanya memang luar biasa.
"Shalat lah nak, minta petunjuk agar dimudahkan segala sesuatunya" ucap pak Edy menatap kedua putranya bergantian.
Leo tertunduk malu, memang benar apa yang di ucapkan papanya, ia bahkan sudah lupa kapan terakhir dia menunaikan kewajibannya itu.
Begitu juga dengan David, ia sukses dan gemilang di urusan pekerjaan. Namun ia merasa ucapan papanya barusan bak pukulan untuknya.
Rumah sakit Al-Huda
Seperti biasa pagi ini dokter mengadakan kunjungan pemeriksaan rutin, pemeriksaan dilakukan pagi dan sore hari.
"Normal tensinya, apa ada keluhan lain" tanya dokter yang selesai melakukan serangkaian pemeriksaan kepada mbok Yah.
"Sudah tidak dok, alhamdulilah" mbok yah menjawab dengan mantap.
"Besok sudah bisa pulang, nanti atau besok pagi bisa urus administrasi terlebih dahulu ya" ucap dokter itu ramah.
"Baik dok terimakasih" kali ini Jessika yang menjawab.
Seperti kemaren, hari ini lek Soleh harus ke pasar terlebih dahulu. Lantaran pekerjaannya itu tidak bisa ditinggalkan.
Setelah dokter dan perawat pergi dari ruangan itu, Jessika memilih untuk menyuapi neneknya.
Masih dengan menu rumah sakit, ia dengan telaten menyuapi wanita tua yang merawatnya sejak ia menyandang status yatim piatu.
"Kamu gak sarapan?" tanya mbok Yah.
Jessika hanya menggelengkan kepalanya, "belum lapar" .
"Jangan telat makan" ucap mbok yah sesaat sebelum menerima suapan yang diberikan oleh cucunya.
"Iya, aku seneng banget Makwek besok sudah boleh pulang" ucapnya tersenyum sambil mengatur nasi yang ada di kotak makan berwarna hijau itu.
"Alhamdulilah" ucap mbok yah setelah menghabiskan sarapan.
"Minum obatnya dulu Wek" ucap Jessika.
Ia menyerahkan obat dan juga segelas air , untuk mbok yah minum.
"Assalamualaikum" suara seseorang.
"Walaikumsalam" ucap mereka berdua kompak.
"Pak Edy?" mbok yah agak terkejut dengan kedatangan juragan kaya di kampungnya itu.
Namun lebih terkejut lagi mereka mendapati sosok di belakang pak Edy, yakni David dan Leo.
Begitu juga dengan pak Edy, David dan Leo yang tak mengira jika Jessika pulang kampung.
Pak Edy bersalaman dengan mbok Yah dan juga Jessika," Gimana keadaannya sekarang mbok?" pak Edy mendekat di samping ranjang.
Kemudian diikuti oleh David dan Leo.
Sementara Jessika membereskan kotak makan dan juga obat yang barusan diminum oleh neneknya.
"Alhamdulilah pak, niki sampun sae. Mbenjeng mpun angsal wangsul"( alhamdulilah pak ini sudah baikan, besok sudah boleh pulang) jawab mbok yah sungkan
"alhamdulilah, Jessika kapan mulih nduk" pak Edy kali ini bertanya kepadanya.
"Kolowingi pak, mpun tigang dinten teng mriki( kemaren lusa pak, sudah tiga hari disini)
__ADS_1
Sementara David dan Leo masih diam, mereka duduk di kursi plastik.
Tidak terlalu mengerti bahasa Jawa halus yang di ucapkan oleh papanya dan Jessika.
David
Saat berangkat tadi ia menjadi supir untuk papa dan adiknya, berbekal petunjuk dari sang papa ia lihai mengendarai kuda besi, menuju rumah sakit di kota kecil yang terdekat dengan desa tersebut.
"Gak bawa apa apa ini pa?" David bertanya sambil melihat papanya dari spion kecil yang menempel di plafon mobil.
"Papa kasih uang cash aja, biar bisa bantu biaya rumah sakit" ucapnya santai.
David hanya mengangguk.
Saat memasuki area rumah sakit yang terbilang cukup besar itu, ia memarkirkan kendaraannya agak kebelakang. Ramai dan penuh.
"CK sempit sekali parkirannya" keluh David.
Setelah berhasil, mereka bertiga segera mencari ruangan dimana mbok yah berada. Tentu saja hasil dari bertanya kepada mbok Darmi.
"Di gedung Pancasila Den nomer 4" begitu jawab mbok Darmi tatkala ia bertanya tadi pagi.
Terlihat sosok yang dia kenal sedang menuruni tangga.
"Lek Soleh?" sapa David yang melihat pria itu berjalan kearahnya.
"Loh pak Edy" lek Soleh menyapa orang paling kaya di kampungnya itu.
"Loh lek, mau kemana?"
"Ini saya mau pulang dulu, pak Edy mau kemana ini"
"Saya mau jenguk mbok yah, maaf baru tahu"
"O iya, ada diatas itu kamar nomer 4"
"Baik kalau begitu kami kesana dulu"
"Nggeh pak nggeh, saya juga buru buru mau ke pasar dulu ini. Monggo"
"Monggo Monggo" jawab pak Edy.
Tanpa menunda lagi, mereka menuju ruang yang di sebutkan lek Soleh tadi.
David seketika terperanjat begitu mendapati Jessika tengah berada disana. Mengurus kebutuhan neneknya.
Ia juga menangkap keterkejutan Jessika saat melihat ia, adik dan papanya berkunjung ke sana.
Ia memilih untuk duduk dulu setelah bersalaman dengan mbok Yah yang masih di infus, sementara Leo terlihat biasa saja dan ikut duduk di sampingnya.
"Kasihan sekali" batin David yang melihat ruang perawatan neneknya Jessika saat ini.
Terlihat ada sebuah ranjang kosong di sisi timur, pertanda jika mereka harus berbagi ruangan dengan orang lain.
Juga karpet hijau diatas keramik putih dengan dua bantal, yang ia yakini menjadi tempat istirahat Jessika.
Terlihat beberapa tas dan juga kresek yang entah isinya apa berbaris rapi diatas karpet itu.
Sesekali dia mencuri pandang kepada Jessika, namun ia terlihat membuat muka dan lebih meladeni pertanyaan yang di lontarkan papanya.
Leo
Dia hanya bisa memasang wajah biasa saja, guna menutupi rasa bersalahnya kepada Jessika.
Toh dia kini sudah ikhlas jika David setelah ini akan memperjuangkan cintanya kembali.
Ia akan fokus menyelesaikan masalahnya dengan Bella.
Ia juga merasakan kasihan dengan keadaan Jessika, ruang yang mereka tempati jelas menerangkan semuanya. Mereka dirawat di kelas 2.
"Jessika bahkan tidak mau menatapku" batin Leo.
Ia merasa kasihan dengan Jessika, " maafkan aku Jes" lirihnya dalam batin.
*****
Karena melihat mbok Yah dan pak Edy bercakap-cakap dan berinteraksi dengan riangnya, ia berniat untuk keluar sebentar pumpung ada orang yang menemani neneknya.
"Pak saya mau keluar sebentar, pumpung ada njenengan disini soalnya kalau nunggu lek Soleh masih lama" pinta Jessika yang tidak punya pilihan lain.
Ia harus membeli sarapan dulu, dan berniat ingin ke bagian administrasi untuk menanyakan total biaya.
"Oh iya tinggal saja, ada kami disini" jawab pak Edy tersenyum.
"Terimakasih pak, Wek aku tinggal bentar ya" ucapnya.
"Ojo sui sui( jangan lama-lama) jawab mbok yah.
Ia hanya mengangguk," permisi"
Saat melewati Leo dan David ia tak menoleh sedikitpun, fix hatinya masih sakit kepada mereka berdua.
Leo memberitahu David, menunjuk Jessika dengan dagunya seolah berkata," kejar dia".
David pun mengangguk tanda paham.
"Kau sombong sekali" David yang berada di belakang Jessika masih ikut berjalan, mencoba berseloroh.
Jessika menoleh sebentar dan begitu mengetahui jika itu David, salah satu orang yang ingin ia hindari ,ia menambah kecepatan langkahnya.
David hanya tersenyum penuh arti sambil tetap mengikuti langkahnya.
"Kantin?" David bermonolog dalam hatinya.
"Bu nasi campur di bungkus ya, sama air mineralnya sebotol" ucap Jessika.
David masih menunggu dan melihat apa yang di lakukan Jessika. Ia begitu bodoh, harusnya dia membawakan makanan tadi.
Namun karena ide sang papa ia terpaksa menurut.
Jessika lebih memilih membuka ponselnya, guna menghindari tatapan David yang tak baik untuk jantungnya.
"Hp baru nih" ucap David begitu melihat Jessika mengeluarkan benda pipih dari sakunya.
Jessika hanya memutar bola matanya malas, memilih tak menjawab.
__ADS_1
"Uang pas aja nduk" ucap ibu penjual makanan di kantin tersebut.
"Gak ada buk" jawab Jessika yang memang tidak memiliki uang lain.
"Berapa buk?" David bertanya
"42 ribu mas, maklum masih pagi belum ada penglaris jadi belum ada kembalian" jawab ibu itu.
David membuka dompetnya dan mengeluarkan uang pecahan warna biru dengan gambar I Gusti Ngurah Rai , jumlah yang lebih kecil dari milik Jessika.
"Ini aja buk, gak usah kembali" ucap David
"Terimakasih banyak mas, ini pacarnya ada uang lebih kecil mbak"ucap penjual makanan.
"Pacar?" Jessika tanpa sengaja mengatakan kata dalam hatinya.
David hanya tersenyum," maafkan pacar saya ya buk, mari" David merangkul pundak Jessika mengajaknya berlalu dari tempat itu.
Jessika menggoyangkan pundaknya, pertanda menolah rangkulan David.
"Jaga sikapmu" Jessika mulai merajuk.
"Ok ok, kamu marah sama aku" tanya David sambil berjalan, kali ini ia tidak berada di belakang Jessika, namun beriringan.
"Gak kok biasa aja" jawabnya ketus.
"Kamu cemburu waktu itu aku di peluk wanita?" David semakin menggoda Jessika
Jessika menghentikan langkahnya," itu urusan kamu, ngapain sih ngikutin aku. Pergi sana"
Ia semakin kesal dengan David, sejurus kemudian ia meninggalkan David yang berkacak pinggang memandangi Jessika.
"Huft, sepertinya ini akan sulit" David tersenyum begitu melihat ekspresi Jessika, yang memang cemburu dan marah kepadanya.
Dari kejauhan ia masih membuntuti Jessika, sepertinya ia tidak mengarah ke ruangan mbok Yah.
Ia lantas mengikuti kemana wanita pujaannya itu pergi.
Loket pembayaran
Tulisan berwarna kuning itu menjadi tanda bahwa Jessika berada di tempat yang benar, ia berniat ingin mengetahui berapa jumlah yang harus dia bayar.
"Selamat pagi mbak" Jessika menyapa ramah petugas itu.
"Pagi, ada yang bisa di bantu" jawab petugas itu sopan.
"Maaf mbak, saya mau tanya besaran biaya yang harus dibayar"
"Atas nama?"
"Kamsiyah"
"Sebentar ya"
Ia menunggu agak lama, sambil menyapukan pandangannya ke arah lain.
"Per hari ini Tujuh juta seratus ribu mbak, rencana akan pulang kapan?"
"Besok mbak, dokter bilang besok sudah bisa pulang"
"Baik, sesuai rincian, kamar, penggunaan obat dan infus serta perawat dan lain lain per hari ini segitu mbak, besok akan di sesuaikan kembali sesuai dengan penggunaan"
"Baik mbak terimakasih"
Jessika berjalan lesu, bisa diperkirakan besok akan menambah menjadi delapan juta, bisa saja.
David menghampiri loket yang baru saja di datangi Jessika, ia penasaran dengan wajah lesu Jessika yang nampak setelah mendatangi tempat itu.
"Permisi mbak, mbak barusan bertanya soal apa ya"
Namun petugas itu tak langsung menjawab, ia justru terpesona dengan wajah tampan David.
"Mbak"
"Mbak"
"Mbaaaak" panggilnya agak keras.
"Eh iya mas, gimana maaf" jawab petugas itu yang melongo karena terhipnotis ketampanan David.
"CK, barusan mbak yang pakai kaos hitam tanya soal apa?" David berdecak kesal karena petugas itu malah melamun.
"Oh itu biaya perawatan atas nama kamsiyah" ucap petugas itu salah tingkah.
"Berapa mbak?" David penasaran.
"Mas ini siapa?" petugas itu curiga tak mau memberitahu orang lain.
"CK, saya keluarganya juga. Ingin membantu"
"Oh, rencana pulang besok. Per hari ini Tujuh juta seratus ribu untuk biayanya. Besok akan di rekap kembali sesuai rincian" terangnya.
"Bisa bayar pakai ini" David menunjukkan kartu warna hitam dengan tulisan namnya di kartu sakti itu.
"Bisa mas" angguk petugas itu, bisa dipastikan David bukanlah orang biasa. Mengingat kartu itu hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang.
"Gesek 10 juta, bilang dari donatur kalau ditanya. Dan ini untuk kamu" ucap David menyerahkan dua lembaran merah untuk petugas itu.
" Kalau besok lebih gimana mas?"
"Kamu kembalikan saja kepada dia, ingat jangan bilang bilang. Kamu atur saja"
Petugas itu hanya manut, selain dapat keuntungan toh ini bukan kejahatan. Malah sebaliknya, David membantu.
"Simpan nomerku, jika kau ingin bertanya sesuatu" David menyerahkan kartu nama.
David Syailendra
Dirut PT. Darmawan Group
+6281732xxxxxx
Petugas itu makin terkejut nyaris pingsan, ternyata benar David bukan orang sembarangan.
Dia adalah pemilik perusahaan dari beberapa produk kecantikan, makanan dan barang barang lain yang biasa ia beli di supermarket.
__ADS_1
"Baik tuan" ia menjawab cepat, tidak mau mencari masalah.