
.
.
.
Sudah sebulan berlalu, Jessika kini tidak memiliki pekerjaan karena namanya yang sudah terlanjur menjadi jelek karena kejadian sebulan yang lalu itu.
"Nduk kamu kenapa sekarang jadi sering melamun" tanya mbok yah yang melihat Jessika sering murung belakangan ini.
Jessika menoleh kepada pemilik suara itu," Wek aku ingin kerja seperti dulu lagi, aku ingin bisa membahagiakan Mak wek" ucapnya dengan suara bergetar karena menahan air matanya.
Mbok yah menggenggam kedua tangan cucunya itu,"Mak wek akan bahagia jika melihat kami bahagia, tidak sedih seperti ini".
"Aku tidak melakukannya Wek, tapi kenapa mereka menghukum ku seperti ini" ucapnya sambil menangis.
Mereka berdua menangis dalam kesedihan mereka, meratapi masib yang sering tidak memihak pada mereka. Makin bersabar makin besar Tuhan menguji mereka.
****
Leo tidak bisa menghubungi ponsel Jessika, ia juga tidak sempat meminta nomer kedua sahabat Jessika itu. Leo mengacak rambutnya frustasi, sambil mengumpat kesal.
Sudah sebulan ini ia tidak bisa menghubungi Jessika, bahkan setelah berita itu muncul ia seperti lost contac dengan Jessika.
__ADS_1
Jessika sengaja mematikan ponselnya, ia tidak ingin melihat berita berita tidak benar yang memojokkan dirinya lewat portal media sosial yang sudah di unggah oleh putri.
Tok tok tok
suara ketukan pintu dari luar membuat Leo menoleh sebentar, "masuk" ucapnya sambil kembali duduk di kursi kantornya.
"Ada apa tuan, tadi sepertinya anda memanggil saya" ucap Tomy formal pada Leo saat di kantor.
"Aku ingin meminta bantuan mu Tom" ucap Leo.
Mereka berbicara tampak serius dan sesekali Tomy mengangguk, tanda ia mengerti ucapan tuannya.
****
Dan sepertinya Tuhan memberinya jalan, salah satu temannya yang ada di kota S memposting tentang lowongan pekerjaan di tempatnya bekerja, Jessika melihat sebentar info yang termuat di dalamnya.
Disana tertera jika dibutuhkan seorang karyawan dengan posisi sebagai pelayan cafe, juga diterangkan dengan gaji atau upah yang lumayan.
Seketika Jessika menyimpan contac person yang tertera di sana, meski hatinya belum yakin jika ia harus meninggalkan neneknya seorang diri di kampung. Namun bagaimanapun juga hidup terus berlanjut, tidak peduli apapun yang terjadi.
"Wek!" panggil Jessika mencari cari keberadaan neneknya.
"Yo nduk ada apa, Mak wek di belakang" ucap mbok yah dari dalam dapur.
__ADS_1
"Wek ini temenku kasih info jika ada lowongan kerja, tapi di kota S" ucapnya pada neneknya.
"Kenapa jauh sekali, kerja apa disana" tanya mbok yah.
"Jadi pelayan di cafe Wek, cafe itu semacam tempat makan orang orang kaya" jawab Jessika bersemangat.
Mbok yah terlihat sedih seperti kurang setuju, pasalnya Jessika tidak pernah pergi jauh dan juga disana tidak ada sanak saudara. Mbok yah tidak tega membiarkan Jessika pergi merantau.
"Nduk meskipun kamu nganggur Mak wek tidak masalah, kamu bisa ikut jualan Mak wek di pasar, kamu gak usah dengerin omongan orang orang diluar sana" ucap mbok yah.
"Wek, Allah gak akan mau merubah nasib hambanya jika hambanya sendiri tidak mau berusaha merubahnya. Jessika sudah dewasa, Jessika bisa jaga diri" jawab Jessika.
Mbok yah hanya menangis, ia tak rela jika harus di tinggalkan Jessika.
"Nduk Mak wek khawatir sama kamu disana, kamu tinggal sama siapa nanti" ucapnya sambil menangis.
"Mak wek tenang saja, Mak wek ingat Vera teman SMP yang rumahnya di dekat stasiun itu?, dia yang kasih Jessika info kerjaan ini" ucap Jessika meyakinkan.
Wajah mbok yah berubah sedikit ceria setelah mendengar nama salah satu teman Jessika yang dia ingat.
"Aku nanti akan kost bareng dia, nanti kalau aku sudah dapat gaji aku akan belikan HP Mak wek, biar kita bisa telponan" Jessika berucap meyakinkan.
"Mak wek sebetulnya tidak tega, tapi jika itu sudah menjadi niatmu Mak wek hanya bisa mendoakan semoga Allah melindungi kamu nduk, soga Allah mengangkat derajat kita lewat pilihan mu ini" ucap mbok yah panjang.
__ADS_1
" Amin, untu