
.
.
.
"Aku sedang ingin bercinta karena, mungkin ada kami disini aku ingin!"
( Lirik lagu Ahmad Dhani - Sedang Bercinta)
David terpaksa mengalah setelah berdebat kecil dengan istrinya perihal suhu AC dikamarnya, diluar sedang hujan udara dingin menusuk kulit, ia berniat mematikan pendingin ruangan itu.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Jessika yang membuat David berhenti hendak menyambar remot AC di nakas samping ranjang mereka.
"Dingin banget sayang" wajah David memelas, ia merasa kulit wajahnya sudah kaku.
"Aku kepanasan mas!" Jessika kesal, ia memang tak bohong soal dirinya yang kerap bersimbah keringat saat tidur.
David bukannya tak tahu bila semenjak istrinya itu hamil, kebiasaannya malah berbalik seratus delapan puluh derajat dari saat ia belum berbadan dua.
"Kalau mas matiin AC, aku tidur diluar!" rajuk Jessika tak main-main.
"Ok ok aku nyalain aja" entah ini udah kali keberapa David musti mengalah, tentu saja David sangat menyayangi Jessika. Lebih baik kedinginan memeluk istrinya daripada ditinggalkan Jessika sendiri, no way!
Jessika memiringkan tubuhnya ke arah kanan, David berada di belakangnya memeluk posesif. " Jadwal periksa kapan?" David mencium rambut Jessika yang selalu wangi, seraya menyangga kepalanya menggunakan satu tangannya.
"Minggu depan!" jawabnya sambil memejamkan mata.
"Sayang dingin banget, kamu gak pingin apa!" David merasa benda pentingnya di bawah sana mulai sesak, bersentuhan dengan istrinya selalu membuat dirinya bagai terkena sengatan arus listrik.
Jessika membalikkan badannya, ia suka tak tega bila melihat David memelas. Bibir mereka menempel, David menyapukan lidahnya ke seluruh bagian mulut Jessika yang bau mint. Ritual rutin menggosok gigi dan mencuci muka tak pernah di tinggalkan oleh Jessika.
Ciuman mereka berlangsung lama, saat nafas Jessika sudah mulai tersengal David mulai melepaskan tautannya. David membuka bajunya, " cih tadi katanya dingin !" Jessika mencibir dalam hati.
Jessika memandang tubuh suaminya yang makin menggoda, lekukan dan garis otot terpahat jelas disana. Mungkin suaminya itu cocok jadi model obat kuat pikirnya, hatinya terkikik geli di sela-sela kegiatan panas mereka.
David lebih berhati-hati dalam memperlakukan istrinya dengan perut yang membuncit itu, " aku akan pelan!" bisik David saat ia tengah melucuti pakaian yang dikenakan istrinya, detik kemudian ia melahap kembali bibir istrinya yang seolah sudah menjadi candu untuknya.
Ia menjejaki tiap inci tubuh montok istrinya, memberikan tanda kepemilikan disana-sini. ******* meluncur dari bibir Jessika, membuat David seperti mendapat dukungan. Ia menuju dua gundukan dengan lingkaran yang terlihat makin gelap di puncaknya, menyambar dengan rakusnya. Membuat Jessika terbang ke langit.
Jessika menatap sendu suaminya, ia sudah tak tahan lagi begitu juga dengan David tak sabar ingin menerobos bagian inti istrinya itu. Jessika berpindah posisi yang lebih menyenangkan untuk ibu hamil, dan saat David hendak memasukkan benda penting miliknya ponselnya berdering.
"CK!" David mendecak kesal, Jessika diam seraya menunggu," Tomy sialan!!" umpat David degan keadaan polos, berada di samping istrinya.
"Apa?" suara David jelas memekakkan telinga Tomy di sebrang sana, Jessika terkekeh.
"Pergilah, tak usah kembali!" kesal David.
"Ada- ada saja!" David menggerutu , kemudian mematikan ponselnya. Tak mau lagi mendapat interupsi dari manapun.
Sejurus kemudian ia memandang istrinya yang sudah berbaring miring dengan senyum menggoda," akan aku tuntaskan!" David menyambar bibir basah Jessika, pergulatan panas yang tiada akhir itu menjadi kegiatan mereka malam ini.
__ADS_1
***
Tomy tak bisa tidur malam itu, ia mengirim pesan kepada Eka.
Sudah tidur?
Belum
Aku tak bisa tidur, aku ingin makan nasi goreng di depan stasiun.
Tomy lama menunggu balasan dari Eka, sambil menunggu ia menelpon David meminta ijin, ia kini harus ijin dulu sebab Jessika sering memintanya untuk membelikan ini itu. Ia bahkan heran, siapa sebenarnya bapak dari orok yang di kandung istri bosnya itu. Mengapa justru dia yang repot.
Ok, aku udah siap, balas Eka membuat Tomy tersenyum.
Jalanan lengang, karena hujan deras baru saja berhenti. Meskipun gerimis masih terlihat. Pukul 22.17 agaknya sudah malam, tapi ibu Eka yang sudah tahu bila anaknya telah dilamar Tomy secara simbolis sudah tidak khawatir lagi. Sesekali tak apalah.
"Kamu tumben gak bisa tidur, bu bos gak minta aneh aneh lagi?" Eka bertanya sesaat setelah ia menutup pintu mobil. Tomy menatap Eka yang sungguh memukau malam ini, jeans ketat yang membuat bokong wanita itu sungguh menggoda.
"Enggak, mereka lagi buat adonan!" ucap Tomy.
"Malam-malam begini?"
"Mau buat apa dia?" ucap Eka polos, tak nyambung dengan ucapan Tomy.
Tomy mengendikkan bahunya, Eka tak menanggapi. Ia akan menanyakan adonan yang dibuat Jessika besok.
Hujan tiba-tiba turun kembali, " yah hujan?" ucap Eka.
"Iya aku tahu, tapi gimana kita turunnya. No lihat!" Eka menunjukkan genangan air setinggi betis orang dewasa, buruknya drainase membuat jalanan di depan stasiun itu banjir.
"Hah!" Tomy mendelik, demi melihat apa yang tersaji di depan matanya.
Hujan lebat nampaknya mengguyur desa itu, tak ada payung atau peralatan mendukung yang bisa ia gunakan disana untuk menuju kang nasi goreng di sebrang jalan.
Eka diam, Tomy diam mereka sama - sama diam. Hanya suara guyuran air hujan yang jelas, mereka berdua diam di dalam mobil.
Suasana dingin membuat pikiran Tomy melayang, apalagi perempuan disampingnya sudah menjadi tunangannya. Tiba-tiba ide gila muncul," kita makan di hotel saja, aku benar-benar ingin nasi goreng!"
Tomy melajukan mobilnya membelah derasnya hujan, Eka heran yang ngidam itu Jesika apa kekasihnya. Lagipula, bila ingin nasi goreng kenapa gak minta bik Darmi buat siapkan.
"Kan ada Bik Darmi?"
"Aku mau makan diluar sama kamu!"
Hotel bintang tiga itu menjadi pilihan Tomy, hotel yang terdekat. Tapi agaknya otak Tomy berimprovisasi malam itu, ia malah check in berdua bersama Eka.
"Katanya mau makan, kok?" Eka mengernyit.
"Aku ingin makan di kamar, kau tidak usah takut. Aku tidak akan memakanmu!" wajah datar itu nampak meyakinkan.
Setelah mendapat kunci mereka menuju kamar yang sudah mereka booking, Tomy memang memesan nasi goreng untuk diantar ke kamar malam itu. View pemandangan lampu yang berkelap-kelip dari atas kamar mereka terlihat memukau mata Eka. Dan jujur saja, ini pertama kalinya Eka berada di hotel dengan seroang pria.
__ADS_1
Tomy sibuk dengan ponselnya, Eka Kikuk. Bingung mau apa, sejurus kemudian terdengar ketukan pintu. Rupanya petugas Hotel yang mengantar pesanan mereka.
"Kita makan dulu!" ajak Tomy.
Tomy rupanya tak bohong, ia benar-benar lapar. Sepiring nasi goreng lezat dengan berbagai topping itu licin dan tandas tak bersisa.
"Kamu lapar beneran?" tanya Eka yang masih menyuapi mulutnya dengan makanan itu.
"Ini enak, cepat habiskan!, setelah ini aku akan memakanmu!" ucapnya lalu pergi.
Eka mendelik, ngeri betul ucapan kekasihnya itu. Tomy tak pamit hendak kemana, Eka kesal jika datang kemari hanya untuk ditinggal ia jelas tak mau.
Ini sudah malam, Eka ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Ada berbagai peralatan mandi complete rupanya, Eka membasuh mukanya, mencuci tangan, serta menggosok gigi.
" Hotel udah kayak toko aja, semua ada!" Eka terkikik geli. Tak sengaja kemejanya terkena air saat ia membasuh mukanya, " CK aduh, basah deh. Mana ga bawa baju. Ya, kali aku tahu kalau mau nginep di hotel" Eka mendecak kesal, tak mungkin mengenakan kemeja basah. Ia rawan masuk angin.
Eka melepas bajunya dan menjemurnya di sofa kamar itu, ia kini hanya menggunakan tengtop yukensi ( you can see🤣) lalu berbaring, merasakan kasur yang terlihat kenyal itu.
"CK, Tomy kemana sih!" ia menggerutu, habis kenyang terbitlah ngantuk. Eka tak terasa malah terbawa mimpi. Menunggu membuatnya menguap berkali-kali.
Tomy tengah merokok di smooking area yang berada di dekat lift, kepalanya mendadak pusing saat melihat Eka yang tampil cantik malam itu, apalagi suasana hujan yang seolah mendukung dirinya. Membuat sisi kejantanannya bangkit.
Ia pria normal, sejak berada di dalam mobil tadi Tomy ingin sekali merengkuh Eka kedalam pelukannya. Tapi, ia masih belum yakin. Payah.
Ia menggerus batang rokok itu, mengira pasti wanita di dalam kamar itu telah selesai makan. Dan saat membuka pintu, ia membelalakkan matanya melihat Eka terlentang dan hanya menggunakan singlet ketat yang membuat dadanya menyembul. Membuat kejantanan Tomy menegang .
"Oh tidak!" Tomy mendadak kebingungan sendiri, tapi tubuh bodoh itu malah mendekat ke arah Eka. Ia ragu, tapi entah mengapa ia malah berbaring di samping Eka. Tomy memeluk Eka dari belakang, wanita itu bangun. Eka menatap Tomy terkejut, sayup-sayup masih terdengar rintikan hujan yang masih turun dengan derasnya.
Tomy memandang Eka yang semakin terlihat cantik saat berada satu senti di depan matanya, Tomy menempelkan bibirnya, melahap bibir Eka dengan lembut. Wanita itu terlihat memejamkan matanya, tak menyangka Tomy akan menyentuhnya.
Ciuman itu kian memanas, tangan Tomy bahkan sudah bergerilya, meraba tengkuk Eka menyusuri bokong dan punggung wanita itu. Eka yang mendapat perlakuan hangat itu tak kuasa menahan gejolak yang ada, ia hanya manusia biasa dengan segala kekurangannya, tak mampu menolak tawaran nikmat dunia yang memabukkan.
Tomy melepas ciumannya saat Eka sudah kehabisan nafas, menatap sendu wanita itu." Bolehkah?" tanya Tomy, ia sudah gelisah tatkala benda penting miliknya sudah sesak, meronta-ronta ingin memasuki liang penuh kenikmatan itu.
Tanpa menunggu jawaban Eka, Tomy melucuti pakaian Eka. Dua benda yang selama ini hanya bisa Tomy bayangkan di balik baju ketat Eka, kini bisa ia sesap. Erangan dan lenguhan Eka bak menjadi pemandu sorak di telinga Tomy. Entahlah, Eka hanya berfikir ia dan Tomy akan bersama, ia tak dapat menghalau buncahan rasa surgawi yang bisa ia nikmati di dunia ini.
Gundukan itu sudah dilahap rakus oleh Tomy, pakaian mereka berserakan tak tertata. Tomy mengungkung Eka dengan tanpa melepaskan ciuman mereka.
Eka menatap tubuh penuh otot milik Tomy yang jarang terekspos itu, liat dan padat. Dada bidangnya juga terpampang rapi dengan perut sixpack yang kokoh.
Dan malam itu, menjadi malam yang panjang untuk Eka dan Tomy. Bergulat seirama dengan derasnya hujan yang turun, tak mampu menepis nikmat yang melenakan.
Dua manusia itu, kini merasa saling menyayangi, saling memiliki. Disaat penyatuan mereka yang hampir mencapai *******, Eka membisikkan sesuatu" keluarkan diluar!"
Tomy mendelik, ia tak percaya Eka rupanya bukan se amatir seperti yang ada dalam pikirannya. 🤣🤣🤣
.
.
.
__ADS_1
.