Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 137. Kesedihan yang begitu dalam


__ADS_3

.


.


.


"Dendam ada dimana-mana, menyusup ke rongga-rongga hati manusia yang fakir kasih. Membuat dirinya terbalut luapan kebencian".


Jack dan Victor telah sampai di kediaman David, rumah besar itu kini menjadi acak adul, lantaran ke empat pria itu tengah mengobrak-abrik tiap sudut, tiap ruang, dan tiap inci bagian rumah itu.


Mencari tahu, hal hal yang bisa menjadi petunjuk.


"Bagaimana?" tanya Leo kepada Jack, yang baru turun dari tangga.


Namun Jack hanya menggeleng, menandakan pencariannya belum membuahkan hasil.


"Bos, lihat ini!" Victor menunjukkan sebuah ponsel yang telah remuk.


Mereka yakin, bila ponsel tersebut adalah milik wanita ular itu.


Leo mengambil ponsel tersebut.


"Pasti ada sesuatu dirumah ini!!" David berkacak pinggang, seraya memutar 180 derajat.


.


.


Sementara Tomy masih gencar berlari, bak anak kijang ia menerjang pohon pohon disana.


Nafasnya memburu, sialnya dia benar benar seorang diri. Tanpa senjata, tanpa perlengkapan lain. Benar benar kosong.


Ia yakin, ia tengah berada di kawasan yang jauh dari penduduk. Semacam hutan kecil.


"Sial!" Tomy mengumpat, saat melihat ponselnya mati.


"Bagaimana caranya, ia bisa menghubungi rekan rekannya"


Ia melihat sebuah pondok tua, ia bergegas masuk ke pondok itu. Berusaha bersembunyi sementara, dari kejaran musuh yang belum ia ketahui itu.


.


.


Saat ke empat orang dirumah David itu masih mondar mandir, tiba tiba terdengar deru mobil.


"Siapa itu?" Jack mengintip kedatangan mobil itu dari kaca.


Merek melihat sebuah mobil, yang belum pernah mereka ketahui plat nomer kendaraannya.


" Jangan jangan salah satu dari mereka!" tukas Victor.


Mereka berempat kemudian bersiap dengan senjata masih masing.


Ya, ini jelas bukan urusan sepele. Sudah hal wajib, mereka harus mempersenjatai diri mereka dengan senjata api.


Mereka berempat tengah bersiap di posisi masing masing, begitu mendengar suara pintu mobil yang terbuka.


Derap langkah kaki yang kian dekat, membuat mereka saling memberikan tatapan untuk bersiaga.


Dan saat pintu itu terbuka,


"Jangan bergerak!" ucap Victor, menodongkan senjata ke arah dua orang tersebut.


Membuat semua yang disana terperanjat.


"Adrian!!!" ucap ke empat pria itu bersamaan.


"Hey, turunkan dulu senjata kalian" ucapnya dengan posisi tangan yang masih di angkat.


Ya benar, rupanya Adrian turut bertolak kesana dengan membawa pasukan mereka.


Dan tentu saja, bersama Vera. Wanita cantik, pemegang sabuk hitam. Bisa jadi, lawan mereka merupakan lawan kawakan.


" Breng sek kau!!" umpat David kepada Adrian.


"Kenapa kau tidak memakai mobil biasanya?" tanya Jack.

__ADS_1


"Hey, apa kau lupa? aku bahkan baru pertama menginjakkan kakiku dirumah bos"


Memang benar, mereka sudah lama tidak bertemu. Apalagi, semenjak tugas assiten sudah berpindah kepada Tomy.


"Sudah, jangan berdebat!" ucap Vera.


"Tuan, lebih baik kita segera mencari Tomy!!" ucap Vera, mencoba melerai perdebatan tak penting yang memangkas waktu mereka.


"Tapi ponsel Tomy tak bisa dihubungi!" Leo pesimis.


"Oh ayolah, untuk inilah aku datang!" Adrian berbangga diri, seolah ia adalah oase di padang pasir.


Ke empat pria bersenjata itu, menatap Adrian penuh tanda tanya.


"Berhenti menatapku seperti itu!"


"Apa kalian lupa, masing-masing ponsel kita kan kita beri alat khusus bukan?"


"Jadi biarpun kita hilang di lubang semut, asal ponsel itu masih ada bersama kita. Kita bisa ditemukan!" ucap Adrian mengingatkan.


Astaga, bahkan di saat genting David dan Leo melupakan hal krusial ini. Tentu saja apa yang dikatakan Adrian itu, benar.


Leo tersenyum, begitupun Jack dan Victor.


"Jadi apalagi yang kita tunda, let's go!!_ ucap Vera.


Adrian langsung mengeluarkan peralatan canggihnya, yang sudah terprogram dengan apik.


Ia mencoba mengecek lokasi terkini, keberadaan Tomy.


"Dimana ini!" Adrian kini tengah duduk di dekat Vera, sementara ke empat pria lainnya tengah berdiri mengitari mereka dari belakang.


Terfokus di layar laptop milik Adrian.


"Coba kamu perbesar!" pinta Vera.


"Gila!, ini di hutan dekat pesisir" ucap Vera nampak terkejut.


"Kau yakin?" tanya David.


"Sangat yakin!" Vera menatap suami sahabatnya itu.


"Hey tuan, apa kau lupa. Vera adalah orang asli pulau ini"


"Bisa dikatakan, dia orang pribumi" Adrian terkekeh.


Pletak


Vera menjitak kepala kekasihnya itu.


"Auw, sakit sayang" rengek Adrian.


Jack, Victor serta Leo hanya memutar bola matanya malas.


Oops, kekasih??


Ya, mereka telah menjadi sepasang kekasih selama kurang lebih 6 bulan.


Rupanya, playboy sekalian Adrian mampu di taklukkan oleh gadis tomboy seperti Vera.


"Baiklah, Jack kau atur anggotamu!"


"Victor, pastikan persenjataan kita lengkap!"


"Dan kalian berdua, pantau terus pergerakan Tomy" pinta David kepada Adrian dan Vera.


Mereka semua mengangguk paham.


"Semoga dia baik baik saja" David memberikan komando kepada semua anggota.


"Leo, ikut aku dulu. Aku ingin menemui istriku dulu. Sebelum kita mencari Tomy"


"Baik Bang"


***


Mereka semua ternyata ikut menuju rumah neneknya Jessika terlebih dahulu.

__ADS_1


Bahkan Vera menolak untuk pergi terlebih dahulu, ia ingin berjumpa dengan sahabatnya itu.


Namun saat mereka tiba, justru hal tak menyenangkan yang harus mereka lihat.


Jessika terlihat termenung, dan enggan mengeluarkan suaranya.


Ia bahkan tak mau memakan makanan apapun, hingga sore ini ia juga masih diam, pikirannya kosong.


Vera yang ingin menemui sahabatnya itu, menjadi tidak tahan.


"Kami sudah bujuk dia, tapi.." ucapan Eka menggantung.


Vera yang melihat Eka tertunduk, kini meraih dagu wanita itu.


"Kita semua harus bersabar, karena persoalan Jessika bukan hanya tentang kematian neneknya"


Arin dan Eka yang bersama Vera, saling pandang.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Vera menghembuskan nafasnya.


"Jadi sebenarnya....."


.


.


David terlihat akan memasuki kamar yang di huni oleh istrinya.


Hatinya mendadak nyeri, bak di sayat oleh sembilu.


Lek Soleh masih setia mengikuti David dari belakang.


"Dokter bilang, Jessika mengalami syok berat"


Membuat langkah David terhenti, lalu berbalik ke hadapan Lek Soleh.


"Maafkan aku Lek" kini mata David berkaca-kaca.


"Sepertinya dia begitu tertekan, aku tidak sampai hati bila sesuatu akan terjadi nanti" seorang pria jenaka, yang tak pernah sepi kelakar kini terlihat rapuh.


Ia bahkan menangis dengan tak tau malunya, tak bisa menahan kesedihan yang begitu dalam.


David memandang istrinya, yang masih terpaku dengan tatapan kosong itu, dari ambang pintu.


Ia memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam.


" Tolong jaga istriku lek. Akan aku bereskan mereka yang telah berani berbuat seperti ini, kepadaku!"


David tak mau bila istrinya nanti histeris saat melihat dirinya, ia yakin jiwa istrinya itu telah terguncang.


Mengingat kesalahpahaman yang tercipta, begitu rumit dan kompleks.


Mendapat dua persoalan besar dalam waktu bersamaan, jelas itu menjadi hal yang tak mudah.


"Aku pergi dulu Lek!"


****


Leo menatap kakaknya yang berjalan lesu, dan kehilangan semangat juang.


"Bagaimana?" tanya Leo.


"Entahlah Leo, jiwa Jessika sepertinya terguncang hebat!!" David terlihat menahan air matanya.


"Badai akan segera berlalu, kita bawa wanita itu untuk menjelaskan!!!" ucap Leo menepuk pundak kakaknya.


David menggeleng, " aku tidak tahu, harus dengan cara apa membuat istriku kembali percaya Leo"


"Istriku tentu saja tak mungkin langsung percaya, sekalipun kita merobek mulut wanita *** *** itu!"


"Keadaannya benar benar diluar kendaliku"


"Dan siapa sebenarnya mereka?, mengapa sampai membuat hal selicik ini!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2