Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 168. Kebahagiaan yang Sempurna


__ADS_3

.


.


.


Pak Edy terpaksa mengemudikan kendaraannya sendiri demi keselamatan menantu dan calon cucunya. Di temani Eka, Jessika merasakan sakit yang kian menjadi akibat kontraksi. Ponsel David berkali-kali tidak bisa dihubungi. Entah kemana pria itu, sudah sore belum juga kembali.


Bik Darmi tinggal dirumah sementara waktu, takut bila David pulang dan tidak ada orang.


"Aduh Ka, makin nyeri rasanya!" ucap Jessika yang sudah berkeringat.


"Kamu atur nafas nak, tarik nafas keluarkan dari mulut!" pak Edy mencoba mengingat memori, saat ia juga memberikan kekuatan pada istrinya saat hendak melahirkan David.


"Iya Jes!" Eka turut panik, sejurus kemudian ponselnya berdering.


Dimana?, aku di airport nih!


Rupanya suaminya menelpon, ia bahkan melupakan soal suaminya yang akan pulang sore ini.


"Sayang, maafkan aku. Aku dijalan, Jessika mau melahirkan!"


Apa, mau kerumah sakit mana?. Ya sudah, aku langsung kesana saja.


"Iya cepetan ya, dirumah sakit Al- Huda hati - hati sayang. Aku kangen banget!"


"Miss you, muaaach" Eka mencium ponselnya hingga berbunyi, seolah layar ponselnya itu adalah bibir Tomy.


Pak Edy menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya di situasi genting begini mereka ber emuach- eemuach ria. Pasti jika Tomy tahu, ada dirinya disana. Ia akan malu setengah mati.


Satu jam mereka baru sampai," Mbak tolong, cepat. Udah pecah ketuban ini teman saya. Ah elah, malah bengong lagi!" ucap Eka mendamprat dua orang perawat yang memandangi Eka.


"Ka, itu lipstik kamu di atas bibir sama hidung?" ucap Jessika seraya meringis menahan sakit.


Eka mengaca di kaca jendela mobil, " Astaga?" Eka terperanjat, pasti lantaran dia yang mencium layar ponselnya tadi. Pantaskah saja dua petugas itu melongo memandangi Eka.


"Mari Bu" Jessika sudah dipindahkan, dan tengah berbaring diatas brankar. Ia di dorong menuju ruang poli kandungan. Lebih tepatnya ke ruang persalinan.


"Ka ayo!!" ucap pak Edy.


"Oh iya Pak", ucap Eka agak berlari kecil mengikuti langkah Pak Edy, sesaat setelah pak Edy menyerahkan kunci mobil kepada petugas disana. Kebetulan petugas itu tahu siapa pak Edy.


Mereka menyusuri lorong, membawa Jessika ke ruang dengan fasilitas terbaik disana.


.


.


Entah mengapa David perasaannya tidak enak sedari tadi. Suami Jessika itu, men-switch on Ponselnya, yang baru ia charge di ruangan kerjanya. Ia mengusap ponselnya. Menggulir benda pipih itu, ada banyak sekali pesan. Ia membuka salah satu pesan yang menerangkan, bila Istrinya tengah dibawa kerumah sakit untuk melahirkan.


"Oh sial!" David mengumpat, tak seharusnya ia mencharge ponselnya sambil mematikan benda itu.

__ADS_1


"Jack, antar aku ke rumah sakit. Istriku mau melahirkan!" tukas David.


Jack terperanjat. Secepat kilat Jack langsung menyambar kunci mobil itu," Kenapa mendadak sekali bos?" jawab Jack.


David tak menyahut, ia merasa panik. Pasalnya HPL Jessika masih sekitar 4 hari lagi. Tapi dia lupa satu hal, jika bayi lahir selalu membawa hari sendiri- sendiri.


Satu jam kemudian ia baru sampai di rumah sakit. Ia melihat papanya, tengah menunggu di luar.


"Pa..." ucap David sambil berlari.


"Kami ini kemana aja sih, istri mau lahiran ponsel gak aktif!" gerutu pak Edy kepada anaknya itu.


"Aduh pa, ngomelnya nanti aja. Sekarang mana Jessika, aku mau nungguin dia lahiran!"


"Ya di dalam!" pak Edy mendengus kesal.


David lalu ngeloyor masuk ke ruangan. D


Saat berada di ruang persalinan itu, David melihat Eka yang tengah menemani istrinya.


"Lah, itu suami kamu Jes!" ucap Eka , sembari menatap ke arah David. Eka bergeser, memberi ruang kepada David untuk mendekat.


"Sayang, maafin aku. Tadi..."


"Kemana aja sih, ponsel gak aktif!" Jessika merasa sedih, ia takut bila suaminya itu tak menepati janjinya untuk menemani saat dirinya mengejan.


David meringis, istrinya itu benar-benar marah." Iya sayang maaf, aku salah" Eka yang melihat David melunak di depan istrinya hanya mencibir.


"Aduhh...!" rintih Jessika.


"Sakit mas!" Jessika merasakan kontraksi yang luar biasa. Ia meremat tangan kekar David. David bisa merasakan, jika istrinya itu pasti benar- benar kesakitan.


"Sakit ya sayang, tahan ya. Ini aku disini!" David merasa serba salah, ia menghujani kepala istrinya dengan ciuman.


"Suaminya sudah datang bu?" ucap dokter wanita itu membuat David menoleh. Sesaat David membatin


, " untung saja dokter ini perempuan."


"Saya periksa dulu ya!" dokter itu mengecek pembukaan, dengan memasukkan jarinya ke area sensitif Jessika.


"Aduh!!!" Jessika mengaduh sakit.


David meringis nyeri sekaligus ngeri, saat melihat barang kesayangannya di rogoh oleh dokter itu.


"Bagus, sudah bukaan enam. Sebentar lagi ya Bu. Pak bisa di bantu untuk memilih puncak payu*dara ibunya ya. Bisa membantu proses pembukaan!" terang dokter itu.


David mendelik, jika ia melakukan hal itu. Bisa saja aset berharganya di bawah sana turut terjaga nanti.


"Mas!" Jessika memukul lengan suaminya yang bengong. Ia tahu apa yang ada di dalam otak suaminya.


" Sakit mas!" rintih Jessika lagi. Ia meremat tangan David. David hanya bisa meringis berkali- kali. Ia bahkan belum melepas pakaian kantornya.

__ADS_1


"Pak, silahkan ganti baju dulu ya!" ucap suster memberikan satu stel baju khusus yang sudah steril. Mengingat pembukaan Jessika sudah menuju sempurna.


Satu jam kemudian pembukaan Jessika sudah lengkap, David juga sudah siap dengan baju dan penutup kepalanya.


"Ibu dengar saya ya, kalau saya bilang dorong nanti ibu mengejannya harus mirip seperti orang buang air besar ya. Coba tarik nafas panjang dulu Bu" perintah dokter itu.


Jessika menuruti ucapan dokter itu, David bahkan tak sengaja turut latah mengikuti.


"Ya benar, sekarang dorong Bu!"


Rambut David kini di Jambak oleh Jessika, ia juga tak tahu mengapa istrinya bisa meraih kepalanya.


"Whuh whuh whuh!" Jessika terlihat terengah-engah.


"Coba lagi atur nafas Bu, tarik nafas panjang!"


"Sekarang dorong?!"


Jessika menggigit giginya, ia mengejan sekuat tenaga. Namun rupanya, teori tentang kehamilan itu rasanya hilang begitu saja. Sakit yang mendominasi seluruh tubuhnya, benar-benar membuat dirinya tak bisa mengingat satupun pelajaran saat kelas hamil.


"Dokter saya tidak kuat!" Jessika mulai kehabisan tenaga.


"Sedikit lagi Bu, ayo ibu harus yakin. Bapak tolong pindah posisi ke belakang ibunya pak. Bantu dorong!"


"Ayo Bu, rambutnya sudah kelihatan ini!"


Jessika sudah bersimbah keringat. David merasa tak tega melihat istrinya yang berjuang seperti ini. Ia duduk di belakang istrinya, menggenggam erat tangan Jessika " Ayo sayang, sedikit lagi. Kamu bisa!" David rupanya sudah berlinang air mata. Perjuangan seorang ibu benar-benar.


Dalam hati David berjanji tidak akan pernah menyakiti wanita yang sudah bertaruh nyawa demi anaknya itu. Kini ia menyaksikan sendiri satu proses keramatan seorang ibu.


Dan dengan seluruh tenaga yang ada, juga ingatan akan anak yang penuh perjuangan saat ingin di dapat ini, Jessika mengerahkan seluruh tenaganya.


"eeeeuuugggghhhh!!!" Jessika mengejan sekuat tenaganya.


Detik itu juga terdengar suara tangis bayi. Jessika merasa sakitnya kini telah berganti dengan kebahagiaan.


"Alhamdulilah!" ucap dokter itu.


Jessika merasa tubuhnya tak bertulang seketika, seluruh tubuhnya lemas. Namun seketika ia merasa sakit di perutnya sudah tak terasa. Ia memandang bayi yang masih di pegang oleh dokter itu, Jessika merasa lega. Beginilah rasanya bertaruh nyawa demi buah hati.


Jessika menitikan air mata kebahagiaan, sejurus kemudian David mencium bibir istrinya. " Terimakasih sayang, terimakasih sudah mengantarkan anakku ke dunia dengan selamat!" David menitikan air mata. Kebahagiaannya lengkap sudah, ia kini sah menyandang predikat seorang papa.


"Ibu selamat ya. Bayi anda berjenis kelamin laki-laki, panjang ini Bu anaknya. Beratnya 4,2 kg" tukas dokter itu.


Jessika menangis haru, ia memandang suaminya penuh cinta. Tuhan telah melengkapi kebahagiaannya saat ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2