
.
.
.
Sudah satu Minggu ini Jessika berada di kota S, selama itu pula ia selalu membantu Bella mengurus baby Claire.
Ia bahkan lebih lihai dalam mengurus bayi itu, dibandingkan ibunya sendiri.
Bahkan Jessika sudah berani memandikan sendiri bayi merah itu saat tali pusarnya masih menempel, benar benar mandiri.
Malam itu setelah pergulatan panasnya bersama David, ia menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
Selalu saja, David dibuat tak tahan bila berdua dengan istrinya itu.
"Mas" ucapnya seraya membuat bentuk bentuk di dada liat suaminya.
"Hem" jawab David, masih memejamkan matanya. Merasakan sentuhan Jessika, yang membuat kejantanannya kembali bangkit.
"Kita pulang kapan?" kali ini dia membentuk bentuk love, di dada bidang itu.
"Besok ,kasihan Tomy aku tinggal lama" ucap David berusaha menetralisir gejolak.
Jessika bukannya tak betah berada di sana, namun setelah memiliki rumah tinggal sendiri, ia merasa selalu rindu untuk pulang.
"Besok aku mau nambah assisten rumah tangga lagi" ucap David kini meraih tangan Jessika, seolah berucap untuk berhenti melakukan tindakan yang bisa memancing geloranya.
"Mayang aja udah cukup mas, untuk apa nambah lagi" ucap Jessika menatap suaminya.
David menghujani kepala Jessika dengan ciuman, David begitu tergila-gila dengan istrinya itu.
"Aku gak mau kamu capek, tugas kamu cuma melayani aku di ranjang" goda David menaik turunkan alisnya.
"Ih..." Jessika memukul lengan kekar suaminya, tentu saja tak berasa apa apa.
David terkikik geli," aku serius, tugas kamu sekarang adalah fokus untuk hamil kembali"
"Aku gak mau kamu terus terusan menyalahkan diri sendiri"
Pandangan mereka beradu, " Kita pasti akan segera memiliki"
Jessika bisa merasakan aroma nafas David yang segar, membuat dirinya kembali meremang.
Dan perhelatan panas itu kembali terulang, lagi dan lagi. Seolah tak kekurangan stamina.
.
.
"Uuuuu cayang, bude pulang dulu ya. Nanti bude bakalan sering sering nengokin kamu" Jessika mengelus pipi gembul baby Cla penuh kasih.
"Kakak ipar, aku gak ada yang bantuin aku lagi nanti" Bella mengerucutkan bibirnya.
"Makanya cepat belajar" ujar David kepada Bella, ia tahu selama ini istrinya lah yang selalu memandikan keponakannya itu.
Jessika tersenyum senang karena melihat Bella yang pura-pura merajuk.
"Ada Mama Sofia" ucap Jessika
Mereka akhirnya berpamitan, dengan saling melepas peluk.
Mereka akan pulang menggunakan pesawat yang sudah terjadwal take off 11.45.
Leo hari itu mengantarkan kakaknya menuju bandara, sementara Pak Edy masih ingin tinggal disana.
__ADS_1
Masih ingin menikmati kehadiran cucunya, yang membuat dirinya menjadi orang yang paling bahagia saat ini.
Toh dia sekarang sudah free, segala pekerjaan sudah di handle oleh David juga Tomy.
"Jaga istrimu baik baik" ucap David menepuk pundak adiknya.
"Kau pun juga, salam untuk Mbok Yah" ucap Leo tersenyum.
Leo menatap punggung kedua kakaknya itu, yang menghilang di balik pintu keberangkatan Bandara Int. kota S.
****
Tomy merasa dirinya terganggu dengan ingatannya beberapa waktu lalu, yang melihat Eka di jemput seorang pria.
Tapi untuk apa dirinya menjadi gundah gulana, tak biasanya hatinya menjadi seperti itu.
"Den"
"Den Tomy"
"Den" Pada panggilan ke tiga ia baru mendengar suara pak Eko, yang memanggilnya sedari tadi.
Membuyarkan lamunannya.
"Hari ini ada kunjungan dari mahasiswa pertanian"
"Saya ijin untuk menemui mereka dulu" ucap Pak Eko.
"Baiklah pak, aku yang akan ke gudang"
Dari petak 16 ia segera menuju gudang, tempat segala bentuk kegiatan di kerjakan.
Hari ini ada beberapa koli cabai yang musti di kirim ke Indonesia bagian barat.
Ia harus terjun langsung, guna melihat pekerjaan para karyawan disana.
Sesuai aturan aviasi, berat barang per Koli tidak boleh lebih dari 32 kg. Membuat mereka harus memastikan sendiri berat maximum yang musti di packing.
Guna kelancaran operasional besok, karena semua cabai itu akan di kirim menggunakan pesawat kargo khusus.
Terlihat pekerja lain juga tengah melakban kardus kardus besar itu.
Sebagian lagi, ada yang menempelkan beberapa label perishable atau barang mudah busuk.
"Aaaaaaaaa" tiba tiba terdengar teriakan dari dalam ruangan kantor.
Membuat Tomy segera menoleh ke arah kantor, banyak pula pekerjaan lain yang mendengar teriakan itu ,menjadi berlari ke sumber suara.
Mereka terlihat panik.
Rupanya Eka yang terjatuh dari sebuah kursi di meja kerjanya itu, membuat semua yang tadinya panik kini tertawa.
Terpingkal-pingkal.
Tomy yang setengah berlari itu juga kini terlihat tak bisa menahan tawanya, ia bahkan menggunakan punggung tangannya untuk menutupi mulutnya.
"Malah ketawa sih, sakit tahu" gerutu Eka yang masih berada di lantai putih itu, dengan wajah kesal.
"Kursi sekuat itu bisa sampai ringsek begitu, CK" Tomy menggelengkan kepalanya.
"Bener bener ni orang" ledek Tomy.
Eka berusaha untuk berdiri, meskipun pinggang dan bo kong nya sudah sangat ngilu.
Dengan muka kusut pastinya.
__ADS_1
Ia mengibaskan pan tatnya, mengurangi kotoran yang mungkin saja menempelkan.
"Den "
"Den Tomy, sudah waktunya jemput Tuan David" ucap Jack dari kejauhan.
"Oh Sh it!!!, aku lupa harus ke airport"
"Kamu, ikut aku. Kamu harus ganti kursi itu" ucap Tomy.
"Aku?, gak mau lah. Enak aja" jawab Eka.
"Oo kamu berani melawan saya, ya udah saya tinggal laporkan aja ke bos David, kalau kamu merusak inventaris kantor" ucap Tomy sombong.
Kemudian berbalik arah, menuju mobilnya.
Eka menatap Tomy dengan tatapan permusuhan, sejurus kemudian ia terpaksa menyusul pria datar itu.
"CK, beraninya mengancam" ucap Eka seraya menyambar tasnya.
Mau tidak mau.
.
.
Di dalam mobil Eka menjawab deringan teleponnya.
Membuat Tomy merasa terabaikan.
Ia tak suka, sejurus kemudian ia merampas ponsel yang masih digunakan Eka untuk bicara.
"Halo, dia sedang bekerja dengan saya. Apa ada hal penting?" ucap Tomy kepada seseorang dalam sambungan telepon itu.
Membuat Eka meraih raih ponselnya, namun ia tak berhasil.
"Bagus, jangan mengganggu selama dia masih bekerja"
Tut.
Tomy menyerahkan ponsel itu kepada Eka, dengan wajah makin datar.
Eka melihat ponselnya, " sudah mati?"
"Kau ini" ucapnya geram sambil menatap Tomy.
Bisa bisanya dia seenaknya mengambil, serta memutuskan sambungan telepon itu.
Namun Tomy tak bereaksi apapun, ia justru melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tomy
Dia pasti sudah gila, logikanya benar benar aus. Lekang dimakan usia.
Bagaimana bisa ia merampas ponsel, yang jelas jelas masih tersambung obrolan dengan sang empunya.
Namun ia merasa seolah terbakar, tatkala mendengar suara lelaki di sambungan telepon itu.
"Ini jam kerja, kau bisa menghubungi pacarmu nanti" ucapnya datar, tanpa mengalihkan pandangannya.
Membuat wanita di sebelahnya melipat kedua tangannya, seraya membuang pandangannya ke arah jendela.
Degan bibir manyun.
Ia sempat melirik, dan menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Pacaran di waktu kerja dilarang!!, bisa merugikan perusahaan" ucapnya makin ngawur.
Sudah pasti, ia cemburu.