Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 194. We are friends now


__ADS_3

.


.


.


Jack


Seandainya bisa di dapatkan di pasar atau di toko-toko terdekat. Pasti Jack sudah mendapatkannya dari dulu. Tapi ia begitu menyadari, bila semua ini adalah aturan Tuhan.


Semua hal jelas nyata ada tingkatannya. Dan tatanan hidup yang mutlak tetaplah takdir.


Malam itu entah mengapa desiran aneh mulai menjangkiti dirinya. Ia tahu, ia telah melakukan dosa melampaui batasan yang ada. Mencium gendis disaat mereka tak memiliki status apa- apa.


" Jadi orang tuamu?" untuk kali pertamanya mereka bicara dengan intonasi normal. Meski entah mengapa hati Gendis saat ini mendadak terasa aneh. Ciuman dari bibir Jack tadi membuatnya merasa melayang.


" Aku tidak tahu apa mereka masih hidup atau sudah mati!" setengah putus asa ia berucap. Dan dari nada yang di tangkap Gendis, Jack cenderung berbicara dengan nada pasrah, putus asa.


Gendis menatap wajah Jack, sejenak pandangan mereka bertemu satu sama lain.


" Kau watu itu mengingau!" ucap Gendis.


" Kau demam dan kau mengingau!" sambungnya.


Jack sejenak mengingat, pantas saja saat ia bangun pria itu melihat Gendis yang ada di dekatnya. Ada rasa senang menyelinap ke relung hatinya. Apakah waktu itu Gendis khawatir terhadapnya?


" Dan kau khawatir?" tanya Jack.


" Tentu saja, aku khawatir dan kau malah memarahiku!" Gendis mulai mendengus.


Jack tergelak " Tapi sepertinya, kau suka kan kalau aku terus memarahimu!" cibir Jack tersenyum.


" Apa!" Gendis mencubit perut Jack, membuat pria itu kegelian. Mereka kini terlihat bersenda gurau. Bahkan sesekali Jack terlihat membalas cubitan Gendis.


Mereka tertawa terbahak-bahak di malam sunyi itu.


" Sudah cukup, aku gak kuat!" Ini adalah kali pertamanya Gendis tertawa lepas. Sejenak Jack memerhatikan wajah ayu Gendis yang mengatur napasnya karena kelelahan tertawa.


Kini mereka kembali saling menatap. Tanpa mereka sadari mereka saling mengagumi.


.


.


Gendis


Malam itu ia baru tahu sisi sendu dari kehidupan pria yang terlanjur ia cap sombong itu. Jack rupanya tak lebih dari seorang yang rindu kasih sayang.

__ADS_1


" Jadi, kau dulu bisa ikut Bos David gimana ceritanya?"


Jack memeluk lututnya.


" Ada assiten Bos David, namanya Tuan Tomy. Dia yang membawahi aku dan Victor. Kami ini seperti sebuah multilevel. Diatas Bos David dan Bos Leo ada Pak Edy. Dibawah Bos David dan Bos Leo ada Tuan Adrian dan Tuan Tomy. Dibawah mereka baru aku sama Victor.


" Terus kak Dion dan mbak Laras?" tanyanya tanpa bermaksud apa-apa, hanya tertarik dengan birokrasi yang rupanya cukup banyak.


" Mereka orang baru, tapi aku tidak suka senioritas. Aku lebih suka di panggil namaku saja!"


Wow, rupanya ia mendapat banyak info dari Jack. Seketika Gendis menurunkan standard pria sombong di penilaiannya terhadap Jack.


" Kalau kamu, kenapa bisa kerja berat seperti waktu itu?" Jack penasaran, mengapa wanita semanis Gendis mau bekerja sulit.


" Orang dengan ekonomi pas- pasan sepertiku tak memiliki banyak pilihan!" dengan senyum kecut, Gendis juga tak sungkan memulai percakapan seru mereka.


" Aku di tinggal ibu waktu beliau mau melahirkan adikku. Bapak...." Sejak Gendis menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya.


" Kenapa?" Jack tak sabar.


" Bapak suka mabuk dan malas kerja!"


" Aku jadi sering emosian, dan aku emang aneh. Suka gak bisa mengendalikan diri kalau sama orang lain!"


" Makanya aku sering di tolak kerja karena tahu bapakku siapa. Cuman tukang mabuk yang sering tempramen!"


" Kerja ngarit pakan ternak di Hai Jaroni sama cak Iksan lebih baik. Setidaknya ada yang yang bisa digunakan buat beli beras!"


Hati Jack nyeri mendengar kenyataan. Ia kini paham, sikap keras anti Hero yang di tunjukkan oleh Gendis adalah manifestasi dari hidup keras yang penuh tempaan kesukar sulitan.


" Kamu kuat tapi!" Jack ingat saat Gendis memikul satu karung rumput yang padat.


" Orang susah seringnya di beri tulang yang lebih kuat oleh Tuhan untuk di banting mencari sesuap nasi!"


" Jika tidak, orang- orang seperti kau bakal mati!"


Jack benar-benar takjub kepada Gendis. Percakapan mereka berdua malam itu tak hanya melebur permusuhan mereka. Tapi membuat mereka kini selangkah lebih mengerti tentang sifat dan sikap keduanya.


" Kita berteman?" Jack menaikan jari kelingkingnya.


Gendis menatap pria Ganteng di depannya.


" Yakin mau berteman dengan babu?" Gendis mencibir.


" CK, aku juga gak sempurna. Aku mau berteman sama kamu!" Jack merasa nyaman dengan wanita kuat di depannya itu.


" Berteman!" dengan senyum merekah Gendis menautkan jari kelingkingnya ke jari pria itu.

__ADS_1


Mereka benar-benar sudah memutus rantai perseteruan yang membelenggu Itu.


...***...


Sementara di tempat lain


"Mas lihat cewek yang pakai kemeja kotak-kotak, terus pakai jeans sama rambutnya di kuncir gak?


" Gak lihat mas!"


Sono dan Dion berbagai tugas untuk mencari Gendis. Pamit ke toilet, namun hingga satu jam dia belum kembali.


Dion bahkan bingung, namun sebuah petunjuk ia dapat dari seorang petugas keamanan.


" Tadi mbaknya pulang mas, gak tahu terburu-buru!"


Ucap pria yang ternyata adalah orang yang sudah di sogok oleh Jack. Terang saja pria itu pandai berdalih. Sepuluh lembar pecahan bergambar Proklamator sudah berada di kantongnya. Membuat mulut pria itu sangat licin untuk membual.


" Gimana mas? aku cari gak ada!" Sono datang dengan wajah muram saat menemui Dion.


" Kita pulang saja. Gendis sepertinya sudah pulang kata Security tadi!" terang Dion.


" Hah? kok bisa?" terang saja Sono terperanjat.


" Terus aku gimana?" pria dengan celana jeans yang mekar di bagian bawahnya itu bermuram durja.


" Ya balik sama aku. Ayo!"


Mereka ingin memastikan Gendis benar-benar ada dirumah. Dion bersama Sono kini berada di depan pintu rumah Gendis yang sangat sederhana.


" Lapo Son ( kenapa Son)" tanya Yudi yang sembari mengusap selebar mulut kuda Nil. Pria itu bangun lantaran mendengar gedoran membabi buta dari Sono.


" Gendis udah dirumah pak?" tanya Sono.


" Udah, dari tadi. Dia mencret katanya. Barusan minum obat!" Ucap Sono malas. Ia tak menyadari keberadaan Dion yang ada di bawah. Yudi benar-benar terserang kantuk malam itu.


Meski kecewa namun Dion tenang. Berniat akan menanyakan hal ini besok saat Gendis masuk kerja di rumah Jessika.


Yudi menutup pintu. Ia pikir hanya Sono yang ada disana. Akhirnya Dion pulang saat itu juga.


Sementara Gendis di dalam rumah hanya menghela napas. Ia barusan membangunkan Yudi untuk membukakan pintu, dan berkata bohong tentang dirinya yang mencret.


Ia sebenarnya malu. Tapi, itu lebih baik karena ia sudah tak menemukan alasan lagi. Ia tak ingin Dion dan Jack bersitegang karena kejadian tadi.


Sungguh Gendis merasa bersalah kepada Sono dan Dion. Tapi, entah mengapa ia ingin melindungi Jack.


Sejenak ia tersenyum dan meraba bibirnya. Bibir yang bekas di ***** oleh Jack di toilet cafe tadi.

__ADS_1


Cihaaaa!!!!


__ADS_2