
.
.
.
Tomy sesekali mengumpat, mendengar penjelasan Jack. Ia menugaskan langsung Jack untuk membongkar kasus Jessika beberapa bulan yang lalu di desa.
Sampai akhirnya telepon itu terputus.
"Mas" suara seorang wanita yang membuat dirinya menoleh.
Tomy mengernyitkan alisnya, mengingat siapa wanita sexy yang berada di depannya ini.
"Mas lupa sama aku, aku Putri anaknya pak Sis dari desa P" ucapnya percaya diri.
Tomy mengangguk, ia baru ingat dengan wanita di depannya ini. Sedikit berbeda kali ini, lantaran tampilan rambutnya yang sudah seperti rambut jagung.
Berwarna kuning, dan dengan baju yang membuat tubuhnya seperti lontong.
"MMM, ada perlu apa" tanya Tomy.
"Ishh kok gitu sih, aku mau ketemu kak Leo mau ngajuin magang disini. Kemaren ayah nelpon tadi nomernya gak aktif" tukasnya.
Tomy menghembuskan nafasnya kasar, baru saja satu masalah selesai kini muncul wanita yang tak disukainya. Meski Tomy bisa menyembunyikannya.
"Bos sedang rapat, dan tidak bisa di ganggu" ucap Tomy.
"Aku akan menunggu" jawab putri.
"Terserah" ucap Tomy langsung meninggalkan wanita itu, tidak ada kewajiban baginya untuk menungguinya.
"Loh mas mau kemana, aku kok di tinggal" rengek putri.
"Tunggulah disitu, aku ada urusan" ucapnya datar.
"Hiiih,ganteng ganteng kok dingin banget sih. Apa dia gak tertarik sama aku" ucapnya kesal sambil menyisir rambutnya menggunakan jari.
Sebenarnya pertemuan dengan Mr. Richard sudah selesai, namun Tomy sengaja berbohong agar putri pergi.
Namun kebohongannya menjadi sia sia, ternyata putri keras kepala.
"Kenapa manyun aja lu" tanya Leo yang berkutat di depan laptop.
"Ada anak mandor tuan Edy di luar bos" ucap Tomy datar.
"Anak mandor, siapa?" tanya Leo tanpa beralih pandangannya dari layarnya persegi itu.
"Mandor di perkebunan cabe bos, yang sempat salah paham sama nona Jessika" tukasnya.
"Putri?" Leo menatap Tomy yang masih datar.
"Kenapa dia bisa ada disini" Tambhnya.
"Dia bilang ingin magang disini" jawab Tomy masih dengan mode datarnya.
Tlung
Bunyi notif pesan yang masuk
Papa
"Nomer susah sekali di hubungi, Pak sis minta tolong untuk membantu anaknya kamu ijinkan magang disana."
"CK" umpat Leo.
__ADS_1
"Dimana dia sekarang?" tanyanya pada Tomy.
"Diluar" Jawabnya singkat.
*****
"Silahkan mengikuti saya nona" ucap Tomy datar pada Putri.
Putri terperangah melihat ruangan milik Leo, ruang yang luas dengan jendela kaca besar yang menampilkan view padatnya bangunan di kota itu.
"Silahkan duduk" ucap Leo setelah Putri masuk ke ruangannya.
Dengan senyum yang tak pernah luntur, putri mendudukkan tubuhnya pelan, ia memaki jeans ketat dengan baju yang memperlihatkan belahan dadanya, benar benar tidak mencerminkan seorang mahasiswa yang santun.
"Hay kak, apa kabar. Ayah nelpon ke nomernya Kakak tapi gak....." ucapnya terhenti lantaran Leo menyahut.
"Aku sudah tahu, barusan papa WhatsApp aku" jawabnya.
Wow, putri semakin berjalan diatas angin. Ia mendapat bantuan langsung dari pak Edy.
"Kau bawa berkasnya" tanya Leo
"Tentu saja" ia menyerahkan map berisi persyaratan pengajuan magang di perusahaan Leo.
"Tunggu sebentar" ucapnya setelah menerima Map kuning dari putri.
Tomy masih diam berdiri disana, sementara putri matanya menyapu segala yang ada disana.
Terdapat printer dan juga rak yang berisi perlengkapan penunjang kantor, dan juga satu set sofa, juga perabot mewah lainnya.
Ia juga melihat ada satu ruangan, mungkin itu kamar.
Dan ia memandangi tulisan yang termuat di benda panjang, yang berada di meja kebesaran itu.
Leo Prawira Darmawan
"Oh jadi kak Leo hanya jadi wakil, pasti direkturnya kak David. Secara dia kan anak pertama" gumamnya dalam hati.
"Tomy akan menghubungimu besok, kau boleh pulang" ucap Leo tanpa basa basi.
"Emm kak Leo mau nggak makan siang sama aku" aja putri menggoda.
"Lain kali aja, aku sibuk. Tom aku tinggal dulu" ucap Leo yang langsung menyambar jas yang teronggok di kursi kebesarannya.
Tomy hanya mengangguk hormat, sementara putri memanyunkan bibirnya penuh kekecewaan.
****
Leo tak berniat untuk pergi kemanapun, ia memacu kendaraannya kembali ke rumah.
Sebagai saudara ia masih memilik rasa kasih sayang yang utuh, definisi dari darah lebih kental dari pada air.
Ia tak mendapati bik Asih atau mang Ujang dirumahnya, mungkin saja mereka sibuk.
Apalagi ini adalah jam makan siang, bik Asih pasti tengah berkutat di dapur. Begitulah pikirnya.
"Aaarrrggghhh" suara jeritan yang berasal dari kamar David.
"Bang David" ucapnya panik seraya berlari menaiki tangga, dengan perasaan menerka nerka.
"Bang David" kepanikan Leo tak berbanding lurus dengan tampilan yang tersaji di hadapannya.
David yang berbaring di kasur,dengan kaki setengah tergantung dan Jessika yang berada di atas tubuh kekar David, membuat Leo merasakan hawa panas mulai menjalar di otaknya.
Rahangnya mengeras, matanya membulat dan nafasnya memburu.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan" ucap Leo.
"Mas Leo tolong jangan salah paham, saya tidak kuat menarik tuan David. Tolong bantu saya" ucap jessika apa adanya.
"Tolong jangan salah paham" ucap David dengan jujur.
Leo membuang nafasnya kasar, ia menggigit bibirnya dan sesekali mengeraskan rahangnya. Berharap kecemburuan yang membuncah itu bisa ia tahan.
"Kenapa bisa begini" ucap yang tahu punggung David kembali mengeluarkan cairan kental merah itu.
Jessika sungguh malu, kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku akan ambil kotak obat dulu" ucap Leo menahan amarah.
Jessika dan David saling pandang, David tahu jika adiknya itu cemburu. Tapi ia merasa senang, bisa dalam posisi se intim itu bersama Jessika.
Detak jantungnya juga sudah tak beraturan, apalagi rasa panas yang menjalar dan gelora yang hampir saja bangkit dengan otomatis, apabila Leo tidak segera masuk ke kamarnya tadi.
"Aku akan pulang saja tuan" ucap Jessika yang sudah tak nyaman berada disana, belum lagi Leo pasti masih salah paham dengannya.
"Tunggu, siapa yang mengijinkanmu pulang" ucap David yang melihat Jessika hendak melangkah keluar.
*****
"Praaaannkkkk" suara kaca tollet yang pecah akibat mendapat hantaman keras dari tangan kekar Leo.
"Kenapa, kenapa aku harus melihatnya" Leo berkata sambil bergetar, ia tahu jika mungkin itu sebuah kesalahpahaman. Namun keberadaan Jessika dikamar kakaknya itu sudah menjadi bukti, betapa Jessika lebih mempedulikan David dari pada dirinya.
Tak ada rasa lebih untuknya, ia menyadari bahwa nada nada cinta yang sering ia dengar mengalun dari petikan gitar Jessika sewaktu tampil di cafe, adalah untuk David.
Leo saja yang terlalu memaksakan diri, ia juga sudah pernah di tolak sewaktu di desa saat itu.
"Tolong pakaikan ini ke luka bang David" ucap Leo datar dengan mata merah, sejurus kemudian ia pergi dari sana.
Tentu saja ia tak kuat, tak kuasa, tak mampu, tak sanggup jika harus melihat interaksi dua mahkluk beda jenis di hadapannya itu.
Ia pergi tanpa menunggu balasan dari David ataupun Jessika.
Membuat Jessika dan David saling pandang.
"Apa yang kau lakukan tuan" ucap Jessika terkejut karena David membuka baju yang ia kenakan.
Menampilkan dada bidang putih berotot, dengan roti sobek yang berada di perutnya.
Wajah Jessika menjadi merah, ia malu dengan keadaan seperti ini.
"Tuan sebaiknya anda memakai baju anda" ucapnya ragu.
"Cepat kau obati dan ganti perban ku" ucap David memutar tubuhnya membelakangi Jessika, membuat Jessika melihat luka yang semula agak kering kini menjadi basah karena ulahnya.
Jari jari lentik Jessika meraba punggung kekar itu, mencoba melepas rekatan plaster yang membuat perban itu tertempel di punggung David.
Sentuhan Jessika membuat David merasakan aliran listrik yang aneh, gelenyar yang membuat jakunnya naik turun.
"Sial, bisa gila aku kalau berdua terus dengannya" umpatnya dalam hati menahan segala gejolak, yang hanya dengan sentuhan Jessika ,bisa saja membangunkan teripang yang tengah tidur dibawah sana.
"Selesai" ucap Jessika sambil menempelkan plaster terakhir ke punggung itu.
David langsung memutar tubuhnya kembali, dan berbarengan dengan Jessika yang hendak meraih gunting yang ada di samping David, hendak memasukkan ke dalam box P3K.
Deg
Dengan gerakan sepersekian detik, bibir mereka nyaris saja menempel. David menatap Jessika lekat, Jessika juga diam beberapa saat dan langsung mengalihkan pandangannya dengan mengambil gunting kecil itu, dan segera berdiri.
"Aku sudah selesai" ucapnya kikuk, dan bingung merasa tak nyaman.
__ADS_1
David hanya tersenyum" Terimakasih".
Ia lantas memakai bajunya kembali,"duduklah ada yang ingin aku bicarakan".