
.
.
.
"Leo apa kakakmu bisa kemari besok?" tanya pak Edy pada anaknya.
"Coba papa telpon, barangkali kalau yang telpon papa dia mau"
"Ya sudah papa telpon dia dulu"
David yang ponselnya bergetar sedikit terkejut saat melihat nama papanya yang tertera di layar ponsel miliknya, kemudian dengan segera ia menggeser tombol hijau itu.
"Halo pa, ada apa?"
"Halo David, besok papa akan ada acara disini. Papa berharap kamu datang, kamu sibuk apa tidak besok? katanya mau kemari mengenalkan calon istrimu.
"Emmm belum tahu pa, ada acara apa nanti David telpon papa lagi ya ini David masih sibuk pa"
"Acara tasyakuran, sepertinya papa betah disini dan mau konsisten menjalankan bisnis cabe Papanya disini Vid" ucap pak Edy menjelaskan pada David.
"Nanti David kabari lagi ya pa, berkas David masih banyak ini, oke pa sampai nanti ya"
Tut ( suara panggilan terputus)
Akhirnya percakapan papa dan anak itu berakhir.
"Gimana pa?" tanya Leo
"Belum tau, sepertinya David moodnya buruk"
"Ya udah pa, lagian bang David juga baru seminggu lebih balik kesana"
"Nanti dia akan kabari kalau bisa"
Akhirnya mereka berdua masuk untuk makan siang, hari ini Leo tidak menunggui para pekerja karena menunggu info dari Tomy terkait kejadian di kota S hari ini.
Leo mengetahui semua dari Tomy yang selalu setia mengiriminya berita tentang David.
*******
Tok Tok Tok
"Masuk" David menjawab
Adrian dan Tomy memasuki ruangan kerja David, terlihat David tengah sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani.
"Bos udah siang, sebaiknya kita makan dulu" ajak Adrian pada bosnya itu, sementara sepertu biasa Tomy hanya diam tak bergeming.
"Tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan beberapa lembar lagi" jawab David.
Mereka bertiga akhirnya diam, Tomy dan Adrian memilih menyibukkan dirinya dengan ponsel mereka masing masing sambil menunggu David.
"Selesai" ucap David Langsung memecah keheningan dan membuat dua pria tampan itu memasukkan ponsel mereka ke dalam saku celananya.
"Kita makan dimana bos?" Adrian bertanya
"Di restoran biasanya saja" jawab David
Kemudian mereka bertiga berangkat menuju restoran tempat biasa mereka melakukan makan siang disana.
Kali ini Tomy yang mengemudikan mobil, Andrian berada di depan sementara David di belakang.
__ADS_1
Tring
Ponsel milik David berbunyi, ternyata sang adik yang mengiriminya pesan.
"Papa berharap Lo datang bang"
Pesan Leo yang singkat itu langsung dibaca David tanpa dibalas menunjukkan wajah datarnya.
"Besok agenda kita apa Adrian?" tanyanya pada sekretarisnya itu
"Beberapa hari ke depan jadwal aman bos, meeting udah gue suruh si Vicky buat mewakili"
"Kalau begitu besok lo sama Tomy ikut gue ke desa"
"Besok? ada acara apa mendadak sekali"
"Ga tau papa nyuruh gue kesana, baru juga seminggu disini udah disuruh kesana" gerutu David.
"Tidak apa apa bos, kesana saja itu akan baik untuk kesehatan fikiran bos David. Lagipula suasana di desa biasanya kan lebih tenang" jawab Tomy yang sukses membuat Adrian terperangah karena biasanya makhluk disampingnya ini tidak pernah bergeming.
David menimbang nimbang perkataan Tomy, ya sudahlah mungkin lebih baik berganti suasana dulu.
Tiba tiba sekilas wajah Jessika yang dia marah saat menumpahkan minuman ke jaket mahalnya terbayang di pikiran David , dan membuat David menjadi bingung.
"Kenapa tiba tiba aku membayangkan gadis itu" gumamnya dalam hati.
****
Hari telah berganti, pagi itu sudah mulai terlihat kesibukan di rumah pak Edy.
Biasanya kalau di kota dia terima beres saja, dengan kekuatan uang bisa memangkas birokrasi rumit menjadi lebih mudah.
Namun karena pak Edy sendiri dulunya juga adalah orang desa ia lebih memilih cara guyub rukun untuk mengadakan suatu acara.
Memang acaranya masih malam hari, tapi beberapa orang yang mendapat tugas mempersiapkan acara diminta untuk datang pagi.
"Assalamualaikum pak" ucap pak Sis yang sudah datang bersama istri dan kedua anaknya.
"Walaikumsalam", jawab pak Edy sambil menjabat tangan mereka berempat.
"Wah masih pagi sudah rame betul pak, sepertinya orang orang akan senang sekali malam ini" Ucap pak Sis.
"Iya mudah-mudahan begitu pak, ini acara kita bersama semoga gak hujan juga nanti " jawab Pak Edy
"Ini pasti nak Putri ya anaknya pak sis?"
"Oh iya pak maaf saya sampai lupa memperkenalkan, ini anak saya putri dan ini adiknya putri Devan" ucap pak sis memperkenalkan anak-anaknya.
" Halo om saya putri senang bertemu dengan om Edy" ucap putri sopan.
"Semoga kamu senang ya nak iku acara disini" jawab pak Edy
"Iya om nanti saya ikut bantu bantu sama bunda juga.
*****
Hari itu adalah hari pesta besar untuk seluruh pegawai pertanian pak Edy, bahkan pak Edy sudah menggelontorkan dana yang tidak sedikit khusus untuk menjamu semua karyawannya itu.
Adalah kesenangan tersendiri bagi pak Edy dia bisa menggelar acara itu, meskipun segala pencapaian telah ia raih, tidak menutup kenyataan bahwa jiwanya kesepian karena sudah di tinggalkan istrinya.
Semenjak kepergian istrinya karena sakit kanker otak yang tidak bisa disembuhkan oleh banyaknya uang yang ia miliki, ia menjadi kesepian hidup di kota.
Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih.
__ADS_1
Apalagi kedua anaknya masih betah membujang sampai saat ini.
Dengan mengadakan acara seperti ini, ia seperti menemukan kembali dirinya yang dulu. Pak Edy lebih mencintai orang desa dari pada hidup di kota yang penuh kemunafikan.
"Kamu giling cabe pakai blender disana nduk, ini cabenya" ucap mbok yah pada Arin.
"Terus kamu Eka tolong antar ikan ikan ini sama pak Eko dan temen temennya di samping, biar di bersihkan"
" Dan ini bagian kamu Jessika kamu cari daun pisang ya buat bungkus nasi bakarnya nanti"
Mbok yah memberikan komando kepada para gadis gadis itu, suasananya ramai dan semua sibuk.
Leo yang baru saja keluar dari kamarnya hampir bertabrakan dengan seorang wanita, dan wanita itu terkesima melihat ketampanan Leo.
Dia adalah putri, anak sulung dari pak Sis.
"Aduh maaf mbak gak sengaja"
"Emm iya mas tidak apa apa kok"
"Ya sudah saya kebelakang dulu" jawab Leo pamit pada putri.
Putri yang di tinggalkan Leo hanya senyum senyum sendiri " tampannya, kenapa ayah gak bilang kalau ada cowok setampan dan sekeren dia sepertinya dia anaknya om Edy, aku harus bisa dekat sama dia" ucap putri.
Leo yang melihat Jessika berjalan membawa celurit, menjadi penasaran dan mendatanginya.
"Jes, mau kemana? kok bawa senjata tajam segala, ngeriiii"
"owh ini, itu Mak wek tadi nyuruh aku buat nyari daun pisang buat bungkus nasi bakar mas"
"Kok sendiri, yang lain mana"
"Yang lain udah pada dapat lowongan pekerjaan hehehe, aku kebagian cari daun"
"Kalau gitu aku bantuin ya, dimana carinya?"
"Mas Leo gak sibuk?"
"Loh aku emang harus sibuk, makanya aku melamar pekerjaan ke kamu ini hehehe"
"Baiklah ayo kalau gitu" jawab Jessika menyudahi obrolan mereka.
Sepasang mata menatapnya tak suka, ya..manusia yang gak menyukai kedekatan Leo dan Jessika itu adalah Putri.
Sejak dulu Putri tak menyukai Jessika, lantaran Jessika selalu lebih unggul dibidang apapun meski keadaan finansial nya jauh dibawah putri.
Hal itulah yang membuat putri iri dan benci pada Jessika, ia menghentakkan kakinya ke lantai tanda ia kesal.
"Awas aja sampai kamu merebut perhatian mas Leo Jes, akan ku buat hidupmu menderita" ucap putri.
Putri saja yang tidak tahu, bahwa Leo lah yang menaruh rasa pada Jessika. Sementara Jessika tidak memiliki rasa apapun pada Leo.
Dirinya sadar dan tahu diri, Jessika baik pada Leo dan mau dekat dengannya karena Leo adalah bos yang baik serta tidak membedakan kasta seperti yang dilakukan David padanya.
.
.
.
.
Dukung author dengan memberi like comment dan vote ya🙏
__ADS_1