Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 74. Dalam Bahaya


__ADS_3

.


.


.


Sebulan pasca kejadian yang tak diharapkan oleh Jessika itu, ia kini sudah kembali ke aktivitas normal.


Selama beberapa waktu yang lalu pula, Leo rutin menjenguknya. Justru David lah yang tidak menunjukkan batang hidungnya.


Jessika kini merasa ada yang kurang, tanpa di ketahui banyak orang ada rasa rindu dengan kehadiran pria yang suka memaksakan kehendaknya itu.


Ia juga sering berharap David berkunjung ke cafe milik Bryan itu, " Apa aku sudah gila, berharap dengan hal itu" Jessika bergumam sambil mengelap meja meja di cafe itu.


****


"Kak tolong bebaskan aku dari sini, aku benar benar tidak betah" ucap Citra merengek.


Citra di jatuhi hukuman karena dirinya terbukti melukai seseorang dengan senjata tajam, sementara karin ia tidak ditahan karena tidak terbukti.


"Aku sudah mengatakan berulang kali kepadamu, jangan berbuat melebihi batasan mu" ucap wanita yang meradang karena ulah adiknya itu sungguh merepotkan dirinya saat ini.


Berulang kali wanita itu melarang adiknya untuk bekerja di cafe itu, namun ia nekat bekerja di cafe milik Bryan karena ia sangat mendambakan lelaki bertato itu.


"Apa kau lihat, bahkan dia memecatmu tidak hormat, laki laki seperti itu tidak pantas kau dambakan"


"Sudahlah kak, aku tidak memintamu untuk mengumpat pada Bryan. Lepaskan aku sekarang"


"Apa kau bodoh, kau pikir gampang menjamin kriminal seperti dirimu"


Hukum tetaplah hukum, ia harus menjalani akibat dari perbuatannya.


Wanita itu makin murka dengan semua ini, "Lakukan sekarang juga! aku sudah tidak bisa menunggu lagi" titah wanita itu pada orang misterius dalam teleponnya.


****


Sore itu Jessika akan pulang bersama Vera, mereka berdua sudah berada di parkiran kendaraan khusus karyawan.


"Astaga Jes, aku lupa sign out ID ku tadi" Vera berucap sambil melepas kembali helm miliknya yang sudah ia pakai.


"Aduh kok bisa sih, ya udah sana aku tunggu sini aja" ucap jessika yang malas jika harus kembali lagi ke dalam, ia memilih untuk berdiri di samping motor matic Vera.


Namun saat Vera kembali, ia tak mendapati temannya itu di tempat dimana terakhir dia meninggalkannya.


"Jes, Jessika!" ia memanggil nama temannya itu, sambil mengedarkan pandangannya menyapu setiap jengkal parkiran itu.


Ia mengernyitkan dahinya saat melihat tas milik Jessika teronggok di paving dekat motornya, Entah sudah di rencanakan atau kebetulan semata ,disana juga tidak ada orang yang berlalu lalang. Bahkan satpam yang biasa standby disana kebetulan juga sedang berkeliling ke belakang bangunan itu.

__ADS_1


"Pak, lihat Jessika nggak" tanyanya panik.


"Enggak mbak, barusan saya kebelakang sebentar ngambil kunci motor lupa" jawabnya.


"CK, dimana sih gak lucu tau gak" ia mendecak, kemudian berinisiatif menghubungi nomer Jessika.


🎶Aku milikmu malam ini, kan memelukmu sampai pagi.....


Nada dering milik Pongky Barata itu terdengar dari tas milik Jessika yang jatuh tadi.


"Astaga kok aku bodoh sih" ucap Vera seraya mengambil benda pipih yang berada dalam tas temannya itu.


Vera benar benar bingung, kemana sebenarnya Jessika. Ia semakin panik saat mencari cari ke seluruh ruangan di cafe itu, dan ia tidak mendapati temannya itu.


"Gimana mbak, masih belum ketemu?" tanya satpam itu yang datang kembali ke tempat Vera.


"Belum pak, gimana ya " ucap Vera panik.


*****


Mereka berdua membulatkan mata mereka saat mengetahui rekaman CCTV, yang menyuguhkan gambar bahwa Jessika di sekap dan di bawa ke dalam sebuah mobil oleh dua orang pria yang memakai baju serba hitam.


"Ya Allah pak, ini gimana" Vera semakin panik tatkala melihat video itu, otaknya tidak bisa digunakan untuk berfikir.


Satpam itu segera menghubungi bosnya, dan kemudian mengirimkan video unduhannya barusan kepadanya.


Bryan dengan cepat memforward video itu kepada siapa saja yang menurutnya bisa membantu dirinya.


Tomy segera menyambar ponsel milik bos-nya itu,karena ia penasaran yang melihat reaksi wajah Leo yang mengundang rasa penasarannya.


Tomy tak kalah emosinya, mengetahui jika wanita yang di sukai bosnya itu tengah berada dalam bahaya.


"Siapkan orangmu Tom, aku tidak akan memberi ampun lagi bagi mereka" titah Leo tegas pada assistennya itu.


Jiwa mafianya itu tergugah kembali, apalagi ia ingat dengan Jessika yang memberontak saat di bekap mulutnya oleh dua orang misterius itu.


Vera yang masih berada di cafe itu terlihat sesekali mengusap air matanya, kenapa lagi lagi nyawa Jessika terancam.


Bryan, Leo dan Tomy sudah berada di cafe. Mereka bertiga sengaja menemui Vera terlebih dahulu, ia juga melarang Vera untuk pulang sendiri.


Mereka takut jika vera juga akan menjadi sasaran para pria misteriusnya itu.


"Vera, bagaimana keadaanmu" Leo bertanya panik.


"Saya tidak apa apa tuan, tapi Jessika" matanya kembali berair.


Vera lantas tak tanggung-tanggung menjelaskan awal saat dirinya meninggalkan Jessika di depan cafe.

__ADS_1


"Bos, team kita sudah siap" ucap Tomy memberitahu.


Melalui CCTV, mereka sudah mengantongi plat nomer yang digunakan untuk menculik Jessika.


Mereka tengah menyiapkan mitigasi untuk menyelamatkan Jessika, Leo menjadi menerka nerka, siapa yang berani melakukan hal ini.


"Kau suruh orangmu untuk menanyakan hal ini pada wanita yang di penjara itu, bisa saja dia ikut andil dalam urusan ini" titah Leo.


*****


"Hahahaha bagus, pastikan wanita itu tidak kabur. Satu jam lagi aku akan menemui kalian" terdengar suara wanita itu semakin mengerikan, ia menghubungi pria misterius itu melalui telepon.


"Kau yang memulai David" ucap wanita itu menggerakkan giginya, sembari meremas ponsel miliknya.


Tring


Bunyi notifikasi masuk, David masih berada dalam rapat bersama para koleganya dan tentu saja ada Adrian di sampingnya.


Saat rapat itu sudah usai, David yang membuka sebuah pesan berikut dengan sebuah foto Jessika yang terikat kedua tangannya, dengan mulut yang tersumpal kain dan keadaan yang kacau balau.


Darahnya seketika mendidih, apa yang terjadi, kenapa itu bisa terjadi, dan siapa yang melakukan ini.


Pertanyaan pertanyaan itu memenuhi kepala David.


Adrian yang melihat reaksinya bosnya, menjadi penasaran apa gerangan yang memancing emosi bosnya itu.


David men-dial nomer yang mengiriminya pesan, ia begitu geram.


"Brengsek, apa maumu" ucap David tanpa basa basi.


"Wah wah, sepertinya benar sekali jika wanita ini adalah orang penting untukmu David" seringai licik dari wanita di telepon.


"Sherly" ucap David mengingat suara yang dulu menghiasi hari harinya.


"Wah sepertinya kau masih mengenal dengan baik suaraku sayang" ucap Sherly memancing emosi David.


"Dengar, jangan sampai kau menyentuh ujung rambutnya sekalipun. Jika tidak akan ku buat kau menyesali perbuatanmu ini"


"Waaauuu aku merasa takut, hahahaha" ucapnya semakin memancing emosi David.


"Apa maumu sialan"


"Dengar David, aku ingin kau merasakan sakit sama dengan yang aku rasakan!!!!"


"Jangan coba coba membawa polisi, datang sendiri dan temui aku dengan membawa uang yang aku kirimkan alamat dan jumlahnya kepadamu"


ucap Sherly dan langsung menutup ponselnya.

__ADS_1


"Hallo Sherly, hallo" ucap David emosi.


"Brengsek!!!!" tambahnya.


__ADS_2