
.
.
.
"Alhamdulilah Wek, hari ini sudah habis" ucap Jessika yang berbahagia karena dagangan mereka sudah habis lebih awal.
"Iya nduk rejeki memang tidak pasti" ucap mbok yah sambil membereskan beberapa wadah.
Berdagang memang seperti menunggu embun yang menetes, kalau rejeki hari itu bisa ramai, tapi kalau belum rejeki tak jarang mbok yah membawa kembali pulang dagangannya itu dalam jumlah yang masih lumayan banyak .
Tapi mereka percaya selama masih mau berusaha, Tuhan pasti akan memberikan rejeki.
Mereka berdua lantas pulang dengan membawa serta perkakas jualan mereka yang mereka masukan kedalam Tobos ( sejenis alat untuk menaruh barang barang yang muat banyak terbuat dari anyaman bambu) yang mereka naikkan di sepeda gayung mereka.
Sesampainya dirumah mereka di kejutkan dengan adanya mobil bagus yang terparkir di halaman rumah mereka.
"Nah itu mereka pak" ucap lek Soleh yang sedari tadi menemani pak Edy, David dan Leo mengobrol di teras rumah Jessika.
"Assalamualaikum" ucap mbok yah, dan telah menjadi kebiasaannya sewaktu tiba dirumah sehabis dari manapun.
"Walaikumsalam" Jawab semua pria disana kompak.
"Loh Pak Edy kok ada disini, ada Den David sama Den Leo juga" ucap mbok yah sambil menyenderkan sepedanya.
"Iya mbok baru pulang ya?" jawab pak Edy sopan.
Jessika hanya diam seribu bahasa, masih ada rasa kesal dihatinya terhadap para tamunya itu.
"Jess mbok disuruh masuk dulu, masa ngobrol disini" ucap lek Soleh.
"Oh iya iya mari masuk pak, aduh gimana ini malah ngobrol disini, Monggo pak monggo" ucap mbok yah seraya memasukkan kunci pintu dan setelah terbuka mempersilahkan mereka semua masuk.
Jessika tidak langsung ikut masuk lewat pintu depan , ia memilih memutar dan masuk melalui pintu dapur.
"Pak Edy saya tinggal dulu ya" ucap lek Soleh yang hendak ke kandang ayam karena tujuannya tadi sempat tertunda lantaran menemani pak Edy berbincang.
"O iya pak silahkan, terimakasih banyak pak Soleh" ucap pak Edy sambil mengangkat tangannya.
Mbok yah menjadi sedikit penasaran, apa ada masalah lagi kenapa pak Edy kemari dengan membawa serta kedua putra tampannya itu.
"Emmm pak Ngapunten ( mohon maaf), ada perlu apa ya pak njenengan (kalian) semua kok kemari, bahkan sampai rela menunggu kami pulang dari pasar. Apa ada masalah lagi pak?" tanya mbok yah sedikit cemas namun masih dengan nada sopan.
"Oh tidak mbok, justru kami kemari karena kami ingin minta maaf" jawab pak Edy.
"Minta maaf? Lo la memangnya kenapa pak" jawab mbok yah bingung.
Akhirnya pak Edy menjelaskan semua bentuk kesalahpahaman yang terjadi, berikut dengan buktinya. Pak Edy merasa tak enak hati pada mbok yah dan Jessika.
__ADS_1
"Sungguh mbok bukan berarti Putri anaknya pak Sis lalu saya tidak percaya pada Jessika dan memberinya hukuman untuk tidak masuk bekerja dulu, namun mbok Yah tau sendiri kan bahwa tindakan Jessika itu juga termasuk kekerasan" ucap pak Edy menambah penjelasannya.
"Alhamdulilah kalau ternyata apa yang dikatakan cucu saya benar adanya, cucu saya memang keras pak, namun ia tidak akan pernah berbuat jika tidak ada sebab yang memancingnya dulu" jawab mbok yah.
"Untuk itulah kami memohon maaf degan tulus mbok, ya berharap setelah ini kita semua bisa sama sama memperbaiki sikap" ucap pak Edy kembali.
Perbincangan dua orang tua itu terjeda karena suara ponsel milik Leo yang berbunyi.
"Permisi aku mau angkat telepon dulu" ucap Leo pada mereka semua dan di balas anggukan oleh pak Edy tanda mengiyakan.
"Jessika dimana mbok kok belum kemari" tanya pak Edy yang baru menyadari jika yang di obrolkan belum ada di tengah tengah mereka.
"Aduh iya mana dia ya, kok belum kemari jangan jangan sama si Soleh tadi belum selesai ngambil ayam nya, tak panggilkan dulu ya" ucap mbok yah.
"Tidak usah mbok, biar saya yang menemuinya dulu, mungkin dia masih marah kepada saya" ucap David sambil melirik sang ayah tanda meminta persetujuan.
Pak Edy mengangguk mengerti, ia ingin memberikan kesempatan pada David dulu. Bagaimana juga Jessika pasti merasa marah pada keputusan mereka semua yang menyuruhnya untuk tidak bekerja dulu.
"Ya sudah, dia ada di belakang Den sampean jalan aja terus dari samping rumah ini" ucap mbok Yah.
Akhirnya David berjalan keluar dan mencari sosok wanita yang kini mencuri perhatiannya itu.
Jessika tengah sibuk memberi pakan ayam ayam kampungnya ,yang salah satunya baru saja di ambil oleh lek Soleh untuk dijual.
"Tidak sopan sekali kau, ada tamu tapi kau malah sibuk dengan ayam ayam ini" suara David membuat Jessika menghentikan kegiatannya.
Jessika yang melihat David datang dan mulai berjalan kearahnya, hanya sekali melihat dan melanjutkan kegiatannya itu kembali.
"Apa kini sekarang kau juga tidak memiliki mulut untuk menjawab setelah berhasil membuat mulut anak mandor mu terluka?" Sindir David karena Jessika tidak menggubrisnya.
"Kalau kau tahu kenapa masih bertanya, tuan David yang T E R H O R M A T! " ucapnya dengan penuh ironi, sambil menyebarkan pakan pakan ayam tepat di depan David.
David yang dikatakan terhormat, namun dalam pengucapannya justru terkesan seperti sebuah ledekan hanya bisa terkikik geli.
Wanita di depannya ini memang masih marah, tentu saja dia marah. Jessika yang sudah lebih tenang, kini karena kedatangan mereka bertiga kerumahnya menjadi ingat kembali kejadian tadi malam.
Beberapa ekor ayam langsung datang ke arah David karena pakan mereka disebar disana
"Hey kau ini bagaimana, kenapa malah di lempar kesini, benar benar kau ini!" ucap David kesal karena kini dia sudah di kerubungi ayam ayam jago.
Jessika membalikkan badannya dengan posisi membelakangi David, kemudian ia tertawa disana namun tanpa mengeluarkan suaranya.
"Hus hus....apa kau sudah gila mau mematukku" umpatnya pada salah satu ayam jago.
Merasa tak tahan dengan semua itu akhirnya Jessika tawanya pecah, bahkan ia sampai menitikkan air mata saking tertawanya karena melihat seorang David yang notabene seorang direktur perusahaan juga sekaligus anak dari seorang Edy Darmawan, mengomel pada seekor ayam jago.
"Hahahaha Hahahaha Kik Kik Kik🤣" Jessika tertawa terus sambil memegang perutnya yang mulai kaku itu.
"Sudah puas ketawanya hem?" tanya David yang merasa senang akhirnya Jessika sudah tidak se cemberut waktu ia datang tadi.
__ADS_1
"Ya lumayan, katakan apa yang membuat seorang tuan David datang kerumah seorang pemukul sepertiku? apa kau ingin menambah hukumanku dengan memecatku?" ucap Jessika kembali dengan mode kesalnya.
David menghampiri Jessika, kini mereka dekat dan menatap satu sama lain.
Deg
Jessika begitu grogi dibuatnya, wajah tampan rahang yang kokoh, garis wajah yang terpahat begitu indah, bau yang maskulin.
Jessika mundur seketika saat kesadarannya kembali selepas sedikit terpesona akan maha karya dari Tuhan berwujud manusia tampan di hadapannya itu.
"Stop, mundur" ucap Jessika sambil mendorong tubuh David.
David hanya tersenyum simpul saja, dia selalu senang jika bisa mengerjai Jessika seperti saat ini.
"Kubilang mundur aku bau pasar, apa lubang hidungmu tidak menciumnya" ucap Jessika mulai frustasi.
"Aku tidak mencium bau apapun, mungkin kurang dekat" ucap David sambil memajukan kepalanya ke wajah Jessika, kemudian segera di tepis oleh Jessika.
"Kau ini menyebalkan sekali"Jessika mendorong sekuat tenaga dan berhasil menjauhkan tubuh David dari hadapannya.
****
Sementara itu diruang tamu
Leo sudah kembali ke ruang tamu tatkala ia selesai menjawab panggilan dari ponselnya tadi.
"Loh bang David kemana pa" tanya Leo.
"Dia sedang menemui Jessika, karena tadi Jessika tidak mau kemari" Ucap pak Edy yabg tengah duduk sendiri karena mbok yah sedang membuatkan mereka minum.
Leo mengurungkan niatnya untuk menemui Jessika saat tahu David sudah lebih dulu kesana, ia tidak mau melihat hal yang akan membuatnya menjadi sedikit sakit.
"Monggo pak teh nya, maaf hanya ada teh" ucap mbok yah sambil menghidangkan teh di meja.
"Wah mbok yah kok repot repot, mbok ini tolong di terima dan saya mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan mbok yah, banyak yang suka sama masakannya mbok Yah" ucap pak Edy sambil memberikan amplop sebagai bayaran mbok yah yang telah memasak untuk acaranya kemaren.
"Astaga pak apa ini tidak berlebihan, ini terlalu banyak pak" ucap mbok yah yang kaget dengan tebalnya uang di amplop.
"Tidak mbok, tolong di terima ya" ucap pak Edy membalas.
"Kalau begitu saya sangat berterimakasih pak" ucap mbok Yah.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Please like and comment 🙏