Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 115. Karma itu nyata


__ADS_3

.


.


.


Di desa P


Putri


Kabar pernikahan Leo sudah sampai ke telinga keluarga pak Sis, termasuk Putri.


Hanya saja mereka tidak tahu bila sejak kemaren sore, dua anak petinggi perkebunan cabe itu tengah berada di desa.


Putri yang mendengar berita itu sempat tak percaya, ia juga adalah wanita yang mendamba seorang Leo Darmawan.


Tugas magangnya juga sudah selesai, ia kini tengah berada di desa


"Huek huek" ia memuntahkan seluruh isi perutnya pasca sarapan.


"Kenapa aku ini, sejak beberapa hari yang lalu konslet banget perutku" ia menggerutu sambil menyenderkan tubuhnya di tembok kamar mandi, karena lemas.


Ia kemudian melihat kalender yang berada di nakas mejanya.


"Harusnya udah 5 hari yang lalu aku datang bulan, ini kok" putri berbicara sendiri, seraya hatinya diliputi kebingungan.


"Gak mungkin, gak mungkin arrrrggghhh" ia menjambak rambutnya sendiri, frustasi.


Ia kemudian men-dial nomer seseorang.


"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau ..."


"Tidak aktif! Breng sekkk!!!!" teriakannya sambil melempar ponsel miliknya ke kasur.


Ia menjadi menerka nerka, mustahil bila kejadian itu berubah menjadi hal seperti sekarang ini.


Ia menunggu papanya pergi ke tempat pak Edy, juga bundanya yang akan menghadiri acara pengajian ibu ibu di RT sebelah.


Setelah rumah itu sepi, ia mengambil kunci mobil dan melajukan mobil sejuta umat itu menuju apotek.


"Beli tespect dua mbak" ucapnya kepada apoteker berjilbab itu.


"Yang biasa apa yang bagus"


"Yang bagus, beda merk juga gapapa" ucapnya kembali.


Putri mengenakan masker dan kacamata, berharap tidak ada yang mengenalinya.


Namun saat pulang, ia menabrak seorang wanita.


Bruuuuk


"Jalan pakek mata!" ia justru memarahi wanita itu.


Padahal dia yang salah, berbalik tanpa menoleh orang di depannya.


Ia mengambil kantung kresek transparan yang jatuh dengan isi alat penguji kehamilan itu.


"Minggir!!" ucapnya setelah mengambil barang miliknya, yang baru saja ia beli.


Wanita itu mengernyitkan dahinya," Astagfirullah wanita gila!!" umpatnya setelah beristigfar.


"Tunggu dulu, itu kayak mobilnya pak Sis"


"Jangan jangan Putri" tebak wanita itu yang memperhatikan mobil silver yang dikemudikan oleh wanita yang baru saja memarahinya.


***


Tomy berdiri dengan tangan yang dilipat, seraya memperhatikan obrolan Jessika, Bella dan pria yang ia tabrak tadi.


Pria tersebut adalah pak Eko, mandor yang bertugas di perkebunan cabai milik pak Edy, yang sempat menghilang 6 bulan yang lalu.


Pak Eko secara rinci menceritakan semua hal yang dia ingat.


"Malam itu setelah lampu padam, saya tiba tiba di bekap seseorang"


"Lelaki yang kuat"


"Saya berontak, melawan sekuat tenaga saya"


"Kemudian saya merasa di pukul benda tumpul di tengkuk saya, lalu saya sudah tidak ingat apa-apa lagi"


"Saat saya bangun saya sudah berada di rumah ini"


Ucap pak Eko menitikan air mata.

__ADS_1


"Astagfirullah pak, kenapa bapak gak langsung pulang saja" Jessika menatap iba kepada pak Eko.


Ia terlihat kurus, dengan rambut memanjang, bulu bulu halus di wajah yang tak terawat.


Benar benar menyedihkan.


Nyaris bukan seperti pak Eko.


"Saya masih takut Jes, saya takut jika saya nanti mau di bunuh lagi kalau saya langsung pulang saat itu"


Bella menatap interaksi mereka berdua penuh kebingungan, Pak Eko ? jadi yang di ucapkan Leo tadi malam adalah lelaki di depannya ini?.


"Diminum dulu mbak mas, monggo" ucap wanita tua yang menghidangkan teh hangat kepada Jessika, Bella dan Tomy.


"Nggeh mbok, ampun repot repot"( iya mbok, gak perlu repot repot), Jessika menjawab dengan tersenyum.


Bella tidak mengerti dengan yang di ucapkan Jessika, ia hanya ikut tersenyum dan menundukkan kepalanya sekali.


Tanda berterimakasih.


"Bagaimana kabar anak istri saya Jes?" pak Eko kini kembali bertanya.


"Alhamdulilah pak, sehat semua. Semua warga membicarakan pak Eko, Pak Edy juga sudah menyuruh polisi untuk mencari tapi hasilnya nihil"


"Alhamdulilah Pak, masih di beri keselamatan sama Allah" ucap Jessika kembali kepada pak Eko.


"Saya tidak tahu kenapa semua ini terjadi kepada saya"


"Sebenarnya bukan pak Eko sasaran mereka, pak Eko hanya berada di waktu yang salah" jawab Jessika seraya menerawang.


"Targetnya adalah saya pak, hanya saja anda berada di sana malam itu" ucap Jessika kini menatap pak Eko dengan intens.


"Maksudnya?" pak Eko bingung.


Jessika menarik nafasnya dalam dalam, sebelum melanjutkan kata katanya.


"Putri yang menyewa mereka semua untuk memfitnahku"


Membuat pak Eko terkejut bukan main.


"Putri? putrinya pak Sis? tanya pak Eko.


Jessika hanya mengangguk, pertanda mengiyakan ucapan pak Eko.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" ucap mereka kompak dari dalam rumah.


"Loh wonten tamu"( loh ada tamu), ucap kakek itu sambil meletakkan Capil usang yang ia gunakan untuk berkebun di kursi usang luar rumahnya, membantunya terhindar dari sengatan matahari.


Ia menyalami semua yang disana, rumah bilik bambu sempit dengan kursi kayu yang tak kalah usangnya.


"Pak, ini adalah orang orang dari juragan saya di desa P pak" ucap pak Eko yang menggeser tubuhnya, memberikan space kepada kakek tua itu.


"Alhamdulilah, akhirnya ada yang mencarimu le" ucap kakek itu seraya mendudukkan tubuhnya di samping pak Eko.


Kakek tua dengan uban yang mendominasi warna rambutnya itu, menceritakan kisah tentang pak Eko.


Saat pertama kali dia menemukannya.


Aktivitasnya sebagai petani membuatnya pagi pagi sekali harus berangkat ke ladang, mencangkul atau sekedar menyiangi pohon pisang dari daun yang sudah kering.


"Saya melihat tubuh orang tergeletak di pinggir kali"


"Saya kira mayat"


"Karena takut tak panggilkan arek arek ( anak anak) di sebelah ladang saya yang lagi panen singkong.


"Ada tiga orang yang bantu, setelah di cek ternyata masih hidup"


"Kami bopong kerumah ini, setelah sadar dia jadi kayak linglung"


"Saat mau lapor pak RT dia mohon jangan di laporkan, dia mau disini dulu katanya"


"Saya jadi kasihan, dia bilang dia mau dibunuh orang. Awalnya kami takut, tapi kami gak punya anak jadi kami senang ada dia disini"


Penuturan kakek tua tadi membuat Tomy yakin, pak Eko memang tengah takut.


"Bawa saya pulang Den" ucap pak Eko menatap Tomy dengan penuh harap.


****


Putri terkejut bukan main, badannya gemetar hatinya berdetak kencang saat dia melihat dua garis merah di alat penguji kehamilan itu.


"Apa tidak mungkin" ia menggeleng tak percaya, rayuan manis Alex malam itu membuatnya tenggelam dalam lautan memabukkan yang kini harus berbuah petaka untuknya.

__ADS_1


...Flashback On...


Alex membawa Putri ke sebuah Caffe plus plus di bilangan seruni, tempat yang cukup hits untuk orang orang kelas kakap.


Putri takjub melihat sedan mewah yang dibawa Alex saat itu, jelas menandakan dia bukan dari golongan biasa.


Alex bisa kembali merajut kerajaan bisnisnya dengan susah payah, namun tentu saja ia harus menerjunkan dirinya ke dunia hitam agar jumlah rupiah yang ia hasilnya bisa dengan cepat dan banyak.


Tujuannya hanya satu, balas dendam kepada David.


"Kamu udah lama kenal David" ucap Alex yang membuka percakapan dengan posisi masih di depan kemudi.


"Awal tahun kemaren, papaku kaki tangan papanya kak David" ucapnya masih cuek.


Namun Alex justru tergoda dengan pakaian minim yang di kenakan Putri, dengan belahan dada yang kontras dan isi yang menyembul separuh.


Membuat gairah lelaki normal seperti dirinya bangkit.


Seketika ia berimprovisasi dengan rencananya, ia ingin menikmati tubuh wanita disampingnya itu.


"Sepertinya dia bukan wanita polos" gumamnya dalam hati.


Mereka sudah sampai di Caffe itu, ia memesan beberapa minuman beralkohol dan makanan.


"Katakan rencana apa yang kau punya" ucap Putri yang tak sabar.


"Slow girls, kita nikmati saja dulu"


"Kamu sudah kerja?" Putri bertanya karena jika pria di hadapannya ini adalah pria tidak jelas, lebih baik dia pergi saja.


"Hotel, bisnis properti, agensi. Dan beberapa pertambangan" ucap Alex dengan gaya sombong.


Putri tersenyum, sepertinya pria di hadapannya saat ini tak kalah kaya dengan David.


"Dan kau kenapa ingin bekerjasama denganku?" Putri terus bertanya.


"Ada urusan di masa lalu yang belum aku selesaikan dengan David" ucapnya setelah meneguk satu gelas minuman beralkohol itu.


Mereka lama mengobrol, menceritakan satu sama lain kekecewaan mereka.


"Bentar ya aku ke toilet dulu" pamit Putri yang merasa kandung kemihnya sudah penuh.


Alex hanya mengangkat jempolnya, pertanda mengiyakan ucapan Putri.


Alex sengaja memasukkan obat pemacu gairah ke dalam botol milik Putri, jangan ditanya dia dapat dari mana.


Bajingan kelas kakap seperti dirinya tidak akan pernah kesulitan mendapatkan barang itu.


Sekembalinya dia dari toilet, dia mengabiskan sebotol minuman itu.


Rasa yang aneh, gelenyar yang muncul membuatnya meminta Alex untuk mengantarnya pulang.


Di dalam mobil Putri meracau tidak jelas, menggeliat dan meraba tubuh Alex.


mencari pelampiasan.


"Tenang sayang, sebentar lagi kita akan bersenang-senang" ucap Alex dengan senyum penuh kelicikan.


Ia membawa Putri ke apartemen mewah miliknya, tak menyia-nyiakan tubuh molek yang menantang kejantanannya itu.


Bahkan Putri sudah tidak tahan, rasa panas yang menjalar di tubuhnya membuat dia begitu agresif.


Alex tentu saja senang, ia menyobek baju kurang bahan milik Putri, membuat mereka sama sama polos.


Menghentakkan tubuhnya untuk menembus celah sempit disana," sial dia masih virgin" ucapnya lirih.


Mereka berdua sama sama merasa melayang diatas langit, tenggelam dalam lautan kenikmatan, hanyut dalam arus paling memabukkan yang pernah ada.


Dan dengan beberapa hentakan hancurlah pertahan Putri, hal yang berharga itu hilang percuma dengan sia sia.


Dengan peluh yang menetes tiada henti, seketika ruangan disana menjadi panas.


Alex melepaskan diri dari penyatuan itu setelah menyebarkan benihnya dengan banyak ke lahan milik Putri.


Harusnya dia menyebarkan benihnya di luar, namun karena buncahan gelora panas dan rayuan dari kemolekan Putri dia sampai lupa daratan.


Putri yang kelelahan itu tertidur, Alex dengan segera mengeluarkan selembar kertas yang ternyata adalah Cek dengan nominal besar, kemudian sebuah pesan.


...Aku harus pergi, ini nomer ponselku dan ini untukmu...


...Alex...


Sejurus kemudian ia pergi dari sana, meninggalkan tubuh polos wanita dengan tanpa dosa.


...Flashback Off...

__ADS_1


__ADS_2