
.
.
.
"Kau tahu, jika adikku menyukaimu?" tanya David sambil mendaratkan bo kong nya di sofa yang berada di kamarnya itu.
Jessika mengangguk," ia bahkan pernah menyatakan perasaannya kepada saya".
David membulatkan matanya, " maksudmu?"
" Mas Leo pernah mengajak saya, mas Tomy dan Eka, kami berempat diajak makan di cafe saat di desa beberapa bulan yang lalu..."
Jessika menceritakan secara rinci terkait Leo yang sudah pernah menembaknya itu, bahkan mengenai handphone yang pernah Leo berikan.
David mendengarkan cerita Jessika dengan penuh perhatian, sesekali ia memejamkan matanya karena ia merasa sudah menyakiti hati adiknya itu.
"Saya menolaknya, saya merasa tidak pantas. Mas Leo dan saya bagaikan langit dan bumi, saya hanya akan membuatnya malu" jawab Jessika dengan mata yang berkaca-kaca.
"Astaga" David mengusap wajahnya kasar.
Ia benar benar ketinggalan hal penting seperti ini, namun ia juga tak bisa menafikkan perasaannya sendiri pada Jessika.
Mereka berdua termenung dalam diam untuk beberapa saat, Jessika dengan kelegaannya karena sudah mengatakan hal ini pada David.
Dan David yang merasa bersalah pada adiknya, jauh sebelum David memiliki rasa pada Jessika. Tenyata adiknya lah yang lebih dulu tertarik pada wanita di depannya itu.
"Saya melihat nona Bella menyukai mas Leo, saya sempat ngobrol berdua dengannya waktu saya dirawat dulu" terangnya.
"Kau benar" jawab David.
"Saya rasa mas Leo akan bersama orang yang tepat apabila bersama nona Bella, dia cantik, baik bahkan dia juga berasal dari golongan terpandang. Tidak seperti saya" ucap Jessika.
"Selain itu, saya juga tidak memiliki perasaan apapun pada mas Leo. Dia bukanlah tipe saya" ucapnya tertunduk malu.
"Tolong jangan seperti itu" ucap David yang merasa kalimat Jessika terlalu merendahkan dirinya.
"Itu kenyataannya tuan. Mas Leo orang yang baik, semoga dia mendapat kebahagiaan yang setara" imbuhnya.
David menyeringai, " lalu seperti apa tipe mu hem?" ia bertanya penuh maksud.
Jessika grogi di buatnya," emmmm aku harus pulang, ini sudah siang" jawabnya mengalihkan pembicaraan.
"Pulang? kau bahkan belum bertanya bagaimana keadaanku sekarang" David terus menggoda Jessika, entah mengapa ia begitu bahagia bila berada di dekat wanita itu.
"Anda sudah terlihat sehat" jawab Jessika.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan sesuatu, mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku sudah tidak bisa menyembunyikan lagi, aku juga tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh. Aku tertarik kepadamu" David menatap lekat Jessika yang duduk degan memainkan jarinya.
Deg
Degup jantung itu makin tak terkendali, " apa baru saja dia semacam menembak ku juga" ucapnya dalam hati.
"Kau tidak perlu menjawab sekarang, yang jelas aku sudah mengungkapkan kepadamu. Dan masalah Leo aku akan bicara dengannya nanti" David berusaha tenang, meski jantungnya terasa ingin melompat keluar saat ini.
"Emmm saya, emmm saya..." lidahnya terasa kelu, namun entah mengapa ada perasaan senang tapi bukankah David dan Leo adalah saudara, bahkan alasan dia menolak Leo adalah karena perbedaan kasta.
"Aku akan menunggu jawabanmu, mang Ujang akan mengantarmu pulang" ucap David.
*****
Leo sangat cemburu, harusnya ia bahagia jika kakaknya bahagia. Tapi ia tak bisa menepis rasa pada Jessika meski ia sudah pernah di tolak.
Ingatannya saat Jessika bersama David selepas tasyakuran di desa, mereka yang berdua selepas acara ulang tahun Bella, dan kemaren sewaktu Jessika dirawat bahkan David memberikan fasilitas VVIP saat itu.
Jessika yang menangis saat David tertembak, dan puncaknya adalah kejadian baru saja. Leo benar benar seperti tidak memiliki kesempatan lagi.
Ia merasa begitu stres, merasa jika dirinya telah gagal. " Jes, kenapa harus kakakku" ia berkata sendiri dengan suara bergetar.
Seandainya orang lain, akan lebih mudah bagi Leo untuk mengatur hatinya. Ia tidak habis pikir, bagaimana nantinya ia mengatur perasaannya jika Jessika benar menjalin hubungan dengan David.
Kakak kandungnya, satu satunya saudara yang ia miliki, bagaimana bisa ia berani berhadapan dengan Jessika dan David? sedang tadi saja hanya dengan melihat hal yang mungkin saja tidak di sengaja, sudah bisa membuat Leo terbakar api cemburu.
Apakah sanggup jika ia harus merelakan Jessika menjadi kakak iparnya, hal yang rumit yang berawal dari ketidakjujuran Leo kepada kakaknya mengenai perasaannya kepada Jessika.
Ditambah Jessika yang memang tidak mempunya perasaan lebih pada Leo, sungguh bagaimana bisa seorang gadis desa itu bisa membuat hidupnya rumit seperti ini, membuat hubungannya dengan kakaknya akan menjadi sedikit kaku.
Pikirannya sedang tidak sehat, ia melajukan mobilnya tanpa tujuan. Sekedar ingin meluapkan perasaan yang memenuhi hatinya, perasaan cemburu, kesal, kecewa.
Jessika Pulang dengan diantar mang Ujang, pria berusia sekitar 55 tahun itu mengantar dengan menggunakan mobil.
David tidak mengijinkan dirinya menggunakan motor, meski Jessika memaksa. Tentu saja David tidak rela jika harus melihat Jessika berduaan dengan pria tua itu, apalagi jika menggunakan motor mereka bisa saja bersentuhan, meski tanpa sengaja.
"Mang, kacanya di buka saja ya. Saya selalu mau mabok kalau naik mobil" pinta jessika yang mulai pusing kepalanya.
"Iya mbak, mbaknya ini kayak istri saya dulu. Kalau naik mobil pasti mual" jawab mang Ujang.
"Iya mang, gak tau kenapa begini. Maklum ndeso" ucapnya sambil tertawa.
"Obatnya sampean harus naik setiap hari mbak, kalau udah terbiasa insyaallah udah gak mabok lagi" jawabnya lagi.
Jessika hanya diam tak menjawab, naik setiap hari? Jessika tiba tiba bergidik ngeri, ia sudah membayangkan gimana rasa perutnya yang seperti diaduk tiap naik mobil.
"Mang berhenti di depan gang itu aja, nanti saya jalan saja" ucap Jessika.
__ADS_1
"Beneran ini mbak, tadi Den David bilang suruh antar sampai depan kost Lo" tanya mang Ujang.
"Iya itu udah deket kok, jalannya gak jauh kok. Saya udah gak taha ini" jawab Jessika.
Leo masih melajukan mobilnya tanpa tujuan, ia benar benar seperti orang gila saat ini.
"Loh itu kan mobil Bang David" ucapnya seraya menautkan alisnya, sambil memandangi mobil yang berada di seberang jalan.
Namun ia melihat kaca yang terbuka, dengan pria yang berada di depan kemudi bukanlah David. Melainkan mang Ujang.
Ia juga melihat Jessika yang sudah berjalan masuk ke gang kostnya. Leo sebenarnya tidak sengaja lewat jalan itu, ia juga tidak mengira jika Jessika akan pulang cepat.
Selepas melihat mang Ujang sudah melajukan mobilnya, Leo memutar mobilnya kembali ke arah kost Jessika. Mungkin ini kesempatan baginya untuk bicara.
Tok tok tok
Jessika yang baru saja mencuci kaki dan tangannya di kamar mandi mendengar ketukan dari pintu kostnya.
ceklek
"Mas Leo" Jessika membulatkan matanya, ia terkejut mendapati Leo dengan wajah lesu tengah berada di kostnya.
Ia tak menyuruh Leo untuk masuk, ia mempersilahkan Leo duduk di kursi yang ada di depan kostnya itu.
Ia tidak mau menimbulkan fitnah lantaran hanya ada dirinya dan Leo di kost tersebut.
"Maaf mas disini saja, saya tidak enak sama tetangga. Soalnya Vera lagi kerja" ucapnya lembut.
"Ia gak masalah" jawab Leo, ia merasa Jessika benar benar berbeda. Ia adalah contoh nyata wanita yang masih menganut budaya timur.
"Mas tunggu sebentar ya, aku mau shalat dulu" ucapnya karena ia takut jika waktu dhuhur akan lewat nanti.
Leo yang di tinggal Jessika untuk menunaikan kewajibannya itu, memburu waktu dengan membuka ponselnya.
Bertepatan dengan masuknya sebuah pesan dalam ponsel miliknya.
Tomy
"Jack membawa kabar baik dari kasus nona Jessika di kampung"
Leo membacanya sekilas namun tidak berniat membalasnya, ia melihat sebuah nama yang pesannya sengaja belum ia hapus meski hanya chating biasa.
Pesan itu adalah pesan dari Jessika, sengaja masih ia beri nama Future Wife ( calon istri). Namun seperti khayalannya itu seperti menguap percuma.
Ia juga melihat foto foto Jessika yang tersimpan rapi di galery handphonenya, galery yang sama sewaktu David mengetahui kapan hati.
"Andai kamu mau menerimaku Jes, aku akan menjadi pria paling bahagia di dunia saat ini" ucap Leo dalam hati.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan beri like and comment 🙏