
.
.
.
David sudah memasang wajah menerkam, saat melihat Adrian menghubungi Vera. Tidak sabaran betul.
Mereka berdua tengah berada di rumah David, tentu saja David tak mengijinkan Adrian pulang sejak pulang kantor tadi.
"Gimana?" selidik David penuh ketidaksabaran.
"CK, sabar kenapa. Mereka mau ke bioskop XXX" Adrian dengan wajah kesal menjawab pertanyaan David.
"Bioskop, mau apa?"
"Mau boker, ya mau nonton lah. Udah tau bioskop" Adrian makin kesal, bosnya itu makin bo doh saja.
"Susul mereka sekarang" David semakin tak tenang, apalagi bioskop adalah tempat ramai, banyak pria pria dan lelaki yang berkeliaran disana dan tentu saja tempatnya pasti berada di mall terbesar di kota itu.
Apalagi candaan Jessika sewaktu berbalas pesan dengan dirinya, makin membuatnya tidak tenang.
"Adrian, apa yang akan kau lakukan jika wanita mu maksudku pacarmu kedapatan bersama pria lain"
Adrian tak langsung menjawab, ia justru mengernyitkan dahinya. Bukannya si Alex yang bersama Sherly dulu sudah hampir saja mati lantaran ia hajar? dan sekarang? astaga kenapa dia benar benar menjadi bo doh.
"Kau ini kenapa David" ia berbicara sebagai seorang teman , bukan atasan dan bawahan.
"Jawab saja" David sudah mulai tak sabar.
"Ya sikat saja laki lakinya, beres kan" Adrian sungguh malas meladeni David yang aneh.
****
Jessika dan Vera sudah sampai di mall terbesar di kota itu, mereka langsung menuju lantai paling atas, tempat dimana gedung bioskop itu berada.
"Yuk buruan" Vera menarik tangan Jessika.
Jessika yang baru pertama kali akan melihat film di bioskop itu, hanya menurut saja kepada Vera. Ia sama sekali belum mengetahui alur dan bagaimana cara memasuki bioskop.
"Kita lihat dulu yuk yang bakal tayang" ajak Vera.
"Wah tayang 1 jam lagi, kita nonton ini ya" Vera terlihat antusias menunjukkan poster film yang akan tayang sebentar lagi.
Film bergenre horor dengan judul "Ghost in the house" menjadi pilihan Vera.
"Aku pesen tiketnya dulu" Vera pamit.
Namun saat hendak pergi, tangannya di cegah.
"Bayar pakai ini, mungkin besok aku udah gak bisa begini lagi sama kamu" Jessika menyerahkan beberapa lembar uang, hasil menguras isi ATM gajinya.
Ia ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, untuk teman sebaik vera.
"Gak perlu Jes aku ad..."
"Ssstt, tolong Ver, selama ini aku belum pernah traktirin kamu" Jessika memasang wajah memohon.
Vera tersenyum dan mengambil uang yang di berikan Jessika.
"Kamu terbaik Jes"
"Taraaa" Vera tersenyum bahagia menunjukkan dua tiket di tangannya.
"Kita cari cemilan dulu yuk sambil nunggu ruangannya di buka" ajak Vera menyusuri konsesi yang menyediakan pop corn dan juga minuman bersoda disana.
*****
Adrian sungguh kesal, bahkan ia mengumpat dalam hatinya.
David menarik tangannya segera menuju ke lantai paling atas, guna menghampiri pujaan hatinya itu dengan segera.
Bahkan Adrian tak di ijinkan untuk menelpon Vera.
"Kelamaan Adrian, kita langsung kesana saja"
"Sudah datang pasti dia"
Dengan tak sabaran David berjalan menuju lantai atas.
Dan mereka berdua terpesona begitu menatap dua wanita cantik yang tengah mengantri membeli minuman bersoda itu.
Ia dan Adrian kini berada di belakang Vera dan Jessika, yang tidak menyadari kehadiran mereka.
"Dua saja mas, minumnya juga dua" ucap Vera.
__ADS_1
"Empat mas, kami berempat" David tanpa Tedeng aling aling langsung menyahut, membuat Jessika dan Vera menoleh dengan wajah terperanjat.
"Mas David"
"Tuan David"
Ucap mereka berdua kompak.
*****
Mereka duduk di kursi panjang yang berada di depan bioskop itu, masih diam dan canggung.
"Kalian nonton apa?" suara berat David mengintimidasi mereka.
"Nonton ini tuan" Vera menunjukkan tiket kepadanya.
"Jadi kalian sudah ada tiket" David merajuk
"Adrian, cepat beli tiketnya. Harus dapat!!" titahnya.
Lagi lagi Adrian menghembuskan nafas lewat mulutnya, dengan malas.
"Yeah, you're the big bos!!!" ucapnya sambil melenggang pergi.
Jessika
Ia terperanjat saat mendengar suara yang ia kenal, dan tahu tahu sosok David tengah berada di belakangnya.
Ia tak menyangka jika David nekat dengan perkataannya tadi siang.
Ia kikuk, karena temannya itu juga belum tahu bahwa dia dan David bisa dikatakan telah menjadi sepasang kekasih.
"Tampan" ucapnya dalam hati yang melihat David terus menatap kearahnya.
David
Hatinya lega begitu menangkap sosok yang ia cari tengah ada di depannya,wanita cantik yang malam ini bertambah kecantikannya setelah resmi menjadi kekasihnya.
Setelah membuat Adrian menjadi kacungnya, hingga ia sempat melihat wajah Adrian yang kesal setengah mati karena ulahnya.
Terserah, aku bosnya disini. Yeah!!
"Bisa bisanya dia tertawa setelah mengerjaiku" David bermonolog dalam hatinya.
"Cantik sekali kamu malam ini sayang" ia tak henti menatap Jessika yang terlihat kikuk, tengah duduk di samping temannya.
Vera
mungkin akan menjadi suami istri, nothing impossible.
Namun harus ia akui, ia merasa menjadi kambing congek disana. Lantaran Jessika dan David yang saling pandang, dengan posisi dia berada diantara David dan Jessika.
oh ****!!
*****
Lebih dari dua jam mereka berada di dalam bioskop, bahkan Vera terlihat puas dan senang dengan tontonan yang meraka nikmati.
Namun berbeda dengan Jessika, ia terlihat pias. Mungkin efek takut dan terlalu terbawa suasana dan cerita yang pasti mencekam.
"Gila, ceritanya bagus banget. Asli, ga bisa di tebak endingnya" seloroh Vera.
Sementara David memasang muka biasa saja, justru manik matanya menangkap ketakutan di wajah Jessika.
"Kamu takut?" Adrian bertanya kepada Jessika.
"Nanti kalau ke kamar mandi sendiri takut aku" ia memasang wajah melas.
"Bahahahahah" Adrian dan Vera kompak tertawa, benar dan benar terkena efeknya ni anak.
"Beraninya kalian menertawakan calon nyonya David" David bak seolah dewa pembela.
Vera dan Adrian saling memandang satu sama lain," siap salah!!!!" ucap mereka kompak.
Sementara Jessika hanya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap David yang sok juraganisme.
"Terus kita kemana sekarang?" Adrian tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.
"Kita makan" Vera seolah menjadi navigator acara malam ini, mereka melesat menuju restoran yang cukup besar.
"Aduh, Vera ngajak kesini. Gimana kalau duitku gak cukup" batin Jessika, saat matanya melihat penampakan gedung besar dengan mayoritas kaca bening tebal sebagai penutup bangunan besar itu.
Ia sudah berjanji jika ia akan mentraktir Vera, hitung hitung acara perpisahan dengan teman baiknya itu.
Sementara Vera jangan ditanya, ia sudah melesat terlebih dahulu kemudian di susul Adrian di belakangnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa" David seolah mengerti kegelisahan yang di alami Jessika.
"Emmm makanan disini mahal mahal gak?"
Dalam Restoran
Jessika mulai membuka buku tebal bergambarkan beberapa makanan, dengan nama yang asing dan cenderung tidak ia mengerti.
Ia lebih memilih memesan nama yang ia ketahui. Ayam, daging dan minuman yang juga sangat familiar di telinganya.
Jelas ini bukan dunianya, menurutnya makan di warung pinggir jalan lebih menarik ketimbang makan disini, selain harga miring dan relevan untuk golongan kasta seperti dirinya, sudah barang tentu disana rasanya endul takendul kendul.
David menatap Jessika penuh arti, "Cantik banget " ia bergumam dalam hati, mendapati Jessika bak bidadari malam itu.
"Habis ini kita kemana?" Vera nampak membuka pembicaraan.
Adrian melirik jam di tangan kirinya," masih pada betah? udah jam segini" tunjuk nya ke arah jam tangan hitam yang ia kenakan.
"Yah, jangan pulang dulu dong Jes, terakhir ni aku sama kamu" Vera mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya mau kemana lagi?" Jessika mencoba melakukan penawaran.
Namun dari arah jalan menuju toilet rupanya Putri ada disana, menatap mereka tidak suka.
"Breng sek !!! kenapa mereka bisa disini" Putri menghentakkan kakinya tak suka.
Ia langsung membalikkan badannya, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Ia begitu tidak tahan melihat Jessika yang tertawa bahagia disana.
"Bruuuk" ia menabrak seseorang.
"Maaf" ucap Putri kemudian segera pergi dari tempat yang membuatnya makin meradang.
"Pantai yuk" Vera berucap penuh keyakinan, dengan senyum merekah di bibirnya.
Adrian dan David saling pandang mendengar permintaan dari Vera,"Malam malam begini?"
****
Alex
Dari kejauhan ia memantau pergerakan David, semenjak usaha yang ia rintis dibuat pailit oleh Dirut Darmawan Group itu ia sudah bertekad untuk membalaskan dendam.
Namun jalan yang ia tempuh tak semulus angan-angannya, tentu saja banyak perusahaan lain yang enggan menjalin kerjasama dengan dirinya pasca kejadian itu.
Elektabilitas serta kepopuleran seorang David Darmawan membuat hidupnya di berondong kesulitan.
Namun sejurus dengan itu, ia melihat wanita di depannya itu seperti menyimpan kemarahan tatkala menatap empat orang yang duduk di meja restoran itu.
Dua lelaki yang ia ketahui, namun ada dua wanita yang tidak Alex kenal.
Bahkan saat lamunannya belum mendapatkan jawaban, wanita di depannya tadi sudah keburu menabraknya.
Entah, mungkin karena emosi yang membuncah membuat wanita itu sampai tak melihat dirinya berdiri disana.
"Maaf" ucap wanita itu.
Namun entah mengapa, ia mengejar wanita itu.
Pasti ada sesuatu di antara mereka, membuat Alex menemukan sebuah ide.
"Tunggu" ucap Alex kepada wanita dengan pakaian sexy itu.
"Ada apa" ucap wanita itu mengernyitkan dahi.
"Wow, slow girls" Alex menyunggingkan sudut bibirnya.
Wanita itu terlihat kesal dan bersungut sungut," Aku sudah minta maaf tadi, tadi aku buru buru"
"Oh maaf nona, bukan itu maksud saya, Ok baiklah kenalkan aku Alex" ucapnya mengulurkan tangannya.
Wanita itu mengernyitkan dahinya, ia heran untuk apa pria di depannya ini berkenalan.
"Putri" jawabnya singkat kemudian meraih tangan yang sudah mengatung sedari tadi.
"Baiklah Putri, emmm sepertinya kita bisa bekerja sama" ucap Alex.
"Kerjasama apa?" ucap Putri makin tak mengerti.
Alex berniat memanfaatkan Putri untuk melancarkan niatnya, sedikit banyak pasti wanita di depannya ini memiliki keterkaitan dengan empat orang tadi.
Kini ia hanya perlu melakukan pendekatan, mengorek info dan memperalat Putri.
Sangat mudah.
"Kita sebaiknya mencari tempat untuk berbicara nona Putri yang cantik" seringai licik muncul dari bibirnya.
__ADS_1
"Baiklah"