
.
.
.
Tepat adzan magrib mereka tiba dirumah, David menurunkan barang barang bawaan, dan terlihat lek Soleh datang menghampiri mereka.
"Alhamdulilah, akhirnya nyampek juga" ucap lek Soleh saat dirinya menghampiri mbok Yah, Jessika dan David.
"Alhamdulilah" mbok Yah yang sedang di gandeng Jessika menjawab ucapan lek Soleh.
"Assalamualaikum" ucap mbok Yah saat dirinya memasuki rumah sederhana, dengan penuh rasa senang.
"Aku mau shalat dulu nduk" pamit mbok Yah.
Jesika mengangguk tanda mengiyakan ucapan mbok Yah, ia kemudian menghampiri lek Soleh.
"Kok jadi dia yang jemput sih" gerutu Jessika kepada lek Soleh.
Namun lek Soleh hanya mengangkat kedua tangannya, seperti memberikan perkataan "meneketehek"
Tentu saja dia sekarang menjadi team sukses David.
"Aku mau shalat dulu lek" pamitnya tanpa menunggu jawaban dari lek Soleh.
"Lek, ini di taruh dimana?" David menunjukkan barang bawaan yang tidak di urus oleh Jessika.
"Astagfirullah, anak itu. Sini Den saya bawa dulu" ia merasa Jessika sangat keterlaluan.
Akhirnya david mendudukkan dirinya di kursi usang, yang sudah pudar warnanya itu, namun masih kuat menahan bobot tubuhnya.
Ia memperhatikan sekeliling ruangan disana, terdapat lemari yang tak kalah tuanya karena dimakan usia, juga beberapa pigura foto yang terpajang di dinding dengan cat warna putih yang agak mengelupas disana sini.
Gorden kuno yang entah kapan dibeli, karena warnanya sama pudarnya dengan kursi yang kini tengah ia duduki, serta model yang begitu lawas. Nyaris tidak ada benda mewah atau barang futuristik seperti dirumahnya.
Juga sebuah televisi seukuran kardus air mineral gelasan keluaran lawas, benar benar kuno.
satu kata dari David, kasihan.
"Den, saya ke mushola dulu. Sampean disini dulu atau gimana" tawar lek Soleh.
"Saya ikut Lek" jawab David, ya bukankah ia harus memulai segala sesuatunya.
Termasuk memperbaiki diri.
Selepas dari mushola
Lek Soleh sudah menggelar tikar di sisi kanan, memudahkan barangkali ada tetangga yang akan datang.
Lantaran satu set kursi usang tidak akan bisa menampung banyak orang.
Dan benar saja, baru saja mereka akan memasuki rumah selepas shalat berjamaah di mushola, terlihat gerombolan ibu ibu yang datang untuk sekedar ingin mengetahui keadaan mbok Yah, dan ada juga yang memang tak bisa menjenguk ke rumah sakit.
"Kita lewat belakang saja Den" ajak lek Soleh karena rumah dengan ukuran tidak besar itu, kini terlihat ramai sesak dengan kehadiran tetangga yang ingin menjenguk mbok Yah.
Lek Soleh mengajak David masuk lewat pintu belakang, alis dapur.
"Nduk, nggawe opo" ( nak buat apa), tanya lek Soleh yang melihat Jessika sibuk menata aneka kue kering, di dalam toples.
Untung saja David menyempatkan untuk belok ke Bravomart, untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Ia tidak ingin Jessika nanti repot.
"Ini lek banyak tamu di depan" ucapnya tanpa menoleh, karena tengah sibuk.
"Aku tak kesana dulu, mbok Yah gak ada temennya" lek Soleh pamit kedepan.
"Perlu bantuan nggak?" tanya David yang melihat Jessika kerepotan.
Jessika menata kripik talas, singkong dan juga beberapa biskuit. Mereka juga sempat membeli tahu walik, pisang krispi dan onde onde yang dijual oleh beberapa orang di pinggiran jalan tadi.
"Boleh, tolong tata minuman di nampan ini" Jessika menunjuk sebuah kardus berisikan minuman kemasan, untuk di tata di nampak sebagai suguhan para tamu yang datang.
Dengan gercep alias gerak cepat, David menyusun satu persatu minuman itu sesuai perintah Jessika.
"Loh ada Den David" ucap laki laki remaja dengan kulit hitam, dan rambut agak ikal. Ya dialah Slamet, bocah yang tidak mau melanjutkan sekolahnya karena bandel, ia kemudian bekerja bersama lek Soleh.
Di dapuk menjadi pesuruh untuk mengantarkan sayuran ke pasar, atau kadang mengambil sayuran dari rumah rumah warga.
"Iya" ia hanya tersenyum karena tidak kenal dengan anak lelaki itu, namun kenapa anak itu bisa mengenalinya?.
"Nyo met, Iki gawanen metu kabeh. Engko lek kurang ndang mrene maneh"( ini met, bawa semua keluar. Nanti kalau kurang cepat kesini lagi), Jessika segera menyahut.
"Iyo mbak" jawab Slamet yang dengan cekatan mengampil toples toples berisikan kue kering, dan juga minuman yang sudah di tata oleh David.
Ia bahkan sampai harus kembali tiga kali, karena banyaknya makanan yang harus di hidangkan diluar, sebagai teman ngobrol.
David duduk di bangku tua panjang, yang berada di dapur itu.
__ADS_1
Jessika memunggungi David, karena ia akan mencuci beberapa wadah kotor.
Tempat cucian piring kotor itu bukanlah tempat cuci masa kini, yang sudah terhubung oleh kitchen set.
Ia mencuci di bak besar, dengan air kran yang mengalir dan posisinya harus duduk dengan kursi kecil, agar kakinya tidak kebas.
"Siapa tadi?" David bertanya sambil mencomot tahu walik yang mereka beli sewaktu perjalanan pulang tadi.
"Slamet, kulinya lek Soleh" jawabnya tanpa menoleh, sambil mencuci sebuah piring kotor
"Kuli? bukannya dia masih kecil?" tanyanya lagi sambil mengocok tahu walik lezat itu, kedalam bumbu petis.
"Dia kayak aku, gak punya orang tua. Bandel gak ketulungan, udah berkali kali dikeluarkan dari sekolah" Jessika menjelaskan sambil membilas wadah wadah yang berlumuran busa.
"Jadi dia kerja di tempat lek Soleh?" kali ini dia mencomot onde onde, lapar apa doyan bos?
"Heem, di desa kerja apa aja bisa. Bagi kami, yang penting bisa menghasilkan duit, dan halal" ucapnya sambil meniriskan beberapa wadah ke rak piring dari bambu yang sudah reot.
David hanya diam memperhatikan Jessika yang cekatan mengerjakan semua pekerjaan itu, ia bahkan belum sempat istirahat sejak pulang dari rumah sakit tadi.
Ia melihat Jessika mengelap meja tua dengan taplak yang sudah sobek disana sini, ia melihat dapur yang bahkan mirip dengan gudang, karena perkakas yang banyak namun tempat yang minim.
Ia benar benar salut kepada Jessika, luar biasa.
"Istri idaman" batinnya.
"Anda tidak pulang?" tanya Jessika sambil memindahkan baju kotor milik mbok yah, dan memasukkan ke dalam bak cucian baju.
"Aku masih betah disini" jawab David memandang Jessika.
"Aku cuman gak mau ada fitnah nanti, orang orang masih banyak yang gak suka ke aku dan ngira aku nyolong di tempat papamu" jawabnya sambil mengangkat baju kotor itu, untuk dipindahkan ke dalam kamar mandi.
Berniat mencucinya besok saja.
"Aku minta maaf" ucap David kepada Jessika.
Jessika masih diam, ia mencuci tangannya dan menggosoknya dengan sabun.
"Aku ingin bicara Jes, kamu salah paham denganku"
Jessika masih mencuci tangannya, padahal sudah lama ia menggosok tangganya itu, entah merasa grogi atau gimana. Ia terlihat bo doh saat ini.
"Sebaiknya anda pulang, dan terimakasih sudah menolong kami" ucapnya setelah membasuh busa ditangannya,dengan air yang ia ambil menggunakan gayung.
"Kau masih marah kepadaku?" ia berdiri kemudian menghampiri Jessika yang tengah berdiri sambil mengelap tangannya dengan lap dan kini meraka hanya berjarak tak lebih dari 6 jengkal saja.
" Kau cemburu kepadaku?"
"Cemburu, untuk apa?"
"Tolong tatap mataku"
"Sebaiknya anda pulang, aku tidak mau ada yang salah paham nanti"
"Tatap mataku, jika kau tidak cemburu tatap mataku"
Jessika mendongakkan wajahnya, karena tinggi badan David yang membuat dirinya harus mendongak terlebih dahulu agar bisa menatap manik mata David.
Inilah yang berusaha dihindari Jessika, ingatan akan David yang dipeluk oleh seorang wanita, dan lengan David yang di peluk erat oleh Putri tanpa penolakan membuat dia harus tahu diri siapa dia.
"Aku tahu kau juga memiliki perasaan kepadaku"
"Omong kosong" Jessika memalingkan wajahnya karena tak tahan lagi.
"Kau cemburu Jessika, aku tahu" ucap David yang membuat Jessika menatapnya tajam.
"Tolong pergi David" ucapnya yang kali ini tanpa embel -embel tuan.
"Tapi aku senang kau cemburu, itu berarti kau mencintaiku" goda David sambil memasukkan kedua tangan ke saku, menatap wajah Jessika yang sudah semakin kesal.
Jessika lebih memilih pergi, selain tak baik untuk jantungnya karena aroma David yang sudah seperti hal yang memabukkan untuknya.
"Kalau anda tidak mau pergi, biar aku yang pergi" ucapnya seraya melangkahkan kakinya hingga pundaknya menyenggol pundak David dengan keras.
"Wow macan" batin David.
"Bella hamil" ucap David yang berhasil membuat Jessika menghentikan langkahnya, seraya membulatkan matanya karena kaget.
Setahu dia Bella adalah wanita singgle yang menyukai Leo.
"Darah daging Leo" David menatap mata indah saat Jessika membalikkan badannya menatap dirinya penuh tanda tanya.
****
Kini mereka telah berada di luar, merima tawaran terkait pembicaraan serius yang diucapkan David.
Selama ada lek Soleh, urusan tamu cincailah.
__ADS_1
Mereka berjalan di jalanan kampung yang terlihat sepi, itu lebih baik dari pada berdua di dapur seperti tadi. Takut jika kena fitnah, itu saja.
"Jadi dokter Bella akan menikah dengan mas Leo?" ucapnya kali ini membuka percakapan.
"Yap, itulah mengapa aku dan Leo kemari. Memberitahu papa, sekaligus meminta restunya"
Jessika mengangguk paham, sesekali mereka membalas sapaan warga yang lewat saat berpapasan dengan mereka.
"Dan untuk wanita yang ada di kantorku, itu adalah sepupuku" ucap David menerangkan, mungkin itu bisa sedikit mengurai benang kusut antara dirinya dan Jessika.
"Dan terimakasih makan siangnya" ucapnya masih mendominasi pembicaraan.
Jessika menoleh sekilas, ia merasa malu. Bukannya terakhir dia memberikan kepada Adrian.
"Apa kau memakannya?" kali ini dia berkata kau, bukan anda lagi.
"Tentu saja, karena itu dari orang yang spesial"
"Gombal" jawab Jessika dengan wajah yang sudah merah padam, karena malu.
Tiba tiba gerimis menginterupsi percakapan mereka, bahkan semakin lebat.
Untung saja ada pos kamling di depan mereka, mereka berdua berlari dan berteduh disana.
Jessika memeluk tubuhnya sendiri, ia merasa dingin dia hanya mengenakan jeans dan blouse tipis. Sama sekali tak bisa menghalau angin yang menerobos masuk ke pori porinya.
David dengan sigap melepas jaket yang ia kenakan, dan memasangkan ke tubuh Jessika.
"Tidak perlu" tolak Jessika yang melihat tindakan David.
"Kau bisa masuk angin, sepertinya hujannya jadi lebat"
Ia hanya menurut, karena ia memang merasakan dingin. Lagi lagi aroma parfum David yang menempel di jaket itu membuat dia merasa nyaman.
"Aku masih tidak mengerti, mengapa mas Leo bisa melakukan hal itu kepada dokter Bella" ucapnya kembali ke topik pembicaraan setelah terjeda oleh gerimis yang datang mendadak.
David pun tanpa ragu menceritakan kronologi yang dialami Bella, bahkan tak ada yang dia tutupi. Ia berharap Jessika bisa membuang kesalahpahaman yang terjadi antara mereka.
Jessika yang mendengar penuturan David, terlihat cukup syok.
"Apa"
"Astagfirullah"
"Kenapa bisa begitu"
Kata kata yang muncul di sela sela cerita David, " Jadi kamu tahu kalau mas Leo menyakitiku?" ucapnya tertunduk malu.
Mengingat perbuatan Leo kepadanya.
Tunggu dulu, kamu? cie sekarang panggilannya kamu dan aku. Lumayan ada kemajuan, batin David.
"Leo cemburu kepada kita"
"Aku sebenarnya marah sama dia, gak rela berbagi itu. Meski dia adikku" ucap David menunjuk bibir Jessika.
"Ih..." ucapnya sambil memukul lengan David yang berotot.
"Aduh" David pura pura mengaduh kesakitan, dan mengusuk lengan kekarnya.
Mereka akhirnya sama sama diam, larut dalam pikiran masing-masing.
Hingga suara David kembali terdengar,
"Itulah sebabnya aku menghindar, waktu itu aku sendiri bingung. Aku tidak bisa di diamkan terus oleh Leo, aku pikir aku mengalah. Agar Leo bisa dekat dengan kamu dan kami bisa saling sapa lagi, ya walau ternyata hatiku sakit " ucapnya menerawang rintikan hujan yang intensitasnya mulai lebat.
"Maaf jika karena hal ini, membuatmu terluka atau tak nyaman" ucapnya kali ini menoleh ke arah Jessika.
Ternyata sedari tadi Jessika menatap dirinya dan memperhatikan tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku mencintaimu Jes" ucap David penuh cinta dan ketulusan.
Mata Jessika berair, ia sebenarnya sudah menyimpan rasa sejak David tertembak sewaktu menolong dirinya.
"Apa kamu mau memaafkan ku?" David menangkup wajah cantik Jessika dengan kedua tangannya.
Cairan bening itu lolos tanpa seijinnya, ia hanya bisa mengangguk. Ya mungkin inilah saatnya untuk bahagia, benang kusut yang menjadi kendala kini telah terurai.
"Tapi waktu itu, kamu sama Putri" ucapnya melepas tangan David dan kembali ke mode merajuk, tentu saja bibirnya sudah manyun.
"Oh itu, kan sudah aku bilang saat itu aku menjauhimu karena Leo, kebetulan rekan kerjaku ngajak makan siang di tempat Bryan. Dan waktu itu putri yang jadi model iklan produk baru perusahaanku" terangnya.
"Kok bisa?" Jessika mengernyitkan dahinya.
"Harusnya artis Elsa yang jadi model, kamu tahu artis yang main di sinetron Tali Cinta? tapi dia padat jadwal gak tau lah ribet. Jadi si Tomy kasih saran Putri yang jadi, dia bilang wajahnya mirip. Ya emang iya sih"
Jessika hanya mencibir, menyebikkan mulutnya seolah mewakili ih gak penting.
__ADS_1
"Udah donk jangan marah terus, jadi kapan aku bisa ngelamar kamu?" ucap David membuat Jessika membulatkan matanya.