
.
.
.
Di pantai G
Mereka mengeluarkan semua seluruh pasukan, bila harus berakhir, maka berakhirlah hari ini juga.
Mayang beserta dua orang lain mengendarai mobil sport yang mengarah ke Utara.
Semetara pria berwajah bopeng, tengah mengomandoi anak buahnya melalui jalur timur.
Mereka berpencar, mengepung pergerakan rombongan David.
Saat mereka berhasil melihat rombongan David yang menepi diantara rerumputan, mereka menembaki dengan membabi buta.
Dor dor dor dor!!!!
Bahkan Mayang juga terlihat menarik pelatuknya, tak disangka ia juga begitu lihai dengan persenjataan.
"Kepung mereka!!" ucap pria berwajah bopeng.
****
"Sial!!" ucap David yang bersembunyi di balik mobil.
Makanan yang di pegang Adrian, seketika ia lemparkan ke sembarang arah. Berusaha bersembunyi.
Mereka terlibat aksi saling tembak, menembak.
Langsung mencari tempat persembunyian, guna menghindari tembakan lawan.
"Vera, kau bawa Tomy pergi dulu!!" ucap Leo, mengingat Tomy tengah cidera.Tak mungkin untuk iku serta dalam situasi genting begini.
Vera mengangguk paham, sejurus kemudian ia masuk ke dalam mobil bersama dengan Tomy yang sudah di bantu oleh dua orang anak buah David.
Adrian yang melihat kekasihnya naik ke mobil bersama Tomy dan anak buahnya, menghentikan sementara kegiatan menembaknya.
"Sayang!" ucap Adrian menatap cemas Vera.
Duar duar duar
Suara peluru beserta selongsongnya yang saling berjatuhan, masih menjadi original soundtrack mereka.
"Adrian, awas!!" Pak Edy memberikan peringatan, nyaris saja peluru itu mengenai lengannya.
Secepat kilat Adrian menarik tubuhnya ke posisi awal,"Phuffft ,nyaris saja"
Adrian menatap nanar mobil yang di tumpangi oleh kekasihnya itu.
"Kejar mereka!!" ucap Mayang, yang melihat salah satu mobil lawan mereka kabur.
"Dengar, ini bukan saatnya kau untuk terlalu bucin sialan!!" ucap Leo kesal.
Bisa bisanya Adrian menggadaikan keselamatan dirinya, hanya karena kebucinannya.
"Mundur, mereka terlalu banyak!" David memberikan komando.
"Sial, mereka mengejar Tomy?" ucap Jack, yang juga masih berjibaku dengan aksi tembak menembak.
Mereka berlari, karena rupanya anak buah David yang ada ,belum bisa mengimbangi kekuatan lawan.
"Hahahaha, menyerahlah!!!!" ucap ketua penjahat itu, dengan tertawa devil.
Pria itu terlihat turun dari mobilnya, maju ke arah dimana David, Pak Edy, Leo, Jack dan Victor serta beberapa anggota mereka kini berada.
Langkah mereka terkunci, mereka tengah terkepung saat ini.
"Akhirnya aku bisa bertemu kalian lagi, hm"
"Hahahahhaa"
Mereka berenam saling pandang, benar yang di ucapkan Tomy. Suara pimpinan orang jahat itu tak asing bagi mereka.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya dia" bisik Leo.
"Aku tidak mau mati konyol disini!" ucap Jack.
"Dengar, kita harus berpencar!. Kita buat konsentrasi mereka bubar!" ucap David, dengan nafas memburu.
"Kita menyebar ke segala arah!" kali ini otak Adrian sudah bisa berpacu dengan adrenalin.
"Tapi kita kalah jumlah!!" ucap Victor.
"Sekarang atau tidak sama sekali!" kali ini Pak Edy bersuara, bila hayatnya harus berakhir demi membela anak anaknya, ia sudah ikhlas.
Dor dor dor
Lagi lagi, suara tembakan masih terdengar.
"Si al!!!!" David mengumpat untuk kesekian kalinya.
Entah anak buah David, atau justru anak buah penjahat itu kini yang meregang nyawa.
Mereka kalah jumlah, namun disaat pertahanan mereka seolah runtuh. Para anak buah Jack dan Victor sampai ke TKP.
"Mereka datang, sekarang ayo!!" ucap Jack, membuat mereka semua berlari untuk berpencar.
Mengalihkan perhatian.
Kedatangan pasukan tambahan dari anak buah Jack, membawa angin segar, mereka mengepung seluruh gerombolan musuh David.
Mereka saling serang, tak sedikit yang akhirnya berjatuhan karena timah panas.
Hanya menyisakan beberapa orang saja, dari kelompok mereka.
"Semuanya, kejar mereka!!" teriakan penuh amarah terdengar dari mulut sang ketua penjahat itu.
Jack dan Victor yang tengah berlari, dan berada di sisi gubuk tua itu tengah berhadapan dengan pria bopeng dan dua orang lawan.
"Ok, baiklah ini saatnya" Jack begitu juga Victor meregangkan otot-ototnya, setelah senjata yang ia gunakan rupanya kehabisan peluru.
Begitu juga tiga orang musuhnya.
Lalu David dan Pak Edy, kini berlari. Tak di nyana, ketua penjahat itu mengejar mereka.
.
.
David berusaha melindungi papanya, mereka berlari dari kejaran seorang ketua penjahat itu.
Tidak terasa, mereka kini sampai di bibir pantai yang gelap. Hanya ada cahaya bulan purnama, sayup sayup terdengar deburan ombak.
Tak di sangka, saat gencar berlari David mendapat serangan dari salah satu anak buah penjahat yang tengah bersembunyi, diantara semak semak itu.
Bought
Bought
Bought
Pak Edy dan David sama sama tersungkur, terjerembab di bibir pantai.
"Papa!" ucap David yang melihat papanya di angkat oleh dua orang anak buah pria bertopeng, yang menjadi ketua itu.
Begitu juga dengan David, mereka sama sama tertangkap.
Pak Edy menggoyangkan tubuhnya, berusaha memberontak.
"Diam, atau ku tembak kepalamu!" ucap salah satu anggota mereka.
"Hei, jaga mulutmu!!!"
"Kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa!" ucap David geram, dengan sikap kurang ajar pria berpakaian hitam itu.
"Hahahaha" tawa ketua penjahat itu, terdengar nyaring di telinga mereka.
"Wah wah wah" ketua penjahat itu bertepuk tangan, seraya berjalan mendekat ke arah David dan pak Edy yang tengah di kunci pergerakannya oleh empat anak buah ketua penjahat itu.
__ADS_1
"Tentu saja kami tahu, siapa yang tidak mengenal keluarga Darmawan,hm" ia mendekatkan wajahnya, ke arah wajah Pak Edy dan David secara bergantian.
"Orang kaya, orang berkuasa!" ucap pria misterius itu, dengan ironi.
"Orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain!!"
"Orang yang, dengan mudahnya menghancurkan hidup orang lain!!"
Ia masih berbicara dengan nada menggebu, mengitari Pak Edy dan David.
Pak Edy masih diam, hatinya terhenyak demi mendengar suara yang kian membuat jantungnya berdetak, "Tidak mungkin" batinnya menebak seseorang.
"Siapa kau sebenarnya!" David benar benar geram.
"Dan apa salah kami?"
Pria itu membalikkan badannya, menatap tajam ke arah David dari balik penutup wajah yang ia kenakan.
"Aku?, kau tidak tahu siapa aku?"
"Dan kau!"
"Kau ingin tahu salahmu!!"
"Salahmu ad....." ucapan pria misterius itu terpotong, menguap ke udara malam di pantai itu.
Sayup-sayup terdengar deburan ombak.
"Cukup Sis!!!"
"Hentikan semua ini"
Pak Edy menjawab seraya memejamkan matanya.
Membuat David menatap papanya, dengan tatapan bingung, tak mengerti dan apa apak maksudnya?.
"Sis?" batin David, sejurus kemudian ia menatap ke arah pria misterius itu.
Ketua penjahat itu terlihat bergeming, hanya deburan ombak yang masih terdengar jelas diantara ketegangan yang terjadi disana.
Namun sejurus kemudian,
Kraaaak
Pria itu merobek penutup wajah yang ia kenakan, menampilkan wajah asli si ketua penjahat itu.
"Pak Sis!!"
.
.
.
.
.
.
Halo Readers tercinta 🤗🤗🤗
Gimana, terjawab sudah misterinya kan.
Kenapa kok Pak Sis yang menjadi dalang dari semua ini?, dan kenapa bukan Alex ?
Yang jelas, ada sebab ada akibat.
Tunggu terus kelanjutannya ya.
Semoga readers sehat selalu ya dimanapun berada.
Jangan lupa like komen dan vote serta giftnya donk, buat mommy makin semangat buat crazy up
Big hug from me
__ADS_1
Mommy Eng 🤗🤗