
.
.
.
Pagi menyapa, memberikan kesempatan baru bagi siapa saja. Karena dalam hari selalu ada kemungkinan, dan dalam hari juga selalu saja ada kesempatan.
Setelah melewati ritual paginya, Jessika yang di hari Minggu itu libur ia menggunakan waktunya untuk membantu sang nenek.
Ya, memang benar. meskipun pekerjaan yang ia jalani di pertanian, namun setiap hari Minggu dia dan pekerja yang masih berusia muda mendapat jatah libur.
"Wek kok nggawe okeh men, opo entok pesenan?" ( wek kok buat banyak banget apa dapat pesanan?), tanya Jessika yang melihat neneknya sedang berjibaku dengan cenil yang akan beliau jual.
" Iyo Nduk, kemaren Bu Nanik pesen. Katanya mau ada arisan dirumahnya, terus ini disuruh bungkus pakai box modern kayak gini. Katanya buat bingkisan tamunya nanti", jawab mbok yah menjelaskan.
"Wah, alhamdulilah sini Jessika bantu. Nanti sekalian biar Jessi antar kan ke tempatnya Bu Nanik wek", jawab Jessi kemudian.
Setelah berjibaku dengan urusan bungkus membungkus cenil mereka lantas menghitung sejumlah uang yang harus di bayar Bu Nanik, kemudian Jessika bergegas mengantar cenil cenil itu ke tempat sang pemesan.
"Wek, aku habis dari Bu Nanik mau ke pak lek Soleh dulu wek. Mau pinjam duit",ucap Jessika saat hendak berpamitan kepada neneknya.
" Ya sudah, kamu hati hati. Kalau emang gak ada kita kasih seadanya dulu aja sama Bu lastri," jawab mbok yah
"Nggak, pokoknya harus kita ambil sertifikat rumah ini, belum tenang aku lek belum balik sertifikat e," ucap Jessika.
Akhirnya Jessika berangkat dengan membawa dua kantong kresek besar menuju kediaman Bu Nanik, setelah semua beres dan Bu Nanik sudah memberinya uang, ia langsung bergegas ke rumah lek Soleh.
"Ojo sok gampang janji wong manis
Yen to Amung lamis...
__ADS_1
becik aluwung Prasojo nimas
ora agawe cuwo...
tansah ngugemi janjimu wingi
jebul Amung lamis...
koyo ngenteni tukule jamur
ing mongso ketigo ....."
Suara lek Soleh melantunkan langgam jowo sambil menggosok mobil pickupnya dan menyemprotkan air menggunakan selang.
"Doooooorrrrrrr", suara Jessika mengagetkan lek Soleh yang tidak sadar bahwa sedari tadi Jessi berasa di belakang paklek nya itu
"Jaran ucul Tenan", ucap lek Soleh karena kaget .
"Hahahaha makanya lek Ojo konser ae isuk isuk, nganti ora weruh menungso Ning sandinge"( makanya lek, jangan konser terus pagi pagi sampai gak melihat ada orang di sampingnya), ucap Jessika pada paklek nya itu.
"Hehehe masih lama lek nyuci pickup nya?", tanya Jessika.
"Wes tinggal bilas aja ini, pie ada apa kok sajake ada penting ( sepertinya ada hal penting), sana duduk dulu itu pak lek baru beli pisang goreng tadi. Kalau mau wedang bikini sendiri di dapur nduk", ucap pak lek Soleh penuh kasih sayang.
Sampai saat ini lek Soleh belum laku laku juga, entah mengapa sampai sekarang ia menjadi lancing tuwo ( perjaka tua). padahal dia sudah memiliki pekerjaan, dan tampangnya juga gak jelek jelek amat.
"Pie pie ada apa nduk?" , tanya lek Soleh sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di depan Jessika.
" Begini Lo lek, kalau ada aku mau minjam uang 500 ribu. Bayaran unduh Lombok ( metik cabai) nanti aku balikin ke sampean", ucap Jessika menatap paklek nya itu.
"Untuk apa Jes, kalau boleh pak lek tahu", jawab lek Soleh.
__ADS_1
"Jadi begini lek, hutang bapak yang di Bu Lastri itu sampai sekarang masih. Tapi aku udah ada sebagian tinggal kurang 500 ribu", jawab Jessika penuh kesedihan.
Lek Soleh cukup kaget, pasalnya dia pikir hutang mendiang adiknya sudah beres. Ada rasa tak enak hati begitu mengetahui bahwa keponakannya masih mengalami kesusahan seperti ini, dan dia tidak diberitahu.
Jessika sengaja tidak memberitahukan pada lek Soleh, karena menurutnya hutang itu adalah tanggungjawabnya setelah ayah dan ibunya meninggal.
Segala cara apapun dia tempuh, bahkan HP nya juga terjual karena untuk membayar hutang. Dia tidak memiliki pilihan saat itu, desakan ekonomi dan sulitnya mencari kerja saat itu membuat dia menjual apapun yang dia miliki untuk membayar hutang dan untuk hidup sehari hari.
Baginya yang dua juta bukanlah jumlah yang sedikit.
"Yoalah nduk, kenapa gak pernah cerita ke pak lek?" jawab lek Soleh penuh rasa iba dan penyesalan.
"Pak lek sudah sering memberi uang kami, kami gak mau terus merepotkan pak lek", jawab Jessika kembali.
"Astagfirullahhaladzim", ucap lek Soleh benar benar merasa bersalah.
Ia segera membuka dompetnya dan mengeluarkan 10 lembar pecahan 100 ribu, lalu dia berikan pada Jessika.
"Loh lek, ini kebanyakan. Jessika cuman minjam 500 aja", ucap Jessi yang sedikit terkejut.
"Udah kamu terima aja, pak lek barusan dapat rejeki. Kamu simpan sisanya buat keperluan mu dan mak wek mu, lalu segera bayar ke Bu Lastri ya nduk", jawab lek Soleh meyakinkan.
Ada rasa haru di hati Jessi, ia tak menyangka pak lek nya yang bujang lapuk ini memiliki hati yang begitu baik. Ia juga tak habis pikir, kenapa pria sebaik lek Soleh malah kesulitan menemukan jodoh.
"Alhamdulilah, makasih banyak kalau gitu lek. nanti kalau Jessi udah bayaran, Jessika kembalikan", ucap Jessika pada lek Soleh.
"wes gak usah di balekne, pak lek ikhlas tur pas oleh rejeki. Iki rejekimu nduk di lewatne pak lek" ( sudah gak usah di kembalikan, pak lek ikhlas dan sedang dapat rejeki. ini rejekimu nak, pak lek cuma perantaranya). jawab lelaki bujang itu.
Ia merasa lega, Tuhan selalu memberi pertolongan tepat pada waktunya.
ia amat bersyukur, karena bantuan lek Soleh juga setelah ini dia bebas dari Bu Lastri.
__ADS_1
****************************
Jangan lupa like comment dan vote, tip nya juga boleh kakak🙏