Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 105. My future wife


__ADS_3

.


.


.


Leo


Jika kita tidak memulai, kita tidak akan pernah sampai pada tujuan kita.


Selaras dengan yang dilakukan oleh Leo, kali ini ia mencoba mendengarkan kata hatinya untuk bertanggung jawab.


Dengarkan suara bening dalam hatimu, karena disitulah kebenaran berbicara.


Sesampainya dirumah ia memandangi dirinya di cermin yang berada di kamarnya.


Wajahnya terlihat masih tampan, hanya saja dua kantong matanya yang sedikit gelap karena efek dari begadang.


Permasalahannya ini sukses membuat dirinya tak tidur nyenyak, bulu-bulu halus juga tumbuh di dagu dan pipinya.


"Pria menyedihkan" ia berbicara pada pantulan dirinya di cermin.


"Baiklah, kau pria bertanggung jawab Leo. Jika tidak untukmu, setidaknya lakukan ini untuk calon anakmu" ia berbicara kepada dirinya sendiri dalam pantulan cermin itu.


Berharap semua yang akan dilewati nanti, mampu untuk ia kendalikan.


.


.


David


Kini ia berada di dalam kamarnya, membuka ponsel dan mencoba menghubungi Jessika.


Ia melihat layar ponselnya menunjukkan pukul 21.48, " sudah tidur apa belum dia ya" ia bermonolog sambil mencari nomer Jessika.


Dia men-dial nomer pujaan hatinya itu, namun tidak ada jawaban.


"Sekali lagi aja lah" ia berbicara sendiri, sambil berkata dalam hati bila tidak diangkat ia akan memilih untuk tidur.


Namun nampaknya ia beruntung, Jessika menjawab panggilan video darinya dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.


"Apa kau sudah tidur, maaf" David berbicara menatap wajah Jessika yang masih dalam posisi tidur, dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas leher.


"Emmm, dari mana saja. Tega sekali tidak menghubungiku" ia menggerutu, seperti biasa memanyunkan bibirnya.


Membuat David merasa gemas dan ingin mendekap pemilik tubuh sintal itu.


"Ia maaf, tadi papa langsung ngajak kita pergi ke tempat Bella"


"Loh katanya besok"


"Itu dia makanya, maaf ya sayang" kali ini ia lebih berani lagi menunjukkan bukti cintanya, lewat panggilan itu.


"Aku capek, ngantuk banget" Jessika berkali kali menguap, membuat David kasihan melihatnya.


"Ya sudah, kamu tidur dulu. Besok aku telpon lagi. Good night" ia memberikan kecupan yang hanya bisa di dengar oleh Jessika.


Namun Jessika tak membalas, ia nampak malu malu. Fix David kali ini bucin duluan.


Senyum merekah tak jua luntur dari wajah pria bernama lengkap David Syailendra Darmawan itu, ia tak menyangka Tuhan menghadirkan Jessika kedalam hidupnya dengan cara lain.


Lewat nada nada cinta yang sering ia dengarkan, dari alunan suara merdu Jessika.


Wanita sederhana yang memiliki kecantikan luar dalam menurutnya, berbeda dari wanita wanita yang silih berganti hadir di dalam kehidupannya.


"Thanks God" batinnya tersenyum penuh syukur.


****


Desa P


5 hari sudah Jessika berada di desa, ia secepatnya harus kembali.


"Jer Basuki, Mawa Beya, yang berarti Setiap Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan.


Sama dengan Jessika ia berhasil mendapatkan pekerjaan yang bisa dikatakan enak di kota, namun ia juga berkorban meninggalkan neneknya di desa.


Yang disinyalir malah menjadi sebab musabab nenek tercintanya itu sakit, lantaran terlalu sering memikirkan dirinya.


Setelah bergumul dengan pikirannya, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di kota, ia akan menemui Vera sekaligus pamit kepada Bryan.


Ia juga tidak tahu, apakah dia bisa langsung mendapatkan persetujuan atau tidak dari bos tampannya dengan tubuh penuh tatto itu.


Ia meminta lek Soleh untuk menemani dulu neneknya pasca pemulihan, karena besok adalah jadwal kontrol ke rumah sakit.


Hari ini dia berangkat ke kota kembali menggunakan bus, tentu saja diantar oleh Pakleknya yang setia dengan predikat bujang lapuk itu.


Juga mbok yah yang tidak sesedih sewaktu pertama Jessika akan ke kota, karena ia sudah mengetahui jika cucunya itu akan mengurus keperluan dirinya berhenti dari pekerjaannya itu.


Makin cepat makin baik pikirnya, berharap ia bisa bersama sama kembali dengan cucunya. Hidup bersahaja layaknya dulu dulu.


.


.


Putri


Wanita licik ini panik bukan kepalang tatkala


dua anak buahnya mengabarinya untuk meminta uang.


"Sialan!!" umpatnya saat dia mematikan sambungan telepon yang baru saja ia lakukan dengan dua anak buahnya itu.


Dua anak buahnya itu mengancam akan membeberkan kelakuannya kepada pake Edy, jika ia tidak memberikan sejumlah uang.

__ADS_1


Ia merasa marah lantaran ancamannya tidak main main, ia akan bersaksi bila dia yang ditugaskan untuk membunuh pak Eko malam itu.


"Tidak , ini tidak boleh sampai terjadi" ia makin stress, bahkan rupiah dari hasil dirinya yang didapuk menjadi bintang iklan di perusahaan David itu sudah lenyap untuk berfoya foya bersama teman-temannya.


Mau dapat dari mana lagi dia uang sebanyak itu. Tapi jika dia tidak memberi , bukan hanya dirinya yang akan tamat, namun juga nasib keluarganya di kampung menjadi taruhannya.


Berurusan dengan preman bak sesuatu yang justru ia sesalkan, tidak ada jaminan baginya preman preman itu tidak berkhianat kepadanya.


"Breng sek!!!" ia memaki, mengumpat. Benar benar buntu.


"Kami tunggu maksimal 1 minggu lagi, ingat 5x.xxx.xxx " ucapan dan jumlah nominal yang di lontarkan preman tadi sungguh membuatnya pusing.


"Sial an!"


.


.


Jessika


Ia ketiduran selama kurang lebih tiga jam, obat anti mabok yang ia minum tadi sukses membuat matanya lengket.


Praktis, perjalanannya masih kurang tiga jam lagi. (Jika tidak macet)


"Ini sih obat tidur, bukan obat anti mabuk" ia menggerutu, karena sejak ia duduk dalam bus tadi ia langsung menguap dengan tak hentinya, membuat ngantuk tak terkira.


"Ya oke juga sih, bikin aku gak mabuk" kali ini ia membatin.


Lagi lagi ia duduk dengan kursi kosong di sebelahnya. Ia membuka ponsel, terkejut mendapati banyak sekali panggilan.


David


27 panggil tak terjawab


4 pesan


Vera


5 panggilan tak terjawab


2 pesan


Ia lebih dulu membuka pesan dari David


"Kamu lagi ngapain"


"Jangan capek capek"


"Balas dendam ya sampai ga di angkat telponku"


"Jessika, angkat dong"


"Aku kangen banget"


Senyuman terpahat dengan durasi lama di wajah Jessika, ia lantas ber swa foto alias selfi. Sejurus kemudian ia mengirimkan fotonya di dalam bis.


Ia juga masih tidak berpengalaman, maklum dia termasuk dalam kategori wanita yang tidak pernah berpacaran.


Tanda dua centang berwarna biru nampak di indikator pesan singkat itu, tanda orang yang dituju sudah melihat dan membacanya.


Namun nama David, terpampang jelas melakukan panggilan kepadanya.


Ia pun menggeser tombol hijau itu, dan mendekatkan ke telinganya.


"Hal...." ucapnya terhenti karena cerocosan dari seberang.


"Kamu dimana, kenapa gak ngabari aku. Mau kemana kok naik bis segala" David mencecar dirinya dengan pertanyaan dengan nada penuh kekhawatiran.


" Aku mau balik kerja lah"


"CK, kan bisa ngasih tahu aku. Aku bisa jemput kamu kesana. Sekarang udah sampai mana?"


"Aku gak tahu, soalnya baru bangun tidur"


"CK astaga Jessika, ya udah turun di mana nanti. Aku jemput disana nanti, jangan lupa kabari kalau sudah sampai"


"Tapi ak.." kembali terjeda.


"Tidak ada tapi tapian, ini perintah"


Tepat pukul 13.15 dia sudah sampai di terminal besar di kota S, ia juga sudah mengabari Vera untuk tidak menjemput dirinya.


Ia beralasan jika akan mampir ke tempat saudaranya, Vera pun mengiyakan. Lagipula dia belum selesai bekerja, memudahkannya untuk tak ijin kepada Bryan.


Ia juga sudah menelpon David, laki laki yang saat ini tengah bucin kepada dirinya itu, terlihat juga sudah sampai.


Jessika turun dari Bus, tiba tiba sebuah tangan menariknya.


"Hey...." ia mencoba memberontak, namun tidak jadi begitu matanya menangkap sosok yang memegangi tangannya.


"Mas David" ia tersenyum.


David memeluk tubuhnya posesif, seolah tak ingin melepaskan.


"Udah aku gak bisa nafas ini" ia memukul mukul David, karena eratnya pelukan yang dilakukan oleh David.


"Ini gila, kamu seorang diri dari sana kesini. Bahaya tau nggak" protes David yang kesal karena bisa bisanya Jessika tidak melibatkan dirinya untuk hal seperti ini.


"Gila? aku udah pernah kok, dan buktinya selamat kan?" Jessika tak mau di salahkan.


"CK, udah ayo disini panas" David menggandeng tangan Jessika, kemudian menuju mobil mewahnya yang sudah terparkir di ujung.


Seorang David Darmawan berada di terminal yang panas, dengan riuh suara pejalan kaki, tukang ojek dan asongan yang menjadi backsound tempat itu.


Demi wanita pujaannya, Jessika.

__ADS_1


"Ini" David menyodorkan sekotak tissue basah juga kering kepada Jessika.


"Untuk apa?" Jessika mengernyitkan dahinya.


"Lap keringatmu sayang, bus yang kau naiki tadi pasti sudah bobrok, kau pasti tidak nyaman ya" ucapnya sambil melihat spion tengah berupaya menyebrang jalan.


"Bisa gak sih gak usah ngomong begitu, mau naik bus ber AC mahal ongkosnya" ucapnya sambil mengelap wajahnya yang di penuhi keringat dan minyak.


"Mual gak?, biasanya kamu mabok kalau naik mobil"


Ia menggeleng," tadi minum obat anti mabok, makanya aku ngantuk terus"


David tersenyum melihat Jessika memanyunkan bibirnya, pemandangan yang sangat menggemaskan.


"Kita makan dulu ya, kamu pasti lapar. Ada yang ingin aku bicarakan"


Mereka akhirnya mampir di restoran cepat saji yang terletak di sisi kiri jalan ,karena Jessika sudah tidak tahan ingin buang air kecil.


"Ga papa mas makan disini aja, aku keburu gak tahan ini" Jessika merengek seperti anak kecil.


David terpaksa menuruti, setidaknya disana pasti ada fasilitas toilet yang bisa Jessika gunakan untuk menuntaskan hajatnya itu.


Selama Jessika di toilet David memesan makanan untuk mereka berdua, dua minuman soda ukuran jumbo dan pastinya menu andalan yang seluruh rakyat sudah mengetahui rasanya.


"Kalau kamu gak nyaman, kita bisa pindah tempat" ucap David yang sebenarnya ia yang tak nyaman, bayangkan saja orang sekelas David tentunya ingin mengajak makan wanita yang ia cintai di tempat yang tentu saja berkelas.


"CK, gak usah mas wong udah pesen kan? disini aja lah" tolaknya karena tidak mau ribet.


Akhirnya mereka berdua makan dalam diam, David terlihat memesan dua nasi extra. Tentu saja porsi itu tidak akan memuaskan dirinya.


Sangat cepat dan bersih, bahkan minuman soda ukuran jumbo itu juga licin dan tandas, benar benar lapar.


"Jes, aku ingin kita segera menikah" David memulai pembicaraan serius, setelah mereka selesai makan.


"Uhuk uhuk" Jessika tersedak saat ia tengah meminum minuman itu, namun. David justru melontarkan kata kata yang membuatnya syok.


"Kamu gak papa?" David panik, melihat Jessika yang terbatuk batuk dengan durasi yang lama.


Wajahnya sampai memerah, membuat beberapa pengunjung lain turut menoleh kepada mereka.


" Mas, aku baru sampai dan kamu langsung bicara hal itu" Jessika memasang wajah memelas.


"Papa ingin aku sama Leo pas nikahnya barengan" ucapnya memohon.


"Nikah itu bukan perkara sepele mas, aku juga belum bicara sama Makwek dan lek Soleh, kami juga belum punya persiapan" wajahnya berubah sendu, tentu saja karena ia tahu biaya pernikahan itu tak sedikit.


Sedikit banyak ia akan merepotkan neneknya, apalagi ia ingin bila menikah diadakan di kampung.


"Baiklah, kita bicarakan nanti. Maaf, aku terlalu bersemangat Jes. Aku gak mau kehilangan kamu" David memegang tangan lembut Jessika, menatapnya dengan penuh cinta.


"Aduh mas aku lupa kalau Vera pulangnya malam, kuncinya dia yang bawa" ia menepuk jidatnya sendiri saat mobil David sudah akan menuju perempatan jalan menuju kostnya.


Ia melihat arloji hitam di tangannya, menunjukkan pukul 14.28.


"Kita kerumah ku saja dulu, nanti malam ku antar lagi"


Jessika hanya menoleh, ia juga tak memiliki alternatif lain, lagipula dirumah David ada pak Edy, membuatnya tidak sungkan.


"Bik papa kemana" David bertanya kepada bik asih setelah mereka masuk rumah.


"Tadi tuan besar sama Den Leo pergi keluar Den, saya kurang tahu" terang bik Asih.


"Oh iya bik ini Jessika" ia mengenalkan Jessika kepada bik Asih.


"Jessika" ia mengulurkan tangannya kepada Bu Asih.


"Saya Asih non" ucapnya sambil menerima uluran tangan Jessika.


"Nona kan yang" ucapnya mengingat Jessika yang pernah datang kemari namun dengan penampilan lain.


"Iya bik , saya yang pernah ngantar makanan untuk mas Leo" ia tersenyum membantu bik Asih memecahkan kebingungannya.


"Astaga ia non, beda sekali kalau pakai pakaian biasa begini jadi cantik banget.


Wajah Jessika memerah begitu mendapat pujian dari bik Asih," maacih bik" batinnya.


"Kamu mandi aja, ini ada kaos mu yang dulu pernah aku pakai. Aku tinggal ke bawah sebentar" terang David setelah mengajak Jessika ke kamarnya.


Ia mengangguk tanda setuju, kemudian terdengar pintu yang di tutup oleh David.


"Ceklek"


Untung saja Jessika membawa beberapa baju dalam ranselnya, pakaian yang ia bawa saat pulang kampung.


Jessika menatap kaos hitam miliknya, ia mengambilnya dan menciumnya,"Wangi" ucapnya menghirup aroma parfum David, yang seolah menempel di kaosnya itu.


Ia mengedarkan pandangannya ke ruangan dengan dominasi cat monokrom itu, sangat bagus bahkan luasnya hampir sama dengan ukuran ruang tamu yang di gabung dengan kedua kamar di rumahnya.



( credit foto from google)


Dengan aroma parfum David yang menyeruak ke seluruh ruangan itu, membuat ingatannya akan perlakuan hangat David itu menimbulkan gelenyar aneh dalam dirinya.


Ia buru buru masuk kedalam kamar mandi, sebelum pikirannya melayang kemana mana.


Kini ia sudah lebih segar, ia selesai mandi dan juga shalat ashar di dalam kamar David, untung saja seperangkat alat shalat itu selalu di bawa saat bepergian jauh.


Ia merebahkan dirinya di sajadah yang masih tergelar itu, setengah hari berada di dalam kendaraan umum membuat tubuhnya remuk redam.


Ia meregangkan otot-ototnya, menggeliat.


Karena lelah, ia bahkan tertidur dengan posisi masih memakai mukena.


David yang sudah selesai dengan urusannya itu berlari ke atas untuk menemui Jessika, namun ia terkejut mendapati wanita cantik itu tengah tertidur pulas dengan mukena yang masih membalut tumbuhnya.

__ADS_1


Membuat David tersenyum senang, wajah teduh yang terpampang itu membuat hatinya damai.


"My future wife" ucapnya sambil memandang Jessika.


__ADS_2